Banner Uhamka
Jumat, September 25, 2020
Banner Uhamka

Maaf Masjid Tutup

TERKUAK! Bukti Demo Neno Warisman Adalah Marketing Markobar

Suatu pagi di Kota Solo. Di bawah komando Bunda Neno Warisman, orang-orang berdemonstrasi di depan warung martabak Markobar. Lah, kenapa Markobar didemo? Martabaknya enggak...

Akrobat Berebut Kursi: Megawati-Prabowo dan Anies-Paloh

Inilah politik. Semua serba cair. Ada wajah politik yang tampil di permukaan, ada juga yang ada di belakang panggung. Mungkin di antara keduanya bisa...

Sandiaga Uno dan Erick Thohir, Bintang Pemilu 2024

Cukup lama tak terdengar kiprahnya usai gelaran Pilpres 2019, nama Sandiaga Uno tiba-tiba kembali mencuat. Presiden Jokowi menyebut Sandi sebagai tokoh yang patut diperhitungkan...

Televisi, Cermin Realitas Palsu

Ujian Akhir Semester (UAS) di tempat saya menempuh pendidikan tinggi telah selesai dilaksanakan. Sebagai anak rantau, kalau libur panjang saya pasti pulang ke rumah,...
Avatar
Moh. Nizar
Selama menjadi mahasiswa, Nizar aktif di gerakan mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang AR Fachruddin Yogyakarta. Setelah lulus S1, Nizar melanjutkan ke sekolah Parcasarja Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Hubungan Internasional, lulus tahun 2011. Sekarang Nizar aktif mengajar di Universitas Lampung (Unila), jurusan Hubungan Internasional. Selain itu, Nizar juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Lampung (UML), jurusan Ilmu Pemerintahan.

Maaf Masjid Tutup! Pengumuman demikian mungkin yang pertama dalam sejarah perjalanan umat Islam. Apa yang salah dengan masjid? Para jemaah pun berbeda pendapat, sebagian ada yang tetap menjalankan ibadah di masjid, namun sebagian besar jemaah mengikuti anjuran ibadah di rumah: termasuk mengganti sholat Jum’ah dengan sholat dhuhur.

Keduanya, sama-sama membacakan dalil teologis dan argumentasi sebagai pijakan masing-masing. Bagi yang mendukung beribadah di rumah menyodorkan dalil: Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu (QS an-Nisa: 29). Ditambahkan juga: Jangan ulurkan tangan kalian (dengan sengaja) ke kehancuran (QS al-Baqarah: 195).

Sementara dasar argumentasi jemaah yang tidak setuju menutup masjid: Di mana pun kamu berada (tetap) akan terkejar oleh maut, sekalipun kamu berada di benteng-benteng yang kokoh dan kuat (QS al-Nisa:78).

Dalil berikutnya: Katakanlah: ‘Lari tidak berguna bagimu, jika kamu berlari dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhindar dari kematian), kamu hanya akan mengecap kesenangan sebentar’ (QS al-Ahzab:16).  Ringkasnya, bagi golongan ini meninggal gegara COVID-19 atau bukan ketetapan ilahi yang tak bisa dielak.

Namun, perbedaan pandangan keagamaan menghadapi COVID-19 di atas sungguh pelik, karena memiliki konsekuensi nyata. Tapi sebagaimana layaknya orang yang sudah bulat, mereka tak mau didikte. Dan sebagaimana layaknya orang moderat, ia memilih kompromi.

Barangkali, inilah gambaran umat Islam Indonesia mengapa seringkali gagal melahirkan “konsensus.” Sebab setiap kali muncul pandangan (keagamaan) timbul reaksi setuju dan tak setuju. Akibatnya, umatpun mengikuti seleranya. Termasuk hal ihwal menghadapi pandemi viruscorona, tidak ada kekompakan.

Memang, pada Islam ada pandangan bahwa perbedaan itu “rahmat:” ikhtilafatuhum rohmah. Tapi di sisi lain di situ pula kelemahannya. Sebab setiap orang absah menyatakan dalil dan argumentasi, toh meskipun (dalil) itu seringkali dikemukakan berkali-kali dalam konteks kasus atau fenomena yang berbeda. Dan tanpa sadar, perdebatan demi perdebatan seringkali terjebak oleh semangat moralitas semu.

Entah mengapa umat Islam di negeri ini mengalami kesulitan bersatu, yang tampak adalah saling menuding dan tumpang tindih dalam ruas-ruas kehidupan. Dengan kata lain, tatkala di satu pihak berjuang keras memerangi viruscorona, seperti menghentikan seluruh kegiatan aktivitas di masjid dan majelis-majelis taklim.

Di lain pihak, suatu kumpulan jemaah lainnya, tetap melakukan aktivitas di masjid sebagaimana biasa. Memang, mereka tak sepenuhnya salah. Tapi bukankah itu ibarat mengisi air di ember yang bocor.

Di sini kita memang kemudian bertanya: sampai kapan umat Islam di negeri ini akan tetap begini? Satu generasi, dua generasi, tiga generasi, atau lebih? Sukar untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi mari kita tengok perkembangan Islam di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Dalam hubungannya dengan kemajuan, Islam di ketiga negara itu layak ditiru. Sebab di sana, betapapun Islam tergolong muda (daripada kawasan Timur Tengah), tetapi Islam hadir sebagai rahmat secara nyata dan sebenar-sebenarnya. Di sana untuk membesarkan Islam, umat tidak berfikir mencari jawaban dengan mengubah keadaaan politik, mengingat senyatanya perubahan politik hanya sekadar perubahan panggung dan nama lakon.

Dalam kaitan pencegahan COVID-19, ketiga negara itu juga menutup masjid. Di salah satu pagar masjid di Singapura terpampang pengumuman: CLOSED for tours & visits in view COVID-19 situation. We hope to see you again soon. Begitu juga di Masjid Putra Malaysia tertulis: ANNAOUNCEMENT. Masjid Putra will be temporarily Closed for all religious activieties including prayer and all tours (local or international) strating 18 to 13 March 2020.

Bahkan, Brunei Darussalam negeri yang menerapkan syariat Islam pun menutup masjid, surau, dan pusat-pusat kajian keagamaan. Mungkin karena warga negara di tiga negera ini terbiasa patuh, umat Islam di sana tak ada bentrok menyikapi penutupan masjid. Tapi kepatuhan itu dilakukan secara sadar, bahwa menutup masjid dimaksudkan guna melindungi negara dan umat Islam itu sendiri. Dengan kata lain, sebagaimana kaidah usul fiqh: laa dharara wa laa dhirara (tidak memadaratkan dan tidak pula dimadaratkan).

Namun, betapapun masjid tutup tapi tidak demikian dengan aktivitas dakwah dan kegiatan sosial keagamaan. Di Singapura, misalnya, melalui MUIS kegiatan ceramah dilakukan lewat platform online, begitu juga dengan kelas keagamaan mingguan digantikan e-learning. Tidak hanya itu, lembaga ini memberikan bantuan tiket pulang bagi warga muslim Singapura yang belajar di negara luar yang terdampak pandemi.

Dalam konteks Indonesia, totalitas Muhammadiyah dalam melawan COVID-19 banyak menarik perhatikan. Sebabnya Muhammadiyah tak hanya mengeluarkan fatwa fiqiyah. Tapi juga turut membentuk Muhammadiyah COVID-19 Command Center (MCCC), dan bersama Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC), Lazismu, serta amal usaha lainnya serentak: “menolak berdamai dengan corona.”

Adakah itu berarti, mengisi air di ember yang bocor? Tentu tidak. Karena Muhammadiyah akan tetap mengamalkan pesan Ahmad Dahlan: tolong menolong adalah sikap orang Islam dalam aksi.

Avatar
Moh. Nizar
Selama menjadi mahasiswa, Nizar aktif di gerakan mahasiswa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang AR Fachruddin Yogyakarta. Setelah lulus S1, Nizar melanjutkan ke sekolah Parcasarja Universitas Gadjah Mada (UGM), jurusan Hubungan Internasional, lulus tahun 2011. Sekarang Nizar aktif mengajar di Universitas Lampung (Unila), jurusan Hubungan Internasional. Selain itu, Nizar juga mengajar di Universitas Muhammadiyah Lampung (UML), jurusan Ilmu Pemerintahan.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Erick Ingin Kerja, Mereka Malah Menganggu!

Akhir-akhir ini, ada gerombolan oknum-oknum yang ingin memaksakan kehendak untuk mengisi kursi-kursi komisaris. Ketika keinginan itu tak tercapai, mereka secara sistematis dan masif melakukan...

Menjarah Mahkota Kemuliaan MK

Revisi Undang-Undang Mahkamah Konstitusi yang disahkan pada 1 September lalu menjadi hadiah sekaligus menjadi dilema bagi kesembilan hakim konstitusi di usianya yang ketujuh belas...

Memahami Kembali Pandemi Covid-19

Wabah Covid-19 yang disebabkan virus corona jenis baru telah memasuki bulan ke-6 sejak ditetapkan sebagai pandemi oleh organisasi kesehatan dunia (WHO). Per tulisan ini...

Pandemi Dapat Membunuh Populis, Tidak Populisme

Demokrasi atau otoriter? Masa awal pandemi diwarnai dengan perdebatan mengenai tipe rezim mana yang paling efektif dalam menghadapi wabah Covid-19. Namun memasuki kuartal ketiga...

Potret Seorang Feodal Tua sebagai Seniman Serba Bisa

Pada zaman dahulu kala, ketika revolusi tidak ada lagi, Goenawan Mohamad pernah mengibaratkan dirinya, dengan heroisme penyair muda, sebagai Malin Kundang. Tapi kini, Malin...

ARTIKEL TERPOPULER

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.