Rabu, Januari 27, 2021

Marie Kondo, Fumio Sasaki, dan Minimalisme Hidup

Corona, Manusia, dan Semesta

KH Aqil Siraj, Ketua PBNU dalam acara Jendela Ramadan-nya Dedi Corbuzier di NetTV Jumat dini hari lalu menyatakan: pandemi corona adalah peristiwa alam. Bukan...

Dengkul Bahar bin Smith dan Tingkat Kemiringan Pikiran Kita

Beberapa tahun lalu, saya tak ingat kapan persisnya, seorang kawan mengirimi video melaui WhatsApp berisi seseorang yang sedang berceramah. Karena jarak dan pencahayaan pengambilan...

Data dan Bagaimana Tempurung Kepala Kita Memprosesnya

Laporan dari Reuters ini dan laporan-laporan dari New York Times yang saya baca beberapa saat setelah bencana di Palu sungguh membuat saya berpikir. Bukan...

Meneliti Livi Zheng (Bagian 1)

Berita-berita tentang Livi Zheng di banyak media massa membuat saya melongo takjub pada detik pertama dan menunduk hormat pada detik berikutnya kepada gadis 30...
Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.

Hingga kuliah, kemeja, kaus, celana, dan sepatu yang saya pakai adalah lungsuran dari kakak. Saya dan keluarga hanya membeli satu pakaian dan satu celana setiap lebaran. Jadi jika masuk kuliah usia saya 17 tahun, saya cuma punya 17 pakaian yang benar-benar saya beli sendiri. Lainnya pemberian kerabat atau warisan dari kakak.

Keluarga saya ya ngga susah-susah amat, cukup lah. Tapi ibu saya punya pemikiran, kalau masih bagus, kenapa harus dibuang? Bisa diperbaiki untuk dipakai lagi. Saya biasa pakai sepatu yang agak kebesaran, karena itu punya kakak saya. Juga karena beli barang baru itu menyusahkan. Kami lima bersaudara, kalau harus beli barang tiap tahun, bakal ribet, lama, dan mahal. 

Saya baru baca artikel Marie Kondo di media seperti Guardian. Para penulis ini dikritik keras sekali sebab menyebut Marie jahat dan keji karena memaksa seseorang yang mencintai buku untuk membuang barang yang tak ia suka. Bahwa kita tidak sedang menumpuk barang, tapi terlalu banyak belanja. Di Indonesia Marie disebut kapitalis yang pura-pura peduli pada penghematan oleh satu artikel. Argumennya ya ada, misalnya, mendaku menganjurkan gaya hidup hemat, tapi menjual produk dengan harga mahal sembari menjual jasa konsultasi.

Apakah salah? Ya ngga tahu, yang jelas kalau kapitalis adalah mereka yang mengumpulkan satu individu mengendalikan alat produksi dan sumber daya untuk memperoleh keuntungan sebesar-besarnya ya, nyaris semua pedagang kapitalis. Tapi ga bikin mereka jadi jahat. Cuma, kalau kamu menjual produk yang harga produksinya 1,000 rupiah kamu juah 10 juta tanpa peduli para pekerja yang membuat produk itu, ya agak ringsek. 

Persoalan yang ada saat kita memandang Marie Kondo adalah perbedaan budaya. Misalnya kita mulai dari yang paling sederhana. Soal less is good. Jepang punya tradisi serius untuk tidak menyimpan barang terlalu banyak, tapi berubah ketika gelombang konsumerisme masuk ke negara itu pada 50an setelah perang dunia kedua yang menghancurkan Jepang.

Parissa Haghirian dalam jurnalnya The Historical Development of Japanese Consumerism, menyebut gerakan Mai Ka (my car) dan Mai Homu (my home) mendorong konsumerisme yang melahirkan gaya hidup shinjinrui alias hedonisme. Namun generasi berikutnya, didorong oleh ruang yang makin sempit dan terbatas, gerakan minimalisme punya ruang.

Minimalisme mengajak para pengikutnya untuk hidup sederhana, secukupnya, seminim mungkin, sehingga tidak perlu terlalu banyak memiliki benda. Gerakan ini bukan karena pelakunya miskin atau tidak memiliki uang, tapi percaya bahwa kepemilikan benda yang terlalu banyak akan membuat manusia menjadi tidak bahagia. 

Marie Kondo bukan satu-satunya, ada juga Fumio Sasaki’ dengan bukunya “Goodbye, Things”. Fumio menganjurkan gaya hidup Minimalis. Seperti Marie, ia menganggap memiliki terlalu banyak barang akan membuat hidup menderita. Ia menganjurkan bahwa manusia punya keterikatan terhadap benda-benda yang hidup bersamanya.  

“Mau hidup sendiri atau bersama orang lain, hanya sedikit yang mengakui adanya teman sekamar,” kata Sasaki. “Teman sekamar ini bernama benda-benda dan ruang yang dipakai benda-benda tadi, mengambil lebih banyak tempat daripada yang dipakai manusia itu sendiri,” kata Fumio. 

Masalah ruang, tempat, dan lahan merupakan satu hal serius di Jepang. Dengan menyimpan lebih banyak barang, kita membutuhkan lebih banyak ruang, tempat jadi sempit, dan lahan untuk menyimpan itu semua sangat mahal. Maka minimalisme dan mengurangi benda-benda seperti yang dilakukan Marie Kondo dan Fumio Sasaki adalah hal yang sangat wajar dan masuk akal. 

Akar minimalisme dan spark of joy yang disampaikan Fumio serta Marie berakar dari ajaran zen. Pandangan ini memberikan pemahaman bahwa dalam kekosongan itu ada jalan menuju hidup yang lebih baik. Konsep “Ma“, ruang kosong di antara, tempat yang bebas dan lapang, di mana kita bisa mengapresiasi hal yang lebih penting.

Selain itu, berdasarkan riset lembaga kebencanaan yang ada di Jepang, memiliki sedikit barang akan menyelamatkan hidup. Jepang adalah negara dengan frekuensi bencana yang lumayan tinggi, 50 persen kecelakaan dan kematian saat bencana terjadi karena jatuhnya benda-benda yang ada di rumah. Maka, jika anda memiliki sedikit barang, kemungkinan kejatuhan barang akan semakin sedikit.

Ini mengapa minimalisme atau merapikan barang ala Jepang bisa sangat berbeda dengan negara-negara eropa yang gemar sekali menumpuk barang. Orang eropa merasakan “horror vacuii” atau fear of emptiness. Rumah mereka sempit, penuh hiasan, barang-barang di lorong, hiasan di lemari, hingga tembok yang penuh lukisan.

Ini mengapa Marie Kondo dianggap ancaman. Elitisme ala eropa, yang menyimpan banyak barang sebagai tanda kelas sangat terancam dengan minimalisme. Punya banyak buku karena punya tradisi intelektual, punya banyak lukisan dan karya rupa karena punya tradisi seni, punya banyak sepatu karena pengen dibilang hypebeast. Dan seterusnya.

Minimalisme yang ditawarkan Kondo dan Sasaki bukan sekadar membuang hal-hal yang tak penting, atau berhenti membeli hal yang tak kita butuhkan, tapi mengambil alih kendali hidup kita dan menentukan prioritas kepemilikan. Seperti menghindari fast fashion yang menganjurkan kita untuk terus membeli barang baru setiap trend berganti. 

Lalu bagaimana di Indonesia? Ya gimana ya, ada absurditas yang kadang luput kita pahami dari minimalisme yang diajarkan Marie dan Fumio. Mereka menganjurkan kita mengurangi barang agar bisa hidup lebih baik, tapi minimalisme bisa juga diterjemahkan sebagai gaya hidup yang mahal. Ini malah membuat nilai yang hendak disampaikan dalam Minimalisme jadi luput. Lho kok bisa? 

Ya misalnya, kamu membuang atau menjual seluruh isi kamarmu. Menggantinya dengan furniture/fashion ala Skandinavia atau Jepang yang mahal. Membuatnya jadi minimalis karena indah secara estetik, bukan karena memang mengurangi kepemilikan. Artinya minimalisme yang kamu lakukan bukan didasari kesadaran bahwa punya banyak barang hasil dari konsumerisme itu buruk, tapi sesederhana “Wah keren nih barang dari Muji dan Ikea” yang berujung pada belanja kebendaan.

Mengapa ini penting? Karena dengan terus-menerus membeli barang untuk memenuhi kebutuhan, kita berburu untuk memuaskan keinginan akan pengakuan, pencitraan, yang pada akhirnya membawa kita pada kekecewaan dan rasa tidak puas. Meminjam kata-kata Tyler Durden dalam Fight Club, Hidup kita akan terus dikontrol untuk membeli barang yang tidak kita butuhkan, untuk mencari perhatian orang yang kita benci, dengan uang yang tidak kita punya.

Avatar
Arman Dhanihttp://www.kandhani.net
Penulis. Menggemari sepatu, buku, dan piringan hitam.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Roman Abramovich, Alexei Navalny, dan Premier League

Industri olahraga, khususnya sepakbola, telah mengalami perkembangan pesat. Mulai dari segi teknis maupun non-teknis. Mulai dari aktor dalam lapangan hingga pemain-pemain di belakang layar....

Perempuan dan Politik

Politik selalu identik dengan dunia laki-laki, dengan dunia kotor, tidak pantas untuk perempuan masuk kedalam ranah tersebut. Politik selalu identik dengan sesuatu yang aneh...

Karakteristik Milenial di Era Disrupsi

Dewasa ini, pemakaian istilah Disrupsi masih terdengar asing oleh kaum muda atau generasi milenial sekarang. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan disrupsi?. Jika kita...

Hak Cipta dan Perlindungan Kekayaan Intelektual

Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI) merupakan terjemahan dari Intellectual Property Right (IPR), sebagaimana diatur dalam undang-undang No. 7 Tahun 1994 tentang pengesahan Agreement Establishing...

Pengalaman Mantan Pasien Wisma Atlet

Ibu Mawar ingin memberi cerita pengalamannya yang dialami ia dan keluarga dalam menghadapi karena mengidap Covid 19 yang sempat dirawat di Wisma Atlet serta...

ARTIKEL TERPOPULER

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Larry King, Wawancara dengan Sejarah

Oriana Fallaci beruntung. Ia seakan mendapat wangsit mendadak untuk menjuduli bukunya dengan cemerlang, "Intervista con la storia", himpunan interviunya dengan para pemimpin dunia yang...

Pandji yang Sedikit Tahu, tapi Sudah Sok Tahu

Siniar (podcast) komedian Pandji Pragiwaksono kian menegaskan bahwa budaya kita adalah sedikit tahu, tapi sudah merasa sok tahu. Sedikit saja tahu tentang gambaran FPI...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Hukum Tata Cara Mengendus Kuasa, Kuliah Gratis untuk Refly Harun

Semoga Saudara Refly Harun dalam keadan sehat akal wal afiat!! Awalnya saya merasa tidak begitu penting untuk memberi tanggapan akademis terhadap saudara Refly Harun. Kendati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.