OUR NETWORK

Mengarungi Alam Pikiran Eyang Habibie

Eyang Habibie memenuhi janjinya untuk pergi menyusul Ainun, istrinya. Inilah waktu yang tepat untuk menceritakan tentang semua hal yang tak sempat diceritakan pada kekasih sejatinya itu.

Sewaktu almarhum kakek saya masih hidup. Ia pernah berkata—kurang lebih demikian, “saya berharap, kelak cucu-cucu saya seperti sosok Habibie.” Kalimat itu pernah terlontar ketika Bacharuddin Jusuf Habibie masih menjabat sebagai Presiden menggantikan kekuasaan Soeharto kala itu.

Barangkali harapan itu bukan hanya harapan almarhum kakek saya pada cucu-cucunya, tetapi barangkali harapan itu juga diinginkan semua orangtua agar putra-putrinya bisa seperti sosok Habibie—cerdas dan menginspirasi generasi muda—ataupun jauh melampaui prestasi-prestasinya.

Tapi, kini, kabar duka kepergiannya telah menyelimuti segenap bangsa Indonesia. Mr. Crack—begitu julukan yang disematkan padanya—telah berpulang dan berkelindan kesedihan mengenang sosoknya yang ramah dan murah senyum. Ia menghembuskan nafas terakhirnya di RSPAD Gatot Soebroto pada usia 83 tahun.

Ia telah memenuhi janji bergabung bersama Ainun, istrinya, di keabadian Sang Khalik. Meninggalkan sejuta kenangan bagi bangsa Indonesia. Meninggalkan sederet pemikiran-pemikiran dan karya-karya besar dan brilian yang hingga hari ini berperan penting dalam industri penerbangan pesawat terbang. Salah satu yang masih di pakai hingga hari ini adalah: teori propagasi retak (crack propagation).

Populer pada 1960-an, teori ini mencari aturan umum mengapa beberapa bagian/bahan pesawat gagal sebelum masa layanannya habis. Logam mulai menjadi bahan dominan untuk membangun pesawat dan banyak pesawat mengalami retakan karena kelelahan atau retakan yang menyebar.

Dia bekerja pada banyak teorema yang akan berkontribusi pada aturan umum tentang teori perambatan retak. Dia bekerja di Jerman untuk Messerschmidt di awal airframes Airbus. Bidang keahliannya adalah termoelastik (bagaimana bahan berperilaku di bawah berbagai perubahan suhu) dan ia mendalilkan beberapa pemikiran yang disebut Habibie Theorem, Factor and Method.

Hari ini, semua teorema, faktor, metode dan kontribusi lain untuk pemahaman yang lebih baik tentang aeroelastik diringkas dalam Mekanika Fraktur. Habibie adalah seorang insinyur hebat dan telah melakukan banyak pekerjaan luar biasa untuk Messerschmidt dan Airbus.

Di samping dikenal sebagai ahli dalam penerbangan, ia juga dikenal sebagai tokoh bangsa (negarawan) sejati yang menorehkan pemikiran-pemikiran dalam proses demokratisasi dan reformasi Indonesia. Ia berperan penting dalam proses-proses kemajuan bangsa Indonesia.

Saya pikir Habibie, terlepas dari mandat singkat (Mei, 1998-Oktober 1999), memegang tempat yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Habibie mengambil alih kekuasaan Indonesia dari Soeharto pada Mei 1998—salah satu periode paling gelap dalam sejarah modern Indonesia, ketika kerusuhan meletus dan orang Indonesia Tionghoa di Jawa (terutama di Jakarta dan Surakarta) dan Sumatera (terutama di Medan) dipersalahkan atas krisis keuangan negara dan kemudian diserang, diperkosa, dan dibunuh, dengan harta benda mereka dijarah dan dihancurkan.

Habibie juga melakukan gebrakan-gebrakan yang dianggap progresif dan pada saat yang sama juga kontroversial, seperti: Menstabilkan perekonomian Indonesia setelah kebangkrutan nasional yang diakibatkan oleh pemerintahan sebelumnya, meliberalisasi media dan politik yang memungkinkan berkembangnya partai politik baru, menghapus persyaratan SBKRI dan melarang budaya dan bahasa Cina, mengakhiri sensor dengan membubarkan Departemen Informasi, memulai reformasi politik, meluncurkan penyelidikan korupsi terhadap Jenderal Soeharto dan keluarganya dan mengumumkan pemilihan umum yang benar-benar demokratis setelah 1955.

Namun, ada satu peristiwa besar yang paling membekas dalam ingatan bangsa Indonesia adalah ketika di masa pemerintahannya membolehkan referendum kemerdekaan di Timor Timur (Timor Leste) dan mengakhiri mimpi buruk bagi semua pihak.

Dia benar-benar mengejutkan sebagian besar masyarakat Indonesia, terutama Jenderal Soeharto dan Wiranto kala itu. Mereka tidak pernah memaafkannya, tetapi saya yakin sebagian besar orang Indonesia biasa bersyukur bahwa dia memiliki keberanian dan kebijaksanaan untuk mulai mengubah wajah Indonesia dari masyarakat yang bangkrut di tepi anarki menjadi negara demokratis dengan ekonomi yang stabil, terlepas dari risiko yang jelas menuai respons negatif tentang dirinya.

Meski ia memiliki kelemahan karena tidak punya pengalaman di bidang politik, bagi saya, Habibie adalah sosok pencerah terutama bagi generasi muda. Terlepas dari kontroversi yang disematkan padanya, ia telah memenuhi kualitas kepemimpinan yang berdampak, berpengaruh, dan menginspirasi anak-anak muda seperti saya supaya tidak pernah berhenti bermimpi.

Ia telah mengubah pemahaman bahwa siapa pun, baik status sosial, latarbelakang keluarga, dan identitas, berhak meraih mimpi yang sama. Ia berkata “keberhasilan bukanlah milik orang pintar. Namun, keberhasilan itu adalah milik mereka yang senantiasa berusaha.” Kalimat yang tercetus itu hingga hari ini telah menyatu dalam ingatan saya dan juga generasi-generasi muda Indonesia.

Bagi saya, dia adalah teladan baik dan generasi muda sudah seharusnya menghidupi harapan, impian dan cita-citanya. Sosok yang punya visi (visioner). Melihat jauh ke depan. Melihat apa yang ada di sudut jalan dan mengilhami orang lain untuk memahami bagaimana menuju ke sana dan layak untuk sampai ke sana. Habibie mengajarkan saya untuk terus bermimpi, hingga hari ini saya dapat menggapai mimpi-mimpi saya. Bermimpi dan berbuat bagi bangsa dan negara, meskipun dianggap tak bernilai harganya.

Paling penting dari semuanya, Habibie adalah contoh pemimpin yang mengajarkan nilai-nilai kejujuran dan integritas. Dua hal itu ada pada sosok Habibie. Saya pikir, tanpa dua sifat ini, kesuksesan tidak mungkin terjadi. Transparansi dan kebenaran yang ditunjukkannya adalah sifat dasar yang harus dimiliki para pemimpin masa kini, karena mereka kelak harus mampu membela apa yang diyakini oleh para pemimpin.

Saya mengidolakan beliau karena ia adalah manusia yang genuine. Memilih menjadi manusia yang apa adanya. Tokoh besar yang menjauh dari hiruk-pikuk politik praktis, telah selesai dengan dirinya dan memilih menikmati sisa hidupnya yang penuh arti.

Pada titik ini, saya turut mengucapkan belangsukawa yang sedalam-dalamnya sekaligus berterima kasih atas jasa-jasa dan kontribusinya pada peradaban bangsa Indonesia. Terlebih lagi atas sumbangsih pemikirannya pada peradaban besar industri penerbangan yang hingga kini masih dinikmati umat manusia.

Akhirnya, Eyang Habibie telah memenuhi janjinya untuk menyusul Ainun, istrinya. Inilah waktu yang tepat untuk menceritakan tentang semua hal yang tak sempat diceritakan pada kekasih sejatinya itu. Selamat jalan, Eyang. Damailah di haribaan Sang Khalik!

Baca juga:

Habibie, Musik, dan Jasanya Pada Indonesia

Peminat gender studies. Alumnus Hua-Shih College of Education, National Dong Hwa University, Taiwan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…