Jumat, Januari 22, 2021

Remaja Mabuk dan Salah Persepsi tentang Minuman Keras

Surat Terbuka untuk Kawan Muhammadiyah-NU Tentang Kabinet

As-salamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh. Kepada kawan-kawan saya di Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), posisi menteri agama (Menag) yang secara tradisi diberikan kepada NU,...

KPAI vs PB Djarum: Ada Tangan Asing?

Banyak yang tidak paham bahwa pendapatan cukai kita dari rokok sangat besar. Tahun 2018 saja, pendapatan dari cukai rokok mencapai 153 triliun rupiah. Ini...

Disabilitas dan Musik Sebagai Karya

Kita selalu berpikir bahwa kita hidup untuk bisa "berguna", baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain, bahkan untuk negara dan kemanusiaan. Dengan konsep...

Apakah Celana “Cingkrang” Identik Teroris?

Kamis lalu (10/10) seluruh media mewartakan peristiwa penusukan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto di Pandeglang, Banten, yang akhirnya diketahui diduga dilakukan oleh...
Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.

Setiap kali ada kejahatan oleh remaja, yang didahului dengan kegiatan minuman keras, orang-orang langsung bereaksi dengan menyalahkan minuman keras. Minuman keras dianggap sebagai setan, pemicu segala jenis kejahatan. Solusinya, larang peredaran minuman keras secara total.

Di berbagai negara, minuman keras umumnya tidak dilarang total tetapi diatur peredarannya. Salah satu poin penting dalam pengaturan peredaran minuman keras adalah pembatasan umur. Di Jepang, misalnya, minuman keras hanya boleh dikonsumsi oleh orang berusia 20 tahun lebih. Di Indonesia secara formal batasannya adalah 18 tahun.

Jadi, kalau ada anak-anak remaja berusia di bawah 18 tahun minum minuman keras, itu sudah pasti salah. Tidak peduli mereka melakukan kejahatan atau tidak setelah minum. Mereka adalah anak-anak remaja yang sudah biasa melakukan pelanggaran. Kejahatan lanjutan adalah akibat dari persoalan sebelumnya, yang membuat mereka minum.

Satu hal lagi, mereka sering pula minum minuman keras oplosan. Maaf, istilah ini sebenarnya kacau. Barang oplosan itu tidak bisa lagi disebut minuman keras, bahkan tidak bisa disebut minuman. Itu adalah ramuan racun. Mereka melakukan kejahatan setelah minum racun. Atau, kalaupun tidak melakukan kejahatan, mereka merusak badan sendiri, bahkan membunuh diri sendiri.

Makin konyol dan mengerikan, mereka mabuk dengan berbagai macam cara. Ada yang mabuk dengan minum obat batuk dalam takaran yang mengerikan. Ada pula yang mabuk lem. Lalu sekarang, mereka makin “kreatif” dengan minum air rebusan pembalut wanita.

Apa yang membuat mabuk pada pembalut wanita? Pembalut itu isinya serat, ditambah bahan penyerap. Dugaan saya bahan kimia dari bahan penyerap inilah yang bersifat memabukkan. Sekali lagi, sebenarnya itu bukan memabukkan tetapi mematikan.

Mabuk seperti ini sama sekali tidak boleh dikaitkan dengan minuman keras. Tidak ada hubungan. Ini adalah soal anak-anak sakit mental dan menjadi liar.

Anda tentu bertanya, siapa yang mengajari anak-anak itu sampai bisa begitu. Sadarilah bahwa itu adalah pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang benar adalah siapa yang tidak mengajari mereka? Siapa yang lalai mendidik mereka, sehingga menjadi anak-anak liar yang kehilangan akal sehat sama sekali. Jawabannya jelas: orang tua dan guru mereka, serta masyarakat di sekitar mereka.

Soal ini penting untuk ditegaskan. Anak-anak mabuk, akar utama masalahnya bukan pada minuman keras, tapi pada pola asuh anak-anak itu. Pola asuh yang salah membuat mereka jadi anak-anak yang rusak dan merusak diri. Kalau sudah rusak begitu, mereka bisa mencari dan menemukan apa saja untuk merusak diri. Minuman keras hanyalah salah satu alat yang bisa mereka pakai. Biasanya minuman keras itu terlalu mahal bagi mereka. Mereka akan mencari cara-cara yang lebih murah seperti rebusan pembalut.

Jadi, sekali lagi solusinya bukan menjauhkan mereka dari bahan yang memabukkan. Mustahil kita bisa melakukan itu. Di sekeliling kita ada puluhan ribu bahan kimia yang bisa dipakai untuk mabuk. Kita tidak mungkin mengendalikan semuanya.

Solusinya adalah dengan menjadikan anak-anak itu tumbuh normal, sehat jiwa raga, dengan asuhan dan pendidikan yang benar. Anak-anak rusak itu umumnya tumbuh dalam keluarga yang tidak mengasuh dan mendidik anak dengan baik. Lalu sekolah juga tidak menjadi tempat pendidikan, hanya berfungsi sebagai tempat menghafal. Inilah masalah utama yang harus diselesaikan.

Remaja mabuk, kemudian melakukan kejahatan, yang disalahkan minuman keras. Padahal yang paling salah adalah orang tua dan guru mereka. Tapi terlalu panjang alur berpikir untuk sampai pada kesimpulan itu. Juga terlalu berat untuk mengakuinya sebagai kesalahan.

Maka orang lebih suka memilih jalan pintas, yang salah adalah minuman keras. Apalagi ada dalil agama yang bisa dipakai untuk menyalahkan minuman keras. Tentu saja ada lebih banyak dalil yang bisa dipakai untuk menyalahkan orang tua dan guru mereka. Tapi dengan alasan yang sama seperti yang saya ungkap di muka, dalil-dalil itu tidak dipakai.

Jepang adalah negara di mana minuman keras dengan mudah ditemukan di toko-toko kecil di pinggir jalan. Tapi kita tidak akan dengan mudah menemukan remaja teler di sana, kalau tidak bisa dikatakan tidak ada. Soalnya adalah, orang tua dan sekolah mendidik anak-anak dengan baik.

Persoalan keluarga di negara kita ini sangat besar, dan nyaris tidak pernah disentuh secara sistematis oleh negara. Orang-orang didorong untuk menikah. Tidak menikah adalah aib. Lalu setelah menikah, mereka didorong untuk punya anak. Tidak punya anak adalah cacat. Tapi orang-orang tidak didorong untuk terlebih dahulu belajar tentang cara mengasuh dan mendidik anak. Padahal mengasuh dan mendidik anak itu memerlukan sangat banyak pengetahuan.

Ini adalah soal perencanaan keluarga, keluarga berencana. Keluarga berencana adalah soal mempersiapkan orang-orang untuk membentuk keluarga yang baik, dengan sebuah perencanaan. Tapi apa yang kita pahami soal keluarga berencana? Pembatasan jumlah anak.

Jadi, soal remaja mabuk ini adalah soal melencengnya berbagai hal dari yang seharusnya. Ada soal besar dan rumit di situ, di mana negara seharusnya hadir membenahinya. Tapi kehadiran negara di situ hanya dalam skala sayup-sayup saja.

Hasanudin Abdurakhman
Penulis dan pekerja profesional.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.