OUR NETWORK

Beberapa Hal Yang Bisa Dilakukan BTP Setelah Bebas

Beberapa rekomendasi pekerjaan yang bisa dilakukan oleh BTP sembari menunggu masuk ke gelanggang politik lagi.

Saya sering mengkritik Ahok, eh, maksud saya BTP. Di luar kebijakannya yang saya anggap problematik, saya menyukainya sebagai individu. Terserah kepada anda mau percaya atau tidak, tapi yang jelas ada kualitas penting pemimpin yang mungkin menjadi ciri khas BTP. Kualitas itu adalah sikap tegas yang antikompromi.

Dulu BTP pernah bilang “Kalau ada 1.000-2.000 orang yang akan mengancam nyawa 10 juta ini, dan ketika saya peringatkan dia tidak ikut, saya akan perintahkan bunuh di tempat! Sekalipun ada TV menyorot,” ia tidak sedang kampanye, ia sedang menjalankan tugas sebagai kepala daerah, meski saya keberatan dengan sikap itu, tapi fakta bahwa BTP tak mau kompromi, itu hal yang lain.

Lalu apa yang bisa dilakukan sekarang? Bukankah BTP tak sedang terikat partai mana pun? Meski ia dekat dengan Joko Widodo, ia masih belum mengkampanyekan dukungan secara terbuka terhadap salah satu calon. Bahkan setelah BTP bebas, Jokowi juga belum menemui. Lagipula, ya saya bisa paham, ibarat mantan, Jokowi sekarang sedang jalan dengan Kyai Ma’ruf, orang yang punya sejarah buruk dengan BTP.

Saya sih berharap BTP bisa kalem dulu, meski banyak orang yang pengen dia langsung tancap gas melakukan sesuatu. Terinspirasi dari itu, ini beberapa rekomendasi pekerjaan yang bisa dilakukan oleh BTP sembari menunggu masuk ke gelanggang politik lagi.

Selebgram

Setelah bebas, BTP mungkin perlu bersantai. Ia bisa nonton Bohemian Rhapsody, nonton konser ToTo, atau plesir ke vila Hotman Paris di Bali. Ia orang bebas, tak terikat jabatan poltik, dicintai banyak orang, dan yang jelas ia akan mendapat banyak endorsement gratis. Ini kenapa ia bisa jadi selebgram atau vlogger.

Sembari belajar tentang media sosial, BTP bisa jalan ke mana pun di Indonesia. Saya yakin banyak orang yang bersedia menampung atau bahkan mengajaknya jalan. Sekalian konsolidasi. Ya, siapa tahu, kalau nanti mau nyapres atau mau jadi konsultan politik, dia sudah bisa mengikat simpul dukungan banyak orang di Indonesia.

Ketua Umum PSSI

Selama ini jabatan Ketua Umum PSSI dianggap punya muatan politik. Ini mengapa jika BTP jadi ketuanya, semburat beragam masalah yang terkait politisasi sepakbola mungkin bisa diakhiri. Bukan tidak mungkin nanti dia akan mencaci-maki mafia skor dengan kata-kata legendaris “Pemahaman nenek lo” sehingga mereka keder. Untuk melawan bandit dan maling, dibutuhkan orang dengan nyali tinggi seperti BTP.

Tak hanya itu, persoalan suporter juga bisa diatasi dengan sikap yang jelas. Saya melihat di Indonesia identitas suporter kerapkali cair. Bukan tak mungkin penggemar Persija dan penggemar Persebaya bersatu sesederhana karena mereka Ahoker. Ini simplifikasi, tapi kadang untuk mengatasi masalah yang kelewat rumit, solusi sederhana bisa dijadikan pertimbangan.

Host Acara Talk Show

Kita semua pernah melihat bagaimana transparansi tata kelola pemerintahan DKI Jakarta di bawah BTP. Ia memberikan akses video rapat Pemda Jakarta kepada publik. Dengan pertanyaan yang tajam, data yang mumpuni, dan kemampuan interogasi yang keren, BTP kerap membuat banyak pejabat nakal kelabakan. Nah, bayangkan jika keterampilan itu diasah untuk talk show di televisi, mungkin ia bisa setingkat di bawah Najwa Shihab.

Kita bisa saja bikin Jakarta Lawyers Club, yang lebih waras dan cerdas: Para panelis yang dihadirkan punya integritas, tidak asal tampil, dan membahas isu-isu publik yang penting. BTP punya pengetahuan luas soal regulasi dan birokrasi, sehingga produk tayangan yang dihasilkan tentu akan jauh lebih bermutu daripada lawyers club yang kerap tak lebih baik dari Keeping Up with the Kardashians atau Jersey Shore.

Nah, itu tiga pekerjaan yang bisa dilakukan BTP sembari menunggu semuanya kalem dan reda. Tapi, Pak, sebenarnya ada satu pekerjaan yang bisa dan sangat mungkin dilakukan segera. Apa itu? Menggantikan Prabowo jadi Capres bersama Sandiaga Uno? Ya, pengennya begitu, tapi apa daya sudah Tionghoa, Kristen pula. Susah betul minoritas di Indonesia jadi presiden.

Pekerjaan yang saya maksud adalah jadi pejabat di DKI Jakarta. Lah, memang ada lowongan?

Lho ya ada. Sudah kosong selama berbulan-bulan malah.

Pekerjaan apa?

Wakil Gubernur.

Kasihan Anies, kesusahan mengurus Jakarta. Mau menertibkan Tanah Abang, takut, lebih galakyang mau ditertibkan. Nah, kalau BTP jadi Wagub, jangankan Preman Tanah Abang, PKS yang selama ini merengek-rengek minta jabatan ke Anies juga bakal keder. Segala penghematan bisa dilakukan dengan jurus “Pemahaman Nenek Lo” hingga copot-mencopot pejabat yang tak becus.

Malah bukan enggak mungkin Cebong-Kampret, Alumni 212 dan “Penista Agama” berdamai. Sudah, Pak BTP, jadi Wagub Anies saja. Kasihan beliau enggak bisa apa-apa.

Arman Dhani
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

    Processing files…