OUR NETWORK

Nasib Fatwa dan Kemungkinan Herd Immunity

Saatnja menimbang kembali terhadap pilihan yang bakal diambil — agar rasional dan berani. Saatnya para pemimpin menjadi patriot bukan mengajari rakyat menjadi pengecut, kita hadapi wabah dengan kepala tegak bukan sembunyi di kolong meja.
Keramaian Jakarta Fair 2019

Fatwa PP Muhammadiyah ditimbang. Transportasi dan jalan umum mulai dibuka, pun dengan pasar-pasar, sekolah dan ke rumunan lainnya termasuk saran MUI kepada pemerintah untuk membuka kembali masjid-masjid, sementara kabar tentang kurban COVID-19 19 juga tak kunjung selesai. Bahkan ada kemungkinan prediksi wabah masih akan berlangsung satu atau dua tahun kedepan tapi siapa bisa jamin?

Mungkin ada bagian yang termasuk berlebihan (ghuluw) menyikapi wabah korona —- hal yang semestinya biasa, berubah menjadi ketakutan publik, keresahan dan kecemasan kolektif —bukan bermaksud menyalahkan ikhtiar yang sudah diambil sebelumnya tapi sudah saatnya mengevaluasi dan mengambil kebijakan atau fatwa baru yang lebih tepat.

Saya belum pernah bisa menerima secara rasional ketika ada satu jamaah masjid dinyatakan positif, maka berjamaah di semua masjid dianggap membahayakan. Lantas lahir fatwa atau edaran agar semua masjid dicutikan tanpa jaminan.

Ada dua atau tiga penduduk warga kota dinyatakan positif maka diberlakukan lockdown di semua kota. Kita berada dalam kepanikan akut karena stigma yang dibikin sendiri. Kita buat hantu untuk kita takuti bersama, Mungkin saya bagian dari yang berlebihan meremehkan tapi bukankah ada bagian lain yang begitu berlebihan sehingga melahirkan kecemasan kolektif di seluruh negeri.

Kemudian dibuat berbagai stigma untuk menghantui :’zona merah, zona hijau atau zona kuning untuk membangkitkan semangat takut bukan kewaspadaan. Paradoks ditengah wabah yang harusnya ditangani secara rasional menjadi sangat emosional karena panik.

Negara seperti tak punya cara untuk mengatasi berbagai problem —-dan bertindak setengah hati tanpa kepastian. Jelas rakyat kecil jadi kurban, kemiskinan bertambah, ekonomi stagnan bahkan terjun bebas ke titik rendah, masyarakat kolaps—COVID 19 yang menimpa tapi kelaparan pengangguran dan problem sosial yang lebih rumit.

Saatnja menimbang kembali terhadap pilihan yang bakal diambil — agar rasional dan berani. Saatnya para pemimpin menjadi patriot bukan mengajari rakyat menjadi pengecut, kita hadapi wabah dengan kepala tegak bukan sembunyi di kolong meja.

Apa ada jaminan bahwa virus korona bakal kikis. Bukankah ragam penyakit menular semacam lepra, kusta, tbc, mers tetap saja ada dan tak hilang dari muka bumi dan siap melahab siapa pun yang dikehendaki. Jadi apa yang harus ditakuti?

Semoga Allah tabaraka wataala memberikan penjagaan, perlindungan dan menjamin surga. Amin

Nurbani Yusuf
Aktivis Persyarikatan Muhammadiyah di Ranting Gunungsari Kota Batu

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.