OUR NETWORK

Merayakan Hijrah Buya Syafii

Melalui para pemikir Neo-Hegelian, dari Iqbal hingga Croce, ASM menemui kontekstualisasi hijrah intelektualnya dari sekadar ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ ke arah panduan kosmos ‘alam terkembang jadi guru’ — sebuah falsafah progresif dari Minang yang cocok dengan ijtihad Iqbal.
buya-twitter

Setelah belajar Muhammad Iqbal dengan Fazlur Rahman melalui teks Persia dibantu dengan terjemahan Inggris, Ahmad Syafii Maarif (ASM) ‘gila’ dengan Iqbal dan menjadikan filsuf-penyair India/Pakistan ini sebagai momen untuk berubah dari ‘pasungan status quo pemikiran’.

Yang dimaksud status quo di sini ialah: ketaklidan ASM pada konsep negara Islam ala Maududi dan puteri adopsinya Maryam Jameelah–seorang Yahudi yang berpindah ke Islam karena merasa teralienasi dalam kehidupan di New York–dan tokoh Ikhwan serta Masyumi.

Melalui Iqbal, ASM menemukan daya gerak dalam memahami peradaban Islam yang dinamis. Tidak heran jika selama periode 1980-an awal hingga 1990-an kita banyak menemui tulisan ASM yang mengkaji Iqbal atau nada tulisan dengan spirit Iqbal, tentang diri atau ego yang dinamis, keluar dari fatalisme sejarah.

Selain bernada Bergson elan vital, Iqbal juga pelajari soal Neo-Hegelianisme dari McTaggart di Cambridge. Adakah hubungan Bergson dan Neo-Hegelianisme di Inggris dalam diri Iqbal? Itu pertanyaan saya.

ASM misalnya menulis, “Kemerdekaan kemudian harus diisi dengan mencerdaskan jiwa dan otak anak-anak bangsa. Mereka tidak ada jalan pintas lain untuk mengubah nasib kecuali dengan cara bekerja keras, tabah dan mau engalami proses pencerahan terus-menerus. Tanpa kemauan keras untuk maju, jangan berharap akan muncul dewi fortuna dari langit untuk menolong. Nasib seseorang disamping di tangan Allah akan banyak ditentukan oleh dirinya sendiri.”

ASM melanjutkan, “Allah baru mau intervensi manakala manusia mengambil inisiatif untuk menentukan hari depannya. agama sangat tidak senang kepada mereka yang malas, hidup tanpa inisiatif, dan lebih suka menadahan tangan minta bantuan. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Iqbal dengan filsafat egonya yang terkenal: seseorang sebaiknya mengindari harta warisan, sekalipun itu sesuatu yang halal. Milik kita yang sejati ialah apa yang kita usahakan, bukan suatu yang diwariskan kepada kita.”

Tampaknya ASM juga menyukai filsuf Neo-Hegelian lain dari Italia, bernama Benedetto Croce. Filsuf ini beberapa kali dikutip dalam berbagai bukunya. ASM juga menulis satu artikel di jurnal UGM mengenai pemikiran Croce. Croce adalah pengkritik fasisme dan seorang liberal tapi anti terhadap konsep ekonomi laissez-faire, pasar bebas. ASM tampaknya menyukai Croce dari sisi filsafat sejarahnya.

Ini hanya sedikit ‘clue’ untuk mempelajari lebih lanjut sejarah/genealogi intelektual ASM secara lebih baik, selain keterpengaruhan Rahman dalam diri ASM. Lalu apakah ASM itu Neo-Hegelian?

Belum tentu, tapi melalui para pemikir Neo-Hegelian, dari Iqbal hingga Croce, ASM menemui kontekstualisasi hijrah intelektualnya dari sekadar ‘adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah’ ke arah panduan kosmos ‘alam terkembang jadi guru’ — sebuah falsafah progresif dari Minang yang cocok dengan ijtihad Iqbal. Wallahu a’lam.

Zacky Khairul Umam
Kandidat doktor di Freie Universitaet Berlin. Salah satu karyanya, "Adonis: Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab-Islam"

TINGGALKAN KOMENTAR

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.