OUR NETWORK

Mas Pur Sebagai Laki-laki Paripurna

“Aku akan mencintaimu dengan cara yang paling sunyi.”
Mas Pur, tokoh dalam serial sinetron Tukang Ojek Pengkolan, menjadi perhatian publik. Setidaknya di media sosial ia muncul di mana-mana. Kisah cintanya yang baru saja kandas dengan Novita (Putri Anne). Tukang ojek yang miskin dan kurang tampan itu  merelakan kepergian perempuan yang ia cintai menikah dengan orang lain.
 
Karakter Mas Pur yang diperankan oleh Furry Setya Raharja, sukses membuat banyak orang bersedih, mungkin karena ia representasi kehidupan kita sehari-hari. Mereka yang miskin, pekerja keras, nyaris bahagia tapi mesti jatuh ditempeleng pedihnya realitas hidup.
 
Saya pernah mengalami ditinggal menikah oleh orang yang saya cintai. Meski demikian, keberanian Mas Pur untuk menemui Novita, mendoakan yang terbaik baginya, bahkan mengantarkan Novita pulang untuk menikahi laki-laki lain, barangkali merupakan wujud paripurna dari kerelaan.
 
Saat orang-orang berebut memperlakukan pasangan seperti benda, kehadiran Mas Pur yang merelakan kepergian kekasihnya bersama orang lain adalah senyata-nyata kasih sayang. Ia sudah melampaui maqam “Loving people we can’t have“, ia telah sampai pada “Loving people as she/he happy with others“.
 
Dalam khazanah sastra dunia, kisah-kisah cinta yang kandas semacam ini bukan hal yang baru. Ada beberapa yang bisa anda baca. Seperti karya Emily Brontë yang berjudul Wuthering Heights, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu karya Puthut EA, atau yang lebih kiwari The Perks of Being a Wallflower karya Stephen Chbosky.
Mas Pur tidak menjadi keji karena perpisahan. Ia merelakan cintanya kandas tanpa harus memelihara kebencian. Beberapa dari kita kadang jadi getir dan jahat karena tak mampu menghadapi kekecewaan. Mas Pur sadar bahwa setelah mencintai, tugas seorang kekasih adalah membahagiakan, bahkan dalam perpisahan tukang ojek miskin yang tidak begitu tampan itu, merelakan kekasihnya menikah dengan orang lain bersama doa-doa yang baik.
 
Cinta kerap kali punya rupa yang sumbing, ia bopeng karena menyajikan narasi yang nyaris selalu sama. Dua orang jatuh cinta yang berharap bersama, lantas kemudian gagal, kepedihan itu dirasakan bersama. Keduanya tak pernah ingin berpisah, tapi nasib kerap kali lebih kejam dari tukang jagal. Setiap dari kita pernah merasa yang paling menderita, tapi siapa yang pernah benar-benar merasakan kehilangan?
 
Mas Pur berkata: Karena ia mencintai Novita, ia ingin perempuan itu bahagia, meski tak bersama Mas Pur. Pengorbanan semacam ini membutuhkan keberanian untuk merelakan, ada rasa pedih di ulu hati yang akan membuat laki-laki paling gagah menunduk menahan nyeri.
 
Meminjam istilah almarhum Rusdi Mathari, “Laki-laki tidak akan menangis, Dik, tapi hatinya berdarah.”
 
Ada perasaan superior dalam kalimat itu. Maskulinitas. Bahwa seolah menangis merupakan penanda kelemahan. Bagi banyak orang, menangis memang tanda kelemahan, tapi tak pernah ada orang lemah yang merelakan sesuatu yang berharga baginya hilang begitu saja tanpa berusaha.
 
Mas Pur sudah berusaha. Sebaik-baiknya dengan kejujuran dan kegagahan laki-laki. Ia berusaha mendekati Novita, sebagai rekan setara, tidak memperlakukannya sebagai benda, dan menghormati segala otoritasnya.
 
Sebagai laki-laki, kita perlu meniru Mas Pur. Ia tidak minder sebagai tukang ojek yang mendekati perempuan mapan dan cantik. Ia sadar bahwa mutu seseorang tak pernah bisa diukur dari apa yang dilihat atau yang dikerjakan. Mutu seseorang bisa diukur dari bagaimana ia memperlakukan orang lain. Laki-laki tukang ojek itu berjuang, sampai akhirnya bisa meyakinkan Novita.
 
Tapi kita tahu, tidak semua cinta bisa berbalas. Seberapa keras Qais mencintai Layla, ia tak akan pernah bisa bersama. Puisi, doa, dan bisikan kata-kata yang Qais titipkan pada angin tak akan pernah sampai pada Layla. Hingga kematian menjemputnya, Qais masih menjadi si Majenun yang mencintai Layla tanpa bisa bersama.
 
Junot Díaz, dalam This Is How You Lose Her, mengisahkan fragmen seorang perempuan yang mencuci pakaian di tempat laundri, sembari membayangkan kekasihnya yang sedang bersama sang istri. Tragedi punya banyak rupa, cinta yang kandas, perselingkuhan, sampai pengorbanan yang perih tak terbayangkan.
 
Mas Pur adalah manusia langka. Ia masih tegak berdiri bahkan setelah putus dan berpisah dengan orang yang dicintai. Orang lain mungkin tak akan seberuntung itu. Dalam tragedi yang dikisahkan dalam The Sorrows of Young Werther, pemuda Werther memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena tak bisa bersama orang yang ia cintai. Novel yang ditulis oleh Johann Wolfgang von Goethe pada abad ke-18 itu menjadi primadona. Bahwa cinta yang tulus membuat seseorang tak lagi bisa hidup tanpa kekasihnya. Tapi Mas Pur membuktikan bahwa hidup terlampau berharga untuk diakhiri karena masalah cinta. Mas Pur memberikan teladan bahwa kehidupan memang membuatmu getir, tapi ia harus dijalani dengan kepala tegak.
 
Kita perlu sadar bahwa beberapa cinta tak bisa diselamatkan meski telah diperjuangkan dengan segenap usaha. Beberapa cinta tak akan bisa bersama dan hanya bisa dikenang dalam doa yang kita panjatkan diam-diam.
Arman Dhani
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…