OUR NETWORK

Pindah Agama dan Kebebalan Deddy Corbuzier

Keyakinan adalah kesunyian masing-masing.

Berpindah agama adalah hak asasi. Seharusnya begitu. Maka, kita tentu sangat prihatin jika karena pindah agama, seseorang dijauhkan, bahkan dikenai hukuman mati seperti pernah terjadi di Sudan. Apa-apaan sehingga negara harus hadir menghakimi urusan Tuhan dengan umat-Nya, bukan?

Agama adalah agama; negara adalah negara. Keduanya berbeda, meski bukan untuk dibedakan. Maksud saya terang: pindah agama itu urusan pribadi, hak privat, tak bisa diganggu gugat. Jadi, persetan dengan Asmirandah yang mendadak Kristen. Peduli amat dengan Deddy Corbuzier yang sah jadi Muslim hari ini. Tak ada urusanku dengan pilihan mereka.

Nah, lalu, mengapa kemudian saya membuat tulisan ini, bahkan dengan judul yang sepertinya penuh kebencian? Sederhana saja, karena Deddy Corbuzier, menurut saya, malah sedang melecehkan agama. Entahlah Deddy yang bermaksud begitu. Yang pasti, sependek pembacaan saya di media, saya menangkap kesan bahwa Deddy ingin prosesi langkah barunya menjadi fenomenal. Karena itu, Deddy ingin acara ini menjadi serupa atraksi sulap: disiarkan secara langsung. Pertanyaannya, apakah acara pindah agama memang serupa atraksi sulap: disaksikan banyak orang dari segala penjuru?

Kalau begitu, apakah agama itu hiburan? Apakah agama itu sensasi? Terus terang, jika ini betulan niat Deddy untuk ditayangkan secara live, menurut saya, ini kebodohan luar biasa, bahkan pelecehan luar biasa dari Deddy. Anda mungkin merasa saya terlalu kolot dengan memberikan banyak bukti bahwa acara agama itu sering disiarkan secara langsung, kok, seperti pada masa-masa besar keagamaan. Tetapi ingat, ini dua hal berbeda. Acara keagamaan, seperti pada hari besar keagamaan, melibatkan banyak orang. Jadi, ini bukan urusan personal semata. Ini bahkan urusan bagaimana menghargai orang lain.

Lomba Kebisingan

Saya, misalnya, sebagai seorang Katolik, jadi tahu hari besar agama selain Katolik, paling tidak bagaimana prosesi kasarnya. Demikian juga yang lain. Tak ada potensi kebencian di sana. Beda dengan niat gila Sang Pesulap ini: menyiarkan secara langsung perpindahan agama.

Terus terang, di negara ini, berita pindah agama adalah berita dualisme. Ada aroma peperangan terselubung sehingga satu pihak merasa kalah, satu pihak lain merasa menang. Pasalnya, di negara kita ini, urusan kemenangan agama seperti disederhanakan sebagai lomba paling banyak pengikut. Agama serupa pemilu: lomba kuantitas.

Semakin banyak, maka semakin menang. Seperti politik yang lomba mengumpulkan suara, agama jadi lomba kebisingan. Agama menjadi huru hara. Dampaknya, banyak orang yang memutuskan untuk beragama, tetapi kedamaian malah semakin tersisihkan. Beragama tak menjamin kedamaian. Bahkan, ada kesan bahwa semakin beragama, semakin kacau. Paling tidak, perhatikanlah, bukankah negara paling damai adalah negara yang warganya banyak ateis? Saya tak sedang mengatakan sebaik-baik manusia adalah ateis, lalu seburuk-buruk agama adalah orang yang beragama.

Saya justru sedang mengatakan bahwa betapa selama ini kita overdosis agama sehingga agama yang semestinya urusan berdamai jadi urusan bertikai; semestinya urusan personal jadi urusan massal; urusan esensi menjadi urusan sensasi. Untuk apa, misalnya, Deddy sibuk-sibuk memamerkan urusan pindah agamanya? Supaya banyak mengikuti langkah Deddy atau menghujat dia?

Saya, terus terang, pada satu titik kagum ketika Deddy Corbuizer pindah agama bukan karena jodoh, juga karier. Sebab, kita tahu, selama ini, urusan pindah agama kerap karena jodoh. Tak kalah memalukan, urusan pindah agama juga demi karier.

Salut saya untuk Deddy, ia tak seperti itu. Kariernya melejit, kok. Dari host  hingga Youtuber. Deddy, konon, sudah mempelajari agama. Bahkan Deddy Corbuizer memberikan pertanyaan pamungkas yang membuatnya kukuh jadi mualaf, yaitu, secara ringkas bahwa agama itu tak perlu dibela. Sekali lagi, salut untuk Deddy. Ia bukan orang kebanyakan yang kepincut pindah agama karena jodoh dan karier. Ini murni karena kemauan hati. Masalahnya hanya satu saja: kemauannya untuk pamer-pameran pindah agama.

Jangan-jangan, Deddy ingin menaikkan rating  televise, walau hanya sebentar? Jangan-jangan pula, ia akan memasukkannya ke akun YouTube agar trending? Lalu, setelah trending, video itu akan berubah menjadi kapital alih-alih spiritual; kehebohan alih-alih kekhusyukan? Apakah begini yang namanya agama? Saya jadi teringat kisah sensasi antara Lucinta Luna dengan Deddy yang kemudian sempat trending. Apakah Deddy ingin membuat prosesi sakral ini jadi tontonan semata sehingga urusan agama menjadi urusan komersial dan sensasional?

Tak bisa ditampik, Dedy adalah orang yang terkenal. Justru dalam pada inilah saya pikir Dedy, pada posisinya sebagai publik figur yang terkenal itu, mestinya bersikap arif dan bijak. Tak usah munafik, berita pindah agama itu sungguh potensial membuat perkelahian kecil. Riak-riak di akar rumput bisa timbul. Buktinya, pencarian nama di Google selalu meningkat tajam ketika berpindah agama daripada mendapat prestasi, seperti dialami Lindsel Kwok. Itu artinya, orang sangat “tertarik” dengan berita pindah agama. Tetapi, “ketertarikan” ini cenderung negatif.

Negara Overdosis Agama

Lihat saja komentar di medsos ketika link berita perpindahan agama dibagikan: kebanyakan yang terjadi perkelahian alih-alih adu argumen, bukan? Seperti saya sebut di atas: perpindahan agama adalah hak asasi, tak bisa digugat. Hanya saja, di negara overdosis agama, semestinya setiap orang tak perlu pamer pindah agama. Media pun tak perlu ikut membesar-besarkannya. Berita pindah agama, apalagi viral, membuat orang merasa senang, merasa sedih. Senang karena mendapat anggota baru, sedih karena kehilangan anggota lama.

Ironisnya, bagi teman baru, mereka akan membaca bahwa perpindahan ini pertobatan: kembali ke jalan yang benar. Itu berarti selama ini orang tersebut berada pada jalan yang salah. Arti telanjangnya, agama lama teman baru itu adalah sesuatu yang salah. Betulkah? Bukan urusan kita tentu saja. Siapa kita sehingga berhak menghakimi agama ini benar, agama itu salah? Apakah kita Tuhan? Namun, di negara overdosis agama, urusan Tuhan sudah diurusi manusia sepenuhnya. Tuhan seperti diringankan pekerjaan-Nya oleh manusia.

Dampaknya, meski dari yang tersirat hingga tersurat mengatakan bahwa agama tak mengantar manusia ke surga, bahwa agama bukan kendaraan pengangkut manusia ke surga, pada praktiknya, manusia mendaulat agama adalah alat tranposrtasi ke surga. Posisi kebaikan dan amal dibuat jauh lebih kecil daripada agama. Manusia semakin kerasukan aura ketuhanan (hasrat ingin menjad Tuhan) sehingga surga dikapling-kapling dan menghakimi orang lain.

Membaca overdosesi agama ini, juga potensi riak di baliknya, Deddy Corbuizer, jika ingin pindah agamanya demi kekhusyukan, tak perlu pamer-pamer pindah agama.

Pindah agama itu bukan urusan naik jabatan sehingga perlu dipertontonkan, dipestakan, dikirimi ucapan selamat papan bunga, dan sebagainya. Entahlah kalau pola pikir Deddy mengatakan bahwa pindah agama adalah serupa naik jabatan atau serupa atraksi sulap yang mewah. Jika begitu, monggo Deddy Corbuizer. Bila perlu, pindah agamalah setiap tahun dan siarkan setiap tahun pula.

Guru Bahasa Indonesia di SMAN 1 Doloksanggul, Aktivis Antikorupsi, Pegiat Literasi di Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) dan Toba Writers Forum (TWF), Medan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…