Selasa, Januari 26, 2021

Ramadhan Pergi, Pandemi Masih

Neno Warisman dan Imprimatur Amerika untuk Politik Indonesia

Kalau berita Neno Warisma akan deklarasi #2019GantiPresiden di Amerika Serikat itu benar, ia akan jadi salah satu langkah yang paling ganjil dalam politik Indonesia....

Jakarta Kota Air, Bersama Mengatasi Bencana

Pergantian tahun menuju 2020 dirayakan dengan cuaca ekstrem di penjuru kota. Curah hujan dengan skala tinggi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah menimbulkan luapan...

Revolusi Prematur Permadi dan Kegagalan People Power

Tan Malaka adalah salah satu tokoh revolusioner yang pernah ada di Indonesia. Tapi, revolusi yang dibayangkannya masih jauh dari pandangan mata. Tan Malaka telah...

Apa Salah Intelektual di BPIP Dibayar Mahal?

Di Indonesia, seorang intelektual diminta untuk hidup melarat. Ia haram menjadi makmur. Pemikir seperti Ahmad Syafii Maarif, Yudi Latief, atau Said Aqil Siroj menjadi...
Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Bulan ramadhan tahun ini akan berakhir. Puasa ramadhan ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Berpuasa di tengah wabah pandemi covid-19. Bahkan, beberapa masyarakat Muslim di negara lain harus menjalani puasa di tengah kondisi lockdown dan menutup semua akses tempat ibadah.

Virus corona memang telah meruntuhkan segala sendi kehidupan dan menenggelamkan pembatasan gerak ratusan juta muslim dunia. Berbagai kegiatan ibadah ritual yang dalam kondisi normal dilaksanakan dengan penuh suka cita di mesjid, kini harus dilakukan di rumah maisng-masing demi keselamatan bersama untuk memutus mata rantai wabah virus tak kasat mata yang mematikan itu.

Namun justru ramadhan kali inilah momen yang tepat untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam. Berpuasa bukan hanya sekedar menjaga nafsu yang bersifat fisik. Lebih jauh lagi, berpuasa menuntut kita menjaga diri dari melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencapai keridhoan Allah. Dengan harapan, latihan selama sebulan ini dapat membentuk perilaku yang terpuji untuk seterusnya. Berpuasa menahan lapar dan haus juga mengajak kita membangun solidaritas terhadap mereka yang kurang beruntung.

Puasa mengajarkan untuk menjadi sosok dengan akhlak mulia dan tercermin dalam perilaku. Banyak himbauan dalam pencegahan Covid-19 juga tercermin dalam ibadah puasa. Kita diminta untuk menahan diri agar tidak keluar dari rumah kecuali untuk urusan yang sangat urgen. Bahkan pemerintah sendiri telah mengeluarkan surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 Kementerian Agama RI dengan memberikan panduan ibadah ramadan dan Idul Fitri 1431 H di tengah pandemi Covid-19. Beribadah dari rumah, belajar dari rumah dan bekerja dari rumah menjadi kunci atasi wabah ini.

Menjalankan ibadah puasa Ramadan di rumah dengan niat untuk mengurangi korban Covid-19 akibat kontak fisik tentu sangat mulia. Sebab, menolak kemudaratan itu lebih utama daripada mengejar pahala (Umar, 2020). Meskipun faktanya himbauan ini masih menimbulkan salah kaprah di mata para kiai dan ajengan yang ada di grass root. Bahkan ada yang mengatakan bahwa himbauan tersebut telah dianggap menghalang-halangi orang untuk beribadah.

Tak sedikit juga mesjid yang tetap menggelar sholat terawih, sholat jum’at, kuliah shubuh pengajian rutin mingguan serta ibadah ritual lainnya. Sehingga, banyak daerah yang telah mengubah status dari zona hijau ke zona merah karena pasien positif covid semakin meningkat. Kondisi ini sudah semestinya kita lakukan evaluasi, intropkesi dan bermuhasabah. Apakah kita sudah mampu untuk melakukan perlawanan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri atau belum?

Manusia memang kerap kali diperbudak oleh hawa nafsu yang dapat membawa kita kepada kesengsaraan. Namun, ramadhan juga memaksa kita untuk mengelak hawa nafsu yang terus bergejolak. Menurut Al-Ghazali, ada dua nafsu yang menyebabkan manusia diperbudak nafsunya yakni nafu amarah dan nafsu lawwamah. Kedua nafsu ini membawa manusia pada perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Puasa ramadhan sesungguhnya merupakan ibadah untuk menahan diri dan melawan hawa nafsu. Saatnya ramadhan ini menjadi waktu yang tepat untuk memerangi covid. Kita menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang tak diperlukan serta tidak bepergian ke pusat-pusat keramaian. Kita juga diminta untuk selalu mencuci tangan dan bersikap hidup bersih karena ternyata puasa telah mengajarkan pola hidup sehat. Perintah untuk selalu berada di rumah adalah pesan kuat untuk mempererat hubungan dengan keluarga.

Hikmah Corona

Datangnya virus corona ini telah membawa hikmah untuk kita semua. Ketika puasa tahun-tahun sebelumnya kita berpoya-poya dengan segala kemewahan menjelang hari raya idul fitri. Pusat perbelanjaan padat oleh para konsumen yang hendak membeli baju baru, bersorak ria berbuka puasa bersama dengan kolega di restaurant paling mahal hingga hebohnya pemesanan tiket kereta api untuk mudik pulang ke kampung halaman.

Tentu saja apabila dilihat situasi seperti itu sangat berkebalikan dengan substansi puasa untuk menahan diri dan berempati terhadap orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Puasa telah dirayakan dengan meningkatkan taraf gaya hidup yang hedonis. Segala macam cara dilakukan guna meraih dan memuaskan keinginan yang tak terbatas.

Kita mengeksploitasi alam tanpa perhitungan seperti menebang hutan, mencemari laut dan udara, hingga akhirnya menyebabkan keseimbangan alamiah alam terganggu. Kelompok kaya membentuk klaster-klaster tersendiri untuk menjaga gaya hidup mewahnya, sementara kelompok miskin menjadi korban karena ketidakseimbangan alam.

Sampai akhirnya, muncullah sebuah penyakit yang tak mempedulikan kelas sosial. Penyakit menakutkan dan mematikan tanpa menganal agama, suku, bangsa, budaya, strata sosial ekonomi dan pendidikan yang mengakibatkan warga dunia dihadapkan pada krisis kemanusiaan. Ini adalah sebuah pesan yang patut kita renungkan.

Manusia adalah makhluk tak berdaya bahkan di hadapan makhluk terkecil yang bernama virus corona. Tidak ada satu pun yang dapat memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Hingga saat ini pun masih belum ditemukan vaksinnya. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan ikhtiar maksimal dengan mencegah penularan.

Ramadhan kali ini adalah ujian apakah kita mampu berjihad melawan pandemi ini atau tidak? Apakah kita masih akan tetap ngotot untuk mencelakakan orang lain?

Walau ramadhan telah pergi, tapi hikmah ramadhan kali ini menjadi pembuktian setiap Muslim agar mengedepankan sisi kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama, tolong menolong dan saling membantu terhadap warga yang terkena dampak akibat covid. Mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri. Inilah hakikat iman yang sesungguhnya dengan terus berupaya meningkatkan amal sholeh untuk meraih takwa.

Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

95% Keluarga Muda Terancam Menjadi Gelandangan Masa Depan

Pernikahan menjadi salah satu momen yang istimewa bagi siapa saja. Namun siapa sangka, pernikahan yang tidak dilakukan dengan pertimbangan dan perencanaan matang, justru akan...

Utang, Literasi, dan Investasi

Belakangan ini, belantara media sosial diriuhkan oleh suatu kasus yang menarik perhatian publik. Yakni investasi saham dengan menggunakan uang hasil ngutang ke sejumlah kreditur. Alih-alih...

Warna, Nada, dan Keberagaman Bangsa

Rifa Rosydiana Ratal SMAN 24 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Berbagai kontras yang dimiliki warna dan berbagai...

Kebiri Kimia Amputasi HAM

Pada 7 Desember 2020 lalu, Presiden Jokowi menandatangani Peraturan Pemerintah No. 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.