Sabtu, Maret 6, 2021

Melihat Penindasan Perempuan dari Akarnya

Surat untuk Mereka yang Melaporkan Saya ke Polisi

Akhirnya saya dilaporkan lagi... Dulu pernah digugat 700 pengacara karena katanya saya menghina Rizieq Shihab. Saya minta beliau yang terhormat itu tolong datang sendiri ke...

Penggalangan Dana Prabowo Subianto dan Partisipasi Politik

Prabowo Subianto membuat satu terobosan baru. Dia menggalang dana untuk kepentingan partainya, Gerindra, yang akan berlaga dalam Pilkada. "Saya mohon bantuanmu, berapa banyak itu tergantung...

Game of Thrones dan Kita

April menjadi bulan yang dinantikan oleh banyak penggemar serial Game of Thrones. Tentu saja, karena mereka akhirnya bisa melepaskan rasa rindu atas keberlanjutan kisah...

Kesehatan Mental Usaha Menghapus Stigma Di Dalamnya

Saya tak pernah menyangka bahwa depresi itu dekat dan nyata. Selama ini di media sosial, anggapan bahwa seseorang memiliki gangguan kesehatan mental hanya usaha...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

Sering kali saya mendengar istilah tentang perempuan dan tugasnya. Istilah itu sering berbunyi kalau tugas perempuan hanya sebatas dapur, kasur, dan anak. Parahnya, ternyata masih banyak yang mengaminkan istilah tersebut. Hal tersebut menambah belenggu ketertindasan bagi kaum perempuan. Seakan-akan perempuan dipandang sebelah mata, tak sanggup mengurusi di luar dari tiga hal yang sudah saya sebutkan di atas.

Saya jadi penasaran, bagaimana awal mula dari pembagian tugas yang berujung pada terenggutnya kebebasan perempuan tersebut.

Setelah saya telisik, pada sejarahnya, Morgan yang berprofesi sebagai antropolog, telah membedah sejarah perkembangan masyarakat, yaitu terdapat tiga babak zaman; zaman kebuasan, zaman kebiadaban (barbar), dan zaman peradaban. Morgan mengidentifikasikan pada setiap babak zaman. Penekanannya terhadap alat produksi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok manusia, yaitu “pangan”.

Penelitian Morgan tersebut diaminkan oleh Frederick Engels, yang kemudian oleh Engels dijadikan bahan acuan sejarah peradaban melalui buku “Asal Usul Keluarga, Negara, dan Kepemilikan Pribadi”. Kalau kita bedah ketiga babak zaman tersebut, titik pembeda pada zaman kebuasan dan barbar, adalah seperti perkembangan zaman komunal primitif ke zaman perbudakan menurut sejarah perkembangan masyarakat, yang digagas oleh Karl Marx.

Pada zaman kebuasan, yang kita ketahui mulai dari manusia tidak mempunyai alat produksi, sampai pada tahap menemukan alat produksi yang sederhana, yaitu tombak, dan panah, untuk kebutuhan dalam aktivitas produksinya (mencari pangan). Pada zaman ini, terlihat tidak ada perbedaan atau pembagian kerja pada kaum laki-laki maupun perempuan.

Kemudian, seiring perubahan iklim yang ekstrim, di luar kendali manusia, zaman silih berganti, hingga pada hadirnya zaman di mana gunung-gunung es mencair. Banyak makhluk hidup yang mengalami seleksi alam, maka kehidupan pun mulai barbar, banyak terjadi penguasaan manusia atas daerah yang mereka tempati karena tempat tinggal mereka sudah tak seleluasa dulu. Penguasaan manusia antar manusia tak terelakan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, alat produksi pun ikut berubah seiring dengan perkembangan zaman dan kreatifitas manusia itu sendiri, yaitu dengan ditemukannya tembikar dan per-api-an yang dibuktikan dengan kehidupan manusia yang lebih banyak tinggal di pinggir sungai.

Benang merah dari penindasan terhadap perempuan ada pada zaman barbar tahap tengah, ketika berburu digantikan menjadi beternak. Kegiatan beternak sebagai pengganti dari proses untuk bertahan hidup sehari-harinya. Pada tahap ini, terjadi pendomestikasian, yaitu pembagian kerja pada kaum laki-laki dan perempuan.

Biasanya perempuan dan laki-laki sama-sama terlibat langsung dalam aktivitas produksinya (berburu), namun hanya kaum laki-laki yang terlibat langsung dengan aktivitas produksinya (bertemu langsung dengan alat produksi) sedangkan perempuan mengerjakan hal yang bersifat domestik (menyiapkan masakan untuk laki-laki di rumah, merawat anak, dan lain lain).

Pada saat itu pula terbentuknya keluarga inti yang muncul dan terwariskan hingga kini yaitu; ayah, ibu dan anak. Karena sebelum mencapai tahap tersebut, manusia hanya menentukan keluarga dari garis ibu saua. Beriringan dengan trbentuknya keluarga dan pedomestikasian, terbentuklah budaya patriarki yang kita kenal sampai hari ini, karena pada awalnya ketergantungan kaum perempuan pada laki-laki atas basis perekonomiannya saja, namun seiring waktu merembet hingga kepada basis budaya serta politik.

Sampai pada titik akhir di zaman barbar, manusia telah mengenal nilai surplus dan kepemilikan pribadi, sehingga membutuhkan pasar untuk restribusi, dan menghasilkan keuntungan, serta mengembalikan modal mereka. Pada zaman peradaban pun penindasan perempuan semakin tak terelakan dengan masuknya tatanan kehidupan, dan corak produksi yang sudah berbeda, yang semakin maju, negara pun turut hadir untuk mengamankan surplus yang ada.

Perempuan semakin bergantung terhadap kaum laki-laki, karena kebutuhan ekonominya hanya bisa dipenuhi atas laki-laki, yaitu efek sudah terbiasa untuk tidak melakukan aktivitas produksi seperti dahulu; sehingga ada stigma perempuan itu lemah, tidak percaya diri untuk tampil dalam publik.

Zaman sekarang, tak kalah masifnya pula sistem Imperialisme-Kapitalisme memanfaatkan budaya patriarki untuk menjadikan perempuan sebagai komoditas mulai dari kepala sampai kakinya.

Akibat langgengnya patriarki, menjadikan patriarki itu seperti suatu hal yang ‘biasa’ dilakukan, dan mengakar hingga kini. Artinya, ketertindasan ini secara tidak sadar menggerogoti pemahaman kita. Oleh karena itu perjuangan perempuan adalah perjuangan kebudayaan melawan budaya patriarki, dan pembebasan nasional dari belenggu Imperialisme-Kapitalisme, dapat saya katakan di sini bahwa penindasan kaum perempuan berarti berlipat ganda.

Perempuan harus kembali melakukan aktivitas produksinya dengan merebut alat produksi dengan arti pembebasan nasional, ataupun pekerjaan domestiknya menjadi sebuah hal yang diperhitungkan sebagai aktivitas produksi, karena hari ini negara menganggap pekerjaan domestik sebagai hal yang remeh, dan tidak perlu diperhitungkan, sehingga lagi-lagi menjadi celah bagi Imperialisme-Kapitalisme untuk mengambil surplus kembali.

Perempuan bersama laki-laki turut melaksanakan pembebasan nasional dengan watak yang demokratis, untuk menghancurkan budaya patriarki yang terus menggerogoti kebebasan kaum perempuan, karena menurut Lenin “syarat dari revolusi adalah pembebasan perempuan”.

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Apa Hubungannya Toleransi dan Kearifan Lokal?

“Hai seluruh manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya...

Lubang Hitam Narasi Teroris Selama Pandemi

Sudah lima hari sejak saya terkonfirmasi positif Covid-19. Rasanya begitu berat, alih-alih sekedar menyerang fisik, rupanya virus ini juga menyerang mental. Untuk itu, saya...

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

Tanah dan Transmigrasi

Peliknya urusan pertanahan dipadukan dengan samarnya transmigrasi di Indonesia menjadikan perpaduan masalah yang sulit diurai. Pasalnya permasalahan terkait tanah bukan sekedar konflik kepemilikan dan...

Idealisme Mati Sejak Mahasiswa, Apa Jadinya Bangsa?

Hidup mahasiswa! Hidup rakyat Indonesia! Tampaknya sudah sangat sering mahasiswa mendengar slogan perjuangan tersebut. Apalagi mahasiswa dengan cap "organisatoris" dan "aktivis". Organisatoris dan aktivis adalah...

ARTIKEL TERPOPULER

Pendidikan yang Berkebudayaan, Mencipatakan Manusia Kreatif dan Otonom

Review Buku: Yudi Latif, Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2020). Pendidikan nasional sudah seharusnya tidak meninggalkan akar-akar...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Ziarah Ke Media Sosial

Meminjam istilah masyarakat industrial Kuntowijoyo dalam masyarakat tanpa masjid (2001), merupakan kondisi masyarakat yang terkungkung oleh rasionalisasi, komersialisasi dan monetisasi. Mengutip pendapat Robert Bala,...

Common Sense dalam Filsafat Ilmu

Ilmu filsafat selalu merumuskan tentang pertanyaan – pertanyaan kritis atas kemapanan jawaban yang sudah dipecahkan oleh ilmu pengetahuan. Pada zaman sekarang ilmu pendidikan tidak...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.