Jumat, Januari 22, 2021

Pak Prabowo dan Pak Amien Rais Itu Ibadah, Bukan Cari Dukungan Politik

Ada Hantu Ateis di Balik LHKPN?

Bola panas isu Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) bagi Calon Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tampaknya seakan tidak menemukan titik api. Saking panasnya,...

Meneliti Livi Zheng (Bagian 2,5)

Saya sedang menyiapkan bagian ketiga Meneliti Livi Zheng ketika sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Seorang teman memberi tahu ada tanggapan dari Livi, ditulis...

Kejahatan Saat Bencana itu kecil, Media Harus Fokus Pada Yang Lain

Di Amerika paska bencana, media-media memilih fokus pada bagaimana penanganan bencana, solidaritas warga, dan bagaimana relawan melakukan penyelamatan terhadap korban yang masih terjebak. Dalam...

Pertarungan Dua Petisi: Mendukung atau Membubarkan FPI?

Ijin Front Pembela Islam (FPI) akan habis tanggal 20 Mei ini. Perdebatan menyeruak tentang apakah pemerintah harus memperpanjang ijin organisasi ini atau tidak. Kita tahu,...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Sungguh celaka manusia yang mencurigai niat baik. Misalnya menuduh perjalanan umrah Pak Amien Rais dan Pak Prabowo sebagai usaha mencari dukungan politik. Bagaimana mungkin Bapak Reformasi dan Pahlawan Bangsa Prabowo Subianto berani berpolitik di Mekah, di mana ada rumah Allah dan Kakbah kiblat kita? Tanah suci adalah tempat ibadah, bukan transaksi kepentingan. Sungguh azab akan menimpa siapa pun yang memperjualbelikan agama.

Cobalah berpikir. Niat utama Pak Amien dan Pak Prabowo datang ke tanah suci itu untuk beribadah. Kebetulan saja mereka bertemu dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq. Bukan sesuatu yang direncanakan. Mana ada orang datang ke Saudi cuma buat silaturahmi, ya pastinya mereka ingin beribadah. Kalau saat di Tanah Suci bertemu kerabat, ulama, handai taulan, atau buronan, ya itu kebetulan saja, jangan dikait-kaitkan.

Di sana, Pak Amien Rais, Pak Prabowo Subianto, dan Habib Rizieq pasti membicarakan masalah kebangsaan. Tidak mungkin mereka saling curhat soal kasus hukum, apalagi soal Jokowi. Semua yang dibahas murni persoalan bangsa dan negara, problematika rakyat dan umat, mereka saling menguatkan dan memberikan semangat. Masyaallah, betapa besar cinta mereka kepada Indonesia.

Maka saya sangat kesal sekali jika ada yang menerjemahkan pertemuan tiga orang ini sebagai siasat jahat. Orang-orang ini adalah tokoh bangsa yang mencintai Pancasila dan UUD 45. Mana pernah Habib Rizieq bicara soal mengganti Pancasila dengan syariat Islam? Mana pernah Habib Rizieq mendukung ISIS? Habib Rizieq itu orang yang lembut hati, selalu tawadu, mencintai bangsa, dan berharap Indonesia selalu jaya.

Di sisi lain, Amien Rais adalah guru bangsa yang mendorong persatuan. Setiap hari ia selalu berpikir, bicara, dan mendukung persaudaraan antarmanusia di tengah keterancaman NKRI. Mana pernah beliau membagi rakyat dalam dua kubu? Atau memecah dan mengelompokkan orang? Mana pernah beliau menyerukan perang sesama anak bangsa di Pemilu? Beliau selalu mendorong umat Islam agar selalu guyub. Mana pernah beliau menghina orang dengan sebutan pendukung setan atau melabeli orang lain sebagai pendukung Allah? Baginya, semua orang di Indonesia adalah saudara.

Sementara bagi Pak Prabowo Subianto, perjalanan ke tanah suci tentu saja murni ibadah. Selama di sana, saya yakin beliau tak ada niat memikirkan dukungan jadi presiden. Sebagai tokoh bangsa, Pak Prabowo sama sekali tidak berambisi jadi presiden. Beliau hanya memenuhi permintaan banyak orang. Sebagai muslim yang baik, beliau tentu tak ingin menyakiti perasaan umat dengan menolak permintaan mereka. Sejak reformasi, mana ada ambisi politik Pak Prabowo? Beliau ini manusia zuhud yang menolak ambil bagian dalam hiruk-pikuk politik.

Saya tegaskan sekali lagi. Janganlah orang yang berniat ibadah ini dibebani dengan komentar-komentar jahat. Jangan sampai kita menggores luka pada mereka yang gagal umrah.

Lho, kok ke sana? Apa hubungannya?

Begini, di Indonesia kan lagi banyak tuh orang-orang yang kena tipu travel umrah abal-abal. Kalau ada dari kita yang bilang pertemuan Pak Prabowo dan Amien Rais itu pertemuan politik, kan bisa jadi gunjingan. Jutaan orang di Indonesia bermimpi bisa ibadah ke Mekah. Mimpi ini adalah keinginan tulus dari umat yang hendak mengabdi kepada tuhan, masa sih kita akan melukai cita-cita mereka dengan gunjingan?

Bayangkan perasaan ribuan rakyat Indonesia yang bermimpi umrah. Bayangkan perasaan mereka kalau ada orang yang datang ke Mekah; bukannya ibadah, malah berkongsi politik. Marilah kita jaga perasaan saudara-saudara kita di Indonesia, yang kena tipu sana-sini, yang harus menderita karena tipuan travel agen kafir.

Itulah mengapa, daripada kita gontok-gontokan, saling ejek, saling curiga, dan memandang degil pertemuan tiga tokoh NKRI ini, lebih baik kita berdoa. Mumpung bulan puasa.

Indonesia sebagai negara yang mengayomi perbedaan tengah berada dalam ancaman perpecahan. Perpecahan ini berasal dari asing, dan tentu yang paling jadi korban adalah umat islam. Coba kita lihat penyerangan kelompok Ahmadiyah di Lombok atau Syiah di Madura. Itu adalah orang-orang asing, mereka yang ingin merusak citra Islam.

Indonesia sebagai tanah Pancasila ternodai oleh kebencian, kecurigaan. Untuk itu saya menyerukan persatuan dan berhenti saling menghina.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Capitol, Trump, dan Biden

Menjelang pelantikan Joe Biden sebagai Presiden AS, 20 Januari ini (Rabu malam waktu Indonesia), Washington kembali tegang. Penyerbuan gedung Capitol, Washington -- simbol demokrasi...

Pelantikan Joe Biden dan Pembangkangan Trump

Pelajaran Demokrasi untuk Dunia yang Terus Berubah Washington tegang menjelang pelantikan Presiden Joe Biden dan Kemala Harris, 20 Januari 2021. Kondisi ini terbentuk akibat pembangkangan...

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.