OUR NETWORK

Merombak Principle of Excluded Middle Si Kaya dan Si Miskin

Saya pun melihat video yang tersebar pula di beberapa sosial media. Apa yang diucapkan Achmad Yurianto memang terkesan miris. Ia menyatakan “yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya, ini menjadi kerja sama yang penting.” 
Foto dari penulis

Kaum kaya dan kaum miskin, dua golongan ini selalu bertentangan: saling curiga, salah menyalahkan, mengkambinghitamkan satu sama lain terlepas mana yang benar. Sejak awal social distancing diberlakukan, dua golongan itu menjadi sorotan.

Belum lama malah semakin mencuat, sebab netizen secara berjamaah mengkritik dan menyayangkan pernyataan viral juru bicara pemerintah khusus penanganan corona (covid-19) Achmad Yurianto di laman Youtube BNPB mengenai apa yang perlu dilakukan keduanya di tengah pandemi melanda.

Saya pun melihat video yang tersebar pula di beberapa sosial media. Apa yang diucapkan Achmad Yurianto memang terkesan miris. Ia menyatakan “yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya, ini menjadi kerja sama yang penting.” Sebuah pernyataan yang kontroversial dari juru bicara penanganan corona (covid-19) yang disinyalir merendahkan kaum miskin.

Terlepas dari telah “menyinggung” perasaan kaum miskin atau yang peduli pada kaum miskin dari pernyataan Achmad Yurianto, bagi saya sungguh mulia. Karena sebenarnya ia bertujuan mengajak kaum kaya berderma, untuk melindungi kaum miskin yang menderita. Hanya saja, ucapan yang ditujukan bagi kaum miskin sungguh kurang tepat.

Pertama, faktanya causa awal hadirnya virus corona (covid-19) di Indonesia datang dari kaum kaya. Oleh karenanya, hampir mustahil kaum miskin menularkan penyakit pada kaum kaya seperti yang dikatakannya. Virus corona nyata-nyata “terbawa” oleh kaum kaya yang melakukan perjalanan pulang—pergi antar negara. Dengan kata lain, relasi internasional kaum kaya—lah yang membawa penyakit itu ke Indonesia. Apakah mungkin orang miskin melakukannya?

Kedua, gerakan #dirumahsaja yang ramai digadang-gadang meski bertujuan menekan angka penyebaran pandemi tapi sebenarnya malah “menekan” bahkan “mencekik” kaum miskin. Bagaimana tidak? Mereka kesulitan mengais pundi-pundi rupiah dari kebijakan social distancing. Akan lebih parah bila kebijakan berubah dan terjadi lockdown.

Padahal, kaum miskin mengandalkan langkah kakinya pergi dari rumah untuk mencari sesuap nasi. Soal arahan juru bicara Achmad Yurianto pada kaum miskin untuk melindungi kaum kaya dengan mengunci diri di rumah karena berpotensi “menularkan” penyakit sungguh lucu. Siapa sebenarnya yang menularkan dan tertular? Dari si kaya ke si miskin atau sebaliknya? Siapapun itu, tentu keduanya harus saling bergandengan tangan menghadapi situasi ini.

Usangnya Principle of Excluded Middle

Memang, selalu ada garis demarkasi antara “si kaya” dan “si miskin.” Sekalipun dipahami pertentangan sebagai sunatullah, dua kutub yang saling beseberangan memang sering hinggap di ingatan dan nalar logika kita—seperti adanya siang ada malam, bumi dan langit, hitam putih, baik lawan dari buruk, dan sebagainya. Contoh-contoh itulah yang dikemukakan Aristotelian sebagai prinsip logika yang dinamainya principle of excluded middle: tidak ada jalan tengah. Tidak ada kompromi menjadi opsi ketiga.

Demarkasi dari logika Aristotelian itu juga diturunkan lebih rigid melalui analisis Marxisme (yang tidak simpel dan amat kompleks) menjadi kaum borjuis vis a vis proletar, kelas pemodal dan pekerja, sehingga secara tidak langsung jurang pemisah semakin menganga. Saya sedikit banyak paham dan sering meminjam analisis Marxis hingga neo-Marxis dalam memahami persoalan dunia, khususnya “peperangan” antara si kaya melawan si miskin.

Bukan maksud tulisan ini mengkritik dan meralat pernyataan juru bicara Achmad Yurianto. Ia yang dibully habis-habisan dikarenakan “terpeleset” lidahnya itu—pun sudah mengklarifikasi dan angkat bicara sendiri. Pesan terpenting adalah bagi kaum kaya agar selalu melindungi kaum miskin dan pada akhirnya menjadi gerakan yang terlihat nyata dan tidak sekedar kata-kata.

Walhasil, pernyataan tetaplah pernyataan. Kendati menuai beragam tanggapan, inti dari situasi ini adalah bagaimana kaum kaya dan kaum miskin berkompromi dan bergandengan tangan tidak lagi dipertentangkan dengan logika Aristotelian.

Menerapkan Logika Baru

Ada sebuah logika gugatan bagi principle of excluded middle Aristoteles yang dikemukakan oleh Luthfi Zadeh seorang fisikawan Iran. Sebuah logika tandingan yang ditawarkannya dikenal dengan fuzzy logic dan mengubah wajah dunia sains. Menurut prinsip logika fuzzy logic, di dunia ini tidak ada pembagian dualistik yang tak mengenal kompromi.

Kenyataannya sebuah pernyataan bisa benar sekaligus bisa salah dalam waktu bersamaan. Contoh mudahnya adalah warna hitam dan putih. Tidak ada hitam secara mutlak begitupun dengan putih. Sebab, selalu ada warna lain yang dihasilkan keduanya bila bercampur tergantung kadarnya keduanya. Itulah maksud dari fuzzy logic.

Dari fuzzy logic saya malah teringat apa yang ditulis Werner Heisenberg sebagaimana dikutp Fitjof Capra dalam The Web of Life, bahwa “dunia tampak sebagai suatu jaringan rumit persitiwa-peristiwa, yang di dalamnya hubungan dalam jenis yang berbeda menggantikan, tumpang tindih, atau bergabung dan dengan demikian menentukan tenunan keseluruhan.”

Singkatnya pemahaman prinsip-prinsip yang jlimet dari fuzzy logic melahirkan sebuah filsafat proses yang dikembangkan matematikawan Inggris Alfred North Whitehead dan rekannya Henri Bergson.

Fuzzy logic akhirnya mengajarkan kita untuk berpikir dan berlaku adil, artinya tidak memiliki standar ganda. Katakan baik kepada siapa saja yang berbuat baik meskipun orangnya dikenal buruk, dan katakan jelek kepada mereka yang berbuat jelek kendati orangnya dikenal baik.

Itulah mengapa prinsip Fuzzy logic antara si kaya dan si miskin bagi saya perlu diberlakukan dan ini tergantung kadar kemanusiaannya. Kaum miskin yang ikut membantu menghentikan penyebaran virus dengan diam di rumah sejatinya ialah miskin yang “kaya.”

Sisi lain, kaum kaya karena ketakutannya menjadi sasaran empuk terjangkit, dengan materi berlimpah yang dimilikinya bersiap “menimbun” kebutuhan pokok untuk mengisolasi diri namun tidak memikirkan saudaranya kaum miskin adalah kaya yang “miskin” hati.

Maka logika ini mempertegas pesan juru bicara Achmad Yurianto untuk menjadi orang kaya yang “kaya” dengan dibarengi oleh gerakan nyata!

Alumni Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pegiat literasi di Lingkar Studi Filsafat Nahdliyyin. Ngabdi di Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum NU Kota Bandung dan Jatman Kota Bandung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…