OUR NETWORK

Mulan, Grace Natalie dan Poligami

Perempuan harus seperti Mulan. Berani menentukan nasib sendiri.

Beberapa hari lalu saya menonton cuplikan film live-action Mulan. Di antara semua live-action disney yang telah dan akan tayang, Mulan adalah satu-satunya film yang saya tunggu sejak lama. Sepele alasannya, Mulan merepresentasikan identitas saya yang lain. Perempuan Tionghoa yang hidup dalam tradisi kolot orang tua yang akhirnya melawan untuk bisa hidup dengan kemampuan sendiri.

 Sebelum Mulan, Saya ingat film Crazy Rich Asian yang banyak dipuji tentang ceritanya dan representasi orang-orang Asia. Memang benar, bahwa banyak stereotip dalam Crazy Rich Asian yang terasa dekat, tapi Mulan lebih daripada itu, ia adalah rekam jejak sejarah, sebuah tradisi yang tak pernah saya kenal karena lahir dan besar di Indonesia. 

Lantas apa sih pentingnya film Mulan ini?

Untuk menghadirkan sosok Mulan, Disney memilih Liu Yifei, Yifei akan memerankan remaja perempuan Tiongkok yang terjebak dalam tradisi di mana perempuan harus menikah dengan pria untuk meningkatkan harga diri keluarganya. Alih-alih menikah dengan pria yang dipilih oleh sang “mak comblang”, ia memilih untuk pergi berperang dengan menjadi prajurit. Ia pun berlatih pedang dan bela diri tanpa sepengetahuan orangtuanya.

Kisah Mulan ini sebenarnya berasal dari kisah legenda Cina Hua Mulan, seorang pejuang yang menjadi panutan bagi Bangsa Hun.

Hal lain yang membuat saya demikian gemas menunggu film ini adalah Mulan dan Saya sama-sama keturunan Tionghoa (dan bermarga sama). Mulan menggambarkan tradisi tionghoa di mana permintaan orangtua adalah hal yang mutlak dan nyaris mustahil untuk ditolak. Meski terlihat menyetujui perjodohan dari orangtuanya, Mulan malah “melarikan diri” dan pergi berperang. 

Banyak orang mengira bahwa kita punya pilihan untuk menolak permintaan orangtua. Nyatanya, lagi-lagi saya terjebak menuruti permintaan orangtua meski tahu bahwa saya tidak suka. Atau, kalau memang benar-benar tidak mau melakukannya, saya akan menghindar dan melakukan hal lain yang mungkin bisa menebus kekecewaan orangtua karena tidak menurutinya.

Saya ingin kuliah di jurusan Biologi dan sudah mendapatkan bangku di salah satu perguruan tinggi negeri di luar Jakarta. Tentu saja orangtua saya menolak. Mereka ingin saya mengambil jurusan yang pernah ayah saya ambil, yaitu Akutansi, dan memilih kampus yang dekat dengan rumah. Alih-alih mengambil jurusan Akutansi, saya menghindar dengan memilih jurusan Ilmu Komunikasi dengan kampus yang dekat dengan rumah. Itu bentuk kompromi saya.

Tentu saja, hari-hari terasa berat karena harus belajar ilmu sosial yang sama sekali tidak pernah saya pelajari. Tapi, jalani aja. Toh juga menulis merupakan hobi saya. Rasa-rasanya saya makin bisa menikmati. Apa yang terhadi pada saya ternyata banyak juga dialami oleh perempuan tionghoa lain di Indonesia. Mereka kerap kali tak punya pilihan atas tubuh sendiri dan harus tunduk pada permintaan orang tua.

Ini mengapa ketika tahu ada sosok bernama Grace Natalie, pemimpin Partai Solidaritas Indonesia di negara yang mayoritas Muslim, saya percaya bahwa Mulan itu ada di sini, dan kami bisa membebaskan diri untuk bangkit menentukan pilihan sendiri.

Tentu saja tidak mudah. Seperti Mulan, ia tentu sering di-“kecil”-kan karena keberaniannya. “Ngapain sih perempuan cina kafir masuk politik?” Sentimen semcam ini kerap saya temui. Seolah menjadi perempuan, menjadi tionghoa, dan menjadi non muslim adalah dosa yang demikian besar. Meski demikian, toh, ia tetap bangun dan maju melawan stereotip orang-orang. 

Grace Natalie maju dan mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI. Melihat foto dan poster kampannyenya di jalan, membuat saya kagum. Tidak banyak orang yang berani untuk melawan stereotip itu. Tionghoa, non muslim, perempuan, tiga label minoritas yang luar biasa berat. Tapi, tetap saja ia bisa berdiri dan menunjukkan bahwa ia mampu.

Meski hasil Pemilihan Legislatif 2019 tidak membuatnya menjadi anggota DPR RI, saya bisa belajar banyak dari Grace. Ia tangguh, ia berani, ia mampu mendobrak stereotip orang-orang bahwa wanita Tionghoa harusnya nurut saja. Bagi saya Mulan dan Grace Natalie punya semangat yang sama, bahwa perempuan punya kendali atas hidupnya sendiri, kami berhak memilih jalan hidup yang berbeda dari tradisi. 

Grace Natalie bersama PSI berani mengungkapkan sikapnya terhadap Poligami. Suatu hal yang dianggap tabu dan tradisi suci umat yang tak boleh digugat keberadaannya. Sikap PSI menolak poligami karena penindasan terhadap perempuan yang didasarkan riset akan kekerasan terhadap perempuan, saya kira perlu didukung. Ini bukan melawan ajaran agama, tapi melawan bentuk penindasan terhadap perempuan yang banyak terjadi karena poligami.

Seperti Mulan, Grace memberanikan diri untuk maju di Pemilihan Legislatif tidak selalu soal harga dirinya, tetapi juga karena kehormatan sebuah pilihan. Meski sering diledek karena lelucon garing, atau sikap-sikap politiknya yang kontroversial Grace tak mau tunduk.

Amanda Putri Tabrani
Jurnalis dan pelancong yang hobi fotografi dan video.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…