Minggu, April 11, 2021

Pidato Grace Natalie dan Caleg Perempuan

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Setelah Kudeta Film Dilan 1991, Mahasiswa Makassar Akan Sweeping Buku La Galigo. Ada Apa?

Makassar, MANDHANINEWS — Setelah Mahasiswa Makassar melakukan penolakan dan kericuhan terkait film Dilan 1991, para mahasiswa ini akan melakukan kudeta terhadap film tersebut di...

Grace Natalie dan Wajah Partai Millenial

Di grup-grup whatsapp berseliweran video iklan Partai Solidaritas Indonesia. Surprise juga saya melihat videonya. Disana tampil ketua umum PSI Grace Natalie dengan penampilan berbeda. Grace...

Hoaks Pranoto dan Taktik Jitu Marketing

“Prof itu merupakan panggilan sayang.” Begitu kata Hadi Pranoto memberikan klarifikasinya kepada media. Beberapa hari sebelumnya, Pranoto di panggil dokter, sesekali Profesor dalam wawancara...

Saya baru membaca ketum PSI diadukan ke polisi karena menista agama. Lalu teringat dialog Mata Najwa dengan caleg perempuan, diantaranya dua feminis. Sambil melihat gender gap indeks. Mataku tertuju pada Rwanda. Negara dg prosentase perempuan tertinggi di parlemen (67,5%). lihat di Arab Saudi, sekitar 20% melebihi Indonesia (17%).

Peran perempuan Rwanda dalam proses perdamaian, jadi contoh dimana-mana. Tapi hidup para politisi perempuan di dunia politik beda dg hidup di dunia privat. Banyak politisi bercerita, di rumah, suami maunya saban hari sepatu tetap disemirkan. Simbol siapa yg berkuasa sebenarnya.

Di Saudi, tahun lalu perempuan sdh boleh nyetir, tapi aturan yg lebih membelenggu dari itu, yaitu pengawasan perempuan oleh muhrim laki-laki dan keputusan hidupnya diambil oleh sang muhrim, tak dihapus. Akibatnya tetap sulit mobilitas mereka.

Di Indonesia, para caleg perempuan (di acara Mata Najwa) bicara tentang “isu-isu perempuan” seperti angka kematian ibu (AKI), stunting dan kekerasan terhadap perempuan (KTP). Ketika bicara KTP tak satupun bicara perkosaan oleh aparat syariah, mempermalukan perempuan di muka publik karena pakaian yg amoral, ditangkap malam hari karena distigma sebagai pelacur, menolak pelecehan seksual malah masuk penjara, terror dan kekerasan pada minoritas: perempuan, laki-laki dan transgender.

Saat bicara “well being” anak, gak menyenggol sedikit pun tentang penolakan vaksin rubella oleh kepala daerah, menyebabkan jutaan anak terancam cacat. Saat bicara AKI, tak menyebut soal kegagalan KB dan pengaturan kelahiran karena tekanan suami, keluarga besar dan ulama. Pun membahas soal BPJS-jaring pengaman kesehatan bagi yang paling tak beruntung-, tapi saat ini dibajak oleh kelas yang mampu bayar – menunggak lalu merugikan semua. Bicara perkawinan anak (salah 1 faktor AKI) , tak menyinggung soal ketiadaan pendidikan seks dan kawin muda akibat tekanan agama.

Bukan saya tak setuju dengan mengangkat tema AKI dan KTP (selain itu, menurutku isu-isu diatas bukan isu perempuan. Itu isu semua orang. Semua politisi ya harus bicara soal ini). Ada semacam ‘kesasar’ konsep. Persis seperti yang dikhawatirkan oleh para pemikir gender mainstreaming (Goetz, Cornwall), bicara pemberdayaan, jatuh pada soal teknis: macetnya UU Kekerasan Seksual di DPR karena banyaknya fraksi, kurang gregetnya menteri PPA karena advokasi lemah, perkawinan anak susah dihilangkan karena aturan-aturan saling bertentangan, dst.

Tak satupun merujuk (padahal tersedia penelitiannya) tentang siapa, partai mana, kepentingannya apa sehingga UU kekerasan seksual dan perubahan UU perkawinan gak kelar-kelar, sebagai contoh.

Relasi ‘kuasa’ di dalam DPR dan partai jalan seperti biasa, para caleg perempuan di arena publik ditugaskan (mungkin juga dikotakkan) bicara ‘isu perempuan’. Di dalam, tahu sama tahu siapa yang berkuasa sebenarnya. Sengaja atau tidak, para caleg perempuan tak mau menyentuh khitah pemberdayaan dalam konsep asalnya tahun ’90-an (dan 80 an) bahwa ‘power relationships matter’. Dugaanku perempuan (dalam makna relasi gender) dipinggirkan (dan tunduk) dalam lingkaran relasi kuasa itu.

Lalu, Grace Natalie pidato, PSI menolak Perda-perda Syariah dan Injil, goyanglah relasi-relasi kuasa yang elitis, kepemimpinan (laki-laki) yang hirarkis dan (hobinya) militeristik. Lihat gaya dan isi omongan Eggi Sujana atau PKS dalam menanggapi Grace, itu adalah mansplaining: ‘men explain things to me (women)’. Hirarkis. Merekalah pusat kebenaran. Tinggal nunggu elit-elit lain menanggapi, pasti mansplaining semua.

Grace Natalie yang tak pernah mengklaim diri feminis (mungkin tak sengaja juga) memahami bahwa pemberdayaan perempuan tanpa mengubah struktur kuasanya itu seperti kesasar.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kebebasan Berpendapat Masih Rancu

Kebebasan berpendapat merupakan sebuah bentuk kebebasan yang mutlak bagi setiap manusia. Tapi belakangan ini kebebasan itu sering menjadi penyebab perpecahan. Bagaimana bisa kebebasan yang...

Laporan Keuangan? Basi?

Berbicara soal laporan keuangan, tentu sudah tidak asing lagi di telinga orang ekonomi, apalagi yang bergelut dalam dunia akuntansi. Secara singkat, laporan keuangan adalah...

Mengenang Hans Küng (1928-2021), Tokoh Dialog Antar Agama

Bagi para pegiat dialog antar agama, sosok dan pemikiran Hans Küng tak asing lagi. Namanya kerap disebut seiring dengan pemikirannya tentang upaya mewujudkan perdamaian...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Kudeta Militer Myanmar, Asumsi Media Tentang Posisi Indonesia

Pada awal tahun 2021 dunia internasional dikejutkan dengan peristiwa yang terjadi di salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yakni Myanmar. Negara yang dulunya...

ARTIKEL TERPOPULER

Jihad Versi Kristen?

Kamus Besar Bahasa Indonesia menuliskan arti kata jihad sebagai usaha dengan segala upaya untuk mencapai kebaikan. Mengamati definisi ini paling tidak kita memiliki pengertian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Remaja dan Zona Nyaman

Remaja pada umumnya selain terlihat fisiknya yang berubah, tetapi juga mengubah perlahan tentang pola pikirnya. Pola pikir ini berhubungan dengan sebuah tahanan sesorang remaja...

Presiden Joe Biden: Gesture pada Islam dan Dunia Muslim

Joe Biden telah empat bulan lalu dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46 pada 20 Januari 2021. Joe Biden bersama pasangan wakil presiden Kamala...

Stop Propaganda Anti Syiah, Bersatulah Sunni dan Syiah

Apabila kita search dengan kata kunci Syiah, entah itu di youtube, google, instagram, dan lain sebagainya. Kita pasti akan menemui berbagai gambar atau video...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.