Rabu, Oktober 28, 2020

Pergulatan Ekstremisme dan Multikulturalisme: Antara Politik Identitas dan Pluralitas

Pendidikan Ekonomi ala Jokowinomics

Setelah gagasan membuka Fakultas Media Sosial, Jurusan Meme, atau Fakultas Ekonomi Digital, Jurusan Toko Online, kini Presiden kembali dengan gagasan baru yang tak kalah...

Kekeliruan Argumentasi Diplomat Silvany Pasaribu

Disadari atau tidak, berargumentasi menyisipkan banyak kekeliruan, dan itu berbahaya. Dalam ruang publik misalnya, ketika argumentasi kita tercatat dan dimaknai kembali oleh publik, belum...

Politikus Sontoloyo, Nusron Wahid, dan Gejala-gejala Mengkhawatirkan

Presiden Jokowi beberapa hari lalu menyebut adanya politikus sontoloyo. Menurutnya, politikus macam ini memakai "cara-cara politik adu domba, cara-cara politik yang memfitnah, cara- cara...

Quraish Shihab dan Islam Garis Lucu

Islam  secara konseptual adalah agama yang tunggal. Namun, dalam realitas, ia sangat beragam. Amin Abdullah menyebutnya dengan Islam normatif dan Islam historis. Normativitas agama...
Mohamad Asep
Peneliti di Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang

Buku yang bertajuk “Heresy and Politics: How Indonesian Islam Deals with Extremism, Pluralism, and Populism” merupakan karya seorang intelektual Muslim dan peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yaitu Ahmad Najib Burhani.

Buku tersebut merupakan kumpulan karya-karyanya yang tersebar di berbagai media massa khususnya ISEAS Commentaries, Jakarta Post dan Jakarta Globe sepanjang tahun 2004-2019. Selain itu di dalam buku tersebut juga terdapat beberapa artikel atau tulisan yang dibuat oleh intelektual lain seperti Mitsuo Nakamura, Hasnan Bachtiar, Tufail Ahmad, Luthfi Assyaukanie, dan laporan jurnalistik oleh Bambang Muryanto.

Sebagaimana dalam kata pengantarnya alasan buku ini diberi judul Heresy (bid’ah) and Politics adalah Burhani ingin memperluas makna bid’ah (kreasi atau inovasi) -yang selama ini dipahami dalam konteks keagamaan- dan implementasinya pada persoalan sosial dan politik. Di antara bid’ah yang dimaksud adalah penggunaan pertarungan ideologis dan menganggap pemilihan umum sebagai soal antara hidup dan mati, dan bid’ah yang paling besar dalam Islam adalah radikalisme dan terorisme.

Buku ini dibagi ke dalam tujuh bab. Bab pertama membahas terkait dinamika politik identitas dan arus extremisme yang muncul sejak Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta pada 2017 sampai Pemilihan Presiden (Pilpres) pada 2019 hingga institusionalisasi Islam. Bab kedua, menyoroti organisasi Nahdlatul ‘Ulama (NU) dan keterpilihannya Ma’ruf Amin sebagai calon Wakil Presiden mendamping Joko Widodo (Jokowi), apakah merupakan bentuk respon atas perang ideologi yang sedang marak atau hanya sekedar pendulang suara umat Muslim.

Bab tiga, mengeksplorasi fenomena sikap umat Muslim yang masih belum menerima kehadiran Ahmadiyah sebagai entitas pluralitas keagamaan dan pengaruhnya pada perdamaian dan kerukunan umat beragama di Indonesia.

Bab empat, membahas fenomena radikalisme dan terorisme global serta pergulatan kelompok Islam yang dianggap liberal dan konservatif. Bab lima, Burhani mencoba menilik pertarungan politik di dalam tubuh Muhammadiyah yang didasari pada perang ideologi, yaitu antara kalangan liberalisme dan konservatif serta pengaruhnya pada masa depan model Islam yang akan ditampilkan Muhammadiyah.

Bab enam, merupakan bagian unik, karena pembahasannya mengenai globalisasi yang bisa bermakna Westernisasi dan Arabisasi, dan juga menyinggung ke mana seharusnya kita belajar tentang Islam Indonesia. Bab tujuh, menjelaskan terkait idologi, ritual dan praktek sosial Islam Indonesia.

Hadirnya buku ini merupakan bentuk respon Burhani atas problematika, dialektika dan dinamika politik di Indonesia, khususnya pada Pilgub 2017 dan Pilpres 2019 dan berbagai isu sosial keagamaan. Terkait dinamika politik Indonesia, umat Islam Indonesia menjadi pembahasan sentral pada bab awal buku ini.

Pasalnya arus Islamisme pada tahun-tahun tersebut begitu deras, yang pada akhirnya istilah “politik identitas” menjadi popular. Bahkan menurut Burhani, agama masih dipolitisasi pada Pilpres 2019 lalu, hal tersebut dikarenakan isu yang terjadi sepanjang masa kampanye berlangsung yaitu, Islam Nusantara yang dipromosikan oleh NU yang berada di kubu Jokowi dan pembakaran bendera Hizbut Tahrir Indonesia oleh Barisan Ansor Serba Guna (Banser NU) (hlm. 18-21).

Kemudian terkait isu keagamaan, Burhani mencoba memberi perspektif yang berbeda kepada para pembaca tentang berbagai isu umat Islam, khususnya pada isu Ahmadiyah. Hal yang menarik dalam isu ini adalah ketika Ahmadiyah masih dianggap sesat dan merupakan sumber masalah. Menurut Burhani, bukankah sebagai sesama warga negara selayaknya hidup harmonis dan berdampingan dengan pluralitas keyakinan yang ada? Maka untuk membuka cara pandang yang diskriminatif terhadap Ahmadiyah, Burhani menhadirkan beberapa kontribusi Ahmadiyah bagi negara Indonesia.

Dengan apik Burhani mencoba menjelaskan kontribusi besar Ahmadiyah bagi negara, dia menyebutkan ada tiga yaitu pertama, memperkenalkan pemahaman agama yang rasional, kedua, memperkenalkan studi banding agama ke negara Indonesia, dan yang ketiga adalah meperkenalkan al-Qur’an dalam bahasa daerah, misalnya terjemahan pertama al-Qur’an dalam bahasa Belanda adalah oleh Ahmadiyah.

Selain ketiga kontribusi tersebut, Burhani juga menghadirkan kontribusi lain yang supaya memberi penilaian berbeda kepada Ahmadiyah yaitu adanya Desa Manis Lor, Kuningan Jawa Barat yang penduduknya 80% Ahmadiyah. Sebagaimana dijelaskan Burhani desa ini sebelumnya merupakan desa miskin yang dihuni oleh penyembah berhala dan Muslim minoritas. Namun kemudian, Ahmadiyah mengubahnya menjadi desa yang makmur dan religius (hlm. 48-49).

Menurut penulis ada bagian yang perlu dikomentari. Misalnya, pada bab Westrenisasi dan Arabisasi, yaitu tentang Islam di persimpangan jalan: antara ekslusivisme dan multikulturalisme, tampaknya mesti dimasukkan dalam bab tiga tentang radikalisme dan terorisme yang pada salah satu sub babnya juga membahas terkait kelompok liberal dan konservatif. Di samping itu, buku ini akan dirasa sulit untuk dibaca dan dipahami bagi yang tidak menguasai bahasa inggris, meskipun demikian bahasa Inggris yang digunakan masih terasa mudah untuk dipahami dan lugas.

Buku Heresy and Politics yang ditulis Burhani merupakan tulisan-tulisan yang sangat luar biasa dan bernas, sehingga, memberikan perspektif yang berbeda dalam melihat isu-isu yang berkembang di masyarakat, baik politik maupun sosial keagamaan. Sebagai Profesor riset yang mumpuni dalam studi Islam dan ilmu sosial, Burhani tampak berpengalaman dalam merespon isu-isu penting yang terjadi.

Akhirnya, buku ini layak untuk dibaca bagi para akademisi dan non-akademisi pemerhati politik dan isu-isu sosial kegamaan, seperti politik Islam, radikalisme dan terorisme. Sekali lagi, buku ini enak dibaca dan perlu!

Mohamad Asep
Peneliti di Program Studi Hukum Keluarga Islam Universitas Muhammadiyah Malang
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Politik dan Monopoli Media Sosial

Saat ini, kita hidup di era cyberspace (dunia maya). Era yang pertama kali diperkenalkan oleh William Gibson dalam buku Neuromancer itu, dimaknai sebagai suatu...

Candu Media Sosial, Kajian Filosofis dan Psikologis

Bermain ria di “alam medsos” terkadang meng-asyikkan. Tapi akhirnya menganggap dunia nyata jadi tak menarik untuk bersosialisasi dan mengemban hidup secara hakiki. Untuk melihat...

Membendung Hegemoni China di Asia Tenggara

Lima hari sudah Menteri Luar Negeri (Menlu) China Wang Yi berkunjung ke empat negara di Asia Tenggara (15-18 Oktober 2020). Dalam kunjungan ke Kamboja,...

Reformasi Kewenangan Legislasi DPD

Dewan Perwakilan Daerah (DPD) sebagai anak kandung reformasi telah berusia 16 tahun. Lembaga negara buah amandemen ketiga UUD 1945 mengalami banyak goncangan. Isu pembubaran...

ARTIKEL TERPOPULER

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Tamansiswa, Ki Hadjar Dewantara, dan Sistem Pendidikan Kolonial

Setiap 2 Mei kita dihadapkan pada kesibukan rutin memperingati Hari Pendidikan Nasional. 2 Mei itu merupakan tanggal kelahiran tokoh pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara,...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Mengenal Dua Tokoh Ateisme: Feuerbach dan Marx

Ludwid Feuerbach (1804-1872) dan Karl Marx (1818-1883) menjadi dua tokoh besar ateisme dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya digolongkan filsuf materialistis karena bagi mereka pemikiran...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.