Kamis, Oktober 29, 2020

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Dikutuk Pengetahuan?

Dalam Islam lazim dikenal ungkapan: makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Intinya, makanlah dengan porsi secukupnya, tetap kita sisakan ruang kosong di lambung, biar...

Maaf Masjid Tutup

Maaf Masjid Tutup! Pengumuman demikian mungkin yang pertama dalam sejarah perjalanan umat Islam. Apa yang salah dengan masjid? Para jemaah pun berbeda pendapat, sebagian...

Merebut Tafsir Pancasila

Siapa berhak menafsir Pancasila—ketika umat Islam justru mengambil posisi head to head maka bisa jadi Pancasila diambil ‘orang lain’. Politik Kekuasaan tak mengenal jasa--membangun imperium...

“Bumi Manusia” ini Berat, Dilan Saja Tak Sanggup!

Sebelum kuliah di Universitas Negeri Medan, tepatnya di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saya sudah sering menonton film Harry Potter. Film ini...

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin Kundang adalah ibarat yang terlalu heroik untuknya, seberapa pun tidak heroiknya tokoh legenda itu. Belakangan, semakin kentara saja, GM adalah potret seorang feodal tua sebagai seniman serba bisa.

Kita tahu, GM tak hanya menulis karya sastra, tetapi juga berminat pada penciptaan seni pertunjukan. Belum lagi bila disebut minatnya pada jurnalisme. Juga politik. Tak ada yang salah soal itu. Bahkan, kalau memainkan instrumen musik sama gampangnya dengan berkelit, mungkin ia akan jadi musisi juga.

Saat ini sedang ribut soal GM sebagai pelukis. Ijinkan saya ikut berkomentar, dalam pandangan pribadi, sebagai seorang penulis pemula. Ia benar bahwa “seorang pengarang yang jadi perupa, sebagaimana seorang perupa jadi sastrawan, itu bukan gangguan bagi kehidupan seni dan sastra.” GM bilang ia tak berambisi jadi penyair dan pelukis. Sebagai penyair, ambisi itu telah dicapainya dan ia memang tak perlu berambisi apa-apa lagi. Untuk menjadi sebesar sekarang, ia tak mungkin mencapainya tanpa ambisi, apa pun bentuknya. Ketika ia mengatakan bahwa dirinya tak berambisi jadi penyair, maka itu seakan-akan statusnya sebagai penyair berpengaruh di Indonesia itu hanya didapatkan begitu saja.

Padahal, untuk jadi penyair besar seperti sekarang, ada usaha kerasnya untuk mempelajari berbagai khazanah sastra, berjejaring dengan banyak pihak, membangun ekosistem sastra di zamannya dan seterusnya. Semua itu perlu ambisi. Dan karena ambisi itu, kita kini tak bisa melupakan begitu saja kontribusi GM di dunia sastra sebagaimana kita juga tidak bisa meluputkan politik sastranya juga.

GM tak perlu sungkan mengakui kalau dirinya juga berambisi jadi perupa. Tak ada yang salah. Sebagai perupa, ia agaknya sedang mencoba belajar. Saya setuju ketika ia menyebut dirinya perupa pemula sebagaimana saya juga percaya bahwa ia tak akan selamanya menjadi perupa semula. Menjadi perupa pemula adalah sebuah kewajaran belaka. Begitu rendah hati untuk seorang tokoh yang mau mengaku pemula. Sayangnya, ia bukan perupa pemula yang mau bersusah-susah. (Apa itu susah-susah? GM tentu tahu apa itu susah-susah. Sebagai penyair yang dulunya pernah kecil, ia tak mungkin tidak tahu apa artinya susah-susah). Istilah “perupa pemula” yang ia jadikan untuk mengidentifikasi dirinya itu hanyalah semacam political correctness. Ia lebih mudah memakai topi pelukisnya di panggung seni rupa kontemporer, salah satunya, justru dipengaruhi oleh ketokohannya itu. Dengan demikian, identifikasi diri sebagai perupa pemula jelas hanya basi-basi belaka. Ia justru tak betah lama-lama jadi perupa pemula.

Ketika ada suara lain yang mencoba meragukan dirinya, GM  ternyata bereaksi lewat tulisan berjudul “Perupa?”. Reaksi yang sama tak akan terjadi bila ada orang meragukannya di bidang sastra. Di bidang sastra yang sangat dicintainya, ia lebih tampak tidak peduli pada suara seperti itu. Sedikit-banyaknya tentu ia menyadari kekuasaannya di wilayah sastra. Sebagai seseorang yang ingin “mendaftar” jadi perupa lewat jalur “ketokohan”, ia ternyata gerah ketika ada orang yang mempertanyakannya. Ketokohannya diusik.

Dalam suasana seperti itu, suatu hal yang sangat mudah diduga adalah kemampuannya berkelit. GM sibuk mencari pembenaran, mulai soal prediksi teman dan kakaknya ketika SD sampai ke persoalan distorsi bahasa. Bahkan, lebih licin lagi, ia berlindung di balik tidak adanya pembagian kerja yang tegas dan permanen dalam sejarah sosial kita. “Kita agaknya menirukan sistem gilda di Eropa: ada kategorisasi pelukis dan bukan untuk masuk dalam gilda seni rupa,” demikian tulis GM.

He-he-he.

Tak kalah mengagumkan. GM  bicara soal komodifikasi. Ia  berkata, “Tak produktif jika kemudian percakapan balik ke persoalan “siapa” — dalam hal ini diri saya.” Barangkali ia lupa bahwa karya-karyanya yang dibangga-banggakan laku oleh para loyalisnya itu—sebagai asumsi dasar untuk melegitimasi GM sebagai perupa yang tidak pemula—justru lakunya karena, salah satu faktor penting di belakangnya, komodifikasi atas ketokohannya di bidang lain. GM mengajak kita untuk tidak bicara “siapa” ketika ia berdansa di panggung seni rupa justru lebih banyak karena faktor “siapaa” dirinya. Selama ini, ketokohan GM lebih bising dari bunyi karyanya. Kita layak mengangkat topi dan membungkukkan badan atas kemampuan berkelit GM yang sudah masuk ke level maestro ini. Feodalisme telah mengajarkan GM cara mendapatkan kehendaknya. Sedangkan demokrasi-liberal mengajarkan GM cara berkelit.

GM mengajak kita untuk “kembali menghidupkan kritik dan mengapresiasi kegiatan non komersial oleh galeri dan pameran.” Saya sepakat dengannya. Ini poin terbaik yang pernah diucapkannya dalam keributan ini. Banyak anak-anak muda yang mati-matian belajar seni rupa dan perlu untuk diberi akses sebanyak-banyaknya agar lebih baik. GM semestinya juga mempertimbangkan hal itu. Tapi, GM malah menjadi feodal berbulu liberal yang semakin tua semakin ingin mendapatkan semuanya, dengan suatu dan lain cara, lewat kekuasaan yang dimilikinya.

Saya percaya bahwa Goenawan Mohamad tak akan selamanya menjadi perupa pemula. Ia seorang pekerja yang gigih. Semakin hari ia tampak terus meningkatkan kompetensinya dalam melukis. Hanya saja, sekali lagi, ia terlanjur tidak tabah untuk sedikit lebih lama menjadi perupa pemula.

Demikian dari saya. Kepada GM saya serahkan waktu dan tempat. Silakan berkelit secanggih mungkin. Siapa tahu.

 

 

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.