OUR NETWORK

Prabowo Betah di Ketiak Rizieq

Meski KPU nanti memenangkan Jokowi, menurut Rizieq, yang harus dilantik jadi Presiden tetap Prabowo. Pertanyaanya lantas buat apa Indonesia mengadakan Pemilu, jika ujungnya cuma menuruti apa kemauan Rizieq. Memang Rizieq siapa bisa menepis hasil Pemilu begitu saja. Memang bangsa ini harus tunduk di bawah ketiak pentolan FPI yang lari terkena kasus hukum?

Prabowo ternyata masih betah berada di ketiak Rizieq. Capres yang satu ini terus menari mengikuti gendang yang ditabuh dari Saudi. Mulanya ia senang digelar Ijtima Ulama yang mengukuhkan dukungan pada dirinya.

Kemudian saat kampanyenya nuansa keagamaan ala Rizieq terasa lebih dominan. Prabowo yang dikenal sebagai tokoh nasionalis kehilangan warnanya. Ia lebih mirip Capres utusan FPI ketimbang dari Gerindra.

Bukti kesetiaanya, Prabowo menjanjikan akan langsung menjemput junjungannya dari Saudi sehari setelah ia dilantik sebagai Presiden. Sebuah janji paling aneh dari seorang Capres.

Ini mengindikasikan betapa posisi Rizieq begitu tinggi di mata Prabowo. Ia rela mengecilkan jabatan Presiden hanya untuk menjemput seorang pelarian di negara orang.

Kini Pemilu sudah hampir usai. Hitung cepat yang dilakukan lembaga kredibel menempatkan Jokowi-Amin sebagai pemenang. Begitupun hitungan riil KPU dengan suara masuk sudah 60%, hasilnya gak jauh beda. Prabowo, sesuai dengan prediksi, tetap jadi pecundang.

Partai-partai pendukung Prabosan sudah siuman. Mereka ramai-ramai mengakui hasil yang tidak berpihak padanya. Sebagian partai itu membangun komunikasi dengan Jokowi. Mungkin saja mencari-cari celah untuk kursi kabinet. Sandiaga Uno juga tampaknya menyadari kekalahannya, ia terlihat lebih legowo. Tapi Prabowo ogah. Ia memilih lari. Lari dari kenyataan.

Langkah Prabowo tampaknya sekali lagi mengikuti gendang Rizieq. Ia menari ketipak-ketipung. Rizieq yang bukan siapa-siapa menyerukan dari Saudi untuk menyetop proses di KPU. Lalu menobatkan Prabowo sebagai Presiden. Prabowo senang, betapa pun absurdnya permintaan Rizieq. Ia seperti berjoget menanggapi dukungan yang gak tanggung-tanggung itu.

Meski KPU nanti memenangkan Jokowi, menurut Rizieq, yang harus dilantik jadi Presiden tetap Prabowo. Pertanyaanya lantas buat apa Indonesia mengadakan Pemilu, jika ujungnya cuma menuruti apa kemauan Rizieq. Memang Rizieq siapa bisa menepis hasil Pemilu begitu saja. Memang bangsa ini harus tunduk di bawah ketiak pentolan FPI yang lari terkena kasus hukum?

Tidak ada jalan hukum yang bisa mencegah proses Pemilu dihentikan. Jika pun ada masalah, mekanisme sudah diatur. Kita memiliki Bawaslu jika memang terjadi pelanggaran Pemilu. Kita punya polisi jika yang terjadi adalah kriminal Pemilu. Dan kita juga memiliki Mahkamah Konstitusi untuk mengadili kecurangan.

Hanya jika terjadi kecurangan yang sistemik, terstruktur dan masif yang bisa membuat hasil Pemilu dinyatakan gagal. Tapi perlu pembuktian serius dan tidak main-main. Kalau cuma kesalahan input data atau human error, itu biasa. KPU bahkan punya mekanisme perbaikan internal.

Sistem hitung manual yang transparan dan berjenjang, menjadikan Pemilu kita paling terjamin akurasi dan kredebilitasnya. Rakyat dan stake holder Pemilu bisa terlibat langsung di lapangan. Faktor kecurangan sangat minimal.

Tapi masalahnya ada orang yang selalu teriak-teriak curang tanpa bukti lalu minta Pemilu dibatalkan. Rizieq salah satunya. Teriakkan itu lebih mirip permintaan membubarkan Indonesia ketimbang sekadar soal Pemilu. Sebab dia menganggap pendapatnya lebih hebat dari suara ratusan juta rakyat yang sudah mencoblos.

Wajar. Rizieq meskipun bukan aktor formal dalam politik, memang punya mimpi selangit. Ia
mengganggap dirinya imam besar. Berusaha memanipulasi umat Islam dengan permainan politiknya. Dari pelariannya, ia pernah bermimpi mencetuskan revolusi seperti Imam Khomeini di Iran.

Masalahnya, menyamakan Rizieq dengan Imam Khomeini sama saja seperti mensejajarkan kecoak dan merpati. Menyamakan kondisi Indonesia saat ini dengan kondisi Iran di zaman Syah Reza Pahlevi, seperti menyandingkan alumni Harvard dengan alumni 212.

Indonesia baik-baik saja. Pembangunan jalan. Korupsi terus diberantas. Kehidupan bergama juga nornal. Sedangkan Iran di zaman itu, hidup di bawah kaki diktator yang korup dan suka berfoya-foya. Revolusi Islam Iran dicetuskan melawan seorang diktator. Oleh seorang ulama sungguhan. Sedangkan Rizieq teriak revolusi untuk melawan seorang Presiden yang dicintai rakyat. Seorang Jokowi yang rendah hati dan sederhana. Cuma rakyat bodoh yang mau mengganti Presiden seperti itu dengan revolusi.

Tapi Rizieq punya mimpi menjadikan Indonesia negara syariah. Prabowo juga sejak dulu terserang mimpi basah mau jadi Presiden. Kedua mimpi itu bertemu di pelaminan.

Masalahnya Rizieq cuma aktor politik informal. Sementara Prabowo mengikuti mekanisme politik formal. Ia Capres. Posisinya diakui UU. Aneh saja jika Prabowo malah menepis aturan pertandingan dan bergerak mengikuti seruan Rizieq.

Padahal semua partai pendukungnya sudah siuman. Ngapain teriak-teriak di luar pagar jika ujung-ujungnya juga akan kalah. Lebih baik menyadari kenyataan lalu berdamai. Mulai membangun masa depan dengan hasil yang ada sekarang.

Kasian Prabowo. Ia yang semestinya tokoh besar. Seorang Capres. Sampai saat ini hanya bisa menghayal di ketiak Rizieq.

Pegiat Media Sosial

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…