Rabu, Desember 2, 2020

Pak Prabowo dan Pak Amien Rais Itu Ibadah, Bukan Cari Dukungan Politik

Meneliti Livi Zheng (Bagian 3)

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, menyampaikan kabar pada 25 Juli 2019 tentang sebuah film yang belum ada: The Santri. Di sebelahnya Livi...

Ternyata Begini Rasanya Dituduh Taliban Karena Mendukung KPK

Saat itu, setelah malam melelahkan sepulang perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju Jakarta, saya dihubungi teman-teman. Akan ada aksi mendukung KPK, kata mereka. Saya tak...

Pemilu AS dan Penanganan Pandemi Corona

Terinfeksinya seorang warga Amerika Serikat (AS) dari Wuhan, China, pada 21 Januari 2020 menandai kasus pertama virus Corona (Covid-19) di Negara Paman Sam. Sebulan...

Ujian Nasional, Diselenggarakan untuk Siapa?

Kemendikbud baru saja menyelenggarakan ujian serentak yang biasa di sebut Ujian Nasional (UN), untuk para siswa sekolah dasar dan menengah. Banyak berita yang menginformasikan...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Sungguh celaka manusia yang mencurigai niat baik. Misalnya menuduh perjalanan umrah Pak Amien Rais dan Pak Prabowo sebagai usaha mencari dukungan politik. Bagaimana mungkin Bapak Reformasi dan Pahlawan Bangsa Prabowo Subianto berani berpolitik di Mekah, di mana ada rumah Allah dan Kakbah kiblat kita? Tanah suci adalah tempat ibadah, bukan transaksi kepentingan. Sungguh azab akan menimpa siapa pun yang memperjualbelikan agama.

Cobalah berpikir. Niat utama Pak Amien dan Pak Prabowo datang ke tanah suci itu untuk beribadah. Kebetulan saja mereka bertemu dengan Imam Besar FPI Habib Rizieq. Bukan sesuatu yang direncanakan. Mana ada orang datang ke Saudi cuma buat silaturahmi, ya pastinya mereka ingin beribadah. Kalau saat di Tanah Suci bertemu kerabat, ulama, handai taulan, atau buronan, ya itu kebetulan saja, jangan dikait-kaitkan.

Di sana, Pak Amien Rais, Pak Prabowo Subianto, dan Habib Rizieq pasti membicarakan masalah kebangsaan. Tidak mungkin mereka saling curhat soal kasus hukum, apalagi soal Jokowi. Semua yang dibahas murni persoalan bangsa dan negara, problematika rakyat dan umat, mereka saling menguatkan dan memberikan semangat. Masyaallah, betapa besar cinta mereka kepada Indonesia.

Maka saya sangat kesal sekali jika ada yang menerjemahkan pertemuan tiga orang ini sebagai siasat jahat. Orang-orang ini adalah tokoh bangsa yang mencintai Pancasila dan UUD 45. Mana pernah Habib Rizieq bicara soal mengganti Pancasila dengan syariat Islam? Mana pernah Habib Rizieq mendukung ISIS? Habib Rizieq itu orang yang lembut hati, selalu tawadu, mencintai bangsa, dan berharap Indonesia selalu jaya.

Di sisi lain, Amien Rais adalah guru bangsa yang mendorong persatuan. Setiap hari ia selalu berpikir, bicara, dan mendukung persaudaraan antarmanusia di tengah keterancaman NKRI. Mana pernah beliau membagi rakyat dalam dua kubu? Atau memecah dan mengelompokkan orang? Mana pernah beliau menyerukan perang sesama anak bangsa di Pemilu? Beliau selalu mendorong umat Islam agar selalu guyub. Mana pernah beliau menghina orang dengan sebutan pendukung setan atau melabeli orang lain sebagai pendukung Allah? Baginya, semua orang di Indonesia adalah saudara.

Sementara bagi Pak Prabowo Subianto, perjalanan ke tanah suci tentu saja murni ibadah. Selama di sana, saya yakin beliau tak ada niat memikirkan dukungan jadi presiden. Sebagai tokoh bangsa, Pak Prabowo sama sekali tidak berambisi jadi presiden. Beliau hanya memenuhi permintaan banyak orang. Sebagai muslim yang baik, beliau tentu tak ingin menyakiti perasaan umat dengan menolak permintaan mereka. Sejak reformasi, mana ada ambisi politik Pak Prabowo? Beliau ini manusia zuhud yang menolak ambil bagian dalam hiruk-pikuk politik.

Saya tegaskan sekali lagi. Janganlah orang yang berniat ibadah ini dibebani dengan komentar-komentar jahat. Jangan sampai kita menggores luka pada mereka yang gagal umrah.

Lho, kok ke sana? Apa hubungannya?

Begini, di Indonesia kan lagi banyak tuh orang-orang yang kena tipu travel umrah abal-abal. Kalau ada dari kita yang bilang pertemuan Pak Prabowo dan Amien Rais itu pertemuan politik, kan bisa jadi gunjingan. Jutaan orang di Indonesia bermimpi bisa ibadah ke Mekah. Mimpi ini adalah keinginan tulus dari umat yang hendak mengabdi kepada tuhan, masa sih kita akan melukai cita-cita mereka dengan gunjingan?

Bayangkan perasaan ribuan rakyat Indonesia yang bermimpi umrah. Bayangkan perasaan mereka kalau ada orang yang datang ke Mekah; bukannya ibadah, malah berkongsi politik. Marilah kita jaga perasaan saudara-saudara kita di Indonesia, yang kena tipu sana-sini, yang harus menderita karena tipuan travel agen kafir.

Itulah mengapa, daripada kita gontok-gontokan, saling ejek, saling curiga, dan memandang degil pertemuan tiga tokoh NKRI ini, lebih baik kita berdoa. Mumpung bulan puasa.

Indonesia sebagai negara yang mengayomi perbedaan tengah berada dalam ancaman perpecahan. Perpecahan ini berasal dari asing, dan tentu yang paling jadi korban adalah umat islam. Coba kita lihat penyerangan kelompok Ahmadiyah di Lombok atau Syiah di Madura. Itu adalah orang-orang asing, mereka yang ingin merusak citra Islam.

Indonesia sebagai tanah Pancasila ternodai oleh kebencian, kecurigaan. Untuk itu saya menyerukan persatuan dan berhenti saling menghina.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

Senyum Ekonomi di Tengah Pandemi

Pandemi tak selamanya menyuguhkan berita sedih. Setidaknya, itulah yang disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani. Berita apa itu? Sri Mulyani, menyatakan, kondisi ekonomi Indonesia tidak terlalu...

Dubes Wahid dan Jejak Praktek Oksidentalisme Diplomat Indonesia

Pada 5 Oktober 2000 di Canberra dalam forum Australian Political Science Association, pakar teori HI terkemuka Inggris, Prof. Steve Smith berpidato dengan judul, “The...

Gejala ‌Depresi‌ ‌Selama‌ ‌Pandemi‌ ‌Hingga‌ ‌Risiko‌ Bunuh Diri

Kesehatan mental seringkali diabaikan dan tidak menjadi prioritas utama seseorang dalam memperhatikan hal yang di rasakannya. sementara, pada kenyataannya kesehatan mental sangat mempengaruhi banyak...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.