OUR NETWORK

Menakar Nasib Pendidikan di Tangan Bos Gojek

Pendidikan adalah kunci keberhasilan. Bagi mereka yang masih percaya itu, Mas Nadiem harus dapat mewujudkan kepercayaan tersebut. Mampukah?

Nadiem Makarim jadi menteri? Wah…. deg-degan juga ya. Dia seusia saya dan memimpin jutaan rakyat yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah jalan kehidupan seseorang. Ya, pendidikan adalah kunci keberhasilan. Bagi mereka yang masih percaya itu, Mas Nadiem harus dapat mewujudkan kepercayaan yang begitu tinggi pada dunia pendidikan itu.

Nadiem Anwar Makarim resmi dilantik sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara. Pendiri startup ride hailing Gojek tersebut masuk ke dalam jajaran Kabinet Indonesia Maju dengan masa bakti 2019-2024. Jokowi memang menarik beberapa tokoh muda di kabinet barunya. Nadiem yang masih berusia 35 tahun ini menjadi menteri termuda di antara mereka semua.

Selain Nadiem, tokoh muda yang ditarik Jokowi adalah Erick Thohir (49) yang menjabat sebagai Menteri BUMN, Wishnutama (43) sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Bahlil Lahadalia (43) Kepala Badan Koordinasid Penanaman Modal (BKPM).

Nadiem lahir di Singapura pada 4 Juli 1984. Ia pernah menempuh pendidikan strata satu di Brown University dan melanjutkan S2 di Harvard University.

Setelah mengenyam pendidikan di Negeri Paman Sam bertahun-tahun, Nadiem kembali ke Indonesia dan mulai membuat startup Gojek pada tahun 2010.

Dengan usia yang nyaris sepantar, saya tidak takut lagi bermimpi. Tidak ada mimpi yang terlalu jauh. Tidak ada batasan usia jika ingin jadi menteri. Sebagai orang yang kesehariannya bergelut di dunia pendidikan, saya menaruh harapan besar pada Mas Karim. Semoga wajah depan perubahan pendidikan bukan lagi soal ganti kurikulum, ganti berkas, dan tinggal bekas.

Pendidikan Tinggi khususnya, hantu scopus yang berwajah ganda itu, semoga bisa dialihkan menjadi hal-hal yang lebih produktif, lebih bergairah. Saya juga seorang Ibu yang tengah mempersiapkan pendidikan untuk anak-anak saya ke depan. Mas Nadiem semoga dapat meletakkan fondasi kuat dan melekat. Bagaimana pendidikan bisa menghargai setiap ilmu. Tidak melulu sains, lalu mengenyampingkan  ilmu humaniora. Tidak ada lagi kasta dalam ilmu. Semua ilmu bersinergi membangun bangsa ini.

Teknologi informasi bisa menjadi wadah yang positif bagi setiap perkembangan ilmu pengetahuan. Ya, Mas Nadiem lebih paham masalah ini. Dia pernah berjaya mewujudkan hal tidak mungkin menjadi mungkin. Misalnya, menghadirkan semangkuk sup di depan mata hanya dengan klik, menghadirkan sebotol minuman hanya dengan klik.

Begitu juga nantinya di dunia pendidikan, semua kerja administrasi disudahi, dan berinovasi bisa tinggal klik. Saya sangat percaya Mas Nadiem yang menyatakan alasan mengapa dipilih menjadi menteri, sebab jawabannya adalah mengerti masa depan, masa depan juga mengerti setiap manusia yang ingin maju.

Masa depan bukan melulu milik mereka yang memang terlahir mapan, banyak orang dalam, tapi masa depan paling mungkin dimiliki mereka yang mau bekerja cerdas dan terus bertumbuh di setiap pijakan. Kelak mereka yang memilih profesi menjadi guru atau dosen tidak lagi dipertanyakan masa depannya. Tidak lagi ada yang menyebut atau disebut dengan kalimat “cuma jadi guru” dengan intonasi serendah-rendahnya.

Di tangan Mas Nadiem, guru dan dosen bisa dengan gagah menunjukkan slip gaji. Di tangan Mas Nadiem, generasi mendatang akan percaya bahwa bisnis pendidikan adalah bisnis yang menguntungkan, bisnis yang bertabur kepercayaan.

Mas Nadiem menuliskan pesan kesan untuk perusahaan kesayangan Mas. Isi suratnya demikian memotivasi. Saya juga ingin menyampaikan dan ingin Mas Nadiem beserta staf yang nantinya terlibat untuk dapat menjawab pertanyaan yang diklaim sebagai kutipan dari Robert Gabriel Mugabe, dikenal sebagai Robert Mugabe, Presiden kedua Zimbabwe.

“Bagaimana Anda meyakinkan generasi mendatang bahwa pendidikan adalah kunci keberhasilan ketika kita dikelilingi oleh lulusan yang miskin dan penjahat yang kaya?” Penjahat korupsi misalnya. Koruptor yang tetap kaya raya dan makin tenar, meski sempat jadi pecundang. Publik figur yang menjadi polusi di ruang publik, makin kaya raya dengan endorse-an, padahal minim teladan.

Artis karbitan yang membintangi sejumlah adegan perusak moral justru digaji berlipat dibandingkan guru di pedalaman yang mengajar mati-matian, gajinya dibayar dengan janji surga.

Banyak yang tertampar dengan keputusan ini. Mereka yang berderet gelar merasa yang tak memahami pendidikan tak bisa menjanjikan solusi. Namun, sekali lagi, ini bukan saatnya berdebat pantas atau tidak pantas. Berikan saja panggungnya. Toh, tahun berganti tahun yang menjabat menteri pendidikan, menteri riset, pendidikan tinggi sudah diisi oleh mereka yang bergelar dan lalu lalang di bidang pendidikan. Apakah sudah ada perubahan signifikan dari tahun ke tahun?

Selain sertifikasi guru dan dosen, program lainnya di bidang pendidikan tak bisa saya ingat. Kini saatnya sinergi muda milenial membawa pendidikan pada ruh yang sebenarnya.

Nadiem Makarim mengenang kembali perjalanan pertumbuhan perusahaan dalam sembilan tahun terakhir dan juga menyampaikan harapannya untuk masa depan Gojek dalam sepucuk surat perpisahan.

“Gojek dimulai dari nol, hanya bermodal tekad yang kuat untuk membawa perubahan. Saat itu, kita melihat rumitnya lalu lintas Jakarta, padahal ada komunitas ojek yang bisa menjadi solusi jika saja ada yang mengorganisir mereka sehingga mereka dapat bekerja dengan lebih efisien.

Berawal dari tekad untuk memudahkan hidup keseharian semua orang, Gojek lahir dengan dukungan dari begitu banyak teman, partner bisnis, investor dan stakeholders. Saat ini, Gojek telah menjadi ikon untuk masa depan Indonesia dan Asia Tenggara.

Saya pamit dari Gojek dan saya percayakan kepemimpinan pada dua sosok terbaik yang paling mumpuni, yaitu Kevin Aluwi dan Andre Soelistyo, sebagai co-CEO. Keduanya memainkan peran kunci dalam membawa perusahaan yang bermula dari sebuah kantor kecil di Jakarta Selatan ke panggung dunia.

Banyak keberuntungan yang memihak pada Gojek selama perjalanan ini, tapi saya percaya keberuntungan dalam menjalankan bisnis hanya punya nilai jika ada sosok-sosok brilian yang tahu cara memanfaatkannya. Kevin dan Andre adalah mentor dalam perjalanan saya menjadi seorang leader, mereka adalah talenta-talenta terbaik di Gojek.

Keduanya yang menjalankan perusahaan ini selama beberapa tahun terakhir dan saya memiliki keyakinan penuh bukan hanya pada kemampuan mereka dalam hal teknis dan eksekusi, tapi juga yang terpenting, pada integritas dan komitmen di tiap langkah dan keputusan mereka.

Membangun bisnis seperti Gojek sangat menguras tenaga dan emosi, tapi Andre dan Kevin selalu menghadapinya dengan kepala dingin dan komitmen yang tidak pernah padam. Tidak ada yang lebih tepat dari mereka untuk memimpin Gojek di fase pertumbuhan berikutnya.” (dikutip dari liputan 6.com)

Surat pamit semacam ini semoga bisa diwujudkan Mas Nadiem dalam dunia pendidikan dasar, menengah, atas, dan tinggi di Indonesia. Semoga dalam surat pamitnya nanti setiap guru akan bergaji setara CEO, setiap siswa yang lulus telah memiliki perusahaannya sendiri,  setiap dosen meneliti tanpa batasan materi dan harga, setiap riset menjanjikan kehidupan yang lebih baik, dan pendidikan Indonesia berada di atas rata-rata dunia, serta Indonesia menjadi kiblat pendidikan internasional. Astungkara.

Bacaan terkait

Nadiem Makarim sebagai Mendikbud: Disrupsi itu Benar-benar Terjadi

Nadiem Makarim dan Kabinet Jokowi yang Agile

Ikuti Jack Ma Masuk Partai, Nadiem Makarim Resmi Bergabung ke PDIP

Saatnya Jokowi Memilih Kabinet Agile (Gesit dan Lincah) [Bagian 2 – Habis]

Ni Nyoman Ayu Suciartini
Penulis, cerpenis, novelis. Novelnya berjudul "Mimpi Itu Gratis" (Gramedia, 2016). Tinggal di Bali.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…