Kamis, Februari 25, 2021

Megawati dan Keteledorannya yang Hakiki

Film Joker, Tak Sekadar Orang Baik dan Jahat

Banyak pihak memetik nilai yang salah dari film Joker. Melalui quote “orang jahat adalah orang baik yang tersakiti”, sikap Joker melawan perundungan, oleh beberapa...

Mempermalukan Salib

Ramainya upaya mempermalukan Salib yang wa bil khusus berupaya menistakan  Kekristenan cukup menguras energi kebatinan kita. Upaya usang mempermalukan Salib faktanya sudah jutaan kali...

Michael Bambang Hartono, Getting What Money Can’t Buy

Apa yang tidak bisa dibeli oleh Michael Bambang Hartono, salah satu orang terkaya di Indonesia? Tidak banyak. Dengan kekayaannya yang melimpah ruah, ia bisa...

Anthony Bourdain, Mengajak Berempati dengan Mencicipi Makanan

Tidak banyak acara TV Amerika yang saya suka. Saya jarang menonton TV. Selama beberapa tahun terakhir saya malah tidak punya TV. Namun, lewat satu...
Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.

Setelah MUI menyinyalir bahwa Golput haram, kini muncul pendapat dari Ketua Umum PDI-P, Megawati Soekarnoputri. Megawati menyebut Golput adalah seorang pengecut yang tidak berani datang ke TPS untuk menunjukkan harga dirinya, pada rapat umum PDI-P se-Solo Raya di GOR Pandawa Solo Baru, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Minggu (31/3).

Dalam orasinya, Megawati menyampaikan di depan para simpatisan PDI-P bahwa mereka yang Golput tidak usah menjadi WNI, karena tidak melakukan kewajibannya sebagai warga negara. Selain itu, Megawati juga menegaskan bila calon pemilih masih mencari rezeki di Indonesia maka semestinya mereka menggunakan hak pilihnya. Kemudian orasi itu ditutup dengan permintaan Megawati untuk memenangkan pasangan nomor urut 01 pada Pilpres 2019.

Saya rasa Megawati terlalu berlebihan dalam menanggapi orang-orang yang memilih Golput pada Pemilu serentak yang akan dilaksanakan tanggal 17 April mendatang. Pendapat tidak usah menjadi WNI karena tidak melakukan kewajiban negara, menurut saya merupakan keteledoran yang dilakukan oleh Megawati. Saya jadi ragu, apakah pada masa sekolah Megawati mengikuti pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dengan baik?

Menurut KBBI, warga negara sendiri merupakan penduduk sebuah negara atau bangsa berdasarkan keturunan, tempat kelahiran dan sebagainya yang mempunyai kewajiban dan hak penuh sebagai seorang warga dari negara itu. Kewajiban sebagai warga negara dilakukan bertujuan untuk mendapatkan hak kita sebagai warga negara.

UUD telah mengatur perihal hak sebagai warga negara. Di antaranya hak untuk mendapat perlindungan hukum (pasal 27 ayat (1)), hak bebas untuk memilih, memeluk dan menjalankan agama yang dipercayai. (pasal 29 ayat (2)), hak mendapakan pekerjaan dan penghidupan yang layak (pasal 27 ayat (2)), hak memperoleh pendidikan dan pengajaran, memiliki hak yang sama dalam kemerdekaan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat secara lisan dan tulisan sesuai Undang-undang yang berlaku (pasal 28), dsb.

Lebih dari itu, UUD pun mengatur kewajiban yang harus dilakukan sebagai warga negara. Di antaranya adalah warga negara wajib berperan serta dalam membela, mempertahankan kedaulatan negara indonesia dari serangan musuh (pasal 30 ayat (1) UUD 1945), wajib membayar pajak dan retribusi yang sudah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah (UUD 1945), wajib menaati dan menjunjung tinggi dasar negara, hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali serta dijalankan dengan sebaik-baiknya, wajib menghormati hak asasi manusia orang lain (pasal 28J ayat (1)), wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan Undang-undang (pasal 28J ayat (2)), dsb.

Dilihat dari beberapa hak sebagai warga negara, saya rasa pemerintah masih gagal memenuhi hal tersebut. Berapa banyak buruh migran Indonesia yang disiksa tapi negara gagal menghadirkan perlindungan hukum kepada mereka? Berapa banyak warga negara yang merasa terancam karena terjadi diskriminasi sebab adanya perbedaan agama? Berapa banyak angka pengangguran dan kemiskinan di Indonesia? Berapa banyak anak Indonesia yang tidak dapat melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang perguruan tinggi?

Kita sama-sama tahu, hak dan kewajiban tidak dapat dipisahkan dan harus berjalan seimbang. Namun masih banyak hak kita sebagai warga negara yang tidak terpenuhi. Dan lagi, sebagai warga negara, kedua kandidat Capres juga tidak menjalankan kewajibannya. Capres 01 terlihat tak acuh dalam menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia, sedangkan Capres 02 namanya terdapat dalam Paradise Papers, sebuah dokumen yang berisikan nama-nama tokoh yang memiliki perusahaan cangkang di negara suaka pajak untuk menghindari pajak.

Jika kedua warga negara yang mencalonkan dirinya sebagai Capres saja melanggar kewajibannya sebagai warga negara, lalu kenapa kita yang terbilang warga negara biasa-biasa saja tidak boleh menetap menjadi WNI? Padahal kita yang terkena double attack, alias sudah haknya sebagai warga negara tidak terpenuhi, sekarang justru dipaksa memilih dengan dalih melakukan kewajiban negara. Lagi pula, memangnya kewajiban sebagai warga negara hanya dijalankan sebatas Pemilu saja? Saya harap kontestasi politik ini segera berlalu, agar kewarasan kita tetap terjaga.

Avatar
Agnes Yusufhttp://heysenja.wordpress.com
Kadang menulis, sesekali makan es krim, setiap saat berkelana.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Sejarah Palestina dan Hubungannya dengan Kita

Usai Kekalahan Ottoman pada perang dunia 1 yakni pada (1914 - 1918) wilayah Palestina - Israel sejak 1922 berada di bawah mandat Inggris. Peluang...

Asesmen dan Metode Wawancara dalam Psikologi Klinis

Seperti yang kita tahu, bahwa psikologi merupakan sesuatu yang sangat identik dengan kehidupan manusia, karena psikologi berpengaruh terhadap kehidupan seseorang. Psikologi yang kurang baik...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Polemik Pernikahan Dini Masa Pandemi

Menyebarnya virus covid 19 di Indonesia sangat cepat dan menyeluruh ke berbagai wilayah dari kota besar sampai daerah pelosok desa. Virus ini terjadi mulai...

ARTIKEL TERPOPULER

1000 Hari Teddy Rusdy Cucu Kiai Digulis

Teddy Rusdy—orang yang tepat di belakang Benny Moerdani, sosok yang disebut sejarawan militer David Jenkins salah satu orang paling berkuasa di Indonesia pada 1980-an—punya...

Kajian Anak Muda Perspektif Indonesia

Sejak awal, perkembangan kajian anak muda dalam perspektif Indonesia telah menjadi agenda penting dan strategis. Sebagai bidang penelitian yang relatif baru, tidak dapat dipungkiri...

Revitalisasi Bahasa Daerah Melalui Tradisi Santri

Bahasa daerah merupakan bahasa awal yang digunakan manusia dalam berkomunikasi. Melihat bahasa daerah di Indonesia sangat banyak ragamnya dan merupakan kekayaan budaya Indonesia, seiring...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.