Selasa, Oktober 20, 2020

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Sudah Tua Masih TK

Mungkin pembaca masih ingat ungkapan mantan presiden ke 4 negeri ini, almarhum Kyai Haji Abdurahman Wahid, sewaktu beliau menjabat presiden bahwa “DPR kayak taman...

Bung Karno Tak Pernah Didakwa Makar

Tak banyak yang tahu jika Bung Karno saat diadili di Landraad Bandung dan Bung Hatta saat diadili di Den Haag tidak pernah didakwa dengan...

‘Tentara Allah’ Virus Korona Menuju Chaos?

Ini bukan kelompok ekstrim kanan atau ekstrim kiri atau kelompok radikal lainnya yang mengkerut ketika diancam bui— tapi ‘tentara Allah’ berupa virus korona yang...

Ihwal Gumlao dan Gumsa

Dalam dunia pemikiran Barat, kita mengenal dua prinsip, yaitu monarki dan republik. Mereka memiliki struktur sosial yang berbeda. Sebenarnya, perubahan rezim dari monarki ke...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca berita tentang pengrusakan di gedung pengadilan Bantul, DIY, setelah Majelis hakim memutus Ketua Pemuda Pancasila bersalah.

Organisasi ini pada awalnya diciptakan di Sumatera Utara oleh partai politik dukungan militer, IPKI. Mereka yang menonton film Jagal (The Act of Killing) mesti tahu bagaimana anggota-anggota organisasi ini bertindak (Pancasilais?) dalam melakukan pembantaian tahun 1965.

Pada tahun 1980an, nama organisasi ini dihidupkan kembali. Pertama sebagai bagian dari persaingan dan pertarungan politik di antara pembantu-pembantu Soeharto. Sesudah penembakan misterius tahun 1982, yaitu pembantaian mereka yang dianggap kriminal, organisasi ini menjadi nasional.

Pemuda Pancasila bertujuan menghimpun preman-preman yang “sadar.” Dia pun menjadi pengawal kepentingan-kepentingan Soeharto dan keluarganya.

Sesudah kekuasaan Soeharto runtuh, organisasi ini tidak ikut runtuh. Dia tetap berjaya. Dia tetap hidup karena ada yang memerlukannya. Dia tetap bernapas dan bahkan tumbuh membesar karena ada yang memberinya makan dan memeliharanya baik-baik.

Di zaman demokrasi ini pun masih banyak yang memerlukannya. Khususnya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan kotor yang tidak bisa dilakukan secara legal-formal. Di negeri di mana kekuasaan dan premanisme berhimpitan tanpa batas yang jelas, organisasi seperti ini tentu akan hidup. Dan, hidup dengan subur!

Penguasa memerlukannya. Oposisi menggunakannya. Kalangan bisnis membutuhkannya. Partai politik dengan gembira mengadopsinya sebagai anak kandung.

Yang lebih penting lagi, dia bisa berbuat apa saja tanpa tersentuh oleh hukum. Kalau tersentuh oleh hukum, dia bisa membalas dengan melakukan pengrusakan.

Apa yang terjadi di Pengadilan Negeri Bantul, DIY, memang hanya pengrusakan benda-benda. Namun, bisakah Anda bayangkan jika Anda yang menjadi hakimnya? Menjadi jaksanya?

Para mafioso ditakuti karena kekejaman dan kebrutalannya dalam membunuh. Karena itulah, mereka jarang membunuh. Mereka hanya perlu memberikan “pernyataan” atau sinyal, itu sudah cukup untuk membuat hati ciut.

Inikah Pancasila? Apa yang menjustifikasi orang-orang ini memakai nama Pemuda Pancasila untuk organisasinya? Bukankah hal-hal yang seperti ini yang lebih merusak Pancasila?

Namun, saya yakin, pertanyaan-pertanyaan ini pun akan mentah. Para elite negeri ini memerlukan mereka. Memang, batas antara penguasa dan preman sangat tipis di negeri ini.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.