Banner Uhamka
Minggu, September 27, 2020
Banner Uhamka

Nadiem Memble?

Gaffe Prabowo Subianto dan Politik Identitas

Mungkin Anda tidak terlalu kenal dengan istilah "gaffe". Kata bahasa Inggris ini artinya kurang lebih "salah omong sehingga memalukan si pembicara". Dalam politik, salah...

Anthony Bourdain, Mengajak Berempati dengan Mencicipi Makanan

Tidak banyak acara TV Amerika yang saya suka. Saya jarang menonton TV. Selama beberapa tahun terakhir saya malah tidak punya TV. Namun, lewat satu...

Prabowo Subianto dan Kebencian terhadap Orang Miskin

Tidak ada yang salah dari cara pikir Prabowo yang menyebut bahwa lulusan SMA di Indonesia cuma bisa jadi tukang ojek online. Jika kemudian sebutan...

Prabowo Menhan Terlembek dalam Sejarah RI

Di zaman Menteri Susi Pudjiastuti, nelayan asing terkaing-kaing. Mereka yang mencoba mencuri ikan, bergidik ketakutan. Emak perkasa, putri laut, seorang patriot, yang senantiasa menjaga...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Cara pandang saya terhadap Nadiem harus saya geser sedikit. Rupanya man behind Gojek itu menyimpan beberapa kejutan. Pertama soal unggah-ungguh. Baru saja beredar foto acara kedatangan Nadiem ke PBNU. Dalam acara itu dia tampak membungkuk dan mencium tangan seorang kyai.

Ternyata, Nadiem sebelum jadi menteri itu sudah sering sowan ke pesantren-pesantren. Jadi gambaran “bocah bengal” yang sekolah di luar negeri itu tidak benar. Ia masihlah anak Indonesia yang diajarkan budi pekerti khas Indonesia. Cium tangan salah satunya.

Saya tidak melihat itu sebagai sesuatu yang rendah. Meskipun Nadiem adalah seorang menteri, tapi ia juga adalah seorang “santri”. Jokowi juga sering melakukannya ketika bertemu ulama.

Kedua, soal radikalisme. Saya baru tahu, perang terhadap radikalisme di dunia pendidikan terus dilakukan. Terutama di dalam wilayah kementerian yang dikendalikan oleh Nadiem. Soalnya, nadiem sendiri yang baru saja mengatakannya dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh Ade Armando.

Sebelumnya, saya selalu menganggap Mendikbud itu lembek. Sekolah-sekolah radikal dibiarkan tumbuh dan berkembang dengan subur. Ternyata tak seburuk itu, meskipun memang belum benar-benar aman.

Nadiem sendiri dengan tegas mengatakan, tidak memberikan tempat bagi radikalisme. Tentu saja tidak mungkin membubarkan sekolah begitu saja. Penyebar ajaran radikal di sekolah-sekolah negeri itu melalui oknum gurunya. Yang perlu dilakukan Kemendikbud adalah mempeketat pengawasan. Jika kedapatan ada guru “cingkrang” yang mau mencuci otak siswanya, langsung usir saja.

Apalagi ada kewenangan yang tumpang-tindih antara Mendikbud dan Menag. Sekolah yang disinyalir radikal itu kebanyakan ada di bawah komando Menag. Dan seperti kita tahu, Menag, siapapun orangnya, hampir bisa dipastikan memble.

Sebab agama adalah sesuatu yang maha penting di Indonesia. Jauh lebih penting dari akal sehat. Kegarangan Menag kita di awal menjabat, langsung gembos begitu menghadapi fakta, ia tak punya kuasa apa-apa terhadap ormas-ormas yang mabuk agama. Selain sendiko dhawuh, Menag tak punya pilihan lain demi keamanan kursinya.

Ketiga, soal komitmen untuk merombak praktik “bisnis” di bidang pendidikan. Salah satu yang paling jelas adalah dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dulu uang BOS ini dikuasai oleh Provinsi, sekarang diubah langsung ke sekolah masing-masing. Tidak ada lagi uang sunatan oleh oknum nakal.

Nadiem juga akan mengganti UN dan berupaya memformulasikan kurikulum yang tidak memberatkan siswa. UN ini adalah biang kerok yang membuat banyak siswa tertekan dan bunuh diri. Penggantinya adalah Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang mengukur kemampuan minimal para siswa dalam literasi dan numerasi.

Guru-guru terbaik diplot sebagai kepala sekolah. Dan yang tak kalah penting, kualitas guru ditingkatkan dengan program pelatihan yang lebih komprehensif, bukan hanya seminar. Selama ini program-program semacam itu tidak jelas hasilnya. Kali ini akan diupgrade sedemikian rupa sehingga jelas outputnya.

Tiga poin di atas itu saya pikir cukup untuk menggeser penilaian sebelumnya terhadap Nadiem yang cenderung muram. Bagaimanapun juga, ia masih muda. Wajar jika ada sedikit grusa-grusu dan blunder. Tapi sejauh ini dia berusaha memperbaikinya. Salah satunya dengan sowan ke ulama itu.

Niat baik dan sikap tegas itu penting. Tapi unggah-ungguh dan “nguwongke” juga penting. Jangan sampai niat baik yang disampaikan dengan cara yang salah justru membawa perpecahan. Karena esensi sejati dari pendidikan itu terletak pada karakter dan keadaban.

Titik berat Nadiem selanjutnya adalah pada tim yang ada di bawahnya. Blunder soal Program Organisasi Penggerak tempo hari, yang membuat beberapa ormas ngambek, besar kemungkinan karena tidak beresnya orang-orang di sekitar Nadiem. Kurang gesit dan kurang luas wawasannya.

Menteri muda itu seperti sedang dijerumuskan.

Memang tindakan itu tidak sepenuhnya salah. Tapi tradisi kita mengenal unggah-ungguh. Niat baik saja tidak cukup. Perlu ada komunikasi dan kerja sama. Terutama kepada ormas tradisional yang gagap proposal.

Tentu saja kita semua masih menunggu realisasi pernyataan Nadiem yang sebagian belum terwujud. Terutama soal perang terhadap radikalisme di sekolah. Meskipun harus digaris tebal, hanya sekolah yang ada di bawah kendali Mendikbud. Soalnya sekolah yang ada di bawah kendali Menag, sepertinya kita telah kehabisan kata-kata…

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Beberapa Khazanah dan Pemikir Islam

Abad ke-14 dunia Islam mengalami kelesuan, akan tetapi dari Tunisia lahirlah seorang pemikir besar yaitu Ibn Khaldun (Abdurrahman ibn Khaldun, w. 808 H/1406 M)...

Seharusnya Perempuan Merdeka Sejak Usia Dini

Gender memberikan dampak yang berarti sepanjang jalan kehidupan seorang manusia. Tetapi karena diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam awal kehidupan, konsep kesetaraan bahkan pengetahuannya...

Disleksia Informasi di Tengah Pandemi

Perkembangan teknologi yang sudah tak terbendung bukan hal yang tabu bagi semua orang saat ini. Penerimaan informasi dari segala sumber mudah didapatkan melalui berbagai...

Opsi Menunda atau Melanjutkan Pilkada

Perhelatan akbar pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2020 akan bergulir. Pilkada yang sejak era reformasi pasca amandemen UUD 1945 telah memberi ruang...

Peran Civil Society dalam Perang Melawan Wabah

Perkembangan wabah korona semakin mengkhawatirkan. Epidemiologi Pandu Riono menyebut puncak kasus Covid-19 di Indonesia baru mencapai puncak pada awal semester pertama hingga pertengahan tahun...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.