Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /home/geotimes/wordpress/wp-content/plugins/Plugin/plug.php on line 23
Pergulatan Ekstremisme dan Multikulturalisme: Antara Politik Identitas dan Pluralitas | GEOTIMES
Selasa, Maret 9, 2021

Pergulatan Ekstremisme dan Multikulturalisme: Antara Politik Identitas dan Pluralitas

Duh, Ironi Privasi dan Kita yang Diawasi

Sejak mulai diberlakukannya tatanan normal baru Juni lalu, kantor saya mulai memberlakukan presensi pegawai secara online dengan share location melalui aplikasi Whatsapp sesuai jam kerja...

Virus, Demit, Dokter, dan Musyrik

Satu cerita menarik dari allahuyarham Prof Dr dr Kabat bin Muarip famili dekat, tetangga dari kampung sebelah. Saat praktik sebagai dokter muda setelah lulus dari...

Bung Karno Tak Pernah Didakwa Makar

Tak banyak yang tahu jika Bung Karno saat diadili di Landraad Bandung dan Bung Hatta saat diadili di Den Haag tidak pernah didakwa dengan...

Politik dan Manusia-Manusia Yang Bertingkah Seperti Setan

Setan itu puncak ketakutan. Namun, sebagaimana lazimnya, ketika puncak ketakutan sudah terlalui, hanya ada dua kemungkinan: kita menjadi setan atau menjadi malaikat. Keduanya sekilas...
Mohamad Asep
Peneliti di Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang

Buku yang bertajuk “Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals with Extremism, Pluralism, and Populism” merupakan karya seorang intelektual Muslim dan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yaitu Ahmad Najib Burhani.

Buku tersebut merupakan kumpulan karya-karyanya yang tersebar di berbagai media massa khususnya ISEAS Commentaries, Jakarta Post dan Jakarta Globe sepanjang tahun 2004-2019. Selain itu di dalam buku tersebut juga terdapat beberapa artikel atau tulisan yang dibuat oleh intelektual lain seperti Mitsuo Nakamura, Hasnan Bachtiar, Tufail Ahmad, Luthfi Assyaukanie, dan laporan jurnalistik oleh Bambang Muryanto.

Sebagaimana dalam kata pengantarnya alasan buku ini diberi judul Heresy (bid’ah) and Politics adalah Burhani ingin memperluas makna bid’ah (kreasi atau inovasi) -yang selama ini dipahami dalam konteks keagamaan- dan implementasinya pada persoalan sosial dan politik. Di antara bid’ah yang dimaksud adalah penggunaan pertarungan ideologis dan menganggap pemilihan umum sebagai soal antara hidup dan mati, dan bid’ah yang paling besar dalam Islam adalah radikalisme dan terorisme.

Buku ini dibagi ke dalam tujuh bab. Bab pertama membahas terkait dinamika politik identitas dan arus extremisme yang muncul sejak Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta pada 2017 sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2019 hingga institusionalisasi Islam. Bab kedua, menyoroti organisasi Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan keterpilihannya Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden mendamping Joko Widodo (Jokowi), apakah merupakan bentuk respon atas perang ideologi yang sedang marak atau hanya sekedar pendulang suara umat Muslim.

Bab tiga, mengeksplorasi fenomena sikap umat Muslim yang masih belum menerima kehadiran Ahmadiyah sebagai entitas pluralitas keagamaan dan pengaruhnya pada perdamaian dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Bab empat, membahas fenomena radikalisme dan terorisme global serta pergulatan kelompok Islam yang dianggap liberal dan konservatif. Bab lima, Burhani mencoba menilik pertarungan politik di dalam tubuh Muhammadiyah yang didasari pada perang ideologi, yaitu antara kalangan liberalisme dan konservatif serta pengaruhnya pada masa depan model Islam yang akan ditampilkan Muhammadiyah.

Bab enam, merupakan bagian unik, karena pembahasannya mengenai globalisasi yang bisa bermakna Westernisasi dan Arabisasi, dan juga menyinggung ke mana seharusnya kita belajar tentang Islam Indonesia. Bab tujuh, menjelaskan terkait idologi, ritual dan praktek sosial Islam Indonesia.

Hadirnya buku ini merupakan bentuk respon Burhani atas problematika, dialektika dan dinamika politik di Indonesia, khususnya pada Pilgub 2017 dan Pilpres 2019 dan berbagai isu sosial keagamaan. Terkait dinamika politik Indonesia, umat Islam Indonesia menjadi pembahasan sentral pada bab awal buku ini.

Pasalnya arus Islamisme pada tahun-tahun tersebut begitu deras, yang pada akhirnya istilah “politik identitas” menjadi popular. Bahkan menurut Burhani, agama masih dipolitisasi pada Pilpres 2019 lalu, hal tersebut dikarenakan isu yang terjadi sepanjang masa kampanye berlangsung yaitu, Islam Nusantara yang dipromosikan oleh NU yang berada di kubu Jokowi dan pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia oleh Barisan Ansor Serba Guna (Banser NU) (hlm. 18-21).

Kemudian terkait isu keagamaan, Burhani mencoba memberi perspektif yang berbeda kepada para pembaca tentang berbagai isu umat Islam, khususnya pada isu Ahmadiyah. Hal yang menarik dalam isu ini adalah ketika Ahmadiyah masih dianggap sesat dan merupakan sumber masalah. Menurut Burhani, bukankah sebagai sesama warga negara selayaknya hidup harmonis dan berdampingan dengan pluralitas keyakinan yang ada? Maka untuk membuka cara pandang yang diskriminatif terhadap Ahmadiyah, Burhani menhadirkan beberapa kontribusi Ahmadiyah bagi negara Indonesia.

Dengan apik Burhani mencoba menjelaskan kontribusi besar Ahmadiyah bagi negara, dia menyebutkan ada tiga yaitu pertama, memperkenalkan pemahaman agama yang rasional, kedua, memperkenalkan studi banding agama ke negara Indonesia, dan yang ketiga adalah meperkenalkan al-Qur’an dalam bahasa daerah, misalnya terjemahan pertama al-Qur’an dalam bahasa Belanda adalah oleh Ahmadiyah.

Selain ketiga kontribusi tersebut, Burhani juga menghadirkan kontribusi lain yang supaya memberi penilaian berbeda kepada Ahmadiyah yaitu adanya Desa Manis Lor, Kuningan Jawa Barat yang penduduknya 80% Ahmadiyah. Sebagaimana dijelaskan Burhani desa ini sebelumnya merupakan desa miskin yang dihuni oleh penyembah berhala dan Muslim minoritas. Namun kemudian, Ahmadiyah mengubahnya menjadi desa yang makmur dan religius (hlm. 48-49).

Menurut penulis ada bagian yang perlu dikomentari. Misalnya, pada bab Westrenisasi dan Arabisasi, yaitu tentang Islam di persimpangan jalan: antara ekslusivisme dan multikulturalisme, tampaknya mesti dimasukkan dalam bab tiga tentang radikalisme dan terorisme yang pada salah satu sub babnya juga membahas terkait kelompok liberal dan konservatif. Di samping itu, buku ini akan dirasa sulit untuk dibaca dan dipahami bagi yang tidak menguasai bahasa inggris, meskipun demikian bahasa Inggris yang digunakan masih terasa mudah untuk dipahami dan lugas.

Buku Heresy and Politics yang ditulis Burhani merupakan tulisan-tulisan yang sangat luar biasa dan bernas, sehingga, memberikan perspektif yang berbeda dalam melihat isu-isu yang berkembang di masyarakat, baik politik maupun sosial keagamaan. Sebagai Profesor riset yang mumpuni dalam studi Islam dan ilmu sosial, Burhani tampak berpengalaman dalam merespon isu-isu penting yang terjadi.

Akhirnya, buku ini layak untuk dibaca bagi para akademisi dan non-akademisi pemerhati politik dan isu-isu sosial kegamaan, seperti politik Islam, radikalisme dan terorisme. Sekali lagi, buku ini enak dibaca dan perlu!

Mohamad Asep
Peneliti di Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apresiasi dan Masalah Tersisa Pencabutan Perpres Miras

Kita patut memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas tindakan berani dan jujur Presiden Jokowi untuk mencabut lampiran Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2021 tentang Investasi...

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Dialektika Hukum Kepemiluan

Dalam penyelenggaraan suatu pemerintahan, hukum dan politik merupakan dua hal yang memiliki keterikatan secara timbal balik. Hubungan timbal balik antara hukum dan politik tersebut...

Ujian Kedewasaan Digital Kita

Teknologi digital diciptakan agar tercapai pemerataan informasi tanpa pandang bulu, namun sayangnya kini dampak negatif yang tak terelakkan adalah munculnya disinformasi, berita bohong, hingga...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

ARTIKEL TERPOPULER

Amuk Leviathan Hobbesian dalam Konflik Partai Demokrat

Tahun 1651, Thomas Hobbes menerbitkan buku berjudul “Leviathan”. Nama leviathan merujuk kepada monster sangat ganas dalam mitologi Yunani. Makhluk yang hidup di lautan ini...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Euforia Bahasa Arab

(Ilustrasi) Pameran busana tradisional Arab dalam Pekan Kebudayaan Saudi Arabia di Jakarta, Minggu (27/3). ANTARA FOTO/Rosa Panggabean. Entah apa yang ada di dalam pikiran sejumlah...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Toxic Masculinity dalam Patriarki

Sebelumnya, saya ingin menghimbau bahwa topik ini merupakan pembahasan yang sensitif dan masih dipandang tabu dari beberapa kalangan. Tulisan ini berupa opini saya mengenai...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.