OUR NETWORK

Prabowo dan Relasinya dengan Kelompok Islam

Apakah Prabowo bisa dikendalikan?

Mungkinkah kelompok Islam-politik di kalangan elite dan akar rumput memilih Prabowo karena merasa bisa “mengendalikan” Prabowo? Apa benar, ya, para elite politik kelompok Islam yang berkoalisi dengan Prabowo itu secara serius menganggap Prabowo itu pemimpin umat Islam, diproyeksi bakal jadi panglima tertinggi umat Islam di Indonesia?

Saya pribadi, sukar percaya bahwa Prabowo adalah pemimpin terbaik umat Islam di Indonesia. Ada video Rizieq Shihab yang dengan jernih (nggak setel kencang seperti biasa di panggung) bilang bahwa apabila 2019 Prabowo menang dan DPR dikuasai 60% atau lebih bagus lagi 2/3 dari kelompok koalisi Islam untuk Prabowo, maka syariah Islam seperti potong tangan bagi pencuri (dan rajam bagi pezina & LGBT) akan bisa diterapkan. Saya tahu, bagi sebagian warga muslim, prospek “syariah” dalam bentuk demikian sebagai hukum positif di Indonesia adalah sebuah harapan, sebuah kewajiban, sebuah –katakan lah– keuntungan bagi umat Islam di Indonesia.

Dulu, selama sekian dekade, memperjuangkan Negara Islam Indonesia dalam ideal bentuk demikian adalah sebuah pemberontakan. Kini, banyak yang secara terbuka bekerja untuk mewujudkan ideal tersebut. Saya pun pernah “berjuang” demi tegaknya cita-cita Negara Islam. Banyak kawan tarbiyah saya yang dulu sama mengangankan dan menginginkan Negara Islam di Indonesia dan selalu bekerja di bawah tanah saat Soeharto berkuasa, kini di DPR, atau jadi orang-orang sukses di pemerintahan, atau organisasi swasta seperti perbankan atau lembaga-lembaga pendidikan. Banyak yang tentu saja sekarang mendukung Prabowo.

Mereka tampak percaya penuh bahwa kemenangan Prabowo akan jadi kemenangan Islam. Sedang kemenangan Jokowi adalah kekalahan umat Islam. Tak perduli jika Jokowi itu secara pribadi rajin sholat, sayang ibu dan sayang keluarga sesuai nilai-nilai Islam. Tak perduli bahwa ada kelompok Islam, ulama-ulama maupun ormas dan pribadi-pribadi muslim yang sehari-hari patuh menjalankan ibadah Islam, di barisan pendukung Jokowi. Pokoknya, kemenangan Jokowi adalah kekalahan Islam. Titik. Pendukung Jokowi adalah lawan Islam. Titik.

Terhadap kawan-kawan yang yakin haqul yaqin soal demikian, saya cuma bisa berbagi keraguan saja: saya sangat tak percaya Prabowo jika menang akan membawa maslahat besar bagi umat Islam. Pada 1980-an, ada pameo, yang antara lain dipopularkan di kalangan harakah/gerakan Islam (biasa disebut juga Tarbiyah) untuk mencegah umat Islam berpartisipasi dalam Pemilu (yang biasanya sudah jelas hasilnya, sebelum dimulai –nggak semenegangkan kayak sekarang) oleh Ust. Rahmat Abdullah (alm.): umat Islam itu diperlakukan kayak tukang dorong mobil –begitu mobilnya jalan, yang dorong ya ditinggal, nggak diajak masuk mobil.

Ust. Rahmat mendakwahkan hal demikian saati itu karena membaca watak kekuasaan Soeharto saat itu. Dan Prabowo itu bukan hanya jenderalnya Soeharto, bukan hanya menantunya Soeharto, tapi dia adalah anak dari Soemitro Djojohadikusumo –begawan ekonomi Orde Baru, otak berbagai kebijakan ekonomi Soeharto dan mengukuhkan pengaruh dalam membentuk ekonomi Orba lewat Mafia Barkeley (lazimnya mengacu pada desain ekonomi Indonesia agar sesuai dengan kepentingan Amerika). Krisis Moneter 1997 di Indonesia adalah sebagiannya karena sistem ekonomi Orba hasil rancangan Soeharto-Soemitro memang rapuh. Segala kesenjangan ekonomi sosial, termasuk Pusat-Daerah, ya memang hasil kerja Soeharto-Soemitro. Lagipula, Soemitro punya sejarah pernah memberontak pada pemerintahan yang sah.

Prabowo jadi darah biru saat mengabdi militer. Naik melesat cepat, dalam naungan kuasa Soeharto dan pengaruh Soemitro. Waktu jadi militer, menitahkan menculik mahasiswa dan aktivis. O, ya, apa watak rezim militer Soeharto hanya “tegas” (baca: telengas) pada kaum “kiri” dan “komunis”. Ya nggak lah. Kelompok Islam ya ditindas juga, banyak yang disiksa dan mati dibunuhi juga, oleh militer zaman Soeharto. Emangnya kenapa coba, ikhwan dan akhwat tarbiyah dulu kudu bergerak di bawah tanah?

“Ah, jangan ungkit masa lalu”. Tapi, Prabowo itu masa kini, dan masa kini dibentuk oleh masa lalu. Prabowo itu militer-Orba sampai ke tulang sumsum, dan saya sungguh sukar percaya dia bisa jadi pemimpin umat Islam Indonesia di masa depan. Maafkan jika ini dianggap “prasangka”. Saya sukar mengusir bayangan bahwa Prabowo hanya butuh pendorong mobil saja, dan di Indonesia selama ini, umat Islam sering jadi pendorong mobil yang kuat dan bersemangat, sebelum akhirnya kecewa karena lagi-lagi nggak diajak.

Eh, tapi, kan sudah ada janji, Prabowo akan banyak bagi posisi menteri ke PAN dan PKS. Ada dua masalah saya soal ini: (1) mereka itu akan memperjuangkan kepentingan umat (dan siapakah “umat”? Apakah “kepentingan umat”?) atau kepentingan partai? Bukankah jatah menteri itu dibagi2 pda partai, dan bukan pada umat atau elemen-elemen non-partai dari umat Islam di Indonesia; dan (2) apakah para menteri jatahan itu akan bekerja secara profesional sehingga membawa kemaslahatan bagi umat, atau malah nggak profesional dan pada akhirnya akan lebih banyak membawa mudharat (misalnya, penyalahgunaan jabatan/wewenang untuk kepentingan kelompok mereka sendiri)?

Dan lebih dari itu, jika toh mereka dengan mulia akan bekerja bagi kepentingan umat, apa lantas mereka gak akan bekerja demi kepentingan para warga non-muslim? Bukankah sekarang saja kelihatan, sesama umat Islam aja, jika dianggap beda (misalnya, umat Islam yang milih Jokowi) bisa segera dicaci sebagai “bukan-muslim”.

Saya percaya, kelompok Islam yang gemar memusuhi sesama maupun orang/kelompok lain adalah (1) tidak Islami, dan (2) merugikan Islam dan umat Islam. Dan saya cemas, jika Prabowo menang, umat Islam akan kena kibul lagi, tertipu lagi, nyungsep lagi.

Dan jika memang demikian, bayangkan saja: jika terpilih jadi presiden, Prabowo punya kemungkinan jadi presiden dua periode. Bayangkan bahwa sampai 2029, Indonesia akan dipimpin Prabowo. Anda mengaminkan bayangan ini? Selamat, Anda telah terbukti mengimani pilihan Anda.

Saya sendiri merasa bahwa selama Jokowi jadi presiden, banyak maslahat terjadi pada umat Islam Indonesia. Banyak kekurangan pada pemerintahan Jokowi, tapi kebebasan berekspresi di bidang agama terjamin. Jika sekarang tak ada hukum rajam bagi kaum LGBT, saya yakin Prabowo juga tak akan menggolkan hukum rajam bagi kaum LGBT. Tapi jika ada kelompok Islam kepingin menagih janji Prabowo untuk menerapkan syariah Islam (apa pernah dia menjanjikan bakal menerapkan syariah Islam jika menang?), saya duga kalian gak akan tahan juga dengan cara Prabowo menangani kritik-kritik warga terhadap dirinya nanti.

Sementara, saat ini saya merasa aman dan tenteram melihat cara Jokowi membangun hubungan dengan umat Islam saat ini. Kebanyakan gangguan terhadap ekspresi keagamaan saya maupun banyak orang bukan datang dari Jokowi, tapi dari kelompok dan ormas Islam sendiri. Saya memilih yang pasti-pasti saja, daripada berspekulasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…