OUR NETWORK

Perempuan Tionghoa Melihat Rusuh Jakarta

“Matiin semua lampunya. Lampu depan rumah juga. Sekalian tutup gordennya,” kata mamiku. Malam itu ulang tahunku 21 tahun lalu.

“Tapi, Papi kan belum pulang, Mi,” kataku saat melihat tanteku menutup gorden. Aku juga bingung tumben sekali ada adik ipar papiku datang bersama kedua anaknya. Mamiku bilang, buat ngerayain ulang tahunku. Tapi, tumben.

“Iya, nanti kalau Papi sudah pulang, kita nyalain lagi lampunya.”

Malam itu Mami tidak memperbolehkan kami membuka gorden jendela. Padahal, aku penasaran sekali. Siapa tahu Papi pulang dan aku mau membukakan pintu untuknya. Gang rumah kami sepi sebenarnya. Cuma ada penerangan lampu jalan saja yang membuat jalan rumah kami “agak” hidup. Rumah para tetangga juga gelap, seakan-akan tidak ada yang pernah tinggal di sana. Atau, mereka belum pulang, aku pun tidak tahu.

“Tuh, tuh. Ada orang,” kata sepupuku. Dia bandel sekali. Kan nggak boleh buka jendela! Tapi, aku juga kepingin lihat. “Mana, mana, aku mau lihat!” kataku. Adikku juga ikutan penasaran.

“Boleh lihat, tapi jangan gede-gede ya. Biar nggak kelihatan orang itu,” kata Mami.

Aku melihat ada tiga orang berjalan di depan rumah kami. Mereka jelas bukan tetangga kami karena mereka bukan keturunan Tionghoa. Sebagian besar penduduk perumahan kami berisi sebagian besar keturunan Tionghoa. Tapi, mereka bolak-balik di jalan depan rumahku. Celingak-celinguk sana-sini, seperti sedang memeriksa sesuatu. “Udah, udah. Jangan dilihat lagi. Nanti ketahuan lho,” kata Mami.

Ya sudah, ngapain juga mikirin orang yang nggak dikenal kayak gitu, pikirku. Lalu, di kamarku—yang berada di bagian paling dalam rumah—tanteku sedang menangis. “Oki nggak ada kabar, Ci,” katanya pada Mami. Oki itu nama om-ku.

“Iya, Koko juga belom ada kabar. Doain aja ya, semoga nggak kenapa-kenapa di jalan,” kata Mami. Koko ini papiku.

Kejadian beberapa hari ini mengingatkanku pada kejadian 21 tahun lalu pada hari ulang tahunku. Tanggal 14 Mei. Aku harusnya meniup lilin kue ulang tahun, serta berfoto bersama mami, papi, dan adikku. Tapi, hari itu aku hanya menonton televisi, melihat banyak orang pukul-pukulan. Aku tidak terlalu ingat aku ngapain saja hari itu. Hanya saja aku tidak boleh keluar rumah seharian. Nggak aman, kata Mami saat itu.

Hari ini saya sama-sama menonton televisi. Kejadian seperti berulang kembali. Kami merasa tidak aman, was-was, dan takut bahwa akan ada kejadian yang sama terulang kembali, atau malah lebih parah. Saat ini papiku berada di rumah bersamaku, mami, dan adikku, memantau keadaan di Jakarta via televisi.

“Nggak usah ngantor ya,” kata Papi padaku tadi sore, “Keadaannya belum aman. Kerja di rumah aja ya.”

Aku cuma bisa mengiyakan dan meminta perusahaan tempatku bekerja memberi sedikit keringanan. Papi tidak mau aku merasakan hal yang sama padanya. Beliau pernah bercerita bahwa ia terjebak dalam kampus Trisakti pada saat mengurus sesuatu hari itu. “Namanya apes ya gimana,” katanya. Aku merasakan benar ketakutan Papi, kondisi beberapa hari ini di Jakarta membuat traumanya datang lagi.

Kekhawatiran dan ketakutan Papi wajar. Di media sosial aku melihat sebuah foto anggota brimob. Caption foto itu bernuansa rasis. Si pemilik foto curiga kalau anggota brimob itu import dari Cina. Teman-teman memintaku tak pergi, ada sentimen pada orang cina kata mereka. Aku tak tahu mengapa aku harus takut. Bukankah aku juga warga Indonesia?

Aku diajarkan untuk takut, untuk tahu diri, dan untuk bisa menjaga perasaan orang. Sejak kecil aku diajarkan untuk hati-hati. Kulitku putih, mataku sipit, dan keimananku berbeda dengan kebanyakan orang. Tiga alasan ini cukup untuk membuatku jadi target jika ada kerusuhan di Jakarta. Tapi mengapa? Apa yang harus aku lakukan supaya diakui sebagai orang Indonesia?

Papi bercerita ia terjebak dalam gedung Universitas Trisakti saat kejadian itu terjadi. Untungnya ia bersama temannya yang pribumi, sehingga ada yang menemani dan menjaganya. Setelah beberapa hari kerusuhan terjadi, Papi baru pulang dengan om-ku. Sehat walafiat tanpa kekurangan apapun.

Mungkin kami terlihat tidak kehilangan apapun, namun sebenarnya kami kehilangan rasa aman yang harusnya negara berikan pada setiap warga negaranya, tidak peduli apapun rasnya. Kami berharap tidak ada lagi ketakukan menjadi diri sendiri untuk hidup. Aku mendengar teman dekatku mendapatkan ancaman kalau dia akan dibunuh karena ia keturunan Tionghoa, sehingga ia disuruh berada di dalam kosannya saja. Perlakuan ini sungguh buruk karena kami tidak melakukan kesalahan apapun dan lagi-lagi, kami harus “dihukum” dengan cara yang tidak manusiawi.

Sebagai keturunan Tionghoa, aku tidak pernah berharap untuk diperlakukan istimewa. Aku lahir dan besar di Jakarta. Aku menganggap Indonesia sebagai rumah. Aku tak kenal siapapun di Cina, di sini aku punya teman, keluarga, dan sahabat. Aku tak tahu kenapa aku harus pulang ke Cina, kenapa? Bisakah kami diperlakukan seperti manusia yang punya hak untuk hidup dan bekerja seperti manusia pada umumnya?

Aku tidak malu untuk menjadi keturunan Tionghoa. Saat orang asing mengataiku Cina, Cino, atau sebagainya, rasanya kepingin sekali bertanya, “Sirik?”. Tapi, daripada bikin keributan, aku lebih baik diam dan tersenyum saja. Malas berurusan dengan orang yang merasa insecure dengan identitas dirinya sendiri.

Papi dan Mami mengajarkanku untuk bekerja keras. Papi adalah akuntan yang memiliki keterampilan sebagai teknisi bengkel, Mami ibu rumah tangga yang jago merias dan memotong rambut. Sejak kecil mereka mengajarkanku untuk memiliki keterampilan, jika ada apa-apa, keterampilan itu yang akan memberiku makan. Ini mengapa sejak remaja aku suka menjadi guru privat, memberikan les tambahan bagi anak-anak sekolah, di sini aku punya pemasukan tambahan. Tentu tak semua orang senang, beberapa menganggap aku orang kaya karena punya uang lebih daripada mereka.

Meski tumbuh di lingkungan yang aman, Mamiku jadi merasa perlu untuk membatasi pergaulanku dengan orang pribumi. Beliau sungguh khawatir sampai-sampai aku diminta untuk selalu memakai celana panjang dan pakaian tertutup supaya tidak “mengundang” bahaya. Dulu aku pikir itu hal bodoh. Saat SMA, aku kan kepingin pakai celana pendek saat jalan ke mal. Tapi, karena pernah sekali pakai celana pendek dan pahaku dielus abang ojek, aku berhenti menggunakan celana pendek. Mungkin Mami benar.

Kemudian aku memilih memakai pakaian lebih tertutup, ditambah mamiku juag membiasakanku untuk pakaian macam itu. Sampai sekarang, aku lebih nyaman memakai jaket, celana panjang, serta masker supaya tidak dilihat orang. Tapi, biar begitu, tetap saja ada saja orang yang mengatai, “Hai, Ci, sendirian aja.”

Semoga saja aku tidak perlu berjemur lama-lama di bawah matahari supaya kulitku agak menghitam dan tidak dikira Tionghoa lagi.

Amanda Putri Tabrani
Jurnalis dan pelancong yang hobi fotografi dan video.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…