OUR NETWORK

Meneliti Livi Zheng (Bagian 2,5)

Apakah tidak ada yang benar di dalam tulisan “Meneliti Livi Zheng”? Apa saja yang menurut Livi Zheng tidak akurat?

Saya sedang menyiapkan bagian ketiga Meneliti Livi Zheng ketika sebuah pesan masuk ke ponsel saya. Seorang teman memberi tahu ada tanggapan dari Livi, ditulis oleh Detikcom; ia menyertakan linknya sehingga seketika saya bisa membaca berita itu.

Isinya sungguh mengagetkan. Karena itu saya putuskan menunda bagian ketiga untuk memberi perhatian serius kepada berita tersebut. Anggap saja ini bagian 2,5—sebuah intermezo.

Demi memudahkan pembacaan dan agar anda tidak perlu repot klak-klik ke sana kemari, saya kutipkan utuh saja berita itu. Ia hanya berita pendek dan, yang lebih penting, sangat jenaka. Begini bunyi berita Detikcom itu, tidak saya ubah sama sekali, bahkan letak komanya pun tidak saya gesar-geser:

Livi Zheng Ramai Dibahas, Ada Apa?

Jumat, 16 Agu 2019 13:58 WIB Devy Octaviany – detikHot

Jakarta – Livi Zheng tengah jadi sorotan di dunia maya. Sutradara asal Indonesia yang filmnya ‘Bali: Beats of Paradise’ sempat berjuang masuk Oscar, tahun lalu itu dipertanyakan rekam jejaknya sebagai seorang sineas.

Ia dan kariernya diulas di sebuah situs online. Karier Livi disebut dalam artikel tersebut tak sepenuhnya matang. Bahkan, artikel itu menyebut Livi Zheng mengingatkan dirinya kepada Damien Dematra.

Livi dianggap membuat karya yang biasa saja, bahkan cerita puluhan kali gagal menembus Hollywood juga terlalu dilebih-lebihkan.

Dari proyek ‘Laksamana Cheng Ho’ yang melibatkan dirinya di serial dan film, hingga kini terlibat penggarapan sebuah film berjudul ‘The Santri’ yang melibatkan Emil Dardak di dalamnya sebagai pemain.

Dikonfirmasi perihal kabar ini, Livi Zheng memberikan tanggapannya. Ia menyebut artikel tersebut memuat informasi yang keliru seputar rekam jejaknya sebagai filmmaker.

“Artikelnya banyak yang nggak akurat. Biarkan saja,” ungkap Livi Zheng saat dihubungi.

Saat ini, perempuan asal Blitar itu tengah bersiap merilis filmnya tayang di bioskop. Filmnya ‘Bali: Beats of Paradise’ dijadwalkan tayang di layar lebar mulai 22 Agustus.

***

Anda sudah membaca beritanya secara utuh, sekarang mari kita bicarakan secara sungguh-sungguh apa-apa yang ditulis oleh si wartawan. Saya tidak akan menyebut berita ini mewakili mutu jurnalisme Indonesia, tetapi anda bisa menjumpai berita-berita dengan mutu seperti ini kluyar-kluyur setiap hari dalam jurnalisme kita.

Pada paragraf pertama ada kalimat seperti ini: Sutradara asal Indonesia yang filmnya ‘Bali: Beats of Paradise’ sempat berjuang masuk Oscar, tahun lalu itu dipertanyakan rekam jejaknya sebagai seorang sineas.

Saya harus memberi tahu penulis berita itu bahwa wartawan bekerja untuk mengabarkan fakta seterang-terangnya kepada publik. Karena itu, ia harus mampu menulis kalimat yang beres secara logika, beres pula dalam tatabahasa. Dia harus tahu bahwa sebuah film tidak akan pernah berjuang, bahkan sampai kiamat tiba, untuk masuk Oscar. Sebuah film tidak melakukan apa pun setelah selesai dibuat oleh sutradaranya. Para penilai film itulah yang berjuang—kalau tetap mau memakai kosakata berjuang—untuk menentukan film mana yang layak masuk nominasi dan mana yang sebaiknya masuk instalasi gawat darurat karena jelek saja belum.

Selain masalah logika, masalah berikutnya adalah tatabahasa. Dia meletakkan koma setelah kata Oscar, dan setelah koma ada frase “tahun lalu itu dipertanyakan rekam jejaknya sebagai seorang sineas.” Frase ini tidak bisa dipahami. Siapa yang dipertanyakan tahun lalu itu? Saya memberikan informasi pembanding tentang Livi, dengan menyertakan sumber-sumber rujukan, bukan tahun lalu melainkan baru dua hari lalu.

Paragraf kedua: Ia dan kariernya diulas di sebuah situs online. Karier Livi disebut dalam artikel tersebut tak sepenuhnya matang. Bahkan, artikel itu menyebut Livi Zheng mengingatkan dirinya kepada Damien Dematra.

Benar, saya menulis untuk sebuah situs online. Tentu saja saya tidak menulisnya di situs jual beli, sebab tulisan tentang seorang sineas anak emas bangsa tidak mungkin saya kirimkan ke situs jual beli. Masalahnya, tidak sanggupkah si penulis berita menulis lebih terang? Saya yakin orang-orang Geotimes tidak akan ngamuk jika nama media mereka disebut terang benderang dalam sebuah berita.

Kalimat keduanya berisi tuduhan yang tidak akurat. Tak ada satu kalimat pun dalam dua artikel saya yang menyebut karier Livi tak sepenuhnya matang. Dan saya tidak penah pula menyebut-nyebut Livi Zheng mengingatkan saya pada Damien Dematra. Saya hanya menyampaikan informasi bahwa dalam Madrid International Film Festival 2014 ada dua film karya anak bangsa yang masuk nominasi. Silakan mbak wartawan Detikcom membaca ulang tulisan saya.

Paragraf ketiga: Livi dianggap membuat karya yang biasa saja, bahkan cerita puluhan kali gagal menembus Hollywood juga terlalu dilebih-lebihkan.

Kalimat tersebut ditulis dengan cara menafsir yang luar biasa. Tapi saya harus mengatakan tidak pernah saya menganggap Livi membuat karya yang biasa saja. Saya hanya memberi tahu anda pendapat-pendapat orang yang mengulas filmnya. Saya hanya memberikan dua contoh yang relevan dengan apa yang saya sampaikan. Jika anda mau mencari tahu semua pendapat, anda bisa mencarinya sendiri tanpa harus meninggalkan meja kerja anda. Anda tinggal mencarinya dengan bantuan Google, bukan?

Lalu, frase ini “… bahkan cerita puluhan kali gagal…” Tidak bisakah mbak wartawan itu spesifik? Livi sendiri menyebut 32 kali. Kenapa mbak wartawan mengubahnya menjadi puluhan kali?

Pertanyaan saya, jika Livi tidak menyebut angka penolakan 32 kali, tetapi 34 kali atau hanya 29 kali, apakah setiap jurnalis harus menerimanya begitu saja? Kalau anda mau menerima apa pun yang disampaikan Livi, itu masalah anda sendiri, bukan masalah saya. Saya jelas tidak mau menerima begitu saja. Karena itu saya menulis artikel Meneliti Livi Zheng.

Paragraf keempat: Dari proyek ‘Laksamana Cheng Ho’ yang melibatkan dirinya di serial dan film, hingga kini terlibat penggarapan sebuah film berjudul ‘The Santri’ yang melibatkan Emil Dardak di dalamnya sebagai pemain.

Kalimat itu tidak bisa dikomentari karena menggantung dan tidak beres sebagai kalimat, apalagi sebagai paragraf.

Tiga paragraf terakhir:

Dikonfirmasi perihal kabar ini, Livi Zheng memberikan tanggapannya. Ia menyebut artikel tersebut memuat informasi yang keliru seputar rekam jejaknya sebagai filmmaker.

“Artikelnya banyak yang nggak akurat. Biarkan saja,” ungkap Livi Zheng saat dihubungi.

Saat ini, perempuan asal Blitar itu tengah bersiap merilis filmnya tayang di bioskop. Filmnya ‘Bali: Beats of Paradise’ dijadwalkan tayang di layar lebar mulai 22 Agustus.

Ini penutupan yang mengerikan. Saya menulis Meneliti Livi Zheng karena ingin melihat media-media massa kita bekerja lebih cermat, lebih peduli pada hak publik untuk mendapatkan informasi yang benar dan terang, dan tidak sekadar menjadikan diri alat marketing narasumber. Namun, apa yang saya harapkan itu rupanya tidak mampu menyentuh si penulis berita. Ia kebal rupanya dan tak mampu memahami pesan-pesan implisit.

Selain itu, ia juga orang yang pasrah. Livi mengatakan “Biarkan saja,” dan ia manut meskipun Livi bukan redakturnya. Ia tidak ingin menggali informasi sebanyak mungkin dari narasumber. Misalnya, yang dimaksud banyak itu tepatnya berapa biji? Apa saja yang menurut Livi tidak akurat? Apakah tidak ada yang benar di dalam tulisan Meneliti Livi Zheng itu? Benarkah Madrid International Film Festival itu memang festival abal-abal? Kenapa Livi tidak pernah mengungkit-ungkit keberhasilan filmnya di festival itu, padahal justru di situlah filmnya mendapatkan award?

Dan masih banyak lagi, tetapi harus saya hentikan sebab saya bukan redakturnya yang sedang membuatkan daftar pertanyaan untuk wawancara.

Bukan nama sebenarnya. Tinggal di Lasem dan nggak punya akun medsos. Sebelumnya menggunakan sketsa "Jane Doe" sebagai foto profil. Atas rekomendasi Dewan Pers, foto tersebut kami hilangkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…