Minggu, Februari 28, 2021

Mitos Tentang Militer

Jokowi dan Nasionalis Religius di Bawah Tekanan

Hampir sepanjang sejarah Indonesia, orang-orang nasionalis itu sekuler. Sukarno adalah orang sekuler. Ia tidak memasukkan agama dalam konsep negara yang ia bangun, dalam arti...

Benarkah Presiden Jokowi Pro-Lingkungan Danau Toba?

Saya masih ingat betul. Waktu itu saya masih SD. Hampir semua warga kampung kami pergi. Mereka meninggalkan sawah dan ladang hanya untuk sebuah alasan...

Mengenang Tua-tua Keladi Profesor Tilaar (1932-2019)

Rabu, 30 Oktober 2019, pada saat saya sedang naik Transjakarta dari Halte BI menuju ke Blok M, tiba-tiba mendapat pesan lewat WhatsApp dari seorang...

Game of Thrones dan Kita

April menjadi bulan yang dinantikan oleh banyak penggemar serial Game of Thrones. Tentu saja, karena mereka akhirnya bisa melepaskan rasa rindu atas keberlanjutan kisah...
Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.

Sudah lama ditanamkan dalam batok kepala kita bahwa militer lebih disiplin dan lebih nasionalis dari sipil mana pun. Punya solidaritas dan kehormatan yang kuat dalam korps (jiwa korsa). Ia juga manusia yang serba bisa di bidang pekerjaan apapun.

Faktanya: omong kosong.

Mitos ini diciptakan terutama sejak Orde Baru untuk membenarkan keterlibatannya dalam politik, dalam jabatan-jabatan sipil, beking-membeking, dan akhirnya untuk melindungi bisnis-bisnis militer sendiri.

Padahal setiap profesi punya disiplin. “Tapi kan disiplin dan tidak disiplin dalam militer taruhannya nyawa. Semua harus presisi.”

Memangnya sipil seperti dokter bedah jantung atau bidan desa tidak melibatkan taruhan nyawa? Atau penjaga palang pintu kereta. Bagaimana dengan petugas PLN yang kalau tidak disiplin dalam prosedur kerja bisa mati tergantung di tiang listrik?

Lebih fatal lagi, disiplin dikaitkan dengan kerapihan (rambut cepak) atau kebersihan markas (barak), apalagi baris berbaris.

Padahal rambut cepak tak ada urusannya dengan kerapihan, apalagi disiplin. Rambut cepak 1-2-3 cm hanyalah urusan kepraktisan dalam militer, tak bisa dijambak dalam perkelahian, dan tidak mudah diidentifikasi dalam keseragaman (there are safety in numbers).

Kebersihan dan kerapihan markas (barak) adalah pertimbamgan strategis dalam benteng tempur mana pun guna meminimalisasi spot bagi penyusup atau sabotase seperti bom, booby trap, kamera mata-mata dll. Benteng atau kastil sekelilingnya selalu berupa hamparan luas yang bersih dari semak dan mudah diamati.

Nah, kalau Mendikbud mau menanamkan jiwa korsa atau solidaritas ke anak Indonesia, sejak kapan harus militer?

Panggil saja anak-anak Vespa. Hujan badai pun jika mendengar ada anak Vespa lain yang mogok atau kesulitan di jalan, ia akan berangkat menolong. Atau anak-anak pecinta alam.

Kalau anak sekolah malas bangun pagi, untuk apa panggil tentara sebagai contoh atau teladan. Panggil saja fotografer. Dia bisa bangun sama pagi butanya dengan serdadu dan sama disiplinnya agar tidak ketinggalan momen sunrise.

Kalau Menteri Muhadjir mau mengajari anak Indonesia apa itu presisi, siapa bilang urusannya hanya dengan profesi yang kerjanya membersihkan dan bongkar pasang senjata atau Alutsista.

Panggil Balawan atau Dewa Bujana. Main tone bersih dalam gitar juga soal presisi dan disiplin ribuan jam latihan. Sama uletnya dengan Kopassus. Jari geser nol koma sekian milimeter saja nadanya bisa fals. Itu presisi. Apalagi dokter ahli beda syaraf.

Kalau memang hanya militer yang kompeten mengajarkan “jiwa korsa”, jangan lupa agar Kemendikbud memasukkan contoh kasus pembantaian di penjara Cebongan atau pembakaran Mapolsek Ciracas atau Mapolres Ogan Komering Ulu.

Apa tidak cukup militerisasi yang mengarah pada simbol-simbol determinasi fisik dan kekerasan di dunia sipil?

Lihat seragam laskar FPI, Banser, Kokam, PP, IPK, sampai Hansip, Menwa, Satpam, atau Satpol PP. Semua sama: sepatu lars, PDL, dan baret. Hanya beda warna. Ini semua sipil.

Lihat bagaimana sekolah calon aparat sipil STPDN atau IPDN yang pendidikannya “dimiliterisasi”? Tradisi kekerasan turun temurun, arogansi pada rakyat yang seharusnya dilayani, dan pada akhirnya pun lulusannya tidak bebas korupsi.

Atau sekolah-sekolah pelayaran yang masih menerapkan perploncoan-perploncoan fisik karena kadung dibikin “cepak” dan main barak-barakan. Apa hubungannya disiplin dan presisi dalam dunia pelayaran dengan pendidikan ala militer?

Apakah kalau pendidikannya gaya pesantren mental mereka akan berbeda menghadapi laut yang ganas? Omong kosong.

Saya pernah menulis bagaimana disiplinnya para awak kapal Rainbow Warrior dalam segala hal, bahkan dibanding kapal perang tentara.

Pemerintahan Jokowi sedang memberi karpet merah pada militer di berbagai sektor. Dari jabatan-jabatan publik, program Bela Negara, pertanian, hingga dilibatkan di sekolah-sekolah umum seperti gagasan Menteri Pendidikan Muhadjir ini.

Sementara di sisi lain, trauma masa lalu, kasus-kasus kejahatan kemanusiaan yang melibatkan militer tak disentuh sama sekali dalam lima tahun pemerintahan Jokowi. Bahkan TNI masih diistimewakan dari jangkauan tangan KPK dalam perkara korupsi. Padahal KPK dibentuk dan UU Antikorupsi lahir karena kejahatan ini sudah meluas dan masuk extraordinary crime. Itu artinya tak hanya sipil yang korup, tapi termasuk institusi militernya.

Kini ada ide lagi memasukkan mereka ke lembaga pendidikan dengan alasan yang absurd.

Padahal militer memiliki karakter dan metode yang berbeda. Demi efektivitas rantai komando dalam tempur, mereka hanya mengenal kalimat perintah, bukan sanggahan, kritisisme, bahkan bantahan.

Sementara di sekolah, di lembaga pendidikan, kita justru harus mengajarkan yang sebaliknya pada anak-anak kita. ***

Avatar
Dandhy Dwi Laksono
Jurnalis, penulis, dan Pendiri Watchdoc, perusahaan film dokumenter. Pada 2015, selama 365 hari, bersama "Ucok" Suparta Arz, Dandhy bersepeda motor mengelilingi Indonesia di bawah bendera Ekspedisi Indonesia Biru.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Terlalu Jauh Menjadikan 4 Nakes Penista Agama

Kasus Pemantang Siantar sungguh membuat kita semua kaget. Empat petugas kesehatan (Nakes) digugat oleh seorang suami yang istrinya meninggal karena Covid-19. Empat petugas kesehatan...

Jurnalisme Copy-Paste

Jurnalisme copy-paste adalah pekerjaan mengumpulkan, mencari dan menulis berita dengan menggunakan teknik salin menyalin saja. Seperti ambil berita di media lain atau dapat dari...

Robert Morey dan Orientalisme yang Melapuk

Orientalisme adalah satu diskursus ketimuran, yang bercokol pada kajian-kajian Barat dalam menginterpretasikan khazanah Timur—khususnya Islam. Pada kajian ini Islam dipandangan dalam objektifikasi Barat, namun...

Generasi Muda di Antara Agama dan Budaya

Oleh: Bernadien Pramudita Tantya K, SMA Santa Ursula Jakarta Esai favorit lomba: Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita Indonesia adalah negara yang kaya akan bahasa, budaya,...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Perempuan dalam Isi Kepala Mo Yan

Tubuh perempuan adalah pemanis bagi dunia fiksi. Kadang diperlakukan bermoral, kadang sebaliknya, tanpa moral. Naluri bebas dari perempuan yang manusiawi, memendam dengki dan membunuh...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Kenapa Saya Mengkritik Mas Anies?

Dua hari yang lalu saya mengkritik Gubernur DKI Jakarta Mas Anies Baswedan melalui unggahan akun Instagram. Soalnya Mas Anies melempar kesalahan pada curah hujan dan...

Antara Kecerdasan Buatan, Politik, dan Teknokrasi

Di masa lalu, politik dan teologi memiliki keterkaitan erat. Para pemimpin politik sering mengklaim bahwa politik juga merupakan bentuk lain dari ketaatan kepada Tuhan;...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.