OUR NETWORK

Orang Kristen Bukan Musyrik dan Kafir? (Bag. 2-Habis)

Lalu siapa itu orang kafir?

Tulisan pertama dapat klik di sini. Bukankah, sebagai Muslim, Mun’im juga beriman pada kebenaran ayat itu? Ayat tersebut tegas menyatakan bahwa orang-orang yang membeda-bedakan keimanan terhadap para nabi itu adalah orang kafir.

Artinya, kalau ada orang percaya kepada Tuhan dan hari akhir, misalnya, kemudian dia tidak percaya dengan keberadaan nabi Isa, dan hanya percaya pada kenabian nabi Muhammad Saw, maka dia, menurut ayat tersebut, termasuk orang kafir.

Begitu juga kalau ada orang beriman kepada Tuhan tapi tidak percaya dengan kenabian Nabi Muhammad. Dia juga kafir. Karena keimanan terhadap para rasul merupakan bagian dari dasar-dasar keimanan. Para nabi itu pada dasarnya terekat oleh keyakinan yang sama. Dan agama mereka adalah agama yang satu.

Konsekuensinya, mendustakan yang satu sama dengan mendustakan yang lain. Mendustakan mereka sama dengan mendustakan Tuhan. Dan karena itu orang yang mengingkari kenabian para nabi juga disebut sebagai orang kafir.

Dengan demikian, keimanan terhadap para nabi dan rasul merupakan bagian dari dasar-dasar keimanan, yang kalau saja Anda ingkari—satu rasul saja Anda ingkari—maka Anda tidak layak menyandang gelar sebagai orang beriman. Meskipun dia percaya pada Tuhan dan hari akhir.

Poin ini saya kira harus jelas. Begitu juga halnya dengan malaikat, kitab suci, qada dan qadar. Semua itu membentuk satu-kesatuan yang tak terpisahkan. Anda baru bisa dikatakan beriman kalau Anda meyakini semua dasar-dasar keimanan itu, bukan hanya Tuhan dan hari akhir saja.

Tapi Mun’im mengklaim bahwa orang Kristen itu termasuk kaum beriman. Kita berhak untuk bertanya: Orang beriman seperti apa yang dia maksud? Kalau beriman dalam arti harfiah tentu bisa saja kita sepakati. Para penyembah berhala juga bisa disebut sebagai orang beriman. Karena mereka percaya Tuhan. Tapi, masalahnya, apakah orang sekelas Mun’im punya pandangan sedangkal itu?

Sebelum kita menjawab apakah orang Kristen bisa disebut beriman atau tidak, kafir atau musyrik, tentu harus kita jelaskan terlebih dulu, siapa itu orang kafir, dan siapa itu orang musyrik, dan siapa itu orang beriman? Bangunan argumen yang benar harusnya bertitik-tolak dari situ. Dari sinilah perumusan definisi tentang istilah-istilah tersebut menjadi penting.

Tawaran Definisi

Karena perumusan definisi ini dirasa penting, sekarang saya ingin mengajukan definisi tentang ketiga istilah itu—karena ketiganya yang menjadi pusat persoalan—melalui uraian sebagai berikut:

Siapa itu orang beriman (mukmin)? Dari sejumlah literatur ilmu kalam, kita bisa simpulkan bahwa yang dimaksud dengan orang beriman itu ialah orang-orang yang membenarkan ajaran-ajaran pokok yang dibawa oleh seorang nabi. Nabi mana saja. Tidak harus Nabi Muhammad.

Artinya, kalau Anda hidup di zaman nabi Musa—sebelum nabi-nabi setelahnya diutus—dan Anda membenarkan semua ajarannya, maka Anda adalah orang beriman. Kalau Anda hidup di zaman nabi Isa, sebelum diutusnya nabi Muhammad, dan Anda membenarkan semua ajarannya, maka Anda juga disebut sebagai orang beriman (mu’min).

Berhubung Nabi Muhammad diutus sebagai nabi terakhir, yang melanjutkan ajaran al-Masih As, dan nabi-nabi sebelumnya, maka konsekuensinya, kalau kita ingin dikatakan beriman, dengan keimanan yang benar, maka kita harus percaya dengan semua yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Karena ajaran Nabi Muhammad merupakan lanjutan dari ajaran para nabi sebelumnya. Mereka semua membawa satu agama, dan agama yang satu itu adalah Islam.

Nabi Muhammad bilang kalau di sana ada makhluk bernama malaikat. Kalau Anda tidak percaya satu saja—sekali lagi satu saja—dari malaikat itu, Anda tidak lagi menjadi orang beriman. Karena Anda telah mendustakan apa yang disampaikan Nabi. Kalau Anda tidak percaya pada Nabi Isa As, Anda juga bukan orang beriman, tapi Anda orang kafir. Karena Nabi Muhammad juga memberi tahu akan keberadaan Nabi bernama Isa itu.

Intinya, keimanan meniscayakan kepercayaan atas semua ajaran pokok yang disampaikan oleh Nabi. Semua ajaran pokok yang disampaikan oleh nabi itu harus kita imani. Baru ketika itu kita bisa disebut sebagai orang beriman. Jadi, poinnya, yang menjadikan seseorang beriman itu bukan hanya percaya kepada Tuhan dan hari akhir saja, tapi percaya pada semua ajaran-ajaran pokok yang disampaikan oleh Nabi.

Definisi itu, dalam hemat saya, lebih tegas dan jelas. Cakupannya jelas, pembedanya juga jelas.

Lalu, kalau begitu, bisa tidak orang Kristen disebut sebagai orang beriman? Beriman dalam arti harfiah bisa saja. Tapi, dalam tata peristilahan ilmiah, definisi harfiah tentu tidak bisa dijadikan sebagai sandaran. Yang kita jadikan sandaran adalah definisi yang seleras dengan kaidah tentang definisi itu sendiri, seperti yang saya jelaskan tadi. Jelas mana genus-nya, dan jelas mana differentia-nya.

Pertanyaannya: Dengan definisi tersebut, bisakah orang Kristen disebut sebagai orang beriman? Jelas tidak bisa. Mengapa? Mereka tidak percaya al-Quran, mereka juga tidak percaya pada kenabian Nabi Muhammad Saw. Meskipun mereka disebut sebagai Ahlu Kitab.

Lalu siapa itu orang kafir? Orang kafir adalah orang-orang ingkar terhadap ajaran-ajaran pokok para nabi itu. Kalau Anda tidak beriman kepada Nabi Muhammad, padahal terbukti bahwa dia adalah Nabi, konsekuensinya, menurut Islam, Anda termasuk orang kafir, bukan orang beriman. Begitu juga kalau Anda ingkar dengan nabi-nabi yang lain.

Karena itu, sangatlah kacau orang punya pandangan bahwa orang Kristen itu termasuk orang beriman, sementara mereka tidak percaya dengan salah satu utusan Tuhan, juga tidak percaya pada al-Quran, lalu dikatakanlah bahwa itu adalah pandangan Islam! Dan Islam memandang mereka sebagai orang-orang beriman! Di mana letak kecakapan berpikir orang yang berkesimpulan semacam ini?

Penting dicatat bahwa Islam tidak memandang Kristen sebagai orang-orang musyrik. Musyrik dan Ahlu Kitab itu beda. Saya sendiri tidak akan menyebut mereka dengan sebutan itu. Karena musyrik adalah orang yang menyekutukan Tuhan. Semua orang musyrik itu kafir. Tapi tidak semua orang kafir itu musyrik. Karena kemusyrikan itu sendiri pada dasarnya merupakan kekufuran.

Sementara orang kafir tidak semuanya jatuh dalam kemusyrikan. Seseorang baru dikatakan musyrik kalau dia mengimani keberadaan Tuhan yang berbilang. Sementara—seperti yang sering Mun’im jelaskan—orang Kristen itu tidak menyembah Tuhan yang berbilang. Mereka hanya menyembah Tuhan yang satu, tapi yang satu itu diyakini berada dalam tiga pribadi. Dan itulah trinitas.

Lalu masuk kategori apa? Dalam buku-buku kalam, orang Yahudi dan Kristen sering disebut sebagai Ahlu Kitab. Tapi, yang perlu dicatat baik-baik, penyebutan mereka sebagai Ahlu Kitab tidak serta merta melahirkan kesimpulan bahwa Islam mengakui keyakinan yang mereka anut.

Penyebutan mereka sebagai Ahlu Kitab itu satu hal, penolakan Islam atas keyakinan mereka itu hal yang lain lagi. Selama mereka tidak percaya kepada Nabi Muhammad Saw, dan semua ajaran yang dibawanya, padahal da’wah sudah sampai kepada mereka, maka mereka masih tergolong kafir, meskipun tidak dikatakan musyrik. Dengan alasan seperti yang saya kemukakan tadi.

Penting juga diingat bahwa yang menjadi sebab kekufuran orang Kristen itu bukan karena kemusyrikan—karena mereka bukan orang-orang musyrik—melainkan karena mereka meyakini Yesus sebagai Tuhan. Di samping mereka juga tidak percaya dengan kenabian Nabi Muhammad, sebagai salah satu utusan Tuhan yang melanjutkan ajaran al-Masih As.

Cukup dengan mereka meyakini Yesus sebagai Tuhan, dan mengngkari kenabian Nabi Muhammad, maka mereka sudah menjadi orang kafir, menurut Islam. Sekali lagi menurut Islam.

Berikan catatan tebal bahwa penyebutan mereka sebagai orang kafir tidak serta merta mengandung makna bahwa Islam menabuh genderang permusuhan kepada orang-orang yang berbeda keyakinan. Penyebutan kafir itu harus dipahami sebagai bentuk penolakan. Dan penolakan itu hal yang wajar-wajar saya.

Sebagaimana orang Kristen menolak kenabian Nabi Muhammad, orang Islam juga menolak ketuhanan Yesus. Tapi penolakan keyakinan itu satu hal, hubungan sosial itu hal yang lain lagi. Saya bisa menolak keyakinan Anda dengan keras, tapi kita semua bisa terajut dalam ikatan persahabatan sekalipun kita tersekat oleh perbedaan keyakinan.

Dalam beberapa tulisannya Mun’im selalu bilang bahwa kritik yang disampaikan al-Quran tidak relevan bagi keyakinan yang diyakini oleh umat Kristiani sekarang. Kasarnya, Mun’im ingin bilang kalau al-Quran itu anakronistik. Dia mengkritik ke selatan, padahal yang dikritiknya ada di sebelah timur. Apakah pandangan itu bisa kita terima atau tidak, kita bisa mendiskusikannya dalam tulisan lain secara terpisah.

Tapi sekarang katakanlah kritik al-Quran kepada umat Kristiani itu salah alamat. Al-Quran mengkritik tritseisme, bukan trinitas. Sementara mayoritas umat Kristiani mengimani trinitas. Tapi, pertanyaan yang harus Mun’im jawab ialah: Bisakah Mun’im mengingkari satu kenyataan bahwa mayoritas orang-orang Kristen trinitarian memang menjadikan Yesus sebagai Tuhan, sehingga mereka tidak bisa berlepas diri dari kekufuran?

Ya, mereka bukan orang-orang musyrik, dan kita juga tidak menjuluki mereka dengan sebutan itu. Tapi apakah itu artinya keyakinan mereka bisa kita anggap sebagai keyakinan benar menurut pandangan Islam, sementara mereka tidak percaya dengan kenabian Muhammad Saw yang merupakan salah satu dari utusan Tuhan?

Bukankah keimanan terhadap para rasul itu merupakan salah satu dasar keimanan, yang kalau diingkari dapat menghanyutkan seseorang kedalam lingkaran kekufuran? Saya tunggu jawaban Mun’im. Sekian, wallahu ‘alam bisshawâb.

Baca:

Jangan Menuduh Kristen Itu Syirik!: Memahami Kristologi Qur’an

Mahasiswa Dept. Akidah Filsafat, Universitas al-Azhar Kairo, Mesir | Alumnus Pondok Pesantren Babus Salam Tangerang | Peminat Kajian Sufisme, Filsafat dan Keislaman.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…