Jumat, Januari 15, 2021

Pemilu AS dan Penanganan Pandemi Corona

Kala “Gerungisme” Mendungukan Manusia

"Apa artinya menjadi manusia?" Barangkali ada banyak interpretasi terhadap pertanyaan itu. Orang-orang di seluruh dunia memiliki jawaban dan sudut pandang yang berbeda mengenai pertanyaan...

Aji Mumpung Keluarga Jokowi

“Jangan sia-siakan kesempatan pertama, karena kesempatan berikutnya bukan lagi kesempatan pertama dan belum tentu ada lagi atau belum tentu lebih baik~dm Beberapa hari belakangan ini...

Keterlibatan Pemuda Mahasiswa Bersama Kelas Buruh (Bagian Akhir)

Pada tulisan sebelumnya, saya telah membahas bagaimana skema penghisapan yang dicanangkan imperialisme terhadap kelas pekerja. Melanjuti tulisan yang sempat bersambung, saya akan membahas bagaimana...

Seputar “Trias Koruptika” dan Etika Penyelenggara Negara

Dalam perkembangan kehidupan masyarakat yang semakin kompleks, standar hukum dinilai tidak lagi cukup untuk memperbaiki kondisi. Semakin hukum dibuat dalam rupa yang makin canggih,...
Yohanes Ivan Adi Kristianto
Dosen Hubungan Internasional | UPN Veteran Jawa Timur | Organisasi Internasional | Migrasi Global | Studi Eropa | Linkedin: https://www.linkedin.com/in/ivankristianto93/

Terinfeksinya seorang warga Amerika Serikat (AS) dari Wuhan, China, pada 21 Januari 2020 menandai kasus pertama virus Corona (Covid-19) di Negara Paman Sam. Sebulan berikutnya (29/2), otoritas AS secara resmi mengumumkan meninggalnya pasien pertama positif Covid-19.

Pengumuman itu disusul pelarangan berpergian ke Iran yang saat itu menjadi negara terdampak paling parah di luar China. Sedangkan, untuk akses ke China, AS telah menutupnya sejak akhir Januari.

Momen pandemi Covid-19 bersamaan dengan pemilihan umum (pemilu) presiden AS. Donald Trump dari Partai Republik akan ditantang oleh Joe Biden dari Partai Demokrat dalam kontestasi tersebut. Sebagian kalangan menyatakan bahwa merebaknya Covid-19 tidak hanya diributkan oleh kalangan peneliti, melainkan juga politisi karena adanya politisasi wabah Corona, terutama terkait pemilu presiden AS.

Lebih lanjut, bagaimana pandemi Covid-19 di AS dipolitisasi oleh kubu Republik maupun Demokrat? Siapakah yang lebih diuntungkan?

Langkah Trump 

Walaupun diserang dari berbagai pihak, Donald Trump, calon presiden AS petahana, menerapkan dua langkah dalam politisasi wabah Covid-19.

Pertama, Trump menugaskan dokter angkatan laut AS untuk membantu penanganan Covid-19 serta memerintahkan mereka untuk memakai dua kapal angkatan laut yang difungsikan sebagai rumah sakit apung.

Menariknya, penugasan Trump kepada angkatan laut AS diresmikan melalui pidato di pelabuhan tempat berlabuhnya kapal tersebut dan disiarkan melalui akun Twitter Trump. Selain itu, melalui cuitan akun resmi Gedung Putih (@Whitehouse), Trump dalam momen yang sama mengumumkan persetujuan terhadap Cares Act atau undang-undang yang bertujuan menjamin kebutuhan dasar keluarga dan pekerja selama wabah Covid-19.

Apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan Trump? Presiden AS tersebut menerapkan diplomasi publik untuk menginformasikan kepada warga AS dan dunia bahwa pemerintahannya kuat dan serius dalam menghadapi wabah karena sumberdaya melimpah AS.

Diplomasi publik diartikan sebagai usaha suatu pemerintahan mengkomunikasikan kepentingannya, baik melalui portal resmi ataupun pribadi. (Gurgu & Cociuban, 2016) Kapal angkatan laut yang mewakili “kekuatan” serta salah satu sumberdaya AS diharapkan memberi efek respek dari masyarakatnya.

Sementara dalam tataran global, Trump ingin menunjukan citra AS sebagai negara adidaya. Disamping itu, dengan disetujuinya Cares Act, Trump juga mau memperlihatkan kepeduliannya terhadap kehidupan warganya yang terdampak Covid-19. Singkatnya, lewat diplomasi publiknya, kepentingan Trump ialah menaikkan citranya sebagai figur yang kuat dan peduli, sehingga layak dipilih dalam pemilu presiden AS.

Selanjutnya, Trump tidak hanya mengambil langkah defensif, melainkan juga mengkritik balik Demokrat dengan menuduh partai ini menghambatnya dalam penanganan Covid-19. Secara khusus, Trump menuding usaha pemakzulan dirinya berbuah perlambatan penanganan Covid-19. Kritik Trump tersebut dapat diartikan usahanya untuk melemahkan citra Demokrat.

Partai Demokrat

Sementara dari lawannya, Partai Demokrat mempolitisasi isu ini dengan menyerang sang petahana dengan menyebutkan bahwa pemerintahan federal tidak responsif dalam penanganan Covid-19. Joe Biden, kandidat presiden AS dari Demokrat, menyatakan kelambanan Trump disebabkan tidak adanya kepercayaan dia terhadap peneliti dan petugas medis di AS.

Menambahkan Biden, senator Demokrat Elizabeth Warren, menuding langkah Trump memotong anggaran Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS pada 2021 sebagai sebuah langkah yang salah.

Tidak hanya menyerang pada aspek nasional, Demokrat melalui Biden menyalahkan langkah politik Trump yang mempertahankan sanksi ekonomi terhadap Iran. Akibat dipertahankannya sanksi, negara yang hendak menyalurkan bantuan penanganan Covid-19 ke Iran mengalami kesulitan.

Padahal, Iran merupakan salah satu negara terdampak paling parah di luar China. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri sudah menetapkan Covid-19 sebagai pandemi, sehingga penanganan penyakit ini tanggungjawab bersama-sama.

Berlawanan dengan Trump, Demokrat hendak menunjukkan gambaran presiden AS tersebut sebagai tokoh yang tidak peduli, baik kepada warga negaranya maupun pada penanganan Covid-19 skala global.

Probabilitas

Melihat dinamika dan politik yang diterapkan kedua pihak, kubu Trump dan Partai Republik lebih diuntungkan.

Pertama, posisi petahana Trump membuat dirinya memegang kendali penuh bagaimana permasalahan penanganan Covid-19 dibawa, baik menuju keberhasilan maupun kegagalan. Jadi, hasil dari kinerja Trump lah yang menentukan.

Bahkan, popularitas Trump kemungkinan justru meningkat, apabila AS berhasil menemukan vaksin atau obat Covid-19. Ditambah, jika Trump turun tangan terhadap penanganan Covid-19 dalam level internasional, popularitas Trump semakin sulit dibendung.

Kedua, selain diuntungkan posisinya, figur Donald Trump yang identik dengan eksklusivitas dan protektionisme cenderung bermanfaat bagi pencalonannya. Mengapa? Legrain (2020) mengatakan bahwa sentimen anti-globalisasi diperkirakan meningkat selama pandemi Covid-19. Jadi, naiknya sentimen tersebut yang juga melekat dengan identitas Trump berguna bagi dirinya.

Sebaliknya, Joe Biden  bersama Partai Demokrat hanya berada posisi “menunggu” petahana terjegal atau melakukan kesalahan fatal disamping mengkritik secara intensif.

Kesimpulannya, wabah Covid-19 di AS susah dilepaskan dari percaturan politik, khususnya berkaitan dengan pemilihan presiden. Baik Partai Republik dan Partai Demokrat sama-sama melancarkan strateginya untuk menarik dukungan warga AS serta masyarakat global.

Namun, isu ini cenderung menguntungkan Trump dan Partai Republik, sedangkan Partai Demokrat perlu menerapkan langkah politik yang lebih strategis jika mereka mau memenangkan hati publik dalam isu wabah Corona.

Yohanes Ivan Adi Kristianto
Dosen Hubungan Internasional | UPN Veteran Jawa Timur | Organisasi Internasional | Migrasi Global | Studi Eropa | Linkedin: https://www.linkedin.com/in/ivankristianto93/
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Menilik Proses Pembentukan Hukum Adat

Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dikaruniai Tuhan Yang Maha Kuasa kekayaan yang begitu melimpah di segala bidang. Segala jenis tumbuhan maupun binatang...

Milenial Menjawab Tantangan Wajah Baru Jatim

Tahun berganti arah berubah harapan baru muncul. Awal tahun masehi ke-2021 terlihat penuh tantangan berkelanjutan bagi Jawa Timur setelah setahun penuh berhadapan dengan Covid-19...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Menata Kinerja Buzzer yang Produktif

  Buzzer selalu hadir membingkai perdebatan carut-marut di ruang media sosial atau paltform digital lainnya. Seperti di twitter, facebook, instagram, dan media lainnya. Buzzer memiliki...

Lika-Liku Ganja Medis di Indonesia

Setiap manusia berhak sehat dan setiap yang tidak sehat berhak dapat pengobatan. Alam semesta telah menyediakan segala jenis obat untuk banyaknya penyakit di dunia...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Narkoba Menghantui Generasi Muda

Narkoba telah merajalela di Indonesia .Hampir semua kalangan masyarakat positif menggunakan Narkoba. Bahkan lebih parahnya lagi adalah narkoba juga telah merasuki para penegak hukum...

PKI, Jokowi, dan Tertusuknya Syekh Jaber

Syekh Ali Jaber ditusuk AA, Ahad malam (13/9/2000) di Lampung. Siapa AA? Narasi di medsos pun gonjang-ganjing. Konon, AA adalah kader PKI. Partai yang berusaha...

Bagaimana Menjadi Muslim Moderat

Pada tahun 2017 saya pernah mengikuti Halaqah Ulama ASEAN yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama. Kampanye yang digaungkan Kemenag masih seputar moderasi beragama. Dalam sebuah diskusi...

Our World After The Pandemic: The Threat of Violent Ekstremism and Terrorism, The Political Context

Pandemic C-19: Disruptions Personal and public health with rapid spread of the pandemic globally, more than 90 millions infected and almost two million death...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.