Senin, April 12, 2021

Pluralis Fundamentalis: Belajar dari Rosa Parks

Nasib Fatwa dan Kemungkinan Herd Immunity

Fatwa PP Muhammadiyah ditimbang. Transportasi dan jalan umum mulai dibuka, pun dengan pasar-pasar, sekolah dan ke rumunan lainnya termasuk saran MUI kepada pemerintah untuk...

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

ASN Zaman Now: Malas dan Korupsi?

Selama mengikuti Latihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) beberapa waktu lalu, saya selalu mendengar dengungan yang berulang dan agaknya penuh semangat dari widyaiswara:...

Candu Pak Jokowi Pada Militerisme

Jika ada satu ketergantungan yang tidak bisa dilepaskan dalam lebih dari tujuh dekade Negara kita berdiri, maka militerisme adalah jenis narkobanya. Adiksi yang muncul...
Cepi Sabre
Arsitek partikelir.

1 Desember 1955, Amerika yang sedang bersiap menyambut Natal tiba-tiba dihebohkan oleh sebuah peristiwa kecil. Bukan, bukan kampanye haram mengucapkan selamat Natal atau surat edaran dari pemda-pemda setempat soal atribut Natal untuk para pelayan toko, tapi karena di Montgomery, seorang perempuan kulit hitam, Rosa Louise Parks, menolak memberikan tempat duduknya di bus kepada penumpang berkulit putih.

Padahal apalah artinya tempat duduk di bus itu. Tante Rosa bukan dipaksa turun bus oleh supirnya, James Blake. Tante Rosa cuma diminta pindah duduk di bangku belakang. Apalah bedanya duduk di depan dengan di belakang bus, toh masih sama-sama naik bus juga, sama-sama duduk juga. Toh masih akan sampai juga di tempat tujuan. Sungguh centil dan kekanak-kanakan Tante Rosa itu meributkan hal yang sedemikian sepelenya.

Celakanya, persoalan sepele Tante Rosa itu didengar oleh para pluralis fundamentalis (meminjam istilah Iqbal Aji Daryono) seantero Amerika yang dengan segera mengglorifikasi peristiwa itu. Salah satu yang paling terkenal adalah seorang pendeta muda di Gereja Baptis, Martin Luther King, Jr. Orang ini kelak akan jadi terkenal juga karena pidatonya yang berjudul “Saya Kebanyakan Ngimpi”.

Om Martin, dalam pidatonya yang terkenal itu bilang bahwa dia punya mimpi kalau suatu hari anak-anak kulit hitam dan kulit putih bisa bergandengan tangan sebagai saudara. Di tahun 1950-an, di Amerika, ketika Donald Trump bahkan masih berumur 10 tahunan, jin iklan rokok kalau mendengar hal itu pun pasti akan bilang “Ngimpi!” Kalau Om Martin pidato di Yogyakarta hari-hari ini, mungkin dia juga akan bilang kalau dia punya mimpi bahwa suatu hari orang kulit hitam bisa dimakamkan di sebelah makam orang kulit putih tanpa syarat aneh-aneh. Judul dan isi pidato yang pas: kebanyakan ngimpi.

Tante Rosa termasuk beruntung karena rekan-rekannya sesama kulit hitam tidak memberinya puji-pujian semu sambil mengutip kata-kata 2Pac Shakur, “Kalau bokong hitammu ditendang orang, maka berikanlah bokongmu yang lain.” Padahal, kalau benar 2Pac pernah bilang begitu, itu bukan dimaksudkan supaya orang kulit hitam pasrah bongkokan setiap kali diperlakukan tidak adil. Kata-kata itu adalah perintah untuk tidak melawan kekerasan dengan kekerasan. Tapi bahwa ketidakadilan harus dilawan, ya teteup.

Kalau “berikanlah bokongmu yang lain itu” dimaknai sebagai sikap pasrah, Tuhan tidak perlu repot-repot mengirim 2Pac ke dunia. Atau Yesus, yang kalau dia cuma bisa pasrah ketika ketemu orang yang sedang kerasukan setan di Gerasa, alih-alih mengusir Sang Iblis, dia justru akan nanya, “Masih ada orang enggak di Gerasa? Karena kalau satu orang kemasukan setan, berikanlah kepadanya orang yang lain lagi.”

Nah, yang tidak sesuai dengan ajaran “berikanlah pipimu yang lain” tadi adalah kalau karena di Bogor, misalnya, umat muslim menolak gereja didirikan, lalu di Manokwari orang Kristen melarang masjid dibangun. Tak peduli Manokwari mau dijadikan Kota Injil atau apalah. Karena hukum utama dalam Kristen adalah kasih. Kalau saudaranya, umat muslim, mau mendirikan tempat beribadah, ya kasih dong. Soal Bogor, ajukan ijin, penuhi syarat-syaratnya, sampai protes ke pemerintah seperti teman-teman Tante Rosa yang protes ke pemerintah Amerika. Masih belum dikasih izin? Berdoa. Berusaha yes, kekerasan no.

Kalau dipikir-pikir, Tante Rosa itu memang keterlaluan. Bukan hanya karena kasusnya sedemikian sepele, tapi karena juga sudah ada kesepakatan bersama sebelumnya. Bukan sekadar kesepakatan abal-abal dalam bentuk omongan saja, atau surat pernyataan dadakan bermaterai 6.000, tapi di Montgomery dan beberapa tempat di Amerika lainnya, soal tempat duduk di bus itu bahkan sudah ada undang-undangnya. Tidak heran kalau kemudian Tante Rosa didatangi aparat, mulai dari Babinsa, Danramil, sampai Kapolsek Montgomery.

Mungkin Tante Rosa dan teman-temannya berpikir kalau tidak semua kesepakatan bersama itu baik. Kalau patokannya cuma sekadar kesepakatan bersama, zaman dulu juga ada sekelompok masyarakat yang sepakat kalau hujan enggak turun-turun di daerahnya, maka mereka boleh merogoh jantung salah satu warganya yang masih perawan ting-ting lalu melemparkan tubuhnya ke kawah gunung berapi.

Atau demokrasi. Demokrasi itu kan sistem buruk terbaik yang kita punya hari ini. Di bawah jargon “suara rakyat suara Tuhan”—yang bahasa Latinnya terdengar seperti jajaran merk hape—orang berpikir bahwa itulah sistem terbaik ciptaan umat manusia sampai Donald Trump terpilih sebagai presiden (pendukung Ahok garis keras mungkin akan suka kalau baris ini diganti “sampai Anies terpilih sebagai gubernur”). Kesepakatan bersama ternyata hasilnya bisa begitu mengecewakan.

Tapi kesepakatan adalah kesepakatan. Dari sudut pandang Kapolsek Montgomery yang menahan Tante Rosa dan hakim yang mendendanya 10 dollar, beliau sudah melanggar.

Tante Rosa dan para pluralis fundamentalis pendukungnya itu juga tidak mau tahu kondisi sosiologis Montgomery yang dari dulu ya tempatnya orang kulit putih. Pluralis fundamentalis itu sepertinya memang selalu hantam krama, gebyah uyah, setiap kali mendengar kasus yang ada bau-bau intoleransinya. Mungkin karena cita-cita mereka memang menciptakan suatu tempat di mana semua orang bisa diterima oleh semua orang secara utuh tidak peduli apa pun sukunya, rasnya, golongan, pilihan politik, atau agamanya. Dan yang paling penting, tidak peduli berapa pun jumlahnya.

Kalau cuma ada satu orang Kristen di Bogor, misalnya, ya kurang ajar kalau orang itu memaksa mendirikan gereja. Lha apa pendetanya, penatuanya, paduan suaranya, sampai jemaatnya mau dia sendiri? Tapi kalau ada 90 orang, bolehlah ditimbang-timbang untuk menghilangkan syarat “mendapat izin dari setidaknya 60 warga sekitar”. Sama halnya dengan masjid di Manokwari. Kalau cuma satu muslimnya, apa dia mau jadi imam sekaligus makmum? Tapi kalau ada 90 orang, izin dari 60 warga sekitar seharusnya sudah tidak diperlukan atas nama “semua orang seharusnya bisa menerima semua orang”.

Tapi bahwa satu orang Kristen di Bogor boleh mengusung salibnya atau satu umat Muslim di Manokwari boleh berhijab atau bercelana cingkrang, maka itulah yang disebut “semua orang seharusnya bisa menerima semua orang secara utuh”. Orangnya dan simbol-simbol yang diyakininya.

Kembali ke kisah penolakan Rosa Parks memberikan tempat duduknya kepada orang kulit putih di sebuah sore yang dingin di bulan Desember. Singkat cerita, Tante Rosa dan teman-teman pluralis fundamentalisnya berhasil mengubah wajah Amerika. Condoleeza Rice bisa jadi menlu, Barrack Obama bisa jadi presiden, dan Kapten Amerika bisa bertarung side by side dengan Raja Wakanda. Sampai … sampai itu tadi, Donald Trump terpilih jadi presiden.

Tante Rosa mungkin tidak berpikir sejauh para aktivis yang dimotori Om Martin yang ingin mengubah wajah Amerika sebegitu hebatnya. Mungkin dia cuma mau mengubah sedikit hal saja, tidak ada pemisahan tempat duduk di bus berdasarkan warna kulit. Kalaupun ada yang juga mau diubahnya, mungkin masih soal-soal sepele seperti tidak ada lagi “makam kulit putih”, “rumah makan kulit putih”, atau “kos-kosan khusus kulit putih”.

Di tempat lain yang jauh baik dari Amerika maupun Wakanda, perjuangan seperti yang Tante Rosa lakukan akan terasa jauh lebih sulit karena pasrah bongkokan di bawah ayat “berikanlah pipimu yang lain” dianggap kemuliaan, karena setiap kasus intoleransi adalah kasus “cuma” (cuma simbol, cuma gitu doang), karena akan dianggap melanggar kesepakatan bersama yang merupakan kearifan lokal, atau dianggap tidak mau tahu sejarah dan kondisi sosiologis setempat, sampai dilabeli pluralis fundamentalis—walaupun kalau Rosa Parks dan Martin Luther mendengarnya, mungkin mereka akan menganggapnya sebagai pujian alih-alih celaan.

Cepi Sabre
Arsitek partikelir.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Bertahan Disegala Kondisi

Pandemi COVID-19 membawa beragam nilai positif. Bagi dunia pendidikan, selain orangtua mengetahui betapa susahnya Pendidik (guru/dosen) mengajar anak didik, pendidik juga bisa belajar secara...

Bagaimana Cara Mengatasi Limbah di Sekitar Lahan Pertanian?

Indonesia merupakan negara agraris yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai petani. Pada bidang pertanian terutama pertanian konvensional terdapat banyak proses dari penanaman hingga pemanenan,...

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Umat Kristiani Bukan Nashara [Kaum Nasrani]

Dalam bahasa Arab, kata "nashara" merupakan bentuk jamak dari "nashrani". Sebutan "umat Nasrani" secara salah-kaprah digunakan untuk merujuk pada umat Kristiani, penganut agama Kristen....

Terorisme dan Paradoks Keyakinan

Jika Brian May, gitaris grup band Queen, menulis lagu berjudul "Too Much Love Will Kill You", dalam terorisme barangkali judul yang lebih tepat, "Too...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.