OUR NETWORK

Politik dan Manusia-Manusia Yang Bertingkah Seperti Setan

Karena itu, saya harap, jangan pernah emosional menanggapi ketika orang lain meneriakkan kita sebagai setan.

Setan itu puncak ketakutan. Namun, sebagaimana lazimnya, ketika puncak ketakutan sudah terlalui, hanya ada dua kemungkinan: kita menjadi setan atau menjadi malaikat. Keduanya sekilas tampak berbeda. Namun, jika kita periksa dalam-dalam, keduanya—setan dan malaikat—mempunyai satu kesamaan utama: tak mengenal rasa takut. Karena itu, jangan bersegera kagum pada orang yang tak mengenal rasa takut karena orang tersebut belum tentu malaikat. Jangan pula bersegera takjub ketika ada yang meneriakkan orang lain sebagai setan karena belum tentu dia malaikat.

Setan tak pernah mengaku setan sebagaimana malaikat juga tak pernah angkuh mengakui dirinya sebagai malaikat. Setan itu tukang tuduh dan tukang tadah. Ajaibnya, setan itu sangat genius. Setan bisa menadah sesuatu yang berharga, tetapi kita tak kunjung merasa kehilangan. Setan bisa menuduh tanpa merasa terpojok. Setan itu bahkan bisa berwajah malaikat karena memang, setan itu sangat piawai berlakon. Setan adalah aktor hebat. Saking hebatnya, setan mampu mengeluarkan rohnya dan memasukkannya kepada orang lain yang membutuhkan.

Intinya, setan bisa menggantikan peran malaikat: penolong. Setan bisa menolong kita di saat kesusahan. Setan bisa dipanggil kapan saja. Setan bahkan mau hinggap tanpa ada yang mengundang. Begitulah setan. Dia akan selalu datang berkali-kali ke sekitar kita. Kita hanya menunggu waktu yang tepat: kapan mulai berkolaborasi dengan setan. Inilah yang pernah dinukilkan Stephen Vincent Benet dalam sebuah karyanya yang sudah menjadi klasik: “Hantu dan Daniel Webster”.

Predikat Semu

Pada cerita ini, Stephen Benet mengisahkan bagaimana setan selalu berkeliling dengan kuda hitam, jubah hitam, dan kereta hitam. Setan itu mengelilingi daerah-daerah yang sangat miskin. Karena selalu didera kemiskinan, pada akhirnya, banyak warga yang memilih berkolaborasi dengan setan itu untuk mengentaskan kemiskinannya dengan cara “menggadaikan” tanahnya kepada setan. Semula, Jabez Stone masih ogah bekerja sama dengan setan. Dia selalu berusaha sendiri. Namun, pada akhirnya, dia menyerah juga. Dia membutuhkan “bantuan” setan, kok.

Maka, dia “gadaikan” tanahnya kepada setan. Uniknya, Stone tak merasa kehilangan sesuatu apa pun. Justru setelah itu, hidup jadi Stone berubah. Dia mendadak kaya. Kitalah Stone itu. Hanya saja, barangkali, kita lebih lemah dari Stone. Jika Stone pasrah “menggadaikan” tanah karena tandus, kita justru menggadaikannya karena kita malas untuk mencangkul, menanam, menyiangi, mengairi, bahkan malas juga untuk memanen. Maka, jadilah kita sebagai germo, sebagai koruptor, sebagai bandar, sebagai pelacur, sebagai pencuri, dan kini: sebagai mafia pengumpul dan provokator massa.

Kita tak merasa bersalah karena pada akhirnya, semua orang juga berlaku demikian. Kita menjadi manusia kesetanan. Benar-benar kesetanan. Saking kesetanannya, kita berteriak bahwa golongan orang lain sebagai setan dan kita sebagai golongan malaikat. Padahal, siapa pun tahu, baik golongan kita mapun golongan orang lain itu tak pernah benar-benar luput dari korupsi, dari maksiat, dari judi. Kita hanya beda posisi dan nasib. Saat ini, karena kalah, kita, misalnya, ditempatkan sebagai oposisi dan yang lain sebagai penguasa.

Namun, catat, kata “penguasa” di sini bukanlah kata yang bermakna. Bukan berarti ketika orang lain berkuasa, maka kita dikuasai. Kata “penguasa” ini hanya predikat semu. Sebab, yang berkuasa sesungguhnya tak pernah benar-benar berkuasa. Yang berkuasa justru selalu terinjak-injak dan terhina. Lihatlah, bukankah mereka yang berkuasa selalu sah untuk dituduh ini-itu, selalu sah jika fotonya diacak-acak, diedit hingga menyerupai binatang paling haram? Sampai di titik ini, siapa sebenarnya yang berkuasa: oposisi atau pemerintah?

Entahlah. Yang pasti, saya sungguh tak bisa membayangkan jika politisi atau cendekiawan propemerintah menyebut orang lain sebagai setan. Mereka pasti dihantam, didemo, diolok-olok. Lihat Sukmawati. Lihat Ahok. Mereka hanya contoh kecil. Dalam pada lajur berpikir inilah kita bisa menerima mengapa Rocky Gerung yang menyebut kitab suci sebagai fiksi malah ada yang mengagung-agungkan. Mengapa ini terjadi? Mengapa kita tak berang ketika kitab suci disamakan sebagai fiksi? Sederhana saja, karena kita semua memang setan. Hanya saja, kita diberhala orang yang berbeda.

Di sinilah saya pikir, menuduh orang lain sebagai setan itu benar adanya karena kita semua adalah setan. Yang mungkin salah adalah ketika kita menuduh orang lain sebagai setan, sementara kita dengan pongah menempatkan diri sebagai golongan malaikat. Jelas, ini adalah pekerjaan setan. Sebab, mengklaim diri sebagai malaikat bukan kebiasaan malaikat. Malaikat tak pernah sombong. Malaikat tak pernah pamer kebaikan. Malaikat justru akan malu mengaku sebagai malaikat jika sikap golongannya tak lebih suci daripada golongan orang lain!

Untuk Apa Dipikirkan?

Karena itu, saya harap, jangan pernah emosional menanggapi ketika orang lain meneriakkan kita sebagai setan. Dengan meneriakkan kita demikian, kita harusnya justru berbahagia karena itu menjadi pertanda bahwa dosis kesetanan orang lain semakin memuncak. Dan, ini wajar saja terjadi. Dalam dunia setan (saya tahu karena saya juga setan), segala hal disahkan dan dibenarkan. Apalagi, jika dunia politik dan dunia setan bertemu, segalanya menjadi halal. Agama halal untuk membunuh; Tuhan untuk memprovokasi; malaikat untuk membantai.

Begitulah dunia politik dan dunia setan bekerja. Semuanya dilakukan dengan sangat berisiko, termasuk menggadaikan tanah terhormat kita, yaitu hati dan nurani, untuk setan. “Kalau kau mau menang, kau mesti mengambil risiko,” begitu Jane Bodine berujar kepada klien politiknya dalam Our Brand is Crisis. Sekali lagi, begitulah dunia politik dan dunia setan bekerja. Mereka memburu kemenangan dengan cara menjanjikan kebaikan sekaligus memfitnah orang lain. Karena itu, ayo, mari jangan pernah tergoda oleh janji-janji kebaikan itu.

Janji-janji kebaikan itu hanya cara setan mengklaim dirinya sebagai malaikat, apalagi kalau belum pernah berbuat. Sebab, pada akhirnya nanti, mereka akan kembali menjadi setan, kok. Tujuan mereka hanya satu: meraih kemenangan dengan konstitusional atau brutal. Kemenangan adalah harga mati, termasuk dengan cara memperdagangkan tuhan dengan harga banting. Motivasinya sederhana: semoga dengan membusukkan orang lain, golongan saya bisa menang. Karena itu, sudahlah, kalau akhir-akhir ini ada kekacauan luar biasa di negara kita, segeralah sadar kalau ini menjadi bukti bahwa dunia politik dan dunia setan sedang bekerja.

Mereka sedang mencabik-cabik kita, menempatkan kita pada posisi yang biner: pro dan kontra. Tujuannya sederhana: kita berkelahi. Setan suka perkelahian. Karena itu, mereka selalu mencari cara untuk membuat kita panik, takut, lalu kemudian berkelahi. Semakin kita panik, semakin kita takut, semakin kita berkelahi, maka semakin mereka suka. Apa boleh buat, begitulah dunia politik bekerja. Begitulah dunia setan menghamba. Jadi, terimalah ketika ada orang yang menunjuk partai lain sebagai partai setan.

Toh, adakah kita melihat perbedaan di antara partai itu? Kalau tidak ada, itu artinya, untuk apa dipikirkan? Sia-sia belaka, bukan?

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…