OUR NETWORK

Meneliti Livi Zheng (Bagian 3)

Saya tak menulis untuk tujuan mencerca Livi Zheng. Saya tak pula berharap ia berhenti berkarya. Ia boleh melakukan apa saja. Ia boleh mengarang riwayat hidup sepalsu apa pun tentang dirinya.

KH Said Aqil Siradj, Ketua Umum PBNU, menyampaikan kabar pada 25 Juli 2019 tentang sebuah film yang belum ada: The Santri. Di sebelahnya Livi Zheng berdiri, tegak dan kaku, dan membuat Kiai Said seolah-olah bersanding dengan patung kayu ketika menyiarkan kabar itu.

Barangkali ia—Livi—memang selalu begitu, barangkali ia tak diberkahi talenta untuk menata gesturnya, namun kita bukan sutradara bagi orang lain. Kita, bagaimanapun, tak punya hak untuk mengatur sesiapa agar berperangai atau berpose mengikuti mau kita.

Kita tak berhak menuntut harus seperti apa ia ketika berdiri di samping Wakil Presiden Jusuf Kalla; atau bagaimana ia musti menampilkan diri saat Kapolri Tito Karnavian mengajak orang ramai untuk menonton filmnya; atau se-elegan apa sebaiknya seseorang—yang mencitrakan diri sebagai sineas mumpuni—bersikap di samping Gubernur Khofifah yang tengah memujinya: “Saya lagi bersama Livi Zheng, sutradara yang sudah nembus Hollywood dan … asli Blitar, Jawa Timur. Keren, kan?”

Barangkali pula Livi memang tak mengutamakan elegansi, barangkali ia hanya menginginkan endorsement terhadap dirinya disampaikan selugas transaksi di tengah pasar, dan saya sendiri, di hadapan para pencari, kali ini berniat selirih Goenawan Mohamad.

Livi menjanjikan apa yang mungkin patut dinanti. Ia mengatakan bahwa The Santri, yang diumumkan oleh Kiai Said melalui rekaman video, akan bisa kita saksikan pada Hari Santri tahun ini, ialah 22 Oktober 2019.

Ia terdengar optimistis mengenai filmnya. Dari sebuah media online, Kapanlagi.com, saya membaca kutipan ucapannya: “Dalam film THE SANTRI ini, kita bukan hanya mengangkat kehidupan para santriwan dan santriwati, tapi kebudayaan-kebudayaan yang ada di Jawa Timur dan Indonesia keseluruhan.”

Rasa-rasanya ada yang sumbang dari pernyataan itu. Livi seperti tidak sedang menyiapkan film cerita yang bagus; ia lebih terasa sedang berupaya memikat Menteri Pariwisata, juga siapa pun yang mempertahankan gelora di dada, dalam cara naïf, tentang keluhuran Indonesia.

Saya coba membayangkan akan seperti apa sebuah film ketika ia diolah dengan ramuan tiga anasir itu: kehidupan santriwan-santriwati, kebudayaan di Jawa Timur, dan kebudayaan Indonesia keseluruhan. Barangkali akan ada adegan rombongan santriwan dan santriwati melakukan salat jamaah di lereng Bromo, menyaksikan kepak dadak merak dalam reog Ponorogo, dan menikmati liburan akhir tahun di lambung perahu orang-orang Bajau.

Jika film itu betul-betul hadir pada 22 Oktober 2019, ia niscaya menjadi kado yang membesarkan hati bagi para santri. Namun saya ragu ia akan ada di gedung bioskop pada tanggal itu.

Livi sendiri yang membuat saya ragu.

Ada petilan berita tentang film Insight di Youtube, diunggah oleh CNN Indonesia pada 28 Agustus 2016. Judulnya Livi Zheng Kembali Garap Film Hollywood. Saya memutarnya pada laptop dan menyaksikan seorang penyiar perempuan, dengan paras cerah, menyiarkan berita seperti menyampaikan kabar baik kepada teman:

“Sineas muda Indonesia asal Blitar, Livi Zheng, kembali menggarap film Hollywood. Film yang diberi judul Insight ini rencananya akan dirilis pada awal 2017. Hebatnya lagi dalam film ini Livi mengajak aktor silat asal Tasikmalaya Yayan Ruhiyan untuk merancang adegan perkelahian. Berikut trailernya.”

Ia bicara cepat untuk menyampaikan kalimat yang tidak kunjung saya mengerti, hingga kini, ialah mengapa film itu menjadi hebat karena Livi mengajak aktor silat Tasikmalaya. Lalu trailer ditampilkan. Narasi yang mengiringi trailer tersebut saya transkripsikan:

“Kita patut berbangga dengan kehadiran film Insight. Meski dibuat di Hollywood Amerika namun film ini sebenarnya rasa Indonesia karena dua peran penting, yakni sutradara dan fight choreographer, digarap oleh orang Indonesia.”

Lagi-lagi si penyiar memberi persoalan. Barangkali kita perlu bertanya kepadanya, atau cukup kita simpan saja rasa heran itu dalam hati: Kenapa kita patut berbangga dengan kehadiran film Insight?

Saya sendiri tidak akan berkeberatan apakah sebuah film memiliki rasa Zimbabwe, atau Kepulauan Solomon, atau Ternate dan Tidore, asalkan itu film bagus. Namun bukan itu poin utama yang saya hendak sampaikan, melainkan fakta bahwa sampai sekarang, 3 tahun setelah berita itu, film Insight belum juga beredar.

Kita bisa berspekulasi bahwa The Santri barangkali akan bernasib sama dengan Insight, kecuali Tuhan Yang Mahaesa menurunkan mukjizat, atau Livi bekerjasama dengan Damien Dematra. Damien sanggup bekerja cepat. Ia mengumumkan bahwa Dream Obama, film garapannya yang menghasilkan dua nominasi pada Madrid International Film Festival 2014, hanya memerlukan waktu sembilan hari sejak penulisan skenario sampai penayangan perdana.

Sayang lema Dream Obama sudah dihapus dari Wikipedia pada 17 Agustus 2019. Mimihitam yang menghapusnya. Namun kita masih bisa menemukan informasi tentang waktu sembilan hari itu pada situs IMDb.

Sekadar tambahan: Mimihitam menghapus juga, pada hari yang sama, entri Damien Dematra dan Livi Zheng dari Wikipedia versi Indonesia. Entah apa sebabnya.

***

Saya, terus terang, tak menulis untuk tujuan mencerca Livi Zheng, atau memberi bahan kepada orang ramai untuk mencercanya. Ia masih muda, ia tinggal di rumah mewah di Los Angeles, dan ia memiliki orang tua kaya raya yang mampu membiayai kebutuhan-kebutuhannya.

Saya tak pula berharap ia berhenti berkarya. Ia boleh melakukan apa saja. Ia boleh mengarang riwayat hidup sepalsu apa pun tentang dirinya dan, jika ia mau, ia boleh juga membanggakan diri pada sebuah pagi bahwa ia baru pulang dari pengembaraan di antara bintang-bintang dan asteroid.

Ia boleh mendaku apa saja, tetapi kita tak perlu mengunyah tiap butir informasi yang ia cecarkan sekiranya media-media massa kita menerapkan prinsip jurnalistik yang standar saja dalam menyiarkan berita—terutama yang berasal dari siaran pers yang dimaksudkan untuk menggelembungkan seseorang.

Sudah berulang kali kita dipermainkan oleh orang-orang seperti itu, dan tampaknya kita tetap tidak tahu bagaimana cara berhenti ditipu.

Untuk kelemahan itu, kita tak sepatutnya menjadikan diri kaum yang beringas, yang menimpakan azab dan caci maki kepadanya. Livi hanya tengah menempuh jalan yang berbeda, jalan yang barangkali tidak akan pernah ditempuh oleh para sineas terbaik di belahan bumi mana pun. Ia membuat film dan meminta endorsement dari para pejabat untuk menggerakkan orang-orang menonton filmnya. Kita tidak akan tahu kapan ia akan berhenti mengeduk endorsement dari para pejabat, yang barangkali belum menyaksikan film yang mereka iklankan.

Kiai Said jelas belum—film The Santri belum ada dan ia barangkali tidak tahu ceritanya akan seperti apa.

Mungkin kita memerlukan cermin untuk melihat rupa kita sendiri seraya bertanya dalam hati: Mengapa kita menyediakan nasib baik, berkali-kali, untuk orang-orang yang memasarkan diri seperti cara Livi?

Media-media kita menyambutnya hangat. Saya tidak menyaksikan televisi, tetapi, berkat Youtube, saya menjadi tahu stasiun televisi mana saja yang telah mengundangnya dan di acara apa saja ia pernah menjadi bintang tamu. Metro TV bahkan menjadikannya tamu spesial untuk membangkitkan antusiasme terhadap kompetisi film dokumenter Eagle Award. Dari sebuah unggahan di Facebook, saya menemukan pengumuman:

“#EagleCinemaTalk hadir kembali dengan narasumber spesial yaitu Livi Zheng (sutradara film Hollywood).”

Barangkali memang sulit mengobati sindrom pinggiran—atau menanggalkan atribut ndeso—dari tubuh kita. Atau, lebih tepat, kebanyakan dari kita.

Kampus-kampus besar seperti UGM, ITB, dan UII menghadirkannya di ruang seminar dan kuliah umum. Di website kagama.co, yang memenggal-menggal tulisan pendek menjadi beberapa klik seperti tabiat Tribunnews, saya mendapati berita tentang Livi Zheng menjadi pembicara dalam Kongres Pancasila X di balai Senat UGM. Website ITB (itb.ac.id) mengabarkan Studium Generale: Menilik Perjalanan Livi Zheng Menuju Hollywood. Dari kampus UII Yogyakarta, kita mendengar seruan patriotik: “Mereka yang masih muda dan berprestasi yang mengharumkan nama Indonesia layak menjadi pahlawan.” Itu seruan yang disampaikan oleh Imam Mujiman, moderator dalam dialog kebangsaan dan kuliah umum Serius Meraih Prestasi Generasi Muda di Kampus Terpadu UII. Livi hadir dalam kuliah umum itu bersama Prof. Moh. Mahfud MD.

Para pejabat, yang menyukai slogan “anak bangsa” dan tersihir oleh kosakata “Hollywood”, beramai-ramai mengundangnya.

Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Jawa Timur, lekas menangkap peluang untuk membanggakan warganya, sebab Livi adalah sutradara Hollywood kelahiran Blitar. Ia ingin Livi membuat film yang mengangkat budaya Jawa Timur dan film itu nantinya beredar di Hollywood. Bupati Trenggalek melayangkan undangan yang sama. Beberapa hari lalu saya membaca berita pendek dengan judul panjang: Mas Ipin Gandeng Sutradara Kondang Livi Zheng Garap Film Pendek Kabupaten Trenggalek. Gubernur Jakarta sudah muncul di film promosi Jakarta yang berjudul Vibrant Jakarta.

Livi sudah menempuh jalannya, dan dengan jalan itu ia beroleh apa yang ia inginkan. Ia tak sekadar diminta membuat film dan memperkenalkan Indonesia kepada Hollywood; ia berhasil menjadikan para pejabat pendukungnya yang paling antusias.

Dari Menteri Parisiwata ia menerima penghargaan Tourism Marketeer of Year 2019. Oleh Badan Pembinaan Ideologi Pancasila ia ditetapkan sebagai salah satu dari 74 Ikon Apresiasi Prestasi Pancasila 2019. Oleh Menteri Pemuda dan Olahraga ia dinobatkan sebagai Duta Kemenpora RI dan Pemuda Hebat (Diaspora yang Mengguncang Dunia), sebuah penghargaan yang terdengar lebay dan tak enak bagi telinga ketika diucapkan.

Benar bahwa Livi mendapatkan penghargaan Unforgettable Gala, yang diselenggarakan oleh Character Media. Ini penghargaan tahunan yang diberikan kepada orang-orang Asia yang bermukim di Amerika. Tahun ini yang ke-17. Livi terpilih sebagai duta budaya melalui Bali: Beats of Paradise yang disutradarainya. Benar juga bahwa ia meraih penghargaan dari pemerintah daerah Blitar berkat film promosi kabupaten tersebut Amazing Blitar.

Dan karena beberapa informasi benar, tidak berarti semua informasi yang ia sampaikan juga benar. Di situsweb marketeers.com, 4 Maret 2019, ada sebuah tulisan berformat wawancara dengan Livi. Judul tulisan itu Livi Zheng, from Indonesia to Hollywood. Di situ kita mendapati pengakuan Livi: I founded Sun and Moon Films in 2012…

Di situ ia juga mengabarkan bahwa filmnya masuk nominasi Oscar 2015. “I started to write a script and made my first film ‘Brush with Danger’ with my brother. I got rejected 32 times, but finally ended up nominated in 2015 OSCARS,” katanya.

Saya tidak menemukan relevansi antara ditolak 32 kali—oleh siapa saja?—dan film Brush with Danger yang akhirnya diproduksi. Bukankah film itu diproduksi oleh perusahaan yang ia dirikan sendiri?

Mengenai nominasi Oscar, kita bisa dengan mudah memeriksa apakah ucapannya itu faktual atau imajiner. Daftar nominee Oscar 2015 bisa anda temukan saat ini juga jika anda tidak malas melakukannya.

Teknologi hari ini memungkinkan kita melacak nyaris sembarang informasi untuk membuat apa yang remang-remang jadi terang benderang. Anda tidak perlu memperkusut urusan dengan menyusun teka-teki. Itu yang patut kita sesalkan dari sebuah tulisan berjudul Menyusun Teka-Teki Livi Zheng (dimuat di Kompas, 18 Agustus 2019).

Saya membacanya dan, sesuai judul, tulisan itu memang penuh teka-teki. Sebagai koran besar di Indonesia, dan barangkali terbesar, Kompas mestinya memikul tanggung jawab sebesar namanya untuk menjaga reputasi, untuk menyajikan kepada publik informasi seterang-terangnya, dan bukan justru menyusun teka-teki. Itu bukan berarti media-media kecil boleh tidak bertanggung jawab. Semua media massa memiliki tanggung jawab yang sama dalam soal pemberitaan, tetapi media-media dengan nama besar tidak laik melakukan keteledoran berulang-ulang.

Bagian ketiga ini saya akhiri dengan ucapan terima kasih kepada Goenawan Mohamad, yang saya pinjam suara lirihnya. Sekiranya saya bertemu langsung dengannya, pada sebuah kesempatan, saya akan sampaikan: “Pak Goen, saya telah meminjam suara anda dan bersedia membayar royalti untuk apa yang telah saya lakukan.”

Saya berjanji untuk menyampaikan kalimat itu, tetapi saya tidak berjanji akan ada bagian keempat.

Bukan nama sebenarnya. Tinggal di Lasem dan nggak punya akun medsos. Sebelumnya menggunakan sketsa "Jane Doe" sebagai foto profil. Atas rekomendasi Dewan Pers, foto tersebut kami hilangkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…