Senin, November 30, 2020

Membela Jokowi dengan Argumen dan Kewarasan

Editor Buku: Dari Eksistensi Menuju Apresiasi

Safar Banggai menulis tentang ketiadaan standar apresiasi material atas pekerjaan para editor buku, sehingga nasib mereka tak cukup jelas. Saya ingin menambahkan beberapa catatan...

Apa Yang Terjadi Selama 7 Hari Internet Papua Digelapkan?

Sejak setahun ini, SAFEnet memiliki Sub Divisi Papua di bawah Divisi Akses Informasi. Tugasnya merintis Papua Damai lewat gerakan nir-kekerasan (non-violence movement) memanfaatkan teknologi...

Gagasan Literasi Kita yang Terbentur oleh Original dan Bajakan

Saya ingin mengajak Anda untuk menyelami satu isu yang menarik saat ini. Bukan. Bukan tentang RUU KUHP dan PKS, pemilihan pimpinan KPK yang kontroversial,...

Viral Pria Perusak Motor: Hari Ini Motor, Besok Kepalamu.

Di media sosial, sedang viral video seorang laki-laki usia 20 tahunan yang merusak motor pacarnya karena tidak terima ditilang oleh polisi. Lokasinya ada di...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Iya benar, Jokowi Problematik, tapi membiarkan dia sendiri dikelilingi orang pragmatis dan yang punya masalah HAM hanya akan membuat dia makin jauh dari sosok ideal yang kita bayangkan. Apa yang jadi masalah hari ini bukan golput, tapi pendukung Jokowi sendiri.

Kita mungkin sering mendengar, belajar dari pilkada Jakarta, karena golput Anies menang, Jakarta jadi amburadul. Belajar dari Amerika, karena golput diem dan tak memilih Trump menang. Yang lupa disebutkan dalam dua narasi tadi adalah, bagaimana pendukung Hillary dan pendukung Ahok bersikap pada mereka yang memutuskan golput atau undecided voter.

Dalam kasus Amerika Serikat, golput terjadi bukan karena mereka tak suka Hillary tapi lebih kompleks daripada itu. Beberapa riset menyebut bahwa golput terjadi karena pendukung Hillary sibuk ngatain yang tak suka pada Hillary (pendukung Bernie dan Trump) daripada menjelaskan bahwa calon mereka lebih baik.

Atau lebih spesifik, golput di Amerika terjadi karena pendukung Hillary kebangetan ngatain yang belum memutuskan memilih. Lalu bagaimana di Indonesia? Ya kurang lebih sama, alih-alih ngajak dan meyakinkan golput, pendukung Jokowi sibuk konspirasi atau ngatain mereka yang belum memilih. Padahal ya gimana mau jualan kalau sibuk ngatain yang mau beli?

Kita perlu mengakui bahwa masih ada masalah. Benar, bahwa di bawah Jokowi masih ada pembubaran diskusi atau pemutaran terkait 65, masih banyak pejuang agraria atau petani yang ditahan karena konflik lahan, benar bahwa ia dekat dengan sosok seperti Wiranto atau Hendropriyono, juga memiliki bawahan seperti Luhut dan Jaksa Agung Prasetyo yang mengatakan kata buldozer bagi yang mengkritik sawit atau berniat melakukan razia besar-besaran terhadap buku kiri.

Mengakui ada masalah ngga bikin sosok yang kita bela atau anggap baik jadi buruk. Ini merupakan sikap yang biasa saja. Kita jadi tahu masalahnya di mana dan jadi tahu apa yang harus dilakukan.

Oke, Jokowi tidak baik dalam hal penanganan kasus agraria, apa yang bisa kita lakukan? Jokowi masih berteman dengan orang yang punya masalah HAM, apa yang bisa kita lakukan? Polisi dan militer di bawah Jokowi masih gemar membubarkan diskusi, apa yang bisa kita lakukan? Kita bisa terus menyusun hal-hal yang tidak kita sukai dari pemerintahan Jokowi, sembari memberi rekomendasi penyelesaiannya.

Tentu ada banyak masalah, mulai dari Novel Baswedan, pemberian remisi pada pembunuh wartawan, kekerasan di Papua, melanggengkan kebencian terhadap korban politik 65, sampai masalah kebebasan berpendapat melalui razia buku. Hal-hal semacam ini bukan masalah bagi mereka yang despot dan bigot, tapi jadai sangat substansial bagi pemilih rasional.

Masalahnya seberapa banyak pemilih rasional ketimbang yang tidak rasional? Ya kalau saya jadi penasehat Jokowi kalau mau pragmatis dan itung-itungan matematika, mending cari dukungan orang goblok tapi banyak daripada mencari dukungan orang pinter tapi dikit. Tapi saya kira ini bukan soal jumlah, tapi soal komitmen pada publik.

Ini mengapa addressing the problem adalah hal penting. Iya kita bermasalah, tapi kami berkomitmen untuk memperbaiki itu kok. Dengan menjawab pertanyaan ini, saya kira kita bisa memberikan gambaran sikap: bahwa membela Jokowi tidak berarti harus mengorbankan logika atau integritas. Kita bisa mengajak mereka yang ragu-ragu dan belum memilih untuk berpihak pada Jokowi, serta jika cukup beruntung, akan mengajak yang golput untuk mendukung Jokowi.

Tentu ada resiko, kita tidak bisa memuaskan semua orang, yang bisa kita jelaskan adalah “Mengapa memilih Jokowi padahal ia problematik?” Ini pertanyaan baik, artinya sebagai pendukung kita bisa memberikan tawaran solusi (saya benci istilah ini) atau meyakinkan yang golput bahwa ada jalan selain non voting untuk membuat pemerintah bekerja dengan baik.

Setelah ini dijawab, kita bisa memberikan hal lain untuk closing the deal, atau memantapkan kebimbangan pemilih tadi. Misalnya, “Kita sebagai relawan mungkin tak punya kemampuan menekan sekuat elit politik, tapi kalau mau, kita bisa menekan jokowi untuk bertanggung jawab pada publik,”

Kita bisa mengharapkan jawaban seperti.

“Ah Jokowi diam saja pada tuntutan publik untuk penyelesaian kasus Novel atau Kendeng atau Reklamasi Teluk Benoa. Kenapa kami harus percaya lima tahun lagi dia akan punya komitmen pada publik untuk menyelesaikan masalah tadi?”

Saya saat ini ya belum bisa jawab. Tapi jika kamu pendukung Jokowi, berharap ia dapat dukungan dari undecided voter atau golput, yang semacam ini perlu dijawab. Jawaban tadi, baik atau buruk tentu punya dampak pada pemilih. Bagi saya, hal yang harus dilakukan pendukung Jowo Widodo adalah memberikan rasionalisasi terhadap Golput. Karena mereka yang menolak Jokowi atas alasan HAM dan keadilan sosial jelas sudah pasti merasa haram memilih Prabowo.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Nostalgia Dinasti Politik Pemimpin Negara

Pasca bergulirnya reformasi 1998, khususnya dengan terbitmya UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah dan Pemerintahan Daerah serta peraturan-peraturan pemerintah yang...

Tebet, Megamendung, dan Petamburan

Pandemi corona makin liar. Jika sebelumnya cluster penyebaran corona menyeruak di rumah sakit, perkantoran, sekolah, pesantren, perumahan, restoran, dan RT/RW -- kini tengah ramai...

Messi Adalah Nabi dan Maradona Adalah Tuhan

Paus Francis tersenyum. Ia juga berasal dari Argentina. Saat itu Ia mengunjungi klub sepokbola di Buienes Aires, Argentina: the Sportivo Pereyra de Barracas FC. Di...

Pentingnya Vitamin bagi Tubuh Di Era New Normal

Daya tahan tubuh atau imunitas menjadi benteng untuk mencegah virus masuk dan menyerang tubuh kamu. Dengan dimulainya aktivitas di luar rumah lagi di masa...

Saatnya Mempertanyakan Amatiran Politik Sumatera Barat

..."Kami simpulkan sedikit inti tulisan sebelumnya. Menurut data BPS, Sumatera Barat hari ini memiliki kue ekonomi kecil, produktivitasnya rendah, dan kesejahteraannya yang tidak sedang...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Bukankah Allah Menegaskan Dunia Ini Tak Akan Pernah Sama?

Kenapa ada orang yang bersikeras mengharuskan umat manusia berada di bawah satu panji atau berprilaku dengan satu cara (manhaj). Apakah demikian yang diajarkan Al-Quran?...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.