Jumat, Desember 4, 2020

Pilu-Kasih di Medan Aksi

Menjaga Kesehatan Tubuh dari Covid-19

Menjaga kesehatan menjadi hal yang penting dilakukan semua kalangan. Apalagi dengan kondisi alam yang semakin merabahnya virus covid 19. Terkadang hal sederhana yang rutin...

Pentingkah Jasa Orang-Orang Tionghoa di Indonesia?

Informasi tentang peran dan jasa orang-orang Tionghoa di Indonesia sangat penting, bahkan darurat! Karena merekalah yang mengalami nasib paling buruk sepanjang kemerdekaan bangsa ini,...

Dilema Pidato AHY: Terlalu Militer Kurang Sipil, Terlalu SBY Kurang AHY

Setidaknya saya tiga kali satu forum dengan AHY. Di Kementerian Pertahanan di Jakarta, di ITB dan Universitas Parahyangan Bandung, terakhir di Berlin, Jerman. Waktu...

Bye Bye KPK…

Sebuah tembang era 90-an menyitir bahwa dunia ini panggung sandiwara. "Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar dan ada...
Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.

Malam itu menjadi momen yang tak terlupakan. Saya kira, saya hanya akan menghabiskan malam dengan makan atau nongkrong di kafe favorit bersama sang kekasih. Seperti pasangan muda pada umumnya, romantis dan memanjakan, saling berbagi cerita dan menebar rasa. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Pada malam-malam lalu, justru berlari sembari menahan mata perih akibat teargas lah yang mau tak mau harus kami nikmati.

Awalnya kami terpisah. Terpisah karena memang sayalah yang memisahkan diri dari massa aksi kampus. Biasa, keselamatan massa diutamakan katanya, sehingga terpaksa harus ditarik mundur demi kemaslahatan bersama. Saya dan kawan saya yang gerah oleh sikap main aman kampus, memutuskan untuk keluar dari barisan massa aksi, mencopot almamater, dan melebur bersama massa aksi lain yang telah berada di garda terdepan: “Cek ombak lah yuk, majuin”, Ucapnya.

Ternyata itu adalah keputusan yang tidak bijak, kami berdua terjebak dan tak bisa melarikan diri, ditemani oleh batu dan beling, tak luput gas air mata yang melalang buana. Perempatan Jalan Kebon Sirih sudah terjadi bentrokan, pun di Jalan Medan Merdeka lebih parah lagi, belok kearah M.H Thamrin sudah di blokade. Terpaksa kami berdua menahan dan berlindung diri di halaman depan Hotel Mecure, sembari beberapa kali membela diri jika para aparat membidik kami.

Menjelang maghrib, bentrokan mulai mereda. Kami berdua kembali menuju ke arah Tugu Tani, itupun kami harus sedikit bercekcok dengan aparat. Ternyata, di Tugu Tani masih terjadi bentrokan, kami berdua dipaksa aparat untuk belok ke Jalan Kebon Sirih. Sembari mengumpat karena ditekan aparat, kami juga sedikit kesal karena ternyata rombongan massa aksi kampus kami sudah berada di angkutan kota menuju Depok. Yasudah, kami beristirahat dahulu saja di bahu trotoar jalan.

“Memisahkan diri dari massa aksi untuk cek ombak, adalah keputusan yang buruk!” Itulah yang menjadi pikiran saya saat itu. Kami memutuskan untuk ke Stasiun Gondangdia. Beberapa saat berjalan dengan pontang-panting, ada yang memanggil kami dari sebrang jalan. Ternyata mereka kawan-kawan saya di FISIP, dan juga terdapat sang kekasih. Suasana hatiku berubah, pikiranku lantas berucap: “Ini adalah keputusan yang tepat!”

Inilah bagian terbaiknya, saya dan kawan-kawan semua memutuskan kembali ke medan aksi dan berjalan ke arah Tugu Tani, dan ternyata bentrokan masih terjadi. Situasi kacau sekali, pos polisi di pinggir jalan sudah habis terbakar, dan mobil berplat merah menjadi sasaran empuk kemarahan. Pada malam itu juga, di sosial media sedang ramai perbincangan bahwa terdapat halte yang dibakar di daerah Sudirman.

Merespons hal tersebut, saya menjadi merefleksikan suatu hal, sehingga saya sadar bahwa memang tujuan dari demonstrasi adalah menciptakan ketidaknyamanan dan mendobrak kondisi kenormalan. Apalagi, Omnibus Law ini amat erat menyangkut hidup mereka, saya paham jika banyak di antara demonstran merasa desparate terhadap situasi sosial-politik yang ada.

Ironisnya, banyak diantara kita menafikan fakta sejarah bahwa justru kekacauan seperti inilah yang membawa kita pada reformasi sosial; hukum yang mapan, kemerdekaan, sampai kenyamanan yang kita nikmati saat ini. Karena memang kekacauan seperti aksi ini adalah manifestasi kemarahan sosial pada situasi yang ada, dan kemarahan tersebut amat tulus dilepaskan.

Tidak pernah ada kemerdekaan tanpa melawan penjajahan, dan tak pernah ada rasa aman jika tak diperjuangkan. Semua pengrusakan adalah bentuk konflik yang visible, terdapat konflik laten dan itu tetap dilanggengkan, yakni; diskriminasi dan kemiskinan. Marah jugalah pada kedua hal tersebut.

Bukan berarti saya berusaha untuk menormalisasi segala bentuk pengrusakan yang terjadi. Pun saya juga sepakat bahwa aksi pengrusakan bukanlah cara yang baik. Namun, jika kita kontraskan dengan segala bentuk eksploitasi dan penindasan yang ada, justru lebih banyak diaktori oleh mereka yang mengaku sebagai pengatur kestabilan. para ‘pengrusuh’ hanya melakukan apa yang memang harus dilakukan. Sekarang, seberapa banyak aksi damai yang menuai keberhasilan?

Meskipun demikian, saya tau kondisi ini berbahaya. Semakin berbahaya ketika aparat menembakan senjatanya dan menyisir paksa mereka-mereka yang memang sedang meluruskan kaki di pinggir jalan. Pengrusakan memang nyata, begitupula dengan represi yang dilakukan aparat; itu fakta dan perlu untuk dientaskan.

Semua hal diatas masih terjadi meskipun jarum jam berada pada pukul 23.00 WIB. Seolah-olah massa aksi tak ingin membubarkan diri sebelum tuntutannya dipenuhi, solidaritas sangat terasa sekali. Begitupun juga saya, sangat tak ingin membubarkan diri, karena kapan lagi bisa menikmati momen mata perih dan kaki pegal karena berlari ketika aksi bersama sang kekasih.

Atas segala hal yang telah saya sampaikan, sesungguhnya saya ingin mengucapkan terimakasih kepada pemerintah, DPR dan para aparat. Berkat kalian, kami menjadi percaya bahwa kami harus menjaga bersolidaritas untuk tetap berdiri di kaki kami sendiri. Sehingga kami sebagai rakyat Indonesia, saya dan tentunya sang kekasih, menjadi lebih saling menyayangi!

Saroel
Mahasiswa Antropologi Sosial Universitas Indonesia. Tengah menjadi Kepala Divisi Eksternal Biro Penelitian dan Pengembangan BEM FISIP UI 2020 dan Wakil Kepala Departemen Kajian dan Literasi KSM Eka Prasetya UI 2020. Magang di Geotimes.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.