Jumat, Desember 4, 2020

Merayakan Hijrah Buya Syafii

Jakarta Keras dan Seram dari Thread di Twitter?

“Jakarta keras, bung!” Belakangan saya sering lihat thread Jakarta keras di Twitter. Dikisahkan bahwa untuk bertahan di Jakarta perlu keberanian tingkat tinggi. Bahkan disarankan untuk...

Dikutuk Pengetahuan?

Dalam Islam lazim dikenal ungkapan: makanlah ketika lapar, berhentilah sebelum kenyang. Intinya, makanlah dengan porsi secukupnya, tetap kita sisakan ruang kosong di lambung, biar...

Skenario Tahun Ajaran Baru

Situasi Pandemi Covid-19 menyebabkan banyak agenda besar Nasional terpaksa ditunda, digeser, atau dijadwalkan ulang. Salah satunya adalah agenda tahun ajaran sekolah. Sampai saat ini, pemerintah,...

Orang Kristen Bukan Musyrik dan Kafir? (Bag. 2-Habis)

Tulisan pertama dapat klik di sini. Bukankah, sebagai Muslim, Mun’im juga beriman pada kebenaran ayat itu? Ayat tersebut tegas menyatakan bahwa orang-orang yang membeda-bedakan keimanan...
Avatar
Zacky Khairul Umam
Kandidat doktor di Freie Universitaet Berlin. Salah satu karyanya, "Adonis: Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab-Islam"

Setelah belajar Muhammad Iqbal dengan Fazlur Rahman melalui teks Persia dibantu dengan terjemahan Inggris, Ahmad Syafii Maarif (ASM) ‘gila’ dengan Iqbal dan menjadikan filsuf-penyair India/Pakistan ini sebagai momen untuk berubah dari ‘pasungan status quo pemikiran’.

Yang dimaksud status quo di sini ialah: ketaklidan ASM pada konsep negara Islam ala Maududi dan puteri adopsinya Maryam Jameelah–seorang Yahudi yang berpindah ke Islam karena merasa teralienasi dalam kehidupan di New York–dan tokoh Ikhwan serta Masyumi.

Melalui Iqbal, ASM menemukan daya gerak dalam memahami peradaban Islam yang dinamis. Tidak heran jika selama periode 1980-an awal hingga 1990-an kita banyak menemui tulisan ASM yang mengkaji Iqbal atau nada tulisan dengan spirit Iqbal, tentang diri atau ego yang dinamis, keluar dari fatalisme sejarah.

Selain bernada Bergson elan vital, Iqbal juga pelajari soal Neo-Hegelianisme dari McTaggart di Cambridge. Adakah hubungan Bergson dan Neo-Hegelianisme di Inggris dalam diri Iqbal? Itu pertanyaan saya.

ASM misalnya menulis, “Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anak-anak bangsa. Mereka tidak ada jalan pintas lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras, tabah dan mau engalami proses pencerahan terus-menerus. Tanpa kemauan keras untuk maju, jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Nasib seseorang disamping di tangan Allah akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri.”

ASM melanjutkan, “Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas, hidup tanpa inisiatif, dan lebih suka menadahan tangan minta bantuan. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat egonya yang terkenal: seseorang sebaiknya mengindari harta warisan, sekalipun itu sesuatu yang halal. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan, bukan suatu yang diwariskan kepada kita.”

Tampaknya ASM juga menyukai filsuf Neo-Hegelian lain dari Italia, bernama Benedetto Croce. Filsuf ini beberapa kali dikutip dalam berbagai bukunya. ASM juga menulis satu artikel di jurnal UGM mengenai pemikiran Croce. Croce adalah pengkritik fasisme dan seorang liberal tapi anti terhadap konsep ekonomi laissez-faire, pasar bebas. ASM tampaknya menyukai Croce dari sisi filsafat sejarahnya.

Ini hanya sedikit ‘clue’ untuk mempelajari lebih lanjut sejarah/genealogi intelektual ASM secara lebih baik, selain keterpengaruhan Rahman dalam diri ASM. Lalu apakah ASM itu Neo-Hegelian?

Belum tentu, tapi melalui para pemikir Neo-Hegelian, dari Iqbal hingga Croce, ASM menemui kontekstualisasi hijrah intelektualnya dari sekadar ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ ke arah panduan kosmos ‘alam terkembang jadi guru’ — sebuah falsafah progresif dari Minang yang cocok dengan ijtihad Iqbal. Wallahu a’lam.

Avatar
Zacky Khairul Umam
Kandidat doktor di Freie Universitaet Berlin. Salah satu karyanya, "Adonis: Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab-Islam"
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Mengapa RUU Minol Harus Disahkan

Pada zaman yang serba modern seperti sekarang ini apa saja dapat dilakukan dan didapatkan dengan mudah karena teknologi sudah semakin canggih. Dahulu untuk mendapatkan...

Pay It Forward Merespon Dampak Pandemi Covid-19

Sinopsis Film Pay It Forward Pay It Forward merupakan sebuah film asal Amerika Serikat yang sarat pesan moral. Film ini dirilis pada tahun 2000, yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

“Pilkada Pandemi” dan Pertanyaan Soal Substansi Demokrasi

Pilkada sebagai sebuah proses politik di negara demokrasi adalah salah satu wujud terpenuhinya hak politik warga negara, selain terjadinya sirkulasi elite penguasa. Namun di...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.