OUR NETWORK

Mengenang Tua-tua Keladi Profesor Tilaar (1932-2019)

Tua-tua keladi, makin tua makin jadi. Itulah sosok Prof. Tilaar yang makin tua justru makin produktif dengan pikiran-pikirannya yang kritis dan jernih.

Rabu, 30 Oktober 2019, pada saat saya sedang naik Transjakarta dari Halte BI menuju ke Blok M, tiba-tiba mendapat pesan lewat WhatsApp dari seorang kawan yang menjadi dosen di UPI Bandung, biasa saya panggil Teh Ifa, nama lengkapnya Ifa H. Misbach. Pesan itu berisi berita lelayu tentang meninggalnya Prof. Dr. HAR Tilaar, seorang guru besar (emeritus) Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Beliau wafat pada pukul 10.20 WIB dalam usia 87 tahun di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

Berita itu membuat saya tertegun sejenak, campur aduk antara kaget, sedih, dan menyesal, karena sedang berencana ingin kontak Prof. Tilaar (begitu saya biasa memanggilnya) untuk berdiskusi tentang Menteri Pendidikan yang baru, tapi tiba-tiba mendapat kabar beliau sudah tidak ada untuk selama-lamanya.

Satu per satu tokoh pendidikan nasional yang berintegritas dan saya kagumi meninggalkan kita, dimulai dari Prof. Dr. Winarno Surachmat (2016), Prof. Dr. Sudijarto (2017), Dr. Daoed Joesoef (2016), dan terakhir adalah Prof. Dr. HAR. Tilaar. Sekarang tinggal Prof. Dr. Conny Semiawan sendiri yang masih diberi kesehatan. 

Prof. Henry Alexis Rudolf (HAR) Tilaar adalah sosok tokoh pendidikan nasional yang pada usia 80 tahun ke atas masih produktif menulis, sama seperti yang dilakukan Dr. Daoed Joesoef (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 1978-1983) yang terus menulis hingga ajal menjemput pada usia ke-91 tahun. Dan dengan Prof. Tilaar itulah saya dan sejumlah aktivis pendidikan lainnya beberapa kali berdiskusi di rumah beliau yang luas dan asri di kawasan Kuningan Patra Jasa, Jakarta.

Kesenangan teman-teman berdiskusi di sana adalah selalu disuguhi menu makanan yang enak dan sehat, dan saat pulang diberi oleh-oleh berupa seperangkat alat mandi oleh Ibu Dr. Martha Tilaar, yang empunya produk kecantikan Sari Ayu dan merupakan istri tercinta Prof. Tilaar. 

Bukan hanya soal menu makanan dan oleh-oleh itu saja yang membuat saya terkesan diskusi di rumah pasangan HAR Tilaar dan Martha Tilaar, tapi kami juga belajar dari keluarga mereka yang harmonis. Suami-istri selalu saling menunjang dan memberikan spirit untuk kesuksesan karier masing-masing. Memang, Ibu Martha tidak turut beridskusi, tapi biasanya selalu menemani ngobrol ketika diskusi belum dimulai dan diskusi telah usai. 

Sosok yang Rendah Hati

Perkenalan fisik saya dengan Prof. Tilaar sebetulnya terjadi baru pada 31 Maret 2001 di Departemen Pendidikan Nasional. Ketika itu ada diskusi yang membahas Naskah Akademik untuk penyusunan RUU Sistem Pendidikan Nasional, yang kelak disahkan menjadi UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. 

Prof. Tilaar dan saya termasuk yang diundang dalam diskusi tersebut. Pada saat rehat itulah kami saling berkenalan. Yang membuat saya terharu, Prof. Tilaar tidak segan-segan memberikan pujian atas tulisan-tulisan saya tentang pendidikan, yang menurutnya menawarkan paradigma yang berbeda dengan tulisan-tulisan pendidikan lainnya.

Kelak, dalam bukunya, Pedagogik Kritis, saya dimasukkan ke dalam salah satu tokoh pendidikan kritis di Indonesia. Prof. Tilaar juga menyatakan telah membaca buku saya yang berjudul Pendidikan pada dan Paska Krisis (Pustaka Pelajar, 1999). Bagi saya, yang saat itu masih muda (belum 40 tahun), hanya berpendidikan S1 bukan pendidikan (tapi dalam undangan dan daftar hadir ditulis Doktor/Dr.), dan bukan dosen, tapi aktivis LSM, merasa tersanjung atas apresiasi yang diberikan Prof. Tilaar tersebut. (O ya, saya alumnus Filsafat UGM).

Dari ekspresi wajahnya, apresiasi itu disampaikan secara tulus, sehingga saya berkesimpulan kalau Prof. Tillar adalah sosok yang amat rendah hati. Sebab, tidak mudah bagi seorang yang sudah ditokohkan dan sangat senior memberikan apresiasi kepada anak muda yang identitas kelembagaannya tidak jelas. Tapi, itulah yang disampaikan oleh Prof. Tilaar.

Tidak lama setelah perkenalan pertama itu, kami bertemu di Bappenas yang saat itu mengadakan diskusi tentang menyiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk memasuki abad ke-21 dan Prof. Tilaar sebagai salah satu narasumber, sedangkan saya sebagai peserta. Sejak itu kami makin sering berjumpa dan kontak melalui pesan pendek (SMS). 

Ada semacam chemistry yang membuat saya dan Prof. Tilaar pada perjalanan berikutnya sering berinteraksi, yaitu paham tentang pendidikan kritis dan kebangsaan. Prof. Tilaar dan saya adalah sama-sama orang nasionalis, yang selalu menjunjung tinggi paham kebangsaan. Kami tidak pernah bicara masalah agama, karena bagi saya agama dalam konteks ritual itu adalah urusan pribadi, maka saya juga tidak tahu persis agama Prof. Tilaar.

Semula saya beranggapan beliau adalah seorang Kristen Protestan karena berasal dari Tondano, Sulawesi Utara. Saya baru tahu kalau Prof. Tilaar beragama Katolik pada saat Misa Requem kemarin.

Perjumpaan dengan Prof. Tilaar itu semakin intens pada saat kami sama-sama berjuang menolak keberadaan RUU Badan Hukum Pendidikan yang kemudian disahkan menjadi UU No. 9 Tahun 2009 tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) dan menuntut pembubaran RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional). Kami beberapa kali berada dalam satu panggung diskusi untuk menolak RUU dan UU BHP serta menuntut pembubaran RSBI. Kami juga sama-sama menjadi saksi ahli di Mahkamah Konstitusi (MK) untuk kedua judicial review tersebut. 

Tua-Tua Keladi

Hal yang membuat saya kagum pada Prof. Tilaar adalah justru setelah memasuki usia 70 tahun ke atas, produktivitasnya menulis semakin meningkat, hampir setiap tahun beliau menerbitkan buku baru.

Bersama istri tercinta, Ibu Martha Tilaar, saat 10 Windu Prof. Dr. H.A.R. Tilaar, M.Sc. Ed. Untuk Pendidikan Indonesia.

Sejumlah buku yang ditulisnya setelah usia 70 tahun ke atas, antara lain: Perubahan Sosial: Pengantar Pedagogik Transformatif untuk Indonesia (2002), Kekuasaan dan Pendidikan: Suatu Tinjauan dari Perspektif Studi Kultural (2003), Multikulturalisme: Tantangan-tantangan Global Masa Depan dalam Transformasi Pendidikan Nasional (2004), Manifesto Pendidikan Nasional: Tinjauan dari Perspektif Postmodernisme dan Studi Kultural (2005), Mengindonesia Etnisitas dan Identitas Bangsa Indonesia: Tinjauan dari Perspektif Ilmu Pendidikan (2007).

Selain itu, terbit buku-buku lain: Kekuasaan dan Pendidikan dan Manajemen  Pendidikan dalam Pusaran kekuasaan (2009), Dimensi-dimensi hak asasi manusia dalam kurikulum Persekolahan Indonesia (2010), Pedagogik Kritis yang ditulisnya bersama Jimmy Ph. Paat dan Lody Paat (2011) Kaleidoskop Pendidikan Nasional: Kumpulan Karangan (2012), Pengembangan Kreativitas dan Entrepreneurship dalam Pendidikan Nasional (2012), Pendidikan Nasional: Arah ke Mana? (2012), Pedagogik Teoretis untuk Indonesia (2015).

Buku lain yang tergolong masterpiece adalah  50 Tahun Pembangunan Pendidikan Nasional 1945-1995: Suatu Analisis Kebijakan yang diterbitkan untuk memperingat Indonesia Emas (50 tahun Indonesia Merdeka, 17 Agustus 1995). Buku setebal 1.056 ini berisi tentang sejarah pendidikan nasional sejak 1945 sampai 1995. Sedangkan buku yang paling tebal adalah yang berjudul Kaleidoskop Pendidikan Nasional (2012) yang mencapai 1.245.

Seperti kata peribahasa, tua-tua keladi, makin tua makin menjadi, itulah sosok Prof. Tilaar yang semakin tua justru semakin produktif dengan pikiran-pikirannya yang jernih. Dan yang mengagumkan adalah bila pada tokoh lain semakin tua semakin konservatif, Prof. Tilaar justru semakin tua semakin kiritis dan progresif. Bila sebelumnya tulisan-tulisannya lebih mengarah pada ideologi pembangungan (developmentalism), semakin uzur beliau justru semakin kritis, banyak mengacu pada tulisan-tulisan Paulo Freire dan Henry A. Giroux yang dikenal sebagai tokoh pedagogik kritis. Ini sungguh luar biasa.

Selamat jalan Prof. Tilaar untuk perjalanan yang tiada ujung. Terima kasih atas segalanya, keteladanan, perkawanan, dan diskusi yang selalu hangat selama ini. Semangatmu semoga menular pada kami yang muda-muda. 

Darmaningtyas
Analis pendidikan/Pengurus PKBTS (Persatuan Keluarga Besar Tamansiswa) di Yogyakarta; aktif di MTI (Masyarakat Transportasi Indonesia) dan Ketua INSTRAN (LSM Transportasi) di Jakarta.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…