Selasa, Oktober 20, 2020

Oase Muhammadiyah di Bumi Papua

Kami Bersama Mas Pur Tukang Ojek Pengkolan dan Juga Novita

Sebagai penonton (agak) setia TOP alias Tukang Ojek Pengkolan yang menemani perjalanan Mas Pur dan Novita dari mulai PDKT, jadian, sampai akhirnya putus ditinggal...

Sumpah Pemuda: Bahasa Indonesia di Tengah Gempuran Wicis-wicis

Di tengah gempuran bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa dominan dunia, dan makin tergerusnya beragam bahasa daerah yang ada, bahasa apakah yang harus dipakai,...

RUU Pertanahan yang Kalah Pamor, tapi Turut Penting untuk Dikritisi

Seperti yang kita ketahui secara bersama, belakangan ini sedang terjadi kekacauan di dalam masyarakat kita atas berbagai peristiwa yang terjadi. Mulai dari peristiwa asrama...

Gas dan Rem

Kita memikirkan kalimat-kalimat disampaikan Presiden Joko Widodo: “Saya minta supaya gas dan remnya diatur, jangan tanpa kendali. Jangan sampai melonggarkan tanpa kendali rem, ekonomi...
Avatar
Biyanto
Gurubesar UIN Sunan Ampel Surabaya dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur

Dakwah pencerahan Muhammadiyah di bumi Papua benar-benar terasa. Sejumlah amal usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan dan sosial berkembang pesat. Buktinya, hingga kini Muhammadiyah Papua dan Papua Barat memiliki TK Aisyiyah (37), SD (13), MI (11), SMP (7), MTs (13), SMA (6), MA (1), SMK (3), perguruan tinggi (4), panti asuhan (7), dan aset tanah sekitar 300 hektar. Muhammadiyah juga melakukan pendampingan pada warga asli Papua agar mendapatkan penghasilan dari bertani, beternak, dan menjadi nelayan.

Perkembangan AUM tersebut menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah dapat diterima masyarakat Papua. Meski umat Islam di Papua dan Papua Barat tergolong minoritas, warga Muhammadiyah bisa berinteraksi dengan baik. Hal itu terjadi karena keberadaan Muhammadiyah dirasakan telah memberikan banyak manfaat. Di Kampung Warmon Kokoda, Papua Barat, misalnya, Muhammadiyah mampu menjadi oase sehingga terwujud kehidupan yang harmonis di kalangan warga.

Di Kampung Warmon Kokoda itulah Muhammadiyah mendirikan SD untuk mendidik warga. Muhammadiyah juga membangun rumah baca untuk menumbuhkan budaya literasi. Perkembangan Muhammadiyah di kampung ini tergolong pesat. Apalagi sejak 2016 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) rutin mengirimkan mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN). Mahasiswa KKN UMY rajin mencarikan sumbangan dan buku bacaan untuk melengkapi fasilitas pendidikan. Kini Warmon Kokoda pun dikenal sebagai “Kampung Muhammadiyah”.

Melalui sejumlah amal usaha itulah Muhammadiyah menunjukkan karakter mengabdi dan memberi di seluruh penjuru negeri. Semua itu terjadi karena Muhammadiyah sejak awal berdiri terkenal dengan ajaran mengenai teologi tolong-menolong (the theology of al-Ma’unism). Teologi ini mendorong warga Muhammadiyah mempraktikkan ajaran agama melalui amal sosial (a faith with action), kewelasasihan (filantropisme), voluntarisme, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan sedikit bicara banyak bekerja.

Sejauh ini institusi pendidikan Muhammadiyah telah berkonstribusi untuk mencerdasan warga Papua. Selain pendidikan dasar dan menengah, juga ada dua Universitas Muhammadiyah di Sorong yang mendidik puluhan ribu mahasiswa. Yang unik, 70 persen mahasiswa dua kampus Muhammadiyah tersebut adalah penduduk asli Papua dan pemeluk Kristiani. Bahkan di SMP dan SMK Muhammadiyah Serui, Papua, lebih dari 92 persen siswanya beragama Kristen. Realitas ini menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah diterima baik oleh warga Papua.

Mahasiswa dan pelajar asli Papua yang Kristiani itu juga sangat piawai menyanyikan Mars Muhammadiyah “Sang Surya”. Nyanyian mereka sangat merdu layaknya suara emas anak-anak dari Indonesia Timur pada umumnya. Maklum sebagian mereka juga merupakan penyanyi sekaligus biarawati di gereja. Padahal dalam salah satu bait lagu “Sang Surya” itu terdapat lirik yang berbunyi; “Islam agamaku, Muhammadiyah gerakanku”. Meski sebagai pemeluk Kristiani, mereka sepertinya tidak pernah ragu menyanyikan “Sang Surya” dalam berbagai acara resmi Muhammadiyah.

Bukan hanya siswa, pendidik nonmuslim dan warga asli bumi Papua juga diberikan kesempatan mengajar di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Dengan cara itulah Muhammadiyah sejatinya telah mengajarkan harmoni sosial di bumi Papua. Dalam konteks sekarang dapat dikatakan bahwa Muhammadiyah telah mempraktikkan nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme.

Muhammadiyah mengajarkan cara hidup bersama di tengah kemajemukan. Tidak hanya dengan kata-kata, melainkan melalui contoh-contoh yang konkrit. Peserta didik nonmuslim pun tidak perlu khawatir dipaksa pindah agama setelah menuntaskan pendidikan di Muhammadiyah.

Dengan menerima siapapun yang datang tanpa melihat perbedaan etnis, budaya, dan agama, maka tidak mengherankan jika ada banyak alumni sekolah dan universitas Muhammadiyah menjadi pendeta, pastur, biarawati, dan pelayan gereja lainnya. Sejumlah pejabat pemerintah juga mengakui jasa besar Muhammadiyah bagi pendidikan warga Papua dan Papua Barat. Sebagai contoh, bupati dan walikota Jayapura. Dua pejabat pemerintah ini merupakan alumni sekolah Muhammadiyah. Mereka merasa beruntung pernah mengenyam pendidikan di Muhammadiyah.

Bahkan saat masih berstatus pelajar Muhammadiyah, bupati dan walikota Jayapura itu dipercaya menjadi ketua kelas. Dengan fasih keduanya mampu melafalkan do’a belajar yang umum dibaca di sekolah Muhammadiyah. Hal itu karena sebagai ketua kelas mereka selalu memimpin doa dengan membaca; Radlitu billahi Rabba wabil Islami dina wabi Muhammadin nabiya wa rasula (Aku ridlo Allah Tuhanku, Islam agama kami, serta Muhammad sebagai Nabi dan Rasulku). Mereka membaca doa itu dengan sukarela, meski dalam keseharian tetap sebagai pemeluk Kristiani.

Dalam suasana kehidupan masyarakat Papua dan Papua Barat yang seringkali dilanda disharmoni sosial, Muhammadiyah penting hadir untuk ikut menormalisasi keadaan. Bersama pemerintah, aparat keamanan, dan elemen masyarakat lainnya, Muhammadiyah dapat berperan aktif mendamaikan pihak-pihak yang bertikai. Melalui jaringan alumni sekolah dan universitas yang berdiaspora di sejumlah instansi dan gereja, Muhammadiyah  dapat mengajak mereka untuk mendinginkan suasana.

Bagi Muhammadiyah, terlepasnya Timur-Timur dari pangkuan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI) harus menjadi pelajaran berharga. Karena itu, harus ada usaha komprehensif agar peristiwa serupa tidak terjadi di bumi Papua. Peringatan tersebut penting karena nuansa separatisme dari gejolak yang terjadi di Papua dan Papua Barat sangat terasa. Terlalu mahal harga yang harus dibayar jika bumi Cenderawasih ini terlepas dari NKRI.

Pada konteks itulah pemerintah dan aparat keamanan harus bertindak tegas pada pelaku anarkisme. Langkah tegas itu tentu harus tetap disertai pendekatan kebudayaan dengan jalan dialog antarwarga. Strategi ini penting untuk menunjukkan negara hadir di tengah warganya yang sedang berkonflik.

Lebih dari itu, kita tentu tidak menginginkan capaian pembangunan di Papua dan Papua Barat hancur karena ulah oknum separatis. Akhirnya, semoga kiprah Muhammadiyah benar-benar menjadi oase untuk mewujudkan harmoni sosial di bumi Papua.

Avatar
Biyanto
Gurubesar UIN Sunan Ampel Surabaya dan Wakil Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Flu Indonesia

“Indonesia sedang sakit, tapi cuma flu biasa....” Di pojok gemerlapnya kota metropolitan, jauh dari bising suara knalpot kendaraan, dan bingar-bingar musik dugem, tentu ada masyarakat...

K-Pop dalam Bingkai Industri Budaya

Budaya musik Korea atau yang biasa kita sebut K-Pop selalu punya sisi menarik di setiap pembahasannya. Banyak stigma beredar di masyarakat kita yang menyebut...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Mahasiswa Dibutakan Doktrin Aktivisme Semu?

Aktivisme di satu sisi merupakan “alat” yang bisa digunakan oleh sekelompok orang untuk melakukan reformasi atau perbaikan ke arah baru dan mengganti gagasan lama...

Prekariatisasi Global dan Omnibus Law

"Setuju", dengan intonasi panjang penuh kebahagiaan peserta sidang secara serentak merespons pimpinan demi ketukan palu UU Cipta Kerja atau akrab dikenal sebagai Omnibus Law. Tok,...

ARTIKEL TERPOPULER

Tanggapan Orang Biasa terhadap Demo Mahasiswa dan Rakyat 2019

Sudah dua hari televisi dihiasi headline berita demonstrasi mahasiswa, hal yang seolah mengulang berita di TV-TV pada tahun 1998. Saya teringat kala itu hanya...

Hitam Putih Gemerlap Media Sosial

“Komunikasi adalah inti dari masyarakat kita. Itulah yang menjadikan kita manusia.” Setidaknya begitulah yang dikatakan Jan Koum, pendiri aplikasi Whatsapp yang kini telah mencapai...

Cara Mahasiswa Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Teknologi selalu mengalami perubahan-perubahan seakan tidak pernah ada ujungnya. Seperti halnya saat ini teknologi sudah sangat berkembang dengan pesat terutama dalam bidang teknologi informasi...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Legacy Jokowi, UU Cipta Kerja dan Middle Income Trap

“Contohlah Jokowi. Lihatlah determinasinya. Visinya. Ketegasannya ketika berkehendak menerapkan UU Cipta Kerja. Ia tak goyah walau UU itu ditentang banyak pihak. Ia jalan terus...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.