OUR NETWORK

Apa yang Kaucari, Livi Zheng?

Kenapa begitu amat sih?

Livi Zheng menyebut tulisan-tulisan di Geotimes, Tirto, dan Asumsi sebagai hoax. Ia sembrono dengan ucapannya. Tulisan-tulisan di ketiga media itu muncul sebagai upaya untuk meluruskan berita-berita glorifikasi tentang dirinya, yang telanjur disiarkan oleh banyak media, termasuk oleh media-media massa ternama.

Lagi-lagi saya harus menyebut nama Kompas dalam urusan ini. Kompas.com, menurut saya, sudah bertindak seolah-olah ia baby-sitter bagi Livi. Ia rajin menimang dan mengabarkan apa saja tentang gadis itu, dan beberapa tulisan tentang Livi dibuka dengan kalimat-kalimat yang terasa seperti kibul.

Pada saat Livi Zheng lulus kuliah, Kompas.com menurunkan berita yang menggemparkan, berjudul Livi Zheng Lulus Kuliah. Saya seperti disambar petir ketika membaca paragraf pertama berita itu: “Pertengahan Mei lalu, Livi Zheng (27), sutradara muda Indonesia yang berkibar di Hollywood, sedang bahagia. Pasalnya, ia baru saja menyelesaikan pendidikan S-2 di University of Southern California, Amerika Serikat.”

(Saya merenung panjang. Kompas.com menganalogikan Livi dengan bendera, dan saya akan berkomentar sesantai Pak Jokowi, “Akurapopo.” Ia juga boleh menganalogikan Livi dengan truk gandeng, dengan dermolen, atau dengan terumbu karang. Yang bisa kita tanyakan adalah istilah “berkibar di Hollywood” itu merujuk pada fakta seperti apa. Pada waktu itu Livi baru menyutradarai satu film. Saya membaca beberapa resensi di internet tentang film pertamanya—lebih banyak catatan negatif. Jadi, saya merasa Kompas.com ngarangnya nggak kira-kira.)

Beberapa bulan berikutnya Livi belum menemukan judul, dan Kompas.com menurunkan berita berjudul Livi Zheng Cari Judul. Kali ini kalimat pembukanya membuat saya gemetaran: “Setelah sukses menyutradarai Brush with Danger akhir 2014 dan mendapat sambutan luas di Amerika Serikat, Livi Zheng (27) mempersiapkan film terbarunya.”

(Kepada yth. Kompas.com, saya sebagai pembaca ingin mendengar penjelasan anda mengenai apa makna “mendapat sambutan luas di Amerika Serikat”. Apakah sambutan luas itu datang dari penonton atau dari para kritikus? Maksud saya, apakah film itu diputar di semua negara bagian Amerika Serikat dan masuk daftar box office? Atau jumlah penontonnya tidak terlalu banyak tetapi semua kritikus papan atas memuji mutunya? Mohon dijelaskan. Titik.)

Sepuluh bulan setelah berita kelulusan, Kompas.com meng-update Livi dengan berita berjudul Livi Zheng, Dosen di Almamater. Lengkap sudah. Saya perlu mengutip tiga paragraf untuk berita ini.

“Baru beberapa bulan menyelesaikan pendidikan S-2 produksi film di Amerika Serikat, sineas Livi Zheng (27) ditawari menjadi dosen di almamaternya, University of Southern California.

“Setelah berpikir panjang, sutradara Brush with Danger—film yang masuk daftar layak pilih untuk Academy Awards ke-87—itu mengiyakan.

“’Jadilah aku sekarang dosen tidak tetap di University of Southern California (USC). Selain di USC, aku juga dosen tidak tetap di Los Angeles City College, New York Film Academy, dan Chapman University,’ ujar putri dari pasangan Gunawan-Lucy itu, Sabtu (18/3/2017).”

(Ia menjadi rebutan universitas-universitas hebat. Katakanlah, Livi benar dengan segala ucapannya bahwa ia menjadi dosen tidak tetap di empat perguruan tinggi, hanya sepuluh bulan setelah lulus kuliah. Bagi saya sebagai pembaca informasi itu tidak ada gunanya. Bagi kebanyakan pembaca lain mungkin kabar itu juga tidak berfaedah. Bagi Livi tentu sangat berguna. Ia tahu apa yang ia mau dengan menyampaikan informasi-informasi semacam itu.)

Itu 3 dari 52 tulisan tentang Livi Zheng di Kompas.com sejak Januari 2015. Pada dua berita pertama, Kompas.com membesar-besarkan Livi dengan cara mengarang nggak kira-kira. Pada berita ketiga, Livi membesar-besarkan dirinya sendiri dengan informasi yang orang akan malas memverifikasi kebenarannya. Terhadap ketiga tulisan itu, saya rasa pembaca punya hak untuk menanyakan apakah itu berita atau advertorial.

Informasi-informasi keliru tentang Livi Zheng

Saya menyebut Kompas.com “ngarangnya nggak kira-kira” karena ia menyiarkan informasi tidak akurat, dan informasi yang tidak akurat pasti menyesatkan pembaca. Ia, misalnya, menulis bahwa Livi “berkibar di Hollywood”. Livi memang bekerja di Amerika, tetapi ia tidak berkibar di Hollywood. Saya berpegang pada KBBI untuk mendapatkan arti kiasan berkibar, yaitu menjadi masyhur.

Yang lebih sesuai fakta adalah Livi bekerja di Amerika Serikat dan berkibar di Indonesia. Kita tahu, hanya media massa dan para pejabat Indonesia yang heboh tak ketulungan menyambut kehebatan “anak bangsa” Livi Zheng. Jika ia berkibar di Hollywood, saya bayangkan ia pasti sibuk di sana menerima banyak tawaran—ia tidak akan punya waktu untuk melobi pejabat-pejabat dan meminta endorsement.

Livi tidak menyatakan penyiaran informasi-informasi keliru itu sebagai hoax tentu karena segala kekeliruan itu melambungkan namanya.

Saya mencatat beberapa informasi keliru tentang Livi yang disiarkan oleh media massa:

  1. Informasi keliru: Serial Laksamana Cheng Ho disebut oleh International Film Reviews sebagai “massive hit” di negerinya (di Indonesia).

Faktanya, serial ini pernah ditayangkan di Metro TV dan hanya tayang beberapa episode awal. Ia tidak pernah tayang sampai tamat dan tidak pernah menjadi “massive hit”.

  1. Informasi keliru: The Jakarta Post menulis tentang Brush with Danger dan menyiarkan informasi “The movie also entered the Oscar’s short list for Best Picture in 2015.”

Faktanya, Brush with Danger tidak masuk dalam shortlist oscar 2015. Menurut catatan IMDb, ia masuk daftar 320 Oscar eligible movies from 2014 dan tidak masuk nominasi.

  1. Informasi keliru: Sejumlah media menyiarkan berita bahwa film Livi Zheng “menembus Hollywood”.

Faktanya, film Livi Zheng tidak menembus Hollywood. Brush with Danger adalah film Amerika, sebagaimana film-film yang disutradarai para imigran lain yang bekerja di dalam industri film Hollywood. Ini kalimat pertama Wikipedia tentang film tersebut: “Brush with Danger is an American action thriller film produced and directed by Livi Zheng.”

Istilah “menembus Hollywood” digunakan secara keliru untuk mendapatkan efek megah bahwa Livi adalah “anak bangsa” Indonesia yang pertama kali berhasil menembus Hollywood. Saya rasa urusan tembus-tembusan ini sudah jelas sekarang, film Brush with Danger bukan film Indonesia, dan bukan pula cerita tentang orang Indonesia.

  1. Informasi keliru: Di website Madrid International Film Festival, ada pengumuman bahwa Yusril Ihza Mahendra terpilih sebagai aktor terbaik untuk film berbahasa asing. Skenario film ini juga masuk nominasi dan di sana tercantum nama Yusril Ihza Mahendra sebagai penulis skenario Legend of The East.

Faktanya, Yusril bukan penulis skenario film itu. Dalam percakapan dengan Deddy Corbuzier, Livi mengakui film itu (dan satu film lainnya) adalah hasil penyuntingan ulang dari beberapa episode Laksamana Cheng Ho yang menceritakan kerajaan Jawa. Yusril adalah pemeran utama serial itu, tetapi bukan penulis skenarionya.

Untuk semua informasi keliru yang disebutkan di atas, Livi Zheng tidak pernah menyatakannya sebagai hoax. Ia justru secara ngegas menyebut tulisan-tulisan yang berusaha meluruskan informasi sebagai hoax.

Jika upaya menyampaikan kepada publik fakta yang lebih terang ia sebut sebagai hoax, kita perlu mendengar definisi hoax menurut Livi. Jika ia tidak tahu, karena ia bukan ahli bahasa, ada kamus yang bisa membantunya memahami arti kata itu.

Informasi yang detailnya disembunyikan

Selain informasi keliru, masalah berikutnya adalah Livi senang menyembunyikan detail. Misalnya, ia menyampaikan bahwa dirinya mulai terlibat di perfilman pada umur 15 sebagai pemeran pengganti di serial Laksamana Cheng Ho. Di serial itu juga ia lantas dipercaya memerankan karakter Ratu Suhita. Lalu ia juga dipercaya sebagai produser serial tersebut, yang mengatur 1.000 lebih pemain dan ratusan kuda.

Jika informasi ini benar menurut Livi, atau bahkan sumbernya adalah Livi sendiri, ada beberapa pertanyaan yang memerlukan jawaban jelas untuk membuatnya masuk akal. (1) Bagaimana ia bisa terlibat di film itu? (2) Siapa yang begitu berani mempercayakan produksi kolosal, yang memakan biaya besar, kepada anak umur 15 tahun sebagai produser? (3) Atas dasar apa penunjukan itu?

Satu hal lagi, kenapa ia bisa mendapatkan peran Ratu Suhita?

Livi adalah WNI keturunan Tionghoa, sementara Ratu Suhita adalah raja kerajaan Jawa, yaitu Majapahit. Memberikan peran tersebut kepada Livi akan berisiko menyesatkan persepsi penonton bahwa Suhita adalah raja Majapahit berdarah Tionghoa. Risiko serupa pasti akan muncul juga sekiranya Ratu Suhita diperankan oleh perempuan Sibolga yang berbicara dengan logat Batak kental. Penonton akan sulit percaya bahwa raja Majapahit mempunyai anak perempuan berlogat Batak Sibolga. Pengatur casting tentu memahami hal ini, tetapi mungkin ia tidak berdaya.

Tentu kita bisa mengkompromikan beberapa hal dalam pembuatan film. Tata rias mungkin bisa mengubah penampilan Livi menjadi orang Jawa. Tetapi, itu pun tidak terjadi. Dari gambar-gambar yang saya temukan di internet, penampilan Livi sebagai Ratu Suhita tetap seperti penampilannya sehari-hari.

Kita masih bisa memaklumi jika ada satu hal yang membuat karakter Ratu Suhita harus Livi yang memerankannya. Katakanlah, hanya ia yang mampu berakting memerankan raja Majapahit itu. Pada kenyatannya tidak. Ia masih remaja belasan tahun pada waktu itu dan baru pertama kali ikut syuting. Bahkan bertahun-tahun kemudian, ketika ia menjadi pemeran utama dalam Brush with Danger, akting tetap menjadi titik terlemahnya. Kritikus menyebutnya kaku.

Jadi, kenapa dengan segala ketidakcocokan itu dia tetap mendapatkan peran Ratu Suhita?

Dalam percakapannya dengan Deddy Corbuzier, Livi menegaskan bahwa ia mencapai semuanya dengan upaya sendiri, tanpa dukungan orang tua. Ia bilang kedua orang tuanya tidak mengerti apa pun tentang film.

“Buat apa Livi mengaku tak didukung orang tua? Kalau Bing tidak mendukung, masa dia bisa kuliah di University of Southern California?” kata Slamet Rahardjo kepada Dea Anugrah dari Asumsi.

Laporan investigasi oleh Tirto dan Asumsi kemudian berhasil mengungkapkan detail yang Livi berupaya keras menutupinya. Livi mendapatkan peran sebagai Ratu Suhita dan kemudian ditempatkan sebagai produser karena serial itu dibiayai oleh The Hok Bing alias Gunawan Witjaksono, ayah Livi.

Hasil investigasi Tirto dan Asumsi membuat kita setidaknya bisa paham kenapa Livi tidak pernah menceritakan secara detail bagaimana ia bisa “naik pangkat” secara dramatis dalam serial Laksamana Cheng Ho. Tidak mungkin ada faktor lain kecuali ayahnya. Namun The Hok Bing mungkin tak ingin namanya muncul dalam pemberitaan. Karena itu Livi harus mengaku tidak ada campur tangan orang tuanya dalam perjalanan kariernya.

Informasi yang tidak bisa diverifikasi

Para tukang sulap menggunakan teknik yang dinamakan sleight of hand. Itu karena orang-orang meyakini para pesulap itu bekerja dengan kemahiran tangan. Livi dan para penjajanya tampaknya menggunakan teknik yang mirip-mirip, tetapi mereka tidak menggunakan tangan melainkan mulut. Kita bisa menyebutnya sleight of mouth.

Mereka menyampaikan informasi yang membuat orang kebingungan memahami, mereka menghilangkan detail, dan mereka juga mengabarkan hal-hal yang sulit diverifikasi.

Livi Zheng mengabarkan ia ditolak 32 kali sebelum akhirnya berhasil menyutradari film pertamanya. Sebetulnya tidak ada beda bagi orang yang mendengar kalaupun Livi menyebutkan angka penolakan 33 atau 34 atau 35 kali—sama-sama tidak bisa diverifikasi karena sumbernya hanya Livi. Permainan sleight of mouth terjadi pada informasi selanjutnya. Ia tidak mengatakan, “Setelah ditolak 77 kali, akhirnya aku bikin sendiri perusahaan Sun and Moon Films untuk memproduksi skenarioku yang ditolak-tolak itu.”

Faktanya, Brush with Danger memang diproduksi oleh Sun and Moon Films, perusahaan yang didirikan atas nama ibunya. Dalam satu wawancara di marketeers.com, Livi mengaku mendirikan perusahaan itu. Tentu saja, akan kurang keren jika ia menyampaikan fakta ini apa adanya. Maka ia menyampaikan kalimat yang berbeda.

Dalam kutipan langsung oleh Merdeka.com, Livi mengatakan, “Film saya waktu itu skenarionya ditolak 32 kali. Tapi saya maju terus aja sampai ada yang mau.”

Republika mengutip ucapan Livi di depan 600 pemuda Blitar, “Skenario saya pernah 32 kali ditolak. Tapi dengan seluruh upaya yang saya miliki akhirnya cita-cita saya terpenuhi meski dengan penuh tantangan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa.”

Poskotanews.com menulis berita dengan judul Skenario Ganti 32 Kali, Perempuan Indonesia Ini Tembus Hollywood.

Teknik lainnya adalah ia hanya mau orang lain mendengarkan hal-hal hebat tentangnya. Ia tidak akan menjawab pertanyaan yang memerlukan jawaban spesifik. Bahkan untuk menyebut nama penulis skenario The Santri pun ia enggan. Ia lebih suka mengatakan skenarionya ditulis oleh PBNU.

Ia juga tidak mau terbuka tentang berapa jumlah penonton filmnya. Ia tidak mau menjawab berapa perolehan filmnya dari penjualan karcis bioskop. Dengan kecenderungannya mengglorifikasi diri, kita mudah menduga bahwa angka itu mengecewakan. Kalau jumlah penontonnya membludak, tanpa ditanya pun ia sudah akan mengabarkannya tak henti-henti.

Untuk pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan jawaban detail, ia akan buru-buru menyudahi wawancara. Jika situasinya tidak mungkin menyudahi wawancara, seperti dalam acara televisi, ia akan mengeluarkan jawaban panjang dan berbelit-belit sehingga pendengarnya kelelahan dan putus asa.

Kenapa begitu amat, Livi Zheng? Apa yang kaucari?

Bukan nama sebenarnya. Tinggal di Lasem dan nggak punya akun medsos. Sebelumnya menggunakan sketsa "Jane Doe" sebagai foto profil. Atas rekomendasi Dewan Pers, foto tersebut kami hilangkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Loading...

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…