Selasa, Oktober 20, 2020

PKI Tak Pernah Bangkit Sebab Tak Pernah Mati, Muhammadiyah Melawan Lupa

Pemilu AS dan Penanganan Pandemi Corona

Terinfeksinya seorang warga Amerika Serikat (AS) dari Wuhan, China, pada 21 Januari 2020 menandai kasus pertama virus Corona (Covid-19) di Negara Paman Sam. Sebulan...

Harga Menjadi Seorang Environmentalis

Kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi di banyak titik di Indonesia, mencakup wilayah Sumatera, Riau, dan Kalimantan. Sepanjang tahun 2019 saja, seperti yang...

Dahnil dan Cak Nanto, Pemuda Muhammadiyah Berkemajuan

Realitas menyebut, ada sebagian yang tidak bersetuju dengan gaya kepemimpinan Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah sekarang, Sunanto atau Cak Nanto, hanya karena tidak mengikuti...

Pak Prabowo dan Pak Amien Rais Itu Ibadah, Bukan Cari Dukungan Politik

Sungguh celaka manusia yang mencurigai niat baik. Misalnya menuduh perjalanan umrah Pak Amien Rais dan Pak Prabowo sebagai usaha mencari dukungan politik. Bagaimana mungkin...
Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

Karl Popper pernah berkata, keliru adalah manusiawi, dan saya berbuat manusiawi sekaligus dua. Maka tesis Daniel Bell tentang The end of ideology pun patah. Risetnya tentang ‘berakhirnya ideologi’ tidak terbukti, sebaliknya perang ideologi makin kencang dengan skala yang lebih luas tapi latent.

“Pancasila hanya alat, seperti sapu lidi untuk membersihkan, jika halaman sudah bersih kita tak butuh sapu itu lagi“ kata Dipo Nusantara Aidit dengan pongahnya dalam suatu pidato heroik penuh provokasi.

Tokoh dan pemikir PKI itu amat ambisius tapi juga cerdik memanfaatkan momen. Sejak mula PKI amat dekat dengan kekuasaan, kata Prof William Lidle seorang Indonesianis yang berpengaruh.

Partainya meroket dalam kurun yang amat pendek dan menarik banyak peminat karena dianggap populis. DN Aidit bisa mengubah image rakyat tentang PKI yang tidak bertuhan ini menjadi partai alternatif dan menjanjikan perubahan.

‘Partai PKI’ menawar perubahan dan harapan bagi jutaan proletar yang tertindas, dizalimi dan dimiskinkan. ‘Partai PKI’ pun disokong banyak orang dan menyodok masuk papan atas di bawah PNI dan Masyumi kala itu. PKI amat dekat dengan kekuasaan.

Sebagai partai ideologi, PKI tak pernah mati sebab itu ia tak perlu bangkit. PKI hanya mati administratif tapi ideologi komunisme tetap tumbuh subur. Partai berlogo palu dan arit ini sangat licin, ulet dan gigih. Ibarat kata, tak lekang oleh panas, tak lapuk oleh hujan meski telah jelas-jelas dinyatakan sebagai partai yang diharamkan.

Tapi, siapa bisa cegah ideologinya terus hidup dan bertahan, gerakannya sungguh menawan karena tetap kuat bertahan ditengah tekanan politik yang keras. PKI adalah partai yang liat dan lulus dalam berbagai uji.

Akan halnya ideologi Pancasila. Karena umat Islam tak cukup merawat, Pancasila telah diambil orang. Ditafsir sesuai keinginan dan kehendak politik ‘sekelompok’yang menginginkan Pancasila sebagai ideologi yang harus ditanam.

Lantas siapa berhak menafsir Pancasila? Bagaimana jika Pancasila hanya sebagai rumah kosong? Bergantung siapa yang tinggal, menghuni dan menafsir? Bukankah di saat PKI teramat dominan menginviltrasi rezim kala itu, Pancasila pernah diperas menjadi Trisila kemudian dipermak lagi menjadi Eka Sila atau Gotong Royong, istilah teknis untuk menunjuk pada konsep ‘masyarakat komunal’ yang digagas Marx.

Bagi rezim berkuasa Pancasila kerap menjelma sebagai alat yang cukup ampuh untuk bisa tetap mencengkeram kekuasaan hingga waktu yang ditentukan, menjadi perisai sekaligus peluru untuk membidik siapa pun yang dianggap musuh.

Undang-undang haluan ideologi Pancasila salah satunya—sebentuk perang ideologi telah dimulai. Pertarungan di gedung parlemen tak bisa di elak. Partai-partai Islam tak cukup taji untuk melawan. Daya imunnya tak cukup kebal mencandra genderang perang yang sudah ditabuh.

Pentas perang virtual telah digelar—siapa pun bakal menafsir Pancasila. Ini perang ideologi melibatkan pikiran ide dan wawasan yang cukup hingga adu cerdik untuk menafsir.

Saya tak bicara substansi tentang ideologi Pancasila, tapi mungkin juga karena ada sebagian agamawan yang tak cukup cerdik menempatkan Pancasila dalam struktur pikiran umat Islam hingga Pancasila dilawan dimusuhi, lantas Pancasila diambil orang.

Muhammadiyah selalu hadir ketika dibutuhkan. Menjaga ideologi negara adalah bagian penting dan mendasar. Merawat Pancasila sama dengan merawat agama berikut umatnya.

Para ilmuwan dan ulama kembali turun, merebut tafsir Pancasila warisan leluhur, di mana Ir Soekarno penggali dan perumus Pancasila, dan Ki Bagus Hadikoesomo penggagas Piagam Jakarta adalah kader-kader terbaik Persyarikatan sebagai founding father negara kebangsaan. Negara Boeat Semoea!

Avatar
Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

Perang dan Cerita

Demonstrasi tolak RUU Cipta Kerja terjadi pada 8 Oktober 2020. Seperti aksi-aksi lainnya, kita barangkali bisa mulai menebak, bahwa sepulangnya nanti, hal-hal yang menarik...

Adakah Yahudi yang Baik di Mata Islam?

Yahudi, selain Kristen, adalah agama yang paling tidak disukai oleh kita, umat Islam di Indonesia atau di mana saja. Entah karena motif politik atau...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Hakikat Demokrasi

Demokrasi bagi bangsa Indonesia sendiri adalah istilah baru yang dikenal pada paruh abad ke-20. Dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat, demokrasi dalam bentuknya yang modern...

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.