Minggu, Maret 7, 2021

Pelaksanaan Ritual, Penghidupan Kembali Abangan

Apakah Kulkas Halal Dibikin Para Buruh yang Hak-haknya Terpenuhi?

Kulkas Halal itu baik. Pada tataran niat, ia hendak bicara bahwa sesuatu yang profan bisa jadi sakral dengan syarat tertentu. Sebuah kulkas dibuat dengan...

Denny Siregar: Ini Kampus-Kampus Markas Besar Kelompok Radikal

Hasil penelitian Setara Institute terhadap kampus-kampus yang terpapar radikalisme sudah keluar. Menurut Setara, ada 10 kampus yang sudah terpapar radikalisme; mulai dari Universitas Indonesia...

Mengapa Harga Buku Mahal?

Banyak yang bertanya-tanya, kenapa harga buku "mahal"? Ya, kalau dibandingkan dengan bajakan, memang jauh. Karena saya sendiri bukan orang bisnis, belakangan saya tanya-tanya kepada beberapa...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Abangan: Pada tahun 1950an, seorang antropolog Amerika melakukan riset di daerah yang diberi nama Mojokuto. Clifford Geertz, nama antropolog itu, kemudian menuliskannya dalam satu buku etnografi yang tebal “The Religion of Java”.

Saya mengagumi detail dari buku ini. Ada banyak hal di dalamnya. Dari selametan hingga ke tuyul atau memedi. Yang saya kagumi adalah energi yang dicurahkan untuk membuat deskripsi yang demikian lengkap.

Dari sana kemudian Geertz merangkai semua data dan informasi yang dia dapat. Geertz merangkai kebudayaan sehari-hari orang Jawa dan kemudian menghubungkannya dengan peta politik Indonesia pada saat itu.

Hasilnya adalah sesuatu yang mempengaruhi pandangan ilmuwan sosial jauh hari ke depan — baik yang mengkritisinya maupun yang memakainya. Geertz menemukan ada tiga macam ‘aliran’ kebudayaan di dalam masyarakat Jawa: santri, priyayi, dan abangan. Ketiganya memiliki afiliasi politik yang berbeda dan juga basis ekonomi yang berbeda.

Mereka yang berlatar kebudayaan santri, pada umumnya cenderung memilih partai-partai politik Islam. Pada konteks tahun 1950an, itu adalah Masjumi, Nahdlatul Ulama, Persis, dan lain sebagainya. Para santri adalah pemeluk teguh agama Islam. Mereka umumnya adalah pedagang pribumi atau pemilik tanah yang cukup luas untuk ukuran pedesaan Jawa.

Para priyayi adalah golongan birokrat dan pegawai. Mereka umumnya memilih PNI dan partai-partai nasionalis lainnya. Para priyayi memiliki kepercayaan sendiri. Mereka adalah penganut Kejawen, mengikuti organisasi seperti Sri Sumarah, yang sekarang hampir tidak terdengar lagi.

Pada jaman Orde Baru, organisasi-organisasi ini dipaksa berhimpun sebagai aliran kepercayaan, yang tidak berada dibawah Departemen Agama. Mereka “dibina” dibawah Dinas Kebudayaan. Suharto sendiri diam-diam adalah penganut Kejawen. Hingga tahun 1990an dia mengubah dirinya menjadi santri. Untuk kepentingan politik (political expediency), tentu saja.

Terakhir adalah abangan. Mereka umumnya petani-petani miskin di pedesaan Jawa. Mereka tidak terlalu hirau dengan agama-agama monotheistik yang diakui negara. Mereka menganut kepercayaan campuran (sinkretis) yang ada unsur Hindu-Buddha dan juga Islam. Bahkan jika mereka sempat berkenalan dengan agama Kristen, mereka akan mencampurinya dengan Kristen juga.

Golongan abangan punya afiliiasi politik dengan PKI. Ini karena sesungguhnya abangan adalah kelas proletariat Jawa. Mereka petani tuna kisma (tak bersawah). Sebagian dari mereka ke PNI, terutama jika mereka mengikuti afiliasi politik pemilik tanah tempat mereka menyakap.

Banyak orang tentu tidak membaca Geertz dengan teliti. Apalagi menikmati detail etnografinya. Mereka hanya tahu “teori” Abangan-Santri-Priyayi tersebut. Tanpa pernah mengenal basis kebudayaan dan basis ekonomi ketiga golongan ini.

Sebagaimana ilmu-ilmu sosial, Geertz menawarkan perspektif. Tidak tanpa kelemahan. Namun, generalisasi-nya ini cukup solid untuk menangkap fenomena pada saat penelitian itu dia lakukan. Bahkan jejak-jejaknya pun masih ada hingga sekarang.

Apakah tipologi ini masih berlaku? Sulit untuk menjawabnya hanya dengan sebuah status Facebook :P Tetapi ada banyak hal yang berubah. Misalnya pada saat ini, golongan priyayi sudah menjadi sedemikian santri.

Santrinisasi birokrasi, menurut beberapa ilmuwan sosial, terjadi pada masa Orde Baru. Saat itu, sebagian besar mereka dimasukkan ke dalam Golkar.

Priyayi seperti yang kita kenal pada tahun 1950an sudah punah. Organisasi-organisasi kepercayaan Jawa juga sudah menghilang.

Sekalipun terjadi santrinisasi terjadi di kalangan birokrasi, kita tidak mengenal santri seperti yang ada pada tahun 1950an. Organisasi-organisasi Islam yang baru bermunculan. Orthodoxy saja tidak cukup. Organisasi Islam yang berpegang pada orthodoxy seperti Nahdlatul Ulama harus berhadapan dengan fundamentalisme yang datang dari Timur Tengah dan Asia Selatan. Organisasi Islam modernis seperti Muhammadiyah harus berhadapan dengan organisasi semacam Hizbut Tahrir yang menawarkan wajah Islam yang lain.

Selain golongan priyayi yang musnah, saya juga pernah mengira bahwa orang Jawa tidak lagi menjadi Abangan. Islamisasi telah berlangsung di pedesaan Jawa secara intensif dan massif. Orang Jawa sudah tidak lagi membakar dupa atau mempersembahkan sesajen.

Namun, foto yang saya dapati ini menggambarkan sesuatu yang lain. Dari informasi yang saya dapat, foto ini diambil pada proses penghitungan suara. Kandidat-kandidat merasa perlu untuk ‘mengawal’ perhitungan suara ini dengan kekuatan spiritual.

Melihat situasi di Indonesia saat ini, banyak komentar yang mengutuk laku spiritual orang-orang Jawa ini. Tentu saja karena dianggap menyalahi kaidah.

Untuk saya, ini sesuatu yang menarik. Ternyata masih ada orang Jawa (abangan) yang melakukan ritual seperti ini. Juga melihat kemenangan Jokowi yang sangat besar di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian Mataraman, adakah ini mengandung muatan sosiologis tertentu?

Saya kira, saat ini kita perlu mengkaji ulang banyak hal dalam kehidupan masyarakat kita. Tentu, mustahil untuk menghidupkan kembali Jawa yang abangan. Kita mungkin perlu meninjau proses sinkretisasi yang sudah dan akan terjadi.

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ranking Kampus Dunia: Jangan Salah Kaprah

Baru-baru ini dunia pendidikan tinggi kita mendapatkan gabar gembira. Lima perguruan tinggi (PT) asal Indonesia menempati 10 universitas Islam terbaik dunia. Bahkan salah satunya...

Rock and Roll, Budaya yang Terusir

Penyebaran virus Rock and roll tidak hanya datang dari radio luar negeri, tapi juga dari rekaman piringan hitam yang dibawa dari luar negeri dan...

Cantik Hemat dari Dapur

Cantik adalah impian bagi setiap perempuan. Sejak umat manusia tercipta, kecantikan menjadi sebuah patok keindahan. Terbukti dari kisah dua orang putra nabi Adam yang...

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Serial Non-Muslim Bisa Masuk Surga. Siapa Mereka?

Apa pendapat para ulama dan cendekiawan dulu dan sekarang tentang keselamatan penganut agama-agama selain syariat Nabi Muhammad Saw? Apakah orang yang biasa disebut “non-Muslim”...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Perbedaan; Pendidikan Karakter, Moral dan Akhlak

Kita lihat bila Secara filosofis, terminologi pendidikan karakter, pendidikan moral, pendidikan etika, dan pendidikan akhlak memiliki perbedaan. Terminologi pendidikan moral (moral education) lebih cenderung...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.