Sabtu, Oktober 31, 2020

Mengapa Kalian Membenci SJW?

10 Tahun Perjalanan Hati Keluarga Yudhoyono

Saya senang dengan keluarga Yudhoyono. Selalu membuka diri untuk diketahui oleh publik. Sangat sadar akan diperhatikan. Juga sadar untuk mencari perhatian. Citranya adalah keluarga bahagia....

Jakob Oetama, Sang Wartapreneur yang Rendah Hati

Indonesia kehilangan satu lagi putra terbaik bangsa. Jakob Oetama, pendiri Kompas Gramedia, berpulang pada hari Rabu, 9 September 2020 di Jakarta dalam usia 88...

Awas, Pukulan Telak Jokowi!

Pasca pemilihan umum dan terpilihnya Joko Widodo sebagai Presiden Republik Indonesia 2019-2024, alam politik negeri ini tampak dinamis. Kita disuguhkan kemesraan politis antar partai...

Meneliti Livi Zheng (Bagian 2)

Pada 2014, satu tahun setelah The Empire’s Throne, Livi Zheng meluncurkan film berikutnya Legend of The East, yang juga merupakan hasil suntingan ulang dari...
Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.

Kadang saya jengkel dengan orang-orang yang mengejek secara berlebihan terhadap apa yang namanya SJW (Social Justice Warriors). Entah karena apa, saya sering bersimpati pada masalah-masalah yang dibela oleh para SJW.

Kadang cara-cara yang mereka tempuh memang menjengkelkan. Misalnya, kalau ada aktivis anti plastik yang nyinyir sekali menghakimi orang lain yang masih memakai plastik. Seolah merekalah hakim agung yang menentukan mana yang boleh mana yang tidak.

Tapi banyak aktivis anti plastik yang baik, yang bekerja sangat efektif dan berdedikasi. Mereka konsisten menganjurkan orang memakai tas atau kontainer yang bisa dipakai ulang. Mereka juga menyodorkan alternatif. Seperti misalnya menggunakan kembali daun pisang, daun waru, atau daun jati sebagai pembungkus.

Nah, kenyinyiran ini juga kadang dibungkus motif yang entah mengapa membikin tidak nyaman. Di Bali pernah beredar satu video dari orang Belanda yang mengaku “wartawan.” Dia memfilmkan polisi yang menilangnya karena dia tidak memakai helm.

Apa yang terjadi kemudian adalah ketika si polisi mengajak ‘wartawan’ bule ini ke pos jaganya. Disana, polisi ini membagi dua uang tilang yang Rp 200 ribu itu. Dan bilang begini, “Yang seratus ribu untuk negara saya. Nah, yang seratus ribu lagi untuk kita.” Lalu si polisi membeli bir dan mereka minum dan ketawa bersama. Eh, si bule mungkin nggak ketawa.

Happy?

Nggak juga. Si ‘wartawan’ merekam semua adegan itu, mengunggahnya ke Youtube untuk menunjukkan betapa korup dan tidak bermoralnya polisi Indonesia.

Dia merasa dirinya sebagai hakim maha benar. Persoalannya kemudian menjadi tambah rumit karena dia orang Belanda, bekas penjajah Indonesia. Orang kemudian menambah bahwa ada elemen rasisme juga disini.

Polisi itu memang korup. Tapi wartawan ini juga melanggar dan dia juga senang-senang saja diberi minum bir dari sebagian pungli tilangnya itu. Polisi itu berusaha untuk ramah, ironisnya, dengan menggunakan uang si Belanda ini.

Apakah si polisi ini salah? Tentu saja. Apakah dengan demikian di Belanda ini benar? Belum tentu juga. Dia melanggar aturan dengan tidak memakai helm. Bahwa orang lain di jalan dia lihat tidak memakai helm, itu tidak dengan serta merta membenarkan dia tidak memakai helm. Ketika ditilang dia membayar. Ketika disodori bir dia ikut minum.

Tapi dia berusaha menjadi hakim moral untuk polisi ini? Seolah-olah dia lebih tinggi dan lebih suci? Mudah-mudahan karmanya membuat dia menjadi bir, yang membuat kencing orang jadi lebih lancar.

Nah, foto-foto yang Anda saksikan di tautan ini juga karya seorang wartawan. Dia membela penyu dan segala macam binatang yang “dipelihara” di pusat “penangkaran” penyu di Pulau Serangan, Bali Selatan. Dia menyoroti kondisi pemeliharaan penyu dan perlakuan semena-mena terhadap binatang-binatang disana.

Untuknya ini menjadi masalah karena binatang-binatang ini ada disana karena turisme. Para turis senang berfoto dengan binatang. Sementara binatangnya sendiri menderita sekali.

Keprihatinannya tentu sangat baik. Tidak diragukan kondisi di penangkaran itu sangat buruk. Sama seperti polisi yang korup juga sangat buruk.

“Jurnalis” ini juga tidak melihat bahwa orang-orang ini hanya mengais sedolar dua dolar dari bisnis ‘penangkaran’ ini. Orang-orang ini tidak akan menjadi kaya raya hanya karena usaha seperti itu.

Apakah tidak ada cara lain untuk memperbaiki situasi ini ketimbang memberi stigma orang-orang biasa yang tidak punya kemewahan seperti para SJW ini?

Yang lebih menjengkelkan adalah di bagian paling bawah dia mengemis-ngemis agar orang-orang membeayai perjalanannya kelliling dunia untuk ‘mengekspos’ pelanggaran hak-hak binatang lewat turisme. Mengapa kemudian ia jadi bukan SJW?

Dia merasa lebih suci daripada pemilik dan pekerja ‘penangkaran’ yang hidupnya melata itu. Namun, saya berani bertaruh, dia sama sekali tidak tahu persoalan apa yang ada di Pulau Serangan.

Dia sama sekali tidak melihat persoalan yang ditimbulkan oleh proyek reklamasi yang dilakukan Tommy Suharto dan dibantu militer pada jaman Orde Baru. Apakah dia tahu berapa banyak penduduk asli tergusur oleh proyek yang kini mangkrak itu? Apakah dia tahu bahwa reklamasi itu juga mengakibatkan konflik sosial yang amat parah dimana keluarga pecah dan saling membunuh?

Oh, tahukah dia bahwa di barat pulau itu juga akan direklamasi? 800 hektar tanah baru akan dibikin, yang mungkin akan lebih berpengaruh terhadap penyu yang dia bela karena marina-marina akan dibangun, dan akan menampung ratusan perahu yatch?

Jadi keadilan (justice) apa yang sesungguhnya diperjuangkan oleh orang-orang ini?

Made Supriatma
Peneliti masalah sosial dan politik.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Kesehatan Mental dan Buruh

Kerja adalah cerminan kesehatan jiwa. Semakin baik tempat kerja, semakin kecil kemungkinan kita mengalami masalah kejiwaan. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nation secara...

Charlie Hebdo, Emmanuel Macron, dan Kartun Nabi Muhammad

Majalah satir Charlie Hebdo (CH) yang berkantor di Paris kembali membuat panas dunia. CH merilis kartun Nabi Muhammad untuk edisi awal September 2020. Padahal...

Imajinasi Homo Sapiens Modern dalam Menguasai Dunia

  Foto diatas ini mewakili spesies lainnya yang bernasib sama, tentu bukan hanya Komodo, masih ada dan masih banyak lagi hewan yang bernasib sama sebut...

TBC Mencari Perhatian di Tengah Pandemi

Pada awal Maret, Indonesia melaporkan kasus Coronavirus Disease-2019 yang dikenal sebagai COVID-19, terkonfirmasi muncul setelah kejadian luar biasa di Wuhan, Cina. Penyakit ini disebabkan...

Pemuda dalam Pergerakan Nasional Pandemi Covid-19

Peringatan hari Sumpah Pemuda mempunyai makna yang khusus di masa Covid-19 saat ini. Tak bisa dipungkiri bahwa negara Indonesia adalah salah satu negara yang...

ARTIKEL TERPOPULER

Sandiwara Dibalik Pernikahan Raja Majapahit Bali

Belakangan di Bali ramai pemberitaan mengenai acara pertunangan Raja Majapahit Bali bernama lengkap Abhiseka Ratu Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Pandangan 2 Mazhab Hukum Terhadap Putusan MA Soal Eks Napi Koruptor

Pertengahan tahun 2018 ini publik dikagetkan dengan hadirnya PKPU No. 20/2018 yang dalam Pasal 4 ayat (3) menyatakan bahwa Pengajuan daftar bakal calon anggota...

KDRT Saat Pandemi

Severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) atau yang lebih dikenal dengan nama COVID-19 adalah jenis baru dari coronavirus yang menular ke manusia. Virus ini...

Menyerupai Suatu Kaum: Hadits, Konteks Budaya, dan Tahun Baru 2018

Hanya dengan satu hadits ini, “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR Abu Daud dan Ahmad), banyak ustaz yang lantang...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.