Banner Uhamka
Rabu, September 30, 2020
Banner Uhamka

Ramadhan Pergi, Pandemi Masih

Mencari Wajah Nabi di Antara Gus Muwafiq dan Sukmawati

Kemarahan tidak sedikit umat Islam atas Sukmawati dan Gus Muwafiq membuat saya berfikir keras meninjau ulang model berislam yang saya miliki. Sukmawati dilaporkan oleh beberapa...

Marie Kondo, Fumio Sasaki, dan Minimalisme Hidup

Hingga kuliah, kemeja, kaus, celana, dan sepatu yang saya pakai adalah lungsuran dari kakak. Saya dan keluarga hanya membeli satu pakaian dan satu celana...

Prabowo Subianto, Peniru yang Wagu

Kalau Anda tinggal di Amerika sejak 2015, tentu tahu simbol ini: MAGA (Make America Great Again). Itulah slogan kampanye Donald J. Trump. Dia menang...

Enzo Allie dalam Polemik Denny Siregar dan Birgaldo Sinaga

Baru-baru ini media sosial kita diramaikan dengan kehadiran sosok pemuda blasteran Indonesia-Perancis yang mendaftar sebagai taruna akademi militer (Akmil). Pada awalnya, pemuda bernama Enzo Allie...
Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah

Bulan ramadhan tahun ini akan berakhir. Puasa ramadhan ini terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Berpuasa di tengah wabah pandemi covid-19. Bahkan, beberapa masyarakat Muslim di negara lain harus menjalani puasa di tengah kondisi lockdown dan menutup semua akses tempat ibadah.

Virus corona memang telah meruntuhkan segala sendi kehidupan dan menenggelamkan pembatasan gerak ratusan juta muslim dunia. Berbagai kegiatan ibadah ritual yang dalam kondisi normal dilaksanakan dengan penuh suka cita di mesjid, kini harus dilakukan di rumah maisng-masing demi keselamatan bersama untuk memutus mata rantai wabah virus tak kasat mata yang mematikan itu.

Namun justru ramadhan kali inilah momen yang tepat untuk melakukan pemaknaan lebih mendalam. Berpuasa bukan hanya sekedar menjaga nafsu yang bersifat fisik. Lebih jauh lagi, berpuasa menuntut kita menjaga diri dari melakukan hal-hal yang tidak baik untuk mencapai keridhoan Allah. Dengan harapan, latihan selama sebulan ini dapat membentuk perilaku yang terpuji untuk seterusnya. Berpuasa menahan lapar dan haus juga mengajak kita membangun solidaritas terhadap mereka yang kurang beruntung.

Puasa mengajarkan untuk menjadi sosok dengan akhlak mulia dan tercermin dalam perilaku. Banyak himbauan dalam pencegahan Covid-19 juga tercermin dalam ibadah puasa. Kita diminta untuk menahan diri agar tidak keluar dari rumah kecuali untuk urusan yang sangat urgen. Bahkan pemerintah sendiri telah mengeluarkan surat Edaran Nomor 6 Tahun 2020 Kementerian Agama RI dengan memberikan panduan ibadah ramadan dan Idul Fitri 1431 H di tengah pandemi Covid-19. Beribadah dari rumah, belajar dari rumah dan bekerja dari rumah menjadi kunci atasi wabah ini.

Menjalankan ibadah puasa Ramadan di rumah dengan niat untuk mengurangi korban Covid-19 akibat kontak fisik tentu sangat mulia. Sebab, menolak kemudaratan itu lebih utama daripada mengejar pahala (Umar, 2020). Meskipun faktanya himbauan ini masih menimbulkan salah kaprah di mata para kiai dan ajengan yang ada di grass root. Bahkan ada yang mengatakan bahwa himbauan tersebut telah dianggap menghalang-halangi orang untuk beribadah.

Tak sedikit juga mesjid yang tetap menggelar sholat terawih, sholat jum’at, kuliah shubuh pengajian rutin mingguan serta ibadah ritual lainnya. Sehingga, banyak daerah yang telah mengubah status dari zona hijau ke zona merah karena pasien positif covid semakin meningkat. Kondisi ini sudah semestinya kita lakukan evaluasi, intropkesi dan bermuhasabah. Apakah kita sudah mampu untuk melakukan perlawanan hawa nafsu yang ada dalam diri sendiri atau belum?

Manusia memang kerap kali diperbudak oleh hawa nafsu yang dapat membawa kita kepada kesengsaraan. Namun, ramadhan juga memaksa kita untuk mengelak hawa nafsu yang terus bergejolak. Menurut Al-Ghazali, ada dua nafsu yang menyebabkan manusia diperbudak nafsunya yakni nafu amarah dan nafsu lawwamah. Kedua nafsu ini membawa manusia pada perbuatan dosa dan kemaksiatan.

Puasa ramadhan sesungguhnya merupakan ibadah untuk menahan diri dan melawan hawa nafsu. Saatnya ramadhan ini menjadi waktu yang tepat untuk memerangi covid. Kita menahan diri untuk mengurangi konsumsi di luar hal-hal yang tak diperlukan serta tidak bepergian ke pusat-pusat keramaian. Kita juga diminta untuk selalu mencuci tangan dan bersikap hidup bersih karena ternyata puasa telah mengajarkan pola hidup sehat. Perintah untuk selalu berada di rumah adalah pesan kuat untuk mempererat hubungan dengan keluarga.

Hikmah Corona

Datangnya virus corona ini telah membawa hikmah untuk kita semua. Ketika puasa tahun-tahun sebelumnya kita berpoya-poya dengan segala kemewahan menjelang hari raya idul fitri. Pusat perbelanjaan padat oleh para konsumen yang hendak membeli baju baru, bersorak ria berbuka puasa bersama dengan kolega di restaurant paling mahal hingga hebohnya pemesanan tiket kereta api untuk mudik pulang ke kampung halaman.

Tentu saja apabila dilihat situasi seperti itu sangat berkebalikan dengan substansi puasa untuk menahan diri dan berempati terhadap orang yang kesulitan memenuhi kebutuhan dasarnya. Puasa telah dirayakan dengan meningkatkan taraf gaya hidup yang hedonis. Segala macam cara dilakukan guna meraih dan memuaskan keinginan yang tak terbatas.

Kita mengeksploitasi alam tanpa perhitungan seperti menebang hutan, mencemari laut dan udara, hingga akhirnya menyebabkan keseimbangan alamiah alam terganggu. Kelompok kaya membentuk klaster-klaster tersendiri untuk menjaga gaya hidup mewahnya, sementara kelompok miskin menjadi korban karena ketidakseimbangan alam.

Sampai akhirnya, muncullah sebuah penyakit yang tak mempedulikan kelas sosial. Penyakit menakutkan dan mematikan tanpa menganal agama, suku, bangsa, budaya, strata sosial ekonomi dan pendidikan yang mengakibatkan warga dunia dihadapkan pada krisis kemanusiaan. Ini adalah sebuah pesan yang patut kita renungkan.

Manusia adalah makhluk tak berdaya bahkan di hadapan makhluk terkecil yang bernama virus corona. Tidak ada satu pun yang dapat memastikan kapan wabah ini akan berakhir. Hingga saat ini pun masih belum ditemukan vaksinnya. Hal yang bisa kita lakukan hanyalah melakukan ikhtiar maksimal dengan mencegah penularan.

Ramadhan kali ini adalah ujian apakah kita mampu berjihad melawan pandemi ini atau tidak? Apakah kita masih akan tetap ngotot untuk mencelakakan orang lain?

Walau ramadhan telah pergi, tapi hikmah ramadhan kali ini menjadi pembuktian setiap Muslim agar mengedepankan sisi kemanusiaan dan kepedulian terhadap sesama, tolong menolong dan saling membantu terhadap warga yang terkena dampak akibat covid. Mengutamakan kepentingan orang lain dibandingkan diri sendiri. Inilah hakikat iman yang sesungguhnya dengan terus berupaya meningkatkan amal sholeh untuk meraih takwa.

Avatar
Neni Nur Hayati
Direktur Eksekutif Democracy anad Electoral Empowerment Partnership, Aktivis Nasyiatul Aisyiyah
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

Pengkhianatan Cinta

''Pernahkah Anda melihat orang yang berbuat jahat terhadap orang yang amat dicintainya?'' seseorang bertanya pada Abu Dzar al-Ghiffari, sahabat Rasulullah SAW. ''Pernah, bahkan sering,''...

Minang, Tan Malaka dan Dialektikanya

Minang kembali diperbincangkan di panggung politik nasional. Kali ini bukan karena tokoh dan pemikirannya, melainkan karena ucapan “Semoga Sumatera Barat mendukung Pancasila.” Tulisan ini tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.