Sabtu, Maret 6, 2021

Mencari Arti dan Cara Dunia Bekerja Melalui Film Parasite

Pemuda Pancasila Selalu Ada Karena Banyak yang Memeliharanya

Mengapa organisasi ini masih boleh terus memakai nama Pancasila? Inikah tingkah laku yang dicerminkan oleh nama yang diusungnya itu? Itulah pertanyaan saya ketika membaca...

Setelah Jokowi Memilih Fachrul Razi

Menteri Agama yang dipilih Presiden Jokowi ternyata sosok yang berlatar belakang militer. Sah-sah saja. Apalagi yang memilih itu Presiden yang memang menjadi kewenangannya alias...

Setelah Kudeta Film Dilan 1991, Mahasiswa Makassar Akan Sweeping Buku La Galigo. Ada Apa?

Makassar, MANDHANINEWS — Setelah Mahasiswa Makassar melakukan penolakan dan kericuhan terkait film Dilan 1991, para mahasiswa ini akan melakukan kudeta terhadap film tersebut di...

Denny Siregar: Ini Kampus-Kampus Markas Besar Kelompok Radikal

Hasil penelitian Setara Institute terhadap kampus-kampus yang terpapar radikalisme sudah keluar. Menurut Setara, ada 10 kampus yang sudah terpapar radikalisme; mulai dari Universitas Indonesia...
Ardyan M. Erlangga
Managing Editor VICE Indonesia

Parasite adalah film Bong Joon-ho yang tidak bertele-tele. Efisien. Pengenalan karakter berlangsung cepat. Plotnya gegas. Premis cerita segera kita pahami sebagian tak sampai sepertiga durasi. Penyuntingannya rapat. Lalu ada pembelokkan ekspektasi.

Ada sisa pengaruh, sepertinya, dari petualangan Bong selama mengalami langsung disiplin industri perfilman Hollywood ketika menggarap Snowpiercer dan Okja. Selama ini, kita mengenalnya sebagai sutradara yang membebaskan setiap karakter hidup di dunianya sendiri sepanjang durasi. Biasanya tak ada ambisi mengejar efisiensi dari caranya bercerita.

Justru karena itulah, tokoh-tokoh yang dia ceritakan selalu hidup; mereka punya darah dan daging. Seperti polisi inkompeten yang gemar nonton acara TV di Memories of Murder (2003) atau keisengan merusak mobil-mobil yang parkir di lapangan golf dilakukan tokoh utama Mother (2009).

Selain itu, hilang pula adegan puitis yang jadi ciri khas sineas unggulan Korsel itu. Saya selalu menyempatkan ulang nonton tarian kikuk Kim Hye-ja dalam adegan pembuka (maupun ending) Mother, saking indahnya (lepas dari konteks hadirnya adegan itu yang mengerikan sekaligus mengharu biru).

Bong barangkali menahan diri untuk tidak memperindah Parasite dari segi visual. Sebab berbagai efisiensi itu hadir sebagai sarana untuk mempertontonkan betapa dingin (dan efisien) pranata sosial yang dikuasai logika kapital. Film ini adalah komentar sang sineas bahwa isu pertentangan kelas masih relevan di abad 21, dibungkus siasat menggabung gaya tutur beberapa genre sekaligus, utamanya komedi gelap dan thriller.

Ada sedikit simbolisme soal hadirnya musim semi, halaman rumput yang lapang, kontras pemandangan jendela antara penghuni rumah elit dan yang hidup di ujung gang sempit, atau mentari yang menyinari rumah mewah minimalis sebagai salah satu pusat narasi Parasite. Tapi berbagai ‘puisi’ itu hadir dalam semangat mempertegas pertentangan kelas yang menjadi tema utama film ini.

Kekuatan Bong selalu bertumpu pada penataan adegan melibatkan banyak karakter dalam satu waktu. Itulah mengapa adegan tiga penipu hendak kabur dari rumah majikan yang mereka kibuli jadi sangat menarik. Kombinasi akting, penyutradraan, penyuntingan, dan kerja kamera mumpuni.

Sejak momen krusial tersebut, tragikomedi yang mewarnai film ini sepenuhnya jadi tragedi. Tak ada lagi utopia orang miskin coba bertukar tempat dengan mereka yang bertingkat-tingkat lebih sejahtera di puncak piramida sosial. Kita melihat banjir melanda perkampungan kumuh, pembunuhan, dan hilangnya kemanusiaan.

Klimaks penuh kekerasan dari film ini, yang sebenarnya teraba sejak pertengahan durasi, agak terburu-buru. Tak mengapa. Toh, kekerasan atau pun horor paling penting yang ditonjolkan adalah dehumanisasi tiap karakternya. Mereka semua sebetulnya manusia yang punya kehebatan dan kelemahan. Sistem lah yang membuat hubungan tiap karakter jadi terasa sangat tidak manusiawi.

Kapitalisme membuat dua lelaki dewasa tak bisa bercakap-cakap wajar dan saling memahami tanpa ada logika untung-rugi. Kita mulanya diajak tertawa melihat manusia dari kelas bawah piramida sosial mengakali sistem (baca: mengelabui majikan kaya). Rupanya jurang bernama kelas itu begitu dalam membusukkan manusia.

Dalam situasi normal, semua tokoh kaya di film ini layak disebut ‘manusia baik’. Namun di lain kesempatan sosok yang sama bisa begitu dingin membicarakan aroma tubuh mereka yang terpapar kemiskinan, atau meyakini pentingnya mereka yang berstatus pegawai agar tidak “melanggar batas.” Kekerasan yang meledak di ending film pun jadi respons atas berbagai sifat abai mereka yang berada di puncak piramida—dipicu kemarahan salah satu tokoh utama melihat si kaya jijik menghadapi kemiskinan dalam wujud wadah: sebuah jasad yang penuh darah dan baru saja merusak pesta kebunnya bersama orang kaya lain.

Parasite akan terus relevan dibicarakan hingga bertahun-tahun ke depan. Terutama mengingat statusnya sebagai salah satu film yang “menghibur” walau sedang memvisualisasikan pertentangan kelas; kita tertawa, ngeri, sekaligus berempati selepas menontonnya.

Ardyan M. Erlangga
Managing Editor VICE Indonesia
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.