Banner Uhamka
Selasa, September 22, 2020
Banner Uhamka

Mengenal Tarrant, Si Penjagal Christchurch

Nasib Bonus Demografi, Corona Tambah Ngeri

Dampak penyebaran virus corona terhadap manusia sungguh tidak main-main. Virus yang didapati berawal dari Wuhan, China ini dilaporkan telah menelan lebih ribuan korban. Di...

Tidak Ada Anak Nakal, Yang Ada Adalah Orang Tua Abai

Dua hari mengikuti kasus AY, seorang siswi SMP di Pontianak yang mengalami perundungan. Tidak perlu saya ceritakan detailnya, semua sudah gamblang dan bisa diakses...

Delusi tentang Kehendak Tuhan pada Pilpres

Teman saya seorang pendukung Prabowo. Ia tampak yakin bahwa Prabowo akan menang dalam Pilpres 2019. Orang yakin boleh-boleh saja, tapi ada beberapa hal yang...

Pilihan Sikap Politik PDI-P dan Implikasinya

Di antara berbagai partai politik yang ada dan bermunculan di Indonesia, PDI-Perjuangan (PDI-P) boleh jadi adalah salah satu partai yang sejak kelahirannya konsisten mendukung...

Brenton Tarrant, 28 tahun, mengemudi mini van silver di jalanan Christchurch. Pria muda berkulit putih kelahiran Australia itu berkendara di atas batas maksimum kecepatan dalam kota.

Dari audio mobilnya, nyaring terdengar lagu metal berirama cepat dan menghentak, juga lagu Remove Kebab. Lagu ini dikenal sebagai lagu wajib mereka yang bergabung dalam kelompok sayap kanan kulit putih. Liriknya berisi upaya untuk menyingkirkan kaum imigran beretnis turk dari Eropa. Semacam lagu mars supremasi kulit putih.

Tarrant menyiarkan aksinya itu secara live via facebook, yang memungkinkan publik merekam dan menangkap peristiwa itu dengan detail, dari awal hingga selesai.

Ia kemudian mengarahkan mobilnya ke Deans Ave, lalu masuk dan berhenti di sebuah gang kecil. Di situ, Tarrant turun dari mobil, ia memakai helm dan baju perang militer, di tangannya ada senjata semi otomat dengan banyak tulisan nama-nama orang. Ia membuka bagasi belakang, mengambil sepucuk senjata semi otomat lain, lalu bergerak menuju gedung di sebelahnya, Masjid Al Noor Christchruch.

Hari itu hari Jum’at, pukul 13.00 waktu New Zeland. Waktu ketika umat Islam di situ mendirikan sholat berjamah di masjid. Tapi Brenton Tarrant datang bukan untuk beribadah, ia datang untuk memuntahkan kebencian rasial lewat ratusan peluru yang ia tembakkan.

Apa yang terjadi setelahnya? Saya tak kuat untuk menggambarkan detailnya. Dari video-video kejadian yang beredar, peristiwa itu adalah kekejian yang sama sekali tidak bisa dibayangkan nalar dan diterima oleh naluri kemanusiaan.

Saya tidak mau membahasnya. Bagi saya, tidak ada manusia waras yang bisa melakukan tidakan keji seperti itu, sekaligus mempertontonkannya secara live kepada khalayak ramai.

Tapi mari kita urai motif yang melatarinya.

Pagi hari sebelum insiden biadab itu terjadi, Brenton Tarrant mengunggah manifesto setebal 73 halaman melalui akun twitternya. Manifesto berjudul The Great Replacement itu mengungkapkan secara detail apa yang membuatnya merasa wajib melakukan tindak pembantaian keji tersebut.

Dari penjelasan dalam manifesto itu, sangat terang tergambar bahwa Tarrant adalah seorang fasis kanan radikal yang otaknya telah dipenuhi kebencian rasial pada imigran dan pendatang, serta penganut agama tertentu.

“…Untuk menunjukkan pada para penjajah bahwa tanah kita tidak akan pernah menjadi tanah mereka, tanah air kita adalah milik kita dan selama orang kulit putih masih hidup, mereka tidak akan pernah menaklukkan tanah kita dan mereka tidak akan pernah juga menggantikan orang-orang kita..”

Tarrant menyebut para pendatang sebagai penjajah. Ia seperti hendak menjelaskan motif tindakannya sebagai upaya penegakkan supremasi pribumi. Ada kekhawatiran problematis bahwa pribumi akan kehilangan dominasi terhadap akses sumber daya. Dan karena itu, Tarrant merasa perlu melakukan tindakan yang dia sebut “untuk membela kaumnya”.

Tarrant mengaku tindakannya itu terinspirasi oleh beberapa tokoh ekstrimis kanan, salah satunya adalah Anders Breivik. Brievik merupakan pelaku tunggal pembantaian pada 22 Juli 2011. Ia meledakkan bom mobil di luar gedung pemerintah di Oslo hingga menewaskan delapan orang. Aksinya berlanjut dengan melakukan penembakan massal yang menewaskan 69 orang, mayoritas korbannya adalah remaja di perkemahan musim panas Liga Pemuda Buruh di Pulau Utoya.

Seperti Tarrant dan Breivik, juga aksi teror sadis lain semacam ini, selalu didorong motif yang sama: phobia dan kebencian akut terhadap imigran, pendatang, atau etnis dan agama lain yang minoritas.

Fenomena seperti ini bisa tumbuh di mana saja. Bahkan memuncak menjadi tindak biadab seperti yang dilakukan Tarrant tersebut.

Karenanya, kita memang perlu berbelasungkawa serta mengutuk keras insiden keji di Masjid Al Nur itu, tapi doa dan serapah tidak cukup untuk melawan teror, jika ternyata dalam diri kita pun masih bersemayam kebencian terhadap identitas lain yang berbeda.

Hidup yang damai hanya bisa terwujud, jika dan hanya jika, kita sanggup berdampingan, berbagi tempat, dan menerima perbedaan sebagai fitrah kemanusiaan yang melekat dan tak mungkin ditolak.

Agar besok, tak ada lagi Tarrant Tarrant yang lain.

Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Disiplin, Senjata Ampuh Melawan Corona

Sejak ditemukan penyakit Covid-19 yang diakibatkan oleh virus corona pada akhir tahun 2019, pandemi ini telah menembus angka 30 juta korban kasus positif di...

Teriakan yang Mematikan Pohon di Kepulauan Solomon

Ada kebiasaan menarik dari penduduk yang tinggal di Kepulauan Solomon: Meneriaki pohon. Untuk apa? Untuk menebang pohon yang mengganggu. Jika pohon itu terlalu besar, kayunya...

Menelisik Politik Hukum dan Kebijakan Kita

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai keragaman, mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara secara harmonis merupakan hal yang esensial. Kehidupan yang inklusif atau keberdampingan para...

Jalan Buntu Reformasi Polri?

Perbincangan mengenai kepolisian tampak menghangat dalam beberapa bulan terakhir. Bukan karena prestasi semata Ia lantas diperbincangkan, melainkan keputusan dan tindak tanduk dari oknum-oknum anggota...

Komunis Pertama dalam Tubuh Organisasi Islam Di Indonesia

Pada tahun 1913 H. J. F. M. Sneevliet (1883-1942) tiba di Indonesia. Dia memulai karirnya sebagai seorang pengamut mistik Katolik tetapi kemudian beralih ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.