Jumat, Desember 4, 2020

Lelaki Dilarang Pakai Skin Care, Kata Siapa?

Editor Buku: Dari Eksistensi Menuju Apresiasi

Safar Banggai menulis tentang ketiadaan standar apresiasi material atas pekerjaan para editor buku, sehingga nasib mereka tak cukup jelas. Saya ingin menambahkan beberapa catatan...

100 Dokter: Berlanjut atau Berhenti?

Sudah 100 Dokter gugur dalam menghadapi pandemi Covid-19 di Indonesia. Entah berapa lagi untuk membuat kita sadar dan sedikit berempati. Dengan rasio dokter dan...

Golput Sekadar Menyalurkan Kemalasan

"Sampai saat ini saya memutuskan Golput," ujar seorang panelis di acara Rosi Kompas TV. Dia mengemukakan alasannya. "Ada yang salah dengan demokrasi kita, sehingga...

Apa Salah Intelektual di BPIP Dibayar Mahal?

Di Indonesia, seorang intelektual diminta untuk hidup melarat. Ia haram menjadi makmur. Pemikir seperti Ahmad Syafii Maarif, Yudi Latief, atau Said Aqil Siroj menjadi...
Octavianus Bima Archa Wibowo
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.

Kamu tahu penyakit lelaki: mau menunjukkan kegagahan! (Ayu Utami, Maya)

Sering kali, drama dari negeri ginseng menampilkan para aktor maskulin dengan wajah glowing (bersinar) yang menggunakan skin care (perawatan kulit wajah) dalam sebuah adegan. Beberapa drama Korea yang menampilkan adegan perawatan kulit wajah oleh aktor pria, antara lain Descendants of the Sun (2016), The King: Eternal Monarch (2020), dan Record of Youth (2020). Setiap serial drama tersebut memiliki keunikannya masing-masing dalam menampilkan sosok pria yang menggunakan perawatan kulit wajah.

Pertama, serial drama Descendants of the Sun (2016) menampilkan adegan para tentara yang sedang menggunakan masker wajah di barak. Agaknya, masyarakat beranggapan bahwa tentara merupakan sosok yang sangat maskulin. Kedua, serial drama The King: Eternal Monarch (2020) menampilkan penggunaan LED Mask oleh seorang raja yang diperankan aktor Lee Min-Hoo. Berbagai legenda nusantara kerap menggambarkan raja sebagai sosok yang maskulin. Terakhir, Park Bo-Gum dan Byeon Woo-Seok dalam serial drama Record of Youth (2020) tampil sebagai model pria dan pengguna perawatan kulit wajah sebagai tuntutan profesi.

Apakah beberapa adegan tersebut tampak salah? Rasanya tidak. Masyarakat dengan budaya patriarki melahirkan sebuah konstruksi sosial bernama toxic masculinity (maskulinitas beracun). Pakar psikologi, Shepherd Bliss, menggunakan konstruksi sosial tersebut untuk membedakan nilai positif dan nilai negatif dari maskulinitas pada tahun 1980-an dan 1990-an. Gagah, berani, tegas, berjiwa pemimpin, dan tak cengeng hanya sedikit dari sebagian stigma mengenai sosok lelaki akibat keberadaan maskulinitas beracun.

Masyarakat yang memiliki pandangan maskulinitas beracun menganggap bahwa perawatan kulit wajah sebagai rutinitas yang hanya dilakukan oleh kebanyakan perempuan. Berbagai iklan produk perawatan kulit wajah acap kali menampilkan perempuan sebagai representasi standar kecantikan Asia, seperti berwajah mulus dan berkulit bening. Iklan tersebut mungkin tak menarik para lelaki untuk menggunakan produk perawatan kulit wajah, bisa saja malah menaikkan standar kecantikan perempuan bagi para lelaki. Waduhkok bisa begitu ya?

Apakah perawatan kulit wajah hanya untuk kaum hawa saja? Setiap manusia, ingat loh manusia, baik laki-laki maupun perempuan, perlu menjaga kesehatan kulit wajah agar tetap bersih dan lembap. Lagi pula, maskulinitas seorang pria tak akan luntur begitu saja karena melakukan perawatan kulit wajah. Survei yang dilakukan oleh Forbes menunjukkan bahwa 70 persen dari laki-laki berusia 28 hingga 44 tahun menggunakan tabir surya. Bahkan, dua pertiga dari persentase tersebut mulai menggunakan berbagai produk untuk merawat kulit wajah.

Harus mulai dari mana bila seorang pria ingin merawat kulit wajah? Perawatan kulit wajah merupakan sebuah rangkaian yang terdiri dari beberapa langkah. Pertama, menggunakan sabun wajah. Tentu saja, sabun wajah berbeda dengan sabun cair atau sabun batang untuk badan. Sabun wajah pria umumnya terbagi menjadi dua berdasarkan jenis kulit, yakni facial foam untuk jenis kulit berminyak dan berjerawat serta facial wash untuk jenis kulit kering. Jangan lupa untuk memilih sabun wajah sesuai dengan tipe kulit masing-masing ya!

Setelah menggunakan sabun wajah, langkah kedua dari rangkaian perawatan kulit wajah adalah menggunakan masker wajah. Jangan sampai salah masker, masker wajah berbeda dengan masker bedah. Masker wajah umumnya bermanfaat untuk mengangkat sel kulit mati dan minyak berlebih. Sangat disarankan bagi pria, tak hanya untuk wanita saja, menggunakan masker wajah dua hingga tiga kali dalam seminggu. Masker wajah biasanya digunakan pada malam hari sebelum melakukan rangkaian perawatan kulit lainnya.

Langkah ketiga dari rangkaian perawatan kulit wajah adalah menggunakan face toner untuk mengangkat sisa debu atau kotoran yang masih menempel di wajah. Penggunaan face toner secara rutin dapat menjaga kelembapan wajah sebelum menerima produk perawatan kulit selanjutnya. Selepas menggunakan face toner, langkah terakhir adalah menggunakan moisturizer (pelembap wajah) agar wajah tidak kering dan kusam. Produk pelembap wajah sendiri diproduksi berdasarkan jenis kulit: normal, kering, hingga berminyak.

Bagi para lelaki yang sering terpapar sinar matahari akibat beraktivitas di luar, terlebih mereka yang bekerja di lapangan, sangat disarankan untuk menggunakan sunscreen (tabir surya). Tabir surya digunakan setelah berbagai rangkaian perawatan kulit wajah. Penggunaan tabir surya berfungsi untuk melindungi wajah dari efek buruk sinar ultraviolet yang menyerang kulit wajah. Paparan sinar ultraviolet yang berlebihan dapat membuat kulit kusam dan mempercepat proses penuaan pada kulit.

Produk perawatan kulit wajah pria dan wanita memiliki perbedaan komposisi. Mengapa demikian? Ternyata, kulit pria jauh lebih tebal dan berminyak ketimbang kulit wanita. Sehingga, perlu memperhatikan komposisi dan menyesuaikan dengan jenis kulit sebelum membeli produk perawatan kulit. Satu hal penting yang perlu diingat, tidak ada proses perawatan kulit yang instan. Setidaknya, perlu dua sampai empat minggu agar terlihat perubahan pada kulit wajah. Perawatan kulit wajah tak seketika mengubah wajah menjadi seperti aktor drama Korea.

Harga produk perawatan kulit pria cukup beragam. Ada harga, ada rupa. Pastikan untuk membeli produk original, demi keselamatan diri sendiri. Beberapa aplikasi e-commerce (perdagangan elektronik) sering kali mengadakan program potongan harga untuk produk perawatan kulit wajah. Jangan sampai ketinggalan kesempatan tersebut! Bila masih bingung harus membeli produk perawatan kulit wajah yang ada, dapat menonton terlebih dahulu berbagai ulasan di YouTube. Saat ini, sudah mulai menjamur ulasan produk perawatan kulit untuk pria, seperti Tysna Saputra, Lukas Kahn, dan Danang Wisnuwardhana.

Bebas menggunakan produk perawatan kulit wajah adalah hak semua orang, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada larangan bagi laki-laki dan perempuan untuk merawat kulit wajah. Pandangan maskulinitas beracun dapat merusak kebebasan bagi laki-laki untuk menggunakan produk perawatan kulit. Produk perawatan kulit wajah tidak membuat seseorang menjadi ganteng atau cantik, semata-mata bertujuan untuk menjaga kesehatan kulit wajah. Ingat, ganteng atau cantik itu sangat relatif bagi setiap orang.

Octavianus Bima Archa Wibowo
Mahasiswa Program Studi Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran.
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Pilkada yang Demokratis

Tidak terasa pergelaran pemilihan kepada daerah yang akan dilaksankan pada 9 Desember mendatang sebentar lagi akan dijalankan. Pilkada serentak dilaksanakan di 270 daerah di...

DPRD DKI; Kembalilah Menjadi Wakil Rakyat!

Saya terhenyak ketika mendapat informasi perihal naiknya pendapatan langsung dan tidak langsung anggota DPRD DKI Jakarta tahun anggaran 2021. Berdasarkan dokumen Rencana Kerja Tahunan...

Meneguhkan Keindonesiaan di Tengah Pandemi

Sejak diumumkannya kasus pertama covid 19 di Indonesia pada bulan Maret 2019 silam, perjalanan kasus ini tidak pernah surut. Memasuki bulan Oktober 2020 justru...

Upah Minimum atau Upah Maksimum?

Belakangan ini demo buruh tentang upah minimum mulai sering terdengar. Kenaikan upah minimum memang selalu menjadi topik panas di akhir tahun. Kini menjadi semakin...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

ARTIKEL TERPOPULER

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Dampak Pandemi Covid-19 Terhadap Pendidikan di Indonesia

Sudah 8 bulan lalu kasus virus Covid-19 menyerang dunia. Begitu cepatnya perubahan wabah Covid-19 dari Endemi hingga memenuhi syarat menjadi Pandemi, wabah yang mendunia....

Luasnya Kekuasaan Eksekutif Menurut Undang-Undang

Proses demokrasi di Indonesia telah memasuki tahap perkembangan yang sangat penting. Perkembangan itu ditandai dengan berbagai perubahan dan pembentukan institusi atau lembaga baru dalam...

Hyper Grace : Kejahatan Intelektualitas Manusia Yang Menggunakan

Hyper Grace adalah anugerah yang dilebih-lebihkan (keluar dari porsi) anugerah yang melebihi yang Firman Allah katakan (menambahkan Firman-Nya).Itu adalah anugerah di mana kamu harus...

Menjatuhkan Ganjar-Jokowi dengan Satu Batu

Saya sebenarnya kasihan dengan Jokowi. Sejak beberapa hari yang lalu organ di bawahnya terlihat tidak bisa kerja. Misalnya soal kasus teroris di Sigi, tim...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.