Sabtu, Oktober 24, 2020

Revolusi Prematur Permadi dan Kegagalan People Power

Eksisme dan Sebuah Jalan Nyeleneh Demonstrasi

Ada sebuah fenomena baru di tengah arus demonstrasi yang sedang bergejolak hampir di seluruh kota-kota Indonesia akhir-akhir ini. Bentuk dari fenomena itu adalah bermunculannya...

Mengapa Sebagian PNS Membenci Jokowi?

Selama mudik lebaran kemarin saya bertemu dengan sahabat SMA yang sudah lima tahun tak berjumpa. Kami mengobrol sejak isya sampai subuh. Hal yang kami...

Setelah Kudeta Film Dilan 1991, Mahasiswa Makassar Akan Sweeping Buku La Galigo. Ada Apa?

Makassar, MANDHANINEWS — Setelah Mahasiswa Makassar melakukan penolakan dan kericuhan terkait film Dilan 1991, para mahasiswa ini akan melakukan kudeta terhadap film tersebut di...

Politik Sehat, Panggung Politik Milenial

Kata iklan, gak semua yang lo denger itu bener! Tak kecuali ihwal milenial. Stereotype generasi milenial yang dicirikan oleh watak mudah bosan, instan, dan...

Tan Malaka adalah salah satu tokoh revolusioner yang pernah ada di Indonesia. Tapi, revolusi yang dibayangkannya masih jauh dari pandangan mata. Tan Malaka telah mengubah cara berpikir banyak orang, tapi sebagai politikus ia justru politikus yang gagal, demikian kata Harry Poeze. Bagi Poeze, Tan justru lebih berhasil sebagai “pendidik”.

Tak seperti Soekarno, perjalanan panjang dan melelahkan yang ditempuhnya untuk menghindari kejaran polisi rahasia kolonial menyebabkannya tak mempunyai kesempatan untuk membangun basis massa yang kokoh di tanah air. Sejarah Indonesia tentu akan berbeda bila Tan Malaka kembali ke tanah air tahun 1942 dengan basis massa. Dari Tan Malaka kita belajar, seorang tokoh revolusioner tak bisa sendiri, ia membutuhkan massa yang kokoh.  

Beberapa waktu belakangan, dalam konteks Pilpres 2019 ini, kita melihat contoh sebaliknya: Massa tanpa tokoh revolusioner. Kehendak untuk menciptakan revolusi terdengar bising. Seruan-seruan revolusi begitu fasih dilafalkan dari orang-orang yang menjadi tokoh karena terlalu sering muncul di televisi. Dari sekian banyak itu, salah satu yang menyita perhatian akhir-akhir ini adalah Permadi. Ia adalah salah satu tokoh yang gigih menyerukan revolusi. Tapi, sayang sekali, revolusinya penuh buih.

Dalam sebuah tayangan di Youtube, ia memulai seruannya dengan mengutip sekaligus memelintir ucapan terkenal dari Soekarno, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” Yang dimaksud Permadi dengan ‘perjuangan melawan saudara sendiri’ itu adalah kelompok China yang menurutnya akan menguasai Indonesia.

Oleh sebab itu, dalam seruannya, ia ingin adanya pembatalan terhadap amandemen UU yang dilakukan sejak tumbangnya Orde Baru. Hanya dengan cara itu, baginya, kita bisa mencegah kelompok China menguasai Indonesia. Tidak jelas memang amandemen apa yang dimaksudkan. Ia hanya sebatas memberi kita petuah bahwa kita harus kembali ke UUD asli. Tak lebih. Sejak dalam pikirannya, revolusi Permadi kehilangan sisi ilmiah.

Pernyataan Permadi soal China yang akan menguasai Indonesia, bagi saya, adalah poin pertama yang membuat seruan revolusinya itu malah tampak seperti sebuah ejekan pada dirinya sendiri. Ia benar-benar tampak seperti sedang memelorotkan celananya sendiri di tengah keramaian. Musuh dari revolusi yang diserukannya ternyata kelompok etnis. Frasa ‘melawan saudara sendiri’ yang ia kutip dengan gagah dari Soekarno ternyata hanya sanggup dimaknainya ke dalam kategori etnis. Permadi ternyata hanya seorang ‘eksibisionis’.

Barangkali yang dimaksud Permadi dengan China adalah para kapitalis China. Bila memang ia berpikiran begitu maka tetap saja hal tersebut tidak menyelamatkannya dari kesenangan mencibirkan diri sendiri. Ia hanya membatasi revolusinya pada level etnis belaka. Dengan begitu, kapitalisme bukanlah persoalan utamanya selama itu bukan China. Kapitalisme dengan identifikasi lainnya pun tak akan bersoal baginya. Atau jangan-jangan penggunaan indikator China itu pun hanya merujuk pada pihak-pihak tertentu saja.

Artinya, kapitalisme China yang ia lawan adalah kapitalisme China yang tidak berkawan dengannya, sedangkan yang bersekutu dengannya tidak dipersoalkan. Bahkan kita masih bisa menduga hal lebih banal: Jangan-jangan tak ada sama sekali persoalannya dengan kapitalisme ataupun dengan China. Indikator-indikator itu hanyalah tipu-muslihat untuk meloloskan rencana kelompoknya saja.  Kalau sudah begitu, apa yang revolusioner dari seruan Permadi ini? Tidak ada sama sekali.

Namun begitu, kita harus akui, seruan revolusi yang semacam itu lebih mudah mengumpulkan massa. Bahkan Permadi tidak perlu repot-repot mengorganisir massa, ia justru menerima begitu saja massa yang sudah tersedia sejak beberapa tahun belakangan. Massa yang jauh-jauh hari sudah berhasil dikumpulkan lewat kabar-kibul dan perangkat barbar: ujaran kebencian. Massa yang kini menjadi sekutu kelompok Prabowo. Persekutuan yang tidak sepenuhnya berada pada tataran ideologis. Persekutuan yang sebatas taktis dan itupun sekarang telah mengalami ‘retak di dalam’.

Melihat seruan revolusi Permadi saat ini, sedikit-banyaknya membuat kita teringat persoalan Pemberontakan Silungkang tahun 1927 lalu. Apakah seruan revolusi Silungkang tidak segagah-berani seperti yang dilakukan Permadi? Bahkan lebih bak dari apa yang dilakukan Permadi. Ia hanya bersorak di dalam ruangan kecil, tersembunyi dan berbiaya mahal, sedangkan rakyat yang melawan kolonial saat itu berkeliling kampung menyerukan revolusi.

Apakah jumlah massa dalam Pemberontakan Silungkang tak sebanding dengan massa people power? Tentu belum apa-apa jumlah massa people power yang sekadar dua ratusan itu dibanding massa Silungkang. Apakah massa Silungkang didukung oleh banyak tokoh seperti massa people power? Keduanya justru sama-sama disokong tokoh-tokoh politik di zamannya, meski dengan heroisme yang berbeda.

Persoalan penting Pemberontakan Silungkang—dan menggejala kembali dalam seruan revolusi Permadi—justru apa yang saya ibaratkan di judul tulisan ini: revolusi yang masak diperam. Ibarat buah pisang, ada yang masak di batangnya sendiri dan ada yang masak karena diperam dengan karbit. Pisang yang masak di batang adalah masak yang sesuai proses organiknya, sedangkan pisang yang masak diperam adalah pisang mentah yang direnggut dari tandannya dan dipaksa menjadi masak dengan menggunakan karbit. Dalam pandangan sekilas, keduanya tampak sama kuningnya, tapi ketika sudah dicoba barulah terasa mana yang manis dan mana yang hambar.

Dengan kata lain, baik Pemberontakan Silungkang ataupun seruan revolusi Permadi sama-sama berjenis ‘revolusi yang masak diperam’, karena massa yang ikut-serta dalam gerakan itu bukanlah sekumpulan rakyat dengan kesadaran politik yang sama perihal anti-kolonial. Selain kader partai, massa rakyat saat itu turut diisi oleh sekumpulan preman kampung yang tidak mendapat jatah pembagian proyek dari Belanda.

Orang-orang yang dirugikan oleh kebijakan Belanda dan mereka ikut revolusi karena sakit hati saja, para tuan tanah yang tidak suka dengan Belanda karena kehadiran institusi kolonial itu mengambil kekuasaan mereka, dan semacamnya. Di atas basis massa seperti itu, propaganda revolusi terus diciptakan begitu membabi-buta, seakan-akan revolusi akan jatuh dari langit esok pagi.

Singkat kata, watak Pemberontakan Silungkang itu kini mendapatkan tubuh barunya pada anjuran revolusi Permadi, sejenis proyek bagi-bagi jatah yang dikarbit sebagai revolusi. Dan watak seperti itulah yang sesungguhnya ditolak Tan Malaka dengan tegas. Bagi Tan Malaka, lebih baik meneroka jalan perjuangan baru daripada membodoh-bodohi rakyat dengan revolusi yang cuma tipu-muslihat seperti itu.

Meskipun tadi kita katakan Tan Malaka sebagai seorang revolusioner yang tak punya basis massa, tapi ia tak pernah melafalkan kata revolusi tanpa tanggung jawab untuk memberi kesadaran revolusioner itu sendiri. Sekalipun sebagai politikus ia disebut gagal, tapi pertimbangannya atas kondisi rakyat lebih tinggi daripada kepastian hidupnya sendiri.

Lalu, mengapa Permadi harus dibandingkan dengan Tan Malaka? Bukankah keduanya memang sudah tidak sebanding sejak dalam pikiran? Ya, tapi ada dua alasannya. Pertama, untuk menunjukkan apa yang dilakukan Permadi saat ini sangat jauh lebih buruk dari apa yang sudah dikritik Tan Malaka sejak sebelum Indonesia merdeka. Dengan begitu, semakin terang-benderang bagaimana Permadi hanya mengulang kepandiran masa lalu dengan heroisme abad 21.

Kedua, meskipun Tan Malaka memang sangat tak sebanding dengan Permadi, namun membuat perbandingan seperti itu saat ini agar Permadi tahu bahwa apa yang dilakukannya membuat dirinya semakin tak sebanding dengan tokoh revolusioner kebanggaan Indonesia, Tan Malaka. Bila selama ini jarak ketidaksebandingan Permadi dan Tan Malaka seumpama jarak antara bumi dan langit, maka setelah propaganda revolusinya saat ini, jarak Tan Malaka dan Permadi seumpama bumi dan Black Hole.

Berita sebelumnyaPelajaran dari Permainan
Berita berikutnyaJokowi dan Wajah Masa Depan
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Sektor Bisnis di Indonesia

Sejak COVID-19 memasuki wilayah Indonesia pada Maret 2020, pemerintah mencanangkan regulasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) alih-alih menerapkan lockdown. PSBB itu sendiri berlangsung selama...

Disrupsi Perbankan Perspektif Ekonomi Islam

Disrupsi berasal dari bahasa inggris disruption yang memiliki arti sebagai: gangguan, kekacauan atau permasalahan yang kemudian mengganggu aktivitas, peristiwa ataupun proses. Sedangkan inovasi disruptif yaitu...

Pesan untuk Para Pemimpin dari Imam Al Ghazali

Dalam Islam, pemimpin mempunyai banyak istilah, di antaranya, rain, syekh, imam, umara’, kaum, wali, dan khalifah. Istilah rain merupakan arti pemimpin yang merujuk pada...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Nelangsa Mahasiswa Handphone Kentang dan Laptopnya Potato

"Kuliah hari ini saya berikan beberapa pertanyaan tentang mata kuliah kita, kalian jawab dan dikumpulkan 1 jam dari sekarang” “Ting tong” sebuah notifikasi muncul di...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Gerakan Mahasiswa, Belum Beranjak dari Utopia?

Sampai hari ini retorika gerakan mahasiswa agaknya belum beranjak dari utopia yang meyakini perannya sebagai agen revolusioner yang mendorong perubahan. Sering kali retorika tersebut...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.