Kamis, Oktober 29, 2020

Pesan Tersirat dalam Stand-Up Comedy

Beberapa Rekomendasi Karier untuk Setya Novanto

Jakarta mendung, jalanan basah karena hujan semalam, dan genangan air di dekat trotoar seolah mendambah sendu suasana. Setya Novanto divonis hari ini dan alam...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Blunder Achmad Zaky dan #UninstallBukalapak

Di timeline saya mendadak ramai tagar #UninstallBukalapak. "Ada apa?" Pikir saya dengan antena detektif yang menyala. Saya langsung berangkat ke Twitter dan search "Achmad...

Benarkah Presiden Jokowi Pro-Lingkungan Danau Toba?

Saya masih ingat betul. Waktu itu saya masih SD. Hampir semua warga kampung kami pergi. Mereka meninggalkan sawah dan ladang hanya untuk sebuah alasan...
Nadia Diana Kamelia
Mahasiswa Antropologi. Tertarik dengan isu sosial-kemanusiaan, agama, politik dikit-

Komedi berkembang seiring meluasnya media digital dan teknologi. Masyarakat tidak lagi hanya mengenal penampilan kelompok komedi seperti srimulat. Dewasa ini, salah satu program pertelevisian yang menjadi favorit bagi banyak kalangan adalah standup comedy. Kini, masyarakat khususnya kalangan muda mulai menjadi penikmat standup comedy, model baru komedi pada masa ini.

Salah satu nama komika yang terkenal adalah Ernest Prakasa. Ernest adalah warga keturunan Tionghoa yang sering menggunakan latar belakangnya tersebut sebagai bahan lawakan. Keresahan dan cerita hidupnya menjadi seorang keturunan Cina ternyata dinikmati penonton stand-up comedy Indonesia.

Pasalnya, stereotip warga Indonesia terhadap etnis minoritas ini masih sedangkal orang asing yang datang ke Indonesia untuk memperkaya diri, berkulit putih, dan bermata sipit. Sehingga akan akrab di telinga kita jika ada ejekan “dasar cina” pada teman yang memiliki mata sipit dan berkulit putih, padahal belum tentu mereka adalah keturunan Cina.

Ejekan ini bisa jadi melukai hati beberapa individu atau bahkan dianggap biasa saja karena memang sudah sering didengar. Keresahan dan kebiasaan inilah yang oleh Ernest kemudian dikemas dalam sebuah stand-up comedy. Penonton yang hadir baik warga keturunan Tionghoa dan etnis lain pun tertawa terbahak-bahak dengan apa yang disampaikan oleh Ernest karena hal tersebut memang sesuai dengan pengalaman pribadi mereka.

Ernest mengekspresikan humor dengan dasar pengetahuan dan pengalaman yang sama dengan penontonnya. Penonton dilibatkan dalam humor yang disampaikan oleh komika sehingga muncul perasaan senasib sepenanggungan. Dia mengungkapkan bagaimana kehidupannya sebagai seorang bermata sipit atau keturunan Tionghoa dan menanyakan apakah ada yang mengalami hal yang sama dengannya, baik sebagai keturunan Tionghoa maupun tidak.

Walaupun bahasa yang digunakan oleh komika adalah bahasa yang ringan namun apabila konten yang disampaikan sedikit sensitif atau memiliki latar budaya yang berbeda tentu dapat berakibat fatal. Stereotip yang telah terbangun dalam masyarakat Indonesia dapat semakin kuat atau bisa saja diruntuhkan dengan fakta-fakta baru yang kebenarannya dapat diterima masyarakat luas.

Dalam salah satu stand-up comedy-nya yang berjudul “Koper”, Ernest mencoba untuk meluruskan stereotip masyarakat Indonesia terhadap etnis Tionghoa. Salah satu stereotip yang muncul adalah bahwa semua orang Cina pasti kaya. Dalam stand- up comedynya tersebut, Ernest secara tidak langsung membantah anggapan bahwa semua orang Cina pasti memiliki kehidupan ekonomi yang baik.

Tidak hanya itu, perlakuan mayoritas terhadap minoritas juga menjadi tema yang sering dibawakan oleh Ernest. Dengan gestur tubuh sedemikian rupa, ia mengungkapkan sindiran atas diskriminasi yang pernah ia alami. Walaupun disampaikan menggunakan nada candaan namun inilah kenyataan yang harus dialami oleh minoritas di negeri ini.

Ia juga pernah melakukan stand-up comedy yang kontennya berisi tentang pembuktikan bahwa sejatinya orang Tionghoa tidak pernah merendahkan orang lain, “lha, mandang dua mata aja susah, apa lagi sebelah”. Monolog ini berangkat dari kondisi fisik etnis Tionghoa yang memiliki mata sipit atau Ernest menyebutnya dengan istilah “kurang belo”. Dengan menertawakan diri sendiri sejatinya Ernest memiliki harapan bahwa pesan dari humor tersebut sampai pada masyarakat sehingga terbangun empati penonton terhadap etnis lain.

Ernest memanfaatkan stereotip yang terbangun di masyarakat dan berusaha meluruskan stereotip yang dianggapnya tidak sesuai dengan kehidupan etnis Tionghoa yang sebenarnya. Karena komedi dapat memberikan banyak informasi melalui penyampaiannya yang ringan, Ernest pun memilih membangun stereotip baru dengan cara menertawakan stereotip yang telah terbangun sebelumnya.

Penerimaan stereotip baru yang dibalut kemasan humor cenderung lebih mudah diterima masyarakat. Adanya stereotip SARA dalam stand-up comedy akan membawa dua keuntungan. Keuntungan yang pertama adalah membuat penonton tertawa dan terhibur sehingga membuat otak lebih segar. Keuntungan yang kedua adalah penonton akan mempelajari hal baru dengan cara penerimaan dan kepercayaan akan suatu kelompok sosial tertentu. Pandangan audiens akan berubah terhadap stereotip lama yang cenderung kaku.

Sejatinya, Ernest Prakasa yang sering membawakan materi diskriminasi terhadap kaumnya sendiri sebenarnya tidak hanya sedang berkomedi. Ada pesan tersirat yang harapannya adalah memberikan citra baik untuk golongan Tionghoa yang selalu dianggap sebelah mata. Melalui joke-joke tersebut, stereotip masyarakat yang keliru mengenai etnis Tionghoa yang acapkali memunculkan praktik-praktik diskriminasi tidak lagi berkembang di Indonesia.

Nadia Diana Kamelia
Mahasiswa Antropologi. Tertarik dengan isu sosial-kemanusiaan, agama, politik dikit-
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan di Era Disrupsi (Catatan Karya Yudi Latif)

Yudi Latif lebih muda 10 tahun dari saya. Dan walau saya, tentunya, lebih awal menulis, Yudi jelas jauh lebih produktif. Dua bulan lalu, saya diminta...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Kelamnya Dunia Politik di Thailand

Apa yang kalian bayangkan tentang negara Thaiand? Ya, negara gajah putih tersebut sangat dikenal dengan keindahannya. Apalagi keindahan pantai yang berada di Krabi dan...

Anak Muda dan Partai Politik

Tak dapat disangkal, gelombang demokratisasi seiring dengan gerakan reformasi 1998 telah mengantarkan kita pada suatu elan kehidupan publik yang terbuka, egaliter, dan demokratis. Reformasi...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dialog Sang Penyemangat

Ketika Sang Penyemangat datang kepadaku untuk memberikan tausiyah yang membarakan kalbu, Jiwaku begitu menggebu-gebu. Setiap kudengar tausiyah suci itu rangkai katanya merona dikalbu dan...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

Machiavelli: Pemikir yang Banyak Disalah Pahami

Dalam kajian Ilmu Politik, nama Nicollo Machiavelli dipandang sebagai penggagas teori politik modern. Tentu hal tersebut sangat beralasan, mengingat posisi Machiavelli yang secara tegas...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.