Banner Uhamka
Kamis, Oktober 1, 2020
Banner Uhamka

Quraish Shihab dan Islam Garis Lucu

Hanung Bramantyo dan Politik Keaktoran dalam Film

Kemunculan cuplikan film Bumi Manusia baru-baru ini telah mendapatkan sambutan positif dan negatif dari para netizen. Bagaimana tidak, setelah menanti bertahun-tahun lamanya, akhirnya mahakarya...

Warga Jawa Barat : Antara Kebodohan Illuminati dan Hilangnya Agenda Publik

Selain Ideas of March, maka film politik, tepatnya film konsultan komunikasi politik, yang membuat saya terkesan adalah “Our Brand is Crisis”. Film tentang kiprah...

“Cebong vs Golput” atau “Memburu Golput, Mengharap Suara”?

Semenjak Jokowi menggandeng Ma'ruf, suara-suara golput mengemuka. Ada banyak kalangan menyerukan golput karena Jokowi (dan, ingat, koalisinya!) menggandeng sosok yang dikenal menjadi simbol intoleransi,...

Perjuangan The Villas Bertahan di Premier League

Aston Villa. Sebuah tim yang mungkin sudah dilupakan, kisahnya tidak se menyedihkan Sunderland atau Persegres Gresik, Tapi Aston Villa juga sudah kehilangan sayap kejayaan...
Yusuf Yanuri
LaPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Islam  secara konseptual adalah agama yang tunggal. Namun, dalam realitas, ia sangat beragam. Amin Abdullah menyebutnya dengan Islam normatif dan Islam historis. Normativitas agama adalah konsep-konsep agama dari Tuhan. Sedangkan historisitas agama adalah agama yang hidup dalam realitas manusia. Haidar Bagir menyebutnya dengan Islam Tuhan dan Islam manusia.

Islam manusia atau Islam historis ini hampir tidak mungkin untuk diseragamkan. Karena ia adalah manifestasi dari pemahaman manusia terhadap wahyu. Meskipun tetap ada beberapa hal yang menurut sebagian ulama adalah hal yang baku dan tidak boleh ada perbedaan pendapat, tetap saja perbedaan itu ada. Di wilayah inilah nanti banyak terjadi perebutan tafsir kebenaran.

Salah satu varian Islam yang cukup populer dewasa ini adalah Islam yang membebaskan, Islam sosial, Islam yang berpihak kepada nilai-nilai kemanusiaan. Bahasa kerennya Islam antroposentris.

Atau, agar tidak terjebak pada humanisme Barat, sebagian menyebut dengan teo-antroposentris. Islam model ini digadang-gadang oleh banyak sarjana muslim dapat menjadi solusi dari keterpurukan Islam dalam panggung peradaban dunia.

Sense of Humor dalam Islam 

Beberapa tahun yang lalu, mulai populer terminologi ormas-ormas tertentu yang ditambahi dengan istilah “garis lucu”. Ada “HTI Garis Lucu”, “NU Garis Lucu”, “Muhammadiyah Garis Lucu”, bahkan “Kristen Garis Lucu”, dan seterusnya.

Sebenarnya, dapat dikatakan bahwa ini adalah fenomena munculnya varian baru dalam ekspresi keberagamaan dalam tataran realitas. Benar bahwa Islam memiliki sisi-sisi yang menekankan aspek sosial.

Benar pula bahwa Islam menekankan pentingnya ritus peribadatan. Namun, yang sering dilupakan adalah bahwa Islam juga memiliki konsep-konsep humor yang dalam konteks dan batas-batas tertentu akan memberikan berkontribusi bagi agama maupun peradaban.

Quraish Shihab dalam bukunya mengisahkan bahwa Nabi SAW pernah didatangi oleh seorang wanita yang meminta agar didoakan oleh Nabi supaya masuk surga. Nabi menanggapi permintaan itu dengan berkata: “di surga tidak ada orang tua.” Wanita itu kemudian secara spontan menangis. Lalu Nabi melanjutkan sabdanya: “di sana tidak ada orang tua, karena wanita-wanita akan beralih menjadi wanita-wanita cantik dan muda belia.”

Setelah itu Nabi membacakan surat Al-Waqiah ayat 35-37 yang menunjukkan bahwa penghuni surga akan menjadi muda kembali.

Pada saat yang lain, Nabi memerintahkan kepada para sahabat untuk pergi ke Quraizah. Dan Nabi meminta kepada mereka untuk tidak salat asar kecuali di Quraizah. Para sahabat ini kemudian pergi di siang hari. Sialnya, mereka belum sampai ke perkampungan Quraizah sementara waktu untuk salat ashar sudah tiba.

Mereka yang terbiasa salat di awal waktu pun bingung. Apakah harus salat di awal waktu sebagaimana biasanya, atau salat nanti saja ketika sudah sampai perkampungan Quraizah. Singkat cerita, mereka terbagi menjadi dua kelompok. Ada yang salat di jalan dengan mengawalkan waktu salat, ada yang salat di perkampungan Quraizah meskipun tidak di awal waktu.

Kira-kira apa respon nabi melihat sahabat-sahabatnya yang kebingungan dalam menafsirkan perintahnya ini? Tertawa. Ya, Nabi Muhammad yang mulia itu hanya tertawa. Bahwa Nabi kita itu sangat santai menghadapi perbedaan. Di sisi lain, ia juga memiliki sisi-sisi jenaka sebagaimana beberapa kiai yang hidup hari ini.

Barangkali benar bahwa Nabi adalah sosok panglima perang. Benar juga bahwa ia adalah pemimpin sekaligus pendiri negara Madinah. Namun, ia juga manusia dengan sisi-sisi humoris. Dimana hal itu sangat diperlukan dalam kondisi-kondisi tertentu. Mari kita lihat satu lagi kisah Nabi yang menarik yang ditulis oleh ulama yang juga bijak dan jenaka: Quraish Shihab.

Aisyah menceritakan  bahwa suatu ketika Saudah –istri Nabi yang lain- datang berkunjung kepada Aisyah, dan saat itu Nabi juga sedang bersama Aisyah. Nabi duduk sambil meletakkan salah satu kakinya di pangkuan Aisyah dan satu lagi di pangkuan Saudah.

Aisyah kemudian mengajak Saudah untuk makan bersama, namun Saudah menolaknya. Aisyah bersikeras: “aku mendesaknya untuk makan, atau kalau ia enggan akan kukotori wajahnya dengan makanan itu.”

Saudah juga bersikeras untuk tidak mau makan. Akhirnya, Aisyah mengambil piring yang penuh makanan kemudian menempelkan makanan itu di wajah Saudah. Melihat kejadian itu, Nabi hanya tertawa, kemudian berkata kepada Saudah: “balaslah ia.” Saudah kemudian mengambil makanan yang ada di piring lain kemudian menempelkannya di wajah Aisyah. Nabi tertawa begitu riang melihat kejadian itu.

Mengelola Perbedaan

Betapa santainya Nabi dalam menghadapi perbedaan antara para sahabat. Misalnya Umar dengan karakter kerasnya, meminta agar para tahanan perang yang ditahan oleh Nabi langsung di bunuh saja. Sedangkan Abu Bakar mengusulkan agar tawanan perang ini dibebaskan, dengan harapan setelah itu mereka akan masuk Islam. Singkat cerita Nabi memilih usul Abu Bakar, kemudian Allah melalui wahyu mengatakan bahwa seharusnya Nabi memilih usul Umar.

Lantas, apakah dengan hal tersebut Umar dan Abu Bakar bermusuhan? Tidak. Tidak sebutir debu pun mereka bermusuhan. Dan perbedaan-perbedaan seperti inilah yang dapat dirawat dengan sangat baik oleh Nabi.

Bahwa perbedaan dalam tubuh umat Islam pasti akan selalu ada. Ada kelompok yang mewarisi karakteristik kerasnya Umar, ada yang mewarisi progresivitas Umar dalam menentukan hukum, ada yang mewarisi lemah lembutnya Abu Bakar, ada yang mewarisi kritisisme Abu Dzar Al-Ghifari, dan seterusnya. Maka, kita rindu dengan sosok jenaka yang mampu mengelola perbedaan dengan sangat baik dan santai.

Nabi tidak pernah mencela perbedaan yang ada, bahkan mengatakan pendapat yang berbeda adalah salah. Nabi memilih pendapat Abu Bakar tanpa menyalahkan Umar, bahkan kemudian Nabi mengakui bahwa ternyata pendapat Umar yang benar.

Yusuf Yanuri
LaPSI Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah
Berita sebelumnyaAksi Klithih KPK
Berita berikutnyaKala Membayar SPP Via Gopay
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Dua Perwira di Bawah Pohon Pisang (Kenangan Kekejaman PKI di Yogya)

Yogya menangis. Langit di atas Kentungan muram. Nyanyian burung kutilang di sepanjang selokan Mataram terdengar sedih. What's wrong? Ono opo kui? Rakyat Ngayogyakarta risau, karena sudah...

Pilkada dan Pergulatan Idealisme

Invasi Covid-19 memang tak henti-hentinya memborbardir aspek kehidupan manusia secara komprehensif. Belum usai kegamangan pemerintah terkait preferensi mitigasi utama yang harus didahulukan antara keselamatan...

Menimbang Demokrasi di Tengah Pandemi

Dibukanya pendaftaran peserta pilkada dari tanggal 4 – 6 September lalu diwarnai oleh pelbagai pelanggaran yang dilakukan oleh bakal calon peserta pilkada. Pelanggaran yang...

The Social Dilemma, Algoritma Media Sosial Manipulasi Pengguna

Di masa pandemi virus corona, kita sangat bergantung pada perangkat-perangkat lunak agar kita tetap bisa berhubungan dengan teman, keluarga dan rekan kerja yang tidak...

ARTIKEL TERPOPULER

Narasi – Narasi Seputar G-30S 1965

Hingga hari ini, masih banyak masyarakat awam yang percaya bahwa dalang utama dibalik peristiwa G30S adalah PKI. Kepercayaan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kampanye...

Pengakuan Pak Harto: Malam Jahanam itu Bernama Kudeta

RAUT wajah Presiden Sukarno tampak menahan kesal teramat sangat. Sambil duduk, ia dihadapkan pada selembar kertas yang harus ditandatangani. Di sisi kanan Bung Besar,...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Pengantar Ilmu Komunikasi

Selain menjadi makhluk individual, manusia pun sebagai makhluk sosial yang senatiasa ingin berinteraksi dengan manusia lainnya. Disisi lain, manusia yang berinteraksi tidak hanya ingin...

PKI, HMI, dan NU

Saya pernah membuka kliping koran Kedaulatan Rakyat (KR) tahun 1965-an, dari Januari sampai 30 September di Perpus DIY, Malioboro, tahun 2018. Waktu itu saya...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.