Rabu, April 14, 2021

Presiden Jokowi, Waspadalah

Akrobat Berebut Kursi: Megawati-Prabowo dan Anies-Paloh

Inilah politik. Semua serba cair. Ada wajah politik yang tampil di permukaan, ada juga yang ada di belakang panggung. Mungkin di antara keduanya bisa...

Sudahlah, Jadi Mahasiswa Tak Perlu Repot

Pernah satu waktu saya ada dalam barisan aksi massa. Saat itu saya menjadi salah satu peserta aksi massa yang menolak kedatangan International Monetary Fund...

Perlukah Pasal Penghinaan Presiden?

Sampul majalah Tempo tanggal 16-22 September menuai kontroversi. Gambar yang memuat bayangan presiden Joko Widodo dengan hidung panjang itu menurut sebagian pendukung Jokowi telah...

Perayaan Natal di Tahun Politik

Suasana Natal tahun ini terasa sedikit berbeda. Tidak terdengar perdebatan tahunan soal halal-haram mengucapkan selamat Natal oleh kaum muslim. Setidaknya tidak sengit seperti tahun-tahun...
Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang

Gelombang penolakan terhadap sejumlah rancangan undang-undang (RUU) bermasalah makin meluas. Aksi-aksi mahasiswa dan pelajar tidak hanya meletup di ibu kota, tapi menjalar ke berbagai daerah. Kabar terakhir satu orang mahasiswa tewas saat demonstrasi di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Semua kekisruhan bermula dari ngototnya anggota DPR yang sudah mau habis masa jabatannya menggenjot pembahasan banyak RUU. DPR yang kerap dikritik karena lambat menghasilkan produk legislasi tiba-tiba berubah jadi getol menyelesaikan sekian RUU sekaligus.

Padahal Presiden Jokowi sudah bersikap bijak merespons aspirasi masyarakat yang menghendaki ditundanya beberapa RUU, di antaranya rancangan kitab undang-undang hukum pidana (RKUHP). Tetapi entah bagaimana, DPR masih berusaha melobi Presiden untuk meloloskannya.

Partai-partai pendukung Jokowi semula berubah sikap kompak mendukung penundaan. Namun dalam hitungan hari mereka kembali bertemu Presiden untuk meminta kembali dilanjutkan pembahasan. Ketegasan sikap Presiden untuk tetap menunda membuat langkah partai-partai terhenti.

Yang makin membuat kisruh, sikap Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly yang minim koordinasi dengan Jokowi dalam membahas RKUHP dan revisi UU KPK. Tampaknya Yasonna lebih memilih setia kepada PDIP sebagai partai pengusungnya alih-alih Presiden sebagai atasannya.

Ketidakjelasan sikap Yasonna memicu kebingungan di mata publik yang berdampak negatif terhadap Jokowi. Hal ini harus menjadi catatan ke depan bagi Jokowi dalam memilih para pembantunya. Jangan lagi memilih calon menteri yang tidak loyal pada perintah Presiden terpilih.

Jokowi harus waspada dan hati-hati kepada partai-partai pendukungnya, betapapun mereka telah berjasa memenangkan dalam pertarungan Pilpres lalu. Jangan sampai karena ulah partai-partai maka Jokowi yang harus menanggung akibatnya.

Dalam perkembangan terakhir, Jokowi mempertimbangkan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) KPK. Pernyataan itu diungkapkan setelah Jokowi mendengar masukan dari sejumlah tokoh bangsa dalam pertemuan di Istana.

Tak hanya itu, Jokowi juga mengundang para pimpinan mahasiswa untuk berdialog secara langsung. Jokowi menghargai tuntutan mahasiswa yang digelar dalam serangkaian demonstrasi di banyak kota, dengan tetap mengingatkan agar menghindari aksi-aksi yang berujung rusuh.

Tampak jelas bahwa Jokowi tidak ingin menjadi sosok seorang diktator yang memerintah secara otoriter. Jokowi selalu berusaha menyerap suara publik sebagai cerminan dari aspirasi demokrasi. Yang sering terjadi, elite-elite politiklah yang berusaha membajak suara rakyat dan menekan sang Presiden.

Sesuai dengan pernyataan usai memenangkan Pilpres bahwa tak ada beban dalam periode kedua, sudah seharusnya Jokowi tak perlu terlalu menggubris tekanan elite-elite di sekitarnya. Jangan sampai kepentingan mereka merasuki pilihan kebijakan yang diambil alih-alih mendengarkan suara rakyat.

Sebagai penutup, penulis mengucapkan bela sungkawa atas gugurnya mahasiswa pejuang demokrasi, Randi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Sultra. Penulis mengingatkan kepada aparat yang berwenang, bahwa menyampaikan pendapat jangan dijawab dengan tembakan peluru.

Si Anak Kampung, Alumni IMM Komisariat H. Agus Salim, IAIN IB Padang

Endang Tirtana
Endang Tirtana
Si Anak Kampung yang merantau di Jakarta dan Alumni Pesantren Kulliyatul Muballigien Muhammadiyah Padangpanjang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menolak lupa: Seputar Perjalanan Covid-19 di Indonesia

Tidak terasa kasus pandemi Covid-19 di Indonesia hampir berusia 1 tahun. Apabila kita ibaratkan sebagai manusia, tentu pada usia tersebut belum bisa berbuat banyak,...

Eren Yeager, Kesadaran dan Kebebasan

Pemberitahuan: esai ini terdapat cuplikan cerita Attack on Titan (AoT) episode 73. Pada musim akhir seri AoT, Eren Yeager tampil dengan kondisi mental yang jauh lebih...

Dibalik Kunjungan Paus Fransiskus ke Timur Tengah

  Tak dapat disangkal kekristenan bertumbuh dan berkembang dari Timur Tengah. Sebut saja, antara abad 1-3 masehi, kekristenan praktisnya berkembang pesat di sekitar wilayah Asia...

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

ARTIKEL TERPOPULER

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Peranan Terbesar Manajemen Dalam Bisnis Perhotelan

Melihat fenomena sekarang ini mengenai bisnis pariwisata di Indonesia yang terus tumbuh sesuai dengan anggapan positif dunia atas stabilnya keamanan di Indonesia mendorong tumbuhnya...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.