Jumat, Januari 22, 2021

Laut Menyatukan Nusantara

Mosi Tidak Percaya R-KUHP Untuk Jokowi

Mohon perhatian sedikit. R-KUHP itu diajukan oleh pemerintah, artinya Pak Jokowi dan kabinetnya tahu isi rancangan itu, karena mereka yang menyusun. Tunda anggapan bahwa...

Bahaya Pendakian Bersyariah di Gunung Rinjani

Proyek ‘wisata halal’ yang dicetuskan gubernur Nusa Tenggara Barat menyasar hingga jauh ke Puncak Gunung Rinjani. Melintasi padang sabana Sembalun hingga Plawangan Sembalun. Mendaki...

Prabowo Menhan Terlembek dalam Sejarah RI

Di zaman Menteri Susi Pudjiastuti, nelayan asing terkaing-kaing. Mereka yang mencoba mencuri ikan, bergidik ketakutan. Emak perkasa, putri laut, seorang patriot, yang senantiasa menjaga...

Beberapa Pertanyaan Penting untuk Pendukung Jokowi

Jadi Joko Widodo sudah memilih Kyai Ma'ruf Amien. Hal ini tidak bisa kita ubah, seberapa perih, meski kecewa, itu adalah realitas politik hari ini....
Avatar
Dani Setiawan
Ketua Harian Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Kader Muhammadiyah, Aktivis Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) dan JIMM

Hari ini 62 tahun yang lalu, 13 Desember 1957, Indonesia pernah menggetarkan dunia. Ya, Deklarasi Djuanda, sebuah peneguhan atas politik kewilayahan Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia.

Sebuah lompatan pendekatan baru dalam hukum laut internasional. Sikap kebudayaan yang menegaskan identitas yang unik wilayah nusantara dengan segala kekayaan yang terkandung di dalamnya dan kedaulatan yang paripurna atas klaim teritorial yang sama sekali berbeda dari sistem hukum warisan kolonial.

Deklarasi Djuanda merupakan pernyataan kepada dunia bahwa laut Indonesia mempersatukan kedaulatan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Perubahan besar terjadi pada wilayah Indonesia. Luas wilayah yang semula kurang lebih 3.166.163 kilometer persegi berubah menjadi 5.193.250 meter persegi.

Misi diplomatik yang panjang dalam meyakinkan dunia berhasil memperoleh keabsahan internasional atas Deklarasi Djuanda. Setelah melalui perjuangan panjang, deklarasi ini akhirnya diterima dan ditetapkan dalam Konvensi Hukum Laut PBB ke-3 pada 1982 (United Nations Convention on the Law Of the Sea, UNCLOS 1982).

Kemudian dipertegas melalui UU Nomor 17 tahun 1985 tentang ratifikasi UNCLOS 1982. Era Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) mencanangkan tanggal 13 Desember sebagai Hari Nusantara yang dipertegas oleh Presiden Megawati dalam Keputusan Presiden RI nomor 126 tahun 2001 tentang Hari Nusantara.

Ir. H. Raden Djuanda Kertawidjaja bukanlah sosok politisi, bahkan cenderung tidak berminat dengan kegiatan atau organisasi politik yang dinilainya gandeng pisan (kelewat berisik). Ia lebih suka membuktikan kecintaan kepada bangsanya dengan tindakan, bukan kata-kata.

Sikap nasionalisme Djuanda tidak meledak-ledak. Seorang yang pada usia mudanya memilih mengabdi pada Muhammadiyah, sebuah organisasi non politik yang dipilihnya, memenuhi panggilan hati sebagai guru dan direktur SMA Muhammadiyah di Jakarta ketimbang menerima tawaran menjadi dosen Technische Hogeshool te Bandoeng (ITB saat ini) dengan gaji besar. Kepribadian dan sikap teguh Djuanda dilandaskan pada kecintaannya yang besar kepada tanah airnya, Indonesia.

Warisan para pejuang dan perintis kemerdekaan berada di pundak kita. Potensi kekayaan agraria yang begitu besar dan beragam, khususnya di wilayah pesisir dan laut belum dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat.

Begitu besarnya potensi pengembangan sektor ekonomi kelautan ini bahkan ditaksir mencapai US$800 miliar per tahun. Sedangkan kesempatan kerja yang dihasilkan sebesar 40 juta orang.

Hari Nusantara harus diperingati untuk mempertebal rasa syukur kita kepada Allah SWT dan meninggikan kedaulatan bangsa untuk menciptakan kemakmuran bersama. Hal tersebut harus disertai dengan penguatan orientasi pembangunan yang lebih berpihak pada sektor kelautan guna menciptakan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selamat Hari Nusantara! Jaya di Darat, Laut dan Udara.

 

Avatar
Dani Setiawan
Ketua Harian Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI), Kader Muhammadiyah, Aktivis Jaringan Intelektual Berkemajuan (JIB) dan JIMM
Facebook Comment

POLIKLITIK

ARTIKEL TERBARU

Proyeksi OPEC, Konsumsi Migas Dunia akan Meningkat

Senin (18/1) penulis berkesempatan untuk memberikan kuliah umum secara daring dengan adik-adik di Politeknik Akamigas Cepu, Jawa Tengah. Maraknya pemberitaan mengenai kendaraan listrik dan...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Towards Success: Re-evaluating Indonesia Ecological Development

Indonesia has long been an active participant of the environmental policy formation and promotion. Ever since 1970, as Dr Emil Salim appointed as the...

Apa Itu Teo Demokrasi dan Nasionalisme?

Apa itu Konsep Teo Demokrasi? Teo demokrasi terdiri dari gabungan kata yaitu teologi yang berarti agama dan demokrasi yang terdiri dari kata demos berarti rakyat dan...

Menilik Superioritas Ras dalam Film Imperium

Film Imperium yang ditulis dan disutradarai oleh Daniel Ragussis adalah sebuah film thriller yang menampilkan usaha seorang karakter utama yang mencoba untuk “masuk” ke...

ARTIKEL TERPOPULER

Pandangan Mochtar Lubis Terhadap Kemunafikan Manusia Indonesia

Pernyataan Mochtar Lubis dalam naskah pidato Manusia Indonesia (kemudian diterbitkan menjadi buku) sampai sekarang pidato ini masih relevan untuk dibahas, baik kalangan awam maupun...

Apa Beda Habib, Sayyid, Dzuriyah, Alawiyin, dan Ahlulbait

Terjadi pencampuradukan makna dan fungsi sejumlah kata "Ahlulbait", "Dzuriyah", "Habib", "Sayyid", dan "Alawi", secara sengaja ataupun tidak sengaja, yang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Hadis Tsaqalain (bahasa...

Revolusi Azyumardi Azra

Ketika masih sekolah di Pendidikan Guru Agama (PGA), setingkat SMA, di Pariaman, Sumatera Barat, Azyumardi Azra mengirim puisi berbahasa Inggris ke Harian The Indonesian...

Landasan dan Prinsip Politik Luar Negeri Kita

Indonesia dalam sejarahnya mempunyai sejarah yang panjang dalam menghadapi situasi politik, baik dalam dan luar negeri. Sejarah dan proses panjang yang dimiliki bangsa kita...

Bencana Alam: Paradigma Ekologi dan Aktivisme

Ekologi sebagai kajian ilmiah tentang hubungan antara makhluk hidup dengan makhluk tidak hidup telah memberikan perspektif baru tentang sistem keterkaitan. Namun, sebagian besar pemerhati...

Log In

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Log in

Privacy Policy

Add to Collection

No Collections

Here you'll find all collections you've created before.