Kamis, Januari 28, 2021

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Berhenti Memaklumi Kesalahan Jokowi

Presiden Jokowi memberikan grasi untuk I Nyoman Susrama. Dia adalah otak pembunuhan wartawan Jawa Pos Radar Bali, Anak Agung Gede Narendra Prabangsa. Susrama adalah adik...

Menghidupkan Kembali Pak AR Fachruddin

Buku Pak AR dan jejak-jejak bijaknya merupakan buku biografi yang ditulis oleh Haidar Musyafa. Buku ini dicetak pertama kali pada bulan April 2020 dengan...

Mencari Arti dan Cara Dunia Bekerja Melalui Film Parasite

Parasite adalah film Bong Joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera kita pahami sebagian tak sampai sepertiga durasi....

Sejak Kapan Tuhan Ada?

Dari sudut usia sejujurnya saya masih terbilang muda untuk memasuki jenjang pernikahan. Usia saya belum genap 25 tahun. Pekerjaan tetap belum punya. Masa pembelajaran...
Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim komunikasi presiden telat merespons. Akhirnya ia dijadikan bulan-bulanan di medsos.

Jokowi sampai harus bikin video untuk menunjukkan dirinya hadir. Itu karena telat respons tadi. Akhirnya semua orang menyalahkan Jokowi. Padahal tim di bawahnya yang gak becus kerja.

Mulai dari Jubir dan tim medsos Istana mestinya bergerak cepat. Presiden gak mungkin menangani semua hal bersamaan. Mereka yang harus punya inisiatif sepersekian menit setelah peristiwa. Tapi yang terjadi sebaliknya. Jokowi benar-benar babak-belur dihajar sana-sini.

Mungkin mereka berpikir, Pilpres telah selesai. Kerja tinggal santai-santai. Menunjukkan pencapaian, hasil kerja, jumlah deret angka-angka. Sibuk dengan waham bahwa mereka telah melakukan banyak hal, yang sebenarnya tidak ada artinya.

Hari ini Jokowi sedang menghadapi mosi tidak percaya, dari pendukungnya sendiri. Orang-orang berpikir Jokowi lemah, tebang pilih, lamban. Mereka bahkan ada yang menyesal telah memilihnya.

Kasus sama terulang. Presiden salah data. Kali ini yang bikin kesalahan Tim Gugus Tugas Covid-19. Tidak tanggung-tanggung, yang dihajar adalah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Jateng tiba-tiba menjadi provinsi dengan jumlah penderita Corona terbanyak. Menurut data Menkes naiknya gila-gilaan sebanyak 2.036 kasus baru. Rupanya ada data yang salah input. Beberapa data diulang-ulang dalam laporan itu. Kenaikan hari itu yang sebenarnya hanya 844 kasus baru.

Saya melihat ini sebagai upaya pembunuhan karakter. Entah siapa yang sedang bermain. Kesalahannya sangat disengaja. Satu nama bisa dicantumkan berkali-kali di data itu. Bahkan ada data dari beberapa bulan lalu yang masih dicantumkan. Ini kan gila.

Bodohnya Tim Gugus Tugas ini, mereka tidak bikin satu aplikasi untuk semua daerah. Tinggal input data bareng kan beres. Kasus seperti ini tidak akan terjadi. Tapi orangnya Caplin ini agaknya punya standar ganda.

Ganjar menjadi tertuduh utama. Memang ada nama Anies juga di sana. Tapi kalau Anies, kita semua tahu dia memang gak bisa kerja. Ganjar ini beda. Dia turun ke bawah. Berkomunikasi langsung dengan rakyat Jawa Tengah. Bagi mereka, ia menjadi bapak yang mengayomi.

Selama ini Ganjar memang menjadi fenomena. Seperti buah ranum yang membuat banyak orang terkesima. Ia menjadi simbol harapan baru. Oleh sebab itu, serangkaian upaya untuk menjegalnya terus dilakukan. Baik dari dalam dan dari luar barisan.

Wajar kalau beberapa pihak merasa the rising star ini berbahaya. Setiap langkahnya kalau bisa dihalangi. Namanya diburukkan dengan segala cara. Termasuk dengan salah data Covid-19 yang sengaja.

Ganjar sedang melawan begitu banyak halang-rintang. Dan ia sendirian. Kasihan.

Menggunakan Jokowi sebagai peluru untuk meredupkan Ganjar ini jahat sekali. Karena keduanya berhubungan baik dan saling mendukung sejak lama. Apalagi data yang digunakan salah. Otomatis selain nama Ganjar, nama Jokowi juga ikut tercoreng.

Mosok presiden salah data?

Komunikasi adalah senjata maha penting. Di tangan mereka yang tidak kompeten, licik, dan jahat, senjata ini berubah jadi bencana. Dan kali ini yang jadi tumbal bukan hanya Ganjar, tapi juga Jokowi.

Saya sadar, ini baru permulaan. Ke depan mungkin akan ada banyak kejadian semacam ini. Sebenarnya bukan hal yang mengejutkan. Tapi patut disayangkan. Jokowi saja sampai kecolongan. Ada indikasi misi klandestin sedang dijalankan untuk menjatuhkan Ganjar.

Ditambah lagi ketidak-cakapan tim Istana yang hanya bisa main Tiktok dan pamer angka-angka. Ia menjadi bola salju yang menggelinding dari puncak bukit. Di sepanjang jalur yang dilaluinya hanya ada kerusakan.

Hari ini yang sudah jelas jadi tumbal adalah Ganjar dan Jokowi, esok hari entah siapa lagi…

 

Avatar
Kajitow Elkayeni
Novelis, esais
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Ayat-Ayat Ekosistem dan Dakwah Politik Lingkungan

Postingan saya tentang ayat-ayat ekosistem di status akun Facebook perlu saya jelaskan. Walaupun sebagian besar pemberi komen di status tersebut bersuara mendukung, satu atau...

Mencermati Dampak Kebijakan Kendaraan Listrik di AS

Amerika Serikat (AS) baru saja menjalani transisi pemerintahan dari Presiden Donald Trump dari partai Republik kepada Joseph (Joe) Biden yang didukung partai Demokrat. Saat...

Mengapa Pancasila?

Oleh: Alif  Raya Zulkarnaen SMAN 70 Jakarta Pemenang Lomba Menulis Esai “Mengenal Indonesia, Mengenal Diri Kita”. Sahabat Khatulistiwa. Desember 2020 Rumusan-Rumusan Staatsidee 29 Mei-1 Juni 1945 “Ketuhanan yang Maha...

Kritik Jamaluddin al-Afghani Atas Khilafah Islamiyah

Sejak abad ke-9 M hingga memasuki abad ke-14 M menjadi masa keemasan Islam dalam panggung peradaban dan ilmu pengetahuan. Ternyata uforia ilmu pengetahuan terhenti...

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

ARTIKEL TERPOPULER

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Ada Apa Di Balik Pembangunan Jalan Tol Kita?

Dua catatan tentang jalan tol ini saya tulis lebaran tahun sebelumnya, saat terjadi tragedi di pintu keluar tol Brebes Timur (Brebes Exit/Brexit) yang menewaskan...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.