Kamis, Desember 3, 2020

Peningkatan Standar Mutu Sarpras Pendidikan

Revolusi Prematur Permadi dan Kegagalan People Power

Tan Malaka adalah salah satu tokoh revolusioner yang pernah ada di Indonesia. Tapi, revolusi yang dibayangkannya masih jauh dari pandangan mata. Tan Malaka telah...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

Hari Prabangsa Nasional, Bukan Hari Pers Nasional

Tak hanya Ba'asyir dan Robert Tantular, rupanya 2019 adalah tahun penuh berkah untuk para kriminal, tapi penegakan hukum untuk kasus kekerasan pada wartawan banyak...

Kejujuran Prabowo Subianto Harus Kita Apresiasi

Alangkah bijaksana bila mulai saat ini seluruh rakyat Indonesia berhenti memplesetkan nama Prabowo menjadi Prabohong. Prabowo bukan tipe orang yang suka bohong. Ia justru...
Rohmatulloh
Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi [www.ks2energi.com], Mahasiswa S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati

Empat program pokok kebijakan pendidikan yang disebutnya dengan “Merdeka Belajar, ” di mana salah satu dari empat programnya  adalah tetap mempertahankan sistem zonasi dalam PPDB namun bersifat lebih fleksibel untuk mengakomodasi ketimpangan akses dan kualitas di berbagai daerah. Program PPDB berbasis zonasi ini merupakan program yang telah berjalan dari tahun-tahun sebelumnya, yang diharapkan dapat mengembalikan muruah pendidikan dan mendukung program penguatan pendidikan karakter (PPK).

Penulis juga menyakini program ini dapat berimbas positif pada kebijakan dan program sektor lainnya seperti cinta lingkungan dan penghematan energi yang sedang diupayakan stakeholder energi dan lingkungan hidup.

Oleh karena itu, menurut hemat penulis program ini patut didukung agar pelaksanaannya pada tahun ini walaupun dalam kondisi panemi Covid-19 dapat menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Namun yang harus diperhatikan juga bahwa dengan mempertahankan program ini harus diikuti juga dengan perbaikan pada program lainnya. Jika ditinjau dari delapan standar pendidikan di mana salah satunya adalah terkait dengan standar sarana dan prasarana melalui upaya pemerataan mutu sarana dan prasarana (sarpras) pendidikan yang penting untuk mendapatkan perhatian. Karena faktanya, banyak masukan dari masyarakat dalam penerapan zonasi pada tahun sebelumnya yang disebabkan belum meratanya mutu sarpras pendidikan di setiap daerah utamanya yang jauh dari kota-kota besar.

Kondisi sarpras pendidikan kita secara kasat mata banyak yang menyedihkan kondisinya khususnya gedung sekolah. Pada umumnya semua gedung sekolah tersebut tidak memenuhi persyaratan kenyamanan atau bahkan yang terpenting adalah aspek keamanannya dalam kegiatan belajar mengajar. Padahal sarpras menurut Peter Barrett, dkk (2019) yang telah mereview berbagai penelitian saat ini dalam laporannya yang dipublikasikan World Bank berjudul The impact of school infrastructure on learning: a synthesis of the evidence mengungkapkan bahwa sarpras yang baik berdampak positif terhadap hasil belajar peserta didik. Dalam konteks ini memiliki karakter atau akhlak mulia meliputi aspek sikap religius dan sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

Dalam berbagai berita yang penulis baca pada tahun lalu di berbagai media massa misalnya, banyak merilis berita tentang kondisi gedung sekolah yang memprihatinkan. Berita terkait dengan kondisi bangunan gedung sekolah yang memprihatinkan. Ada juga memberitakan masalah gedung sekolah yang ambruk dan roboh memakan korban.

Gedung sekolah yang tidak layak untuk dijadikan kegiatan belajar mengajar pada umumnya terjadi karena konstruksi bangunannya sudah hancur, ruang kelas yang atapnya roboh dan ada juga yang hampir roboh sehingga harus diberikan alat penyangga dengan kayu dan bambu, serta bangunan retak dan miring.

Semuanya karena kondisi usianya sudah uzur atau tua melewati batas waktu penggunaannya yang ideal,  terkena dampak bencana alam gempa, banjir, dan curah hujan yang tinggi, maupun yang terkena imbas proyek pembangunan yang juga menjadi kebutuhan masyarakat, serta kesalahan manusia dalam pengelolaan.

Akibatnya, murid belajar dalam kondisi yang tidak tenang dan aman karena sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan jiwanya. Guru pun demikian menjadi tidak tenang dalam melakukan pengajarannya. Berbagai upaya dilakukan seperti belajar di teras dan mushala, maupun dengan menumpang belajar di sekolah lain yang memiliki bangunan  cukup baik. Walaupun belajar menjadi tidak nyaman karena ruang kelas melebihi kapasitas ideal, dan harus ditempuh dengan jarak yang jauh, sambil  menunggu berbagai bentuk bantuan stakeholder pendidikan untuk merehabilitasinya dan membangun gedung penggantinya.

Peningkatan Mutu Sarpras

Sarpras merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi  untuk meningkatkan mutu pendidikan mengacu pada standar standar nasional meliputi persyaratan keselamatan, kesehatan, aksesibilitas untuk semua segmen peserta didik termasuk disabilitas, kenyamanan, dan kriteria lainnya (Permendiknas No. 24/2007)

Lebih lanjut Peter Barrett, dkk (2019) membuat rumusan panduan yang dapat digunakan untuk melakukan investasi sarana prasarana pendidikan. Pertama, akses  ke sekolah dengan jarak tempuh yang wajar, kepadatan kelas yang rendah, dan mampu menahan dari bencana alam.

Kedua, ruang yang nyaman untuk belajar dengan mempertimbangkan kondisi iklim dan budaya setempat di mana sekolah berada. Ketiga melibatkan komunitas atau masyarakat lokal dalam mendesain sarana dan prasarana sekolah yang fleksibel untuk merespon perkembangan peserta didik ke depan. Agar proses belajar mengajar maksimal maka pelibatan masyarakat agar berpartisipasi dan sekaligus dapat memberikan manfaat dan menjaga hubungan yang baik.

Dengan acuan tersebut maka kondisi sarpras khususnya gedung sekolah yang banyak dipublikasikan di media tentunya jauh dari sekolah yang aman untuk kegiatan belajar dan mengajar.  Sehingga wajar jika para stakeholder pendidikan khsusunya masyarakat atau komunitas pendidikan dan orangtua membutuhkan adanya perbaikan gedung sekolah sebagai tempat belajar yang nyaman, aman, dan sehat bagi anak-anaknya.

Bagi pemerintah pun, meningkatnya mutu sarpras gedung sekolah juga akan berdampak pada kebijakan dan program pemerintah lainnya, sehingga tidak hanya bidang pendidikan saja yang merasakan manfaatnya. Akhirnya, semoga di momentum Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada tahun ini, kita selalu terus berkomitmen mendukung peningkatan mutu pendidikan nasional, salah satunya dengan fokus pada standar peningkatan mutu sarprasnya juga. Wallahua’lam.

Rohmatulloh
Penulis, Bergiat di Komunitas Sekolah Sadar Energi [www.ks2energi.com], Mahasiswa S3 Pendidikan Islam UIN Sunan Gunung Djati
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.